
"Aargghh!!"
Zidan menggeram frustasi. Ia melempar kasar beberapa berkas yang diperiksanya diatas meja. Kedua tangannya meremas rambutnya sendiri. Sesekali Zidan mengusap kasar wajahnya.
Pagi ini moodnya benar-benar berantakan. Wajah Andita selalu wara-wiri diotaknya. Kejadian semalam membuat Zidan menjadi serba salah. Zidan tidak mengerti bagaimana caranya menjelaskan pada Andita bahwa dia sangat mencintai gadis itu.
Selama ini Zidan selalu berusaha untuk bersabar, padahal dia bukanlah tipe lelaki penyabar. Belakangan ini Zidan selalu menuruti permintaan Andita untuk menjaga jarak darinya.
Tapi semakin lama Andita malah semakin menjauh. Apa hanya dirinya yang memiliki perasaan pada gadis itu?! Apa gadis itu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya?
Bahkan mereka sudah dua kali berciuman. Apa itu tidak berarti apa-apa baginya? Atau hanya sebatas nafsu tanpa melibatkan perasaan?
Ingin sekali Zidan mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Andita. Tapi itulah kekurangan dirinya. Dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya lewat kata-kata. Zidan lebih suka mengungkapkannya lewat tindakan.
Sama ketika dulu dia menyimpan perasaannya pada Zoya. Dia selalu ada disamping gadis itu. Menemaninya kala suka dan duka. Namun kenyataannya? Zoya malah memiliki perasaan pada Andrew, dan itu kali pertama Zidan merasakan yang namanya patah hati.
Kini disaat dirinya sudah mulai membuka hati pada yang lain, Zidan kembali terjebak dengan perasaannya sendiri. Tanpa gadisnya tahu, bahwa dia sangat ingin memilikinya.
Zidan menengadahkan kepalanya bersandar pada kursi kebesarannya. Netranya terpejam. Dengan satu tangan, Zidan mengurut kedua pelipisnya. Geraman masih terdengar samar-samar. Zidan mencoba menenangkan gejolak yang bersemayam didadanya.
Tidak lama terdengar suara pintu diketuk seseorang.
"Masuk!"
Setelah mendapat izin, Ken pun segera masuk kedalam. Zidan membuka matanya sebentar. Sekilas ia melihat kearah pintu. Lalu kembali memejamkan netranya.
"Ada apa?!"
"Maaf Tuan, mengganggu waktu anda! Diluar ada yang ingin bertemu dengan anda!"
"Bukankah hari ini aku tidak memiliki janji dengan siapapun?!"
"Benar Tuan! Tapi ini ..."
"Aku sedang tidak ingin bertemu siapapun! Katakan padanya aku sedang sibuk!" Saat ini Zidan benar-benar enggan bertemu dengan orang luar disaat pikirannya sedang kacau.
"Walaupun dengan mantan kekasih Nona Andita?" Tanya Ken.
Zidan langsung membuka matanya kembali. Kini tatapannya lurus menatap Ken yang sedang berdiri tidak jauh dari meja kerjanya.
"Siapa maksudmu?!"
"Putra Tuan Reyhan ada disini Tuan! Dia ingin bertemu dengan anda!"
Zidan menautkan alisnya.
"Dirga?"
"Ya, Tuan!" Ken mengangguk.
__ADS_1
Cih, berani sekali dia datang ke perusahaanku?!
"Ada perlu apa dia datang kemari?!"
Ken mengangkat kedua tangan dan bahunya bersamaan.
"Saya kurang tahu Tuan! Sepertinya ini penting dan bukan masalah pekerjaan!"
"Suruh dia masuk!"
"Baik Tuan!"
Ken kembali keluar. Sementara Zidan segera merapihkan penampilannya. Dia tidak mungkin bertemu dengan mantan kekasih calon istrinya itu dalam keadaan berantakan seperti saat ini.
Tidak lama kemudian, Ken masuk bersama Dirga. Lalu Zidan memerintahkan Ken untuk meninggalkan mereka berdua dengan isyarat melalui jari tangannya.
Zidan berjalan menghampiri mantan kekasih calon istrinya itu seraya mengulurkan tangan. Berjabat.
"Tuan Dirga, suatu kehormatan anda datang kemari! Bagaimana kabar anda?"
Dirga membalas uluran tangan Zidan seraya tersenyum.
"Kabar saya baik Tuan Zidan! Maaf jika saya tidak membuat janji dulu dengan anda untuk datang kemari!"
"Tidak apa-apa! Mari silahkan duduk!"
Zidan mempersilahkan Dirga untuk duduk disofa. Dua lelaki berbeda usia itu kini duduk berseberangan dengan meja sebagai pembatasnya. Zidan bersandar seraya menyilangkan kakinya.
Dirga tersenyum misterius.
"Mohon maaf sebelumnya Tuan Zidan, anda bisa memanggil saya Dirga saja, karena kedatangan saya kemari bukan untuk urusan pekerjaan. Jadi alangkah baiknya kita tidak perlu terlalu formal."
Zidan seolah tahu apa yang ingin lawan bicaranya itu sampaikan.
"Baiklah! Silahkan Dirga katakan apa tujuanmu datang kemari!"
Dirga menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Tujuanku datang kemari ingin membahas tentang kakakku, Rachel!"
******
Saat ini sorot mata kedua pria yang sama-sama memiliki profesi sebagai pengusaha itu beradu tajam. Keramahan yang tadi ditunjukan Zidan kini berubah menjadi tatapan elang yang siap menerkam lawannya.
"Aku tidak memiliki urusan apapun lagi dengan Rachel! Dia bukan masalaluku ataupun masa depanku! Tidak ada yang perlu aku jelaskan. Jadi aku harap kalian berhenti mengganggu hidupku!" Zidan menekankan setiap kata dalam kalimatnya.
"Tapi Tuan Zidan, kakakku sangat menyukaimu! Bahkan seminggu terakhir ini dia tidak mau berbicara pada siapapun dan hanya menyebutkan namamu! Aku harap kau memiliki sedikit empati padanya."
Zidan menyunggingkan sudut bibirnya.
__ADS_1
"Empati?! Aku bukan orang munafik Dirga, yang harus bersikap baik didepan siapa saja sementara aku tidak menyukainya."
Glekk ,Dirga menelan salivanya.
"Aku tahu Tuan, ini semua pasti karena Andita! Aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan pada anda, sehingga membuat anda bertekuk lutut padanya dan berpaling dari Kakakku?!"
Zidan mengetatkan rahangnya. Ia tidak terima siapapun menghina Andita, apalagi cecunguk dihadapannya ini.
"Jangan pernah membawa Andita dalam hal ini, Dirga! Karena dia sama sekali tidak terlibat! Dan aku tegaskan sekali lagi, aku dan Kakakmu tidak pernah memiliki hubungan apapun hingga aku harus disebut berpaling darinya, kau mengerti?!"
Dirga tersenyum sinis.
"Kau belum tahu siapa Andita, Tuan! Dia adalah gadis licik yang selalu memanfaatkan kecantikannya untuk menarik laki-laki kaya! Aku sendiri pun pernah menjadi korban akal busuknya!"
Mendengar ucapan Dirga, Zidan tertawa nyaring. Membuat lelaki dihadapannya itu bergidik.
"Apa kau tidak salah menuduh? Bukankah Andita yang menjadi korban kelakuan busukmu, Dirga?!"
"Apa maksud anda, Tuan?"
"Sudahlah Dirga! Aku sudah tahu semuanya! Karena dirimu, Anditaku nyaris saja kehilangan kehormatannya pada malam dimana kau memutuskan hubungan dengannya! Beruntung saat itu aku menolongnya, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada Andita!"
Sontak Dirga terkejut mendengar ucapan Zidan.
Apa maksudnya? Apa Andita nyaris diperkosa?
Namun segera ia menetralkan ekspresi terkejutnya, karena tujuannya kemari memang ingin membuat perhitungan pada gadis itu.
"Ya, saya memang memutuskan hubungan dengannya Tuan! Karena dia bukanlah gadis baik-baik. Lambat laun anda pun akan tahu seperti apa Andita sebenarnya!"
"Cukup Dirga! Aku menghormatimu karena kau adalah putra dari rekan bisnis Ayahku! Tapi aku tidak akan pernah terima jika kau terus menjelek-jelekkan Andita! Aku paham mungkin tujuanmu melakukan hal ini untuk membalas rasa sakit hati Kakakmu! Tapi sebaiknya kau simpan saja bualanmu itu, karena aku tidak akan pernah percaya apapun yang keluar dari mulutmu!" Tegas Zidan.
Dirga membuang nafas kasar, ternyata sulit sekali membuat Zidan terprovokasi.
"Baiklah Tuan, jika kau tidak mempercayai kata-kataku tidak apa-apa! Yang jelas aku sudah memperingatkanmu! Dia bukan gadis baik-baik. Andita rela menjual dirinya hanya demi uang. Bahkan dia pernah jujur padaku, bahwa dia telah kehilangan keperawanannya karena harus mendapatkan uang demi menghidupi Ibu dan adiknya. Itu sebabnya aku berpikir dua kali untuk menikahi Andita."
Mendengar penuturan Dirga, amarah Zidan semakin berkobar. Rasanya ingin sekali dia meremukkan tulang belulang lelaki dihadapannya itu.
Sementara Dirga yang melihat perubahan raut wajah Zidan tersenyum puas.
Aku yakin dia sudah terprovokasi.
"Dirga sebaiknya kau pergi dari sini! Sebelum aku melakukan hal yang tidak ingin kulakukan padamu!" Geram Zidan.
"Baiklah Tuan! Saya akan pergi dari sini. Semoga nantinya anda tidak akan menyesal dengan menikahi gadis seperti Andita! Terimakasih atas waktu anda, saya permisi!"
.
.
__ADS_1
Bersambung...