
Tuan Wildan melemparkan pelan surat undangan yang tergeletak disamping ujung mejanya kehadapan Andita.
Surat undangan itu adalah undangan pernikahan Andita dan Zidan, yang Zidan buat khusus tanpa sepengetahuan Andita. Karena Zidanlah yang memang mengurus semuanya.
Meskipun setelah pertengkarannya dengan Zidan malam itu hubungannya merenggang, namun Tuan Wildan tetap mengawasi gerak gerik sang putra. Hingga ia tahu jika minggu ini putranya akan menikah dengan Andita.
Andita menatap surat undangan itu dengan nanar tanpa ingin bertanya apapun.
"Sepertinya putraku sangat yakin ingin menikahimu, sampai dia membuat surat undangan semewah itu! Mungkin aku tidak bisa membuat pendiriannya goyah, karena dia memiliki sifat yang sangat keras kepala. Tapi aku yakin, jika aku berbicara denganmu kau akan lebih mengerti tentang kekhawatiranku!" Ucap Tuan Wildan dengan nada tenang.
Pria paruh baya itu memang selalu bersikap tenang untuk menjatuhkan lawannya hingga lawannya tak bisa berkutik. Tegas, dingin, dan bisa memanipulasi keadaan itulah pembawaan Tuan Wildan saat menghadapi para musuhnya dalam dunia bisnis.
Dan mungkin saat ini bagi Tuan Wildan, Andita adalah salah satu musuhnya yang sudah membuat sang putra membangkang padanya.
Andita menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya benar ucapan Zidan bahwa sampai kapanpun calon ayah mertuanya ini tidak akan pernah bisa merestui hubungan mereka.
"Tuan, saya mengerti kekhawatiran anda. Pasti anda menganggap saya seorang wanita rendah yang rela melakukan apapun hanya demi uang. Jika anda beranggapan seperti itu tentang saya, itu adalah hak anda! Tapi yang pasti, saya memiliki alasan khusus kenapa saya menerima putra anda menjadi calon suami saya. Dan alasan itu, hanya saya dan Tuan Zidan yang tahu. Jadi tanpa mengurangi sedikit pun rasa hormat saya pada anda, saya tidak akan mundur dari pernikahan ini!"
Andita memberanikan diri menatap mata dingin pria paruh baya itu. Meskipun didalam hatinya ada sedikit rasa gugup dan takut.
Tuan Wildan tersenyum kecut mendengar jawaban Andita.
Rupanya dia sedang ingin menunjukan taringnya.
"Apa kau tahu keputusanmu ini akan berakhir sia-sia! Kau akan kehilangan segalanya Andita. Karirmu dan masa depanmu! Mungkin saat ini kau sedang merasa diatas awan, karena menganggap Zidan mencintaimu. Tapi kau belum tahu seperti apa sifat putraku itu! Sedari kecil dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Sama seperti saat ini! Dia hanya menganggapmu sebagai mainan yang harus dia dapatkan! Setelah itu dia akan membuangmu ketempat seharusnya. Dan ketika saat itu tiba, kau tidak akan punya waktu untuk menyesalinya!"
Andita tersenyum getir. Sepertinya Tuan Wildan sedang ingin memprovokasi dirinya.
"Tuan, jika anda menganggap saya sedang berada diatas awan karena Tuan Zidan mencintai saya, anda salah besar! Saya tidak pernah mengharapkan cintanya. Begitupun dengan saya yang tidak mencintainya. Saya bersedia menerima lamarannya karena memang ada alasan lain yang tidak bisa saya jelaskan pada anda! Jadi saya harap anda dapat mengerti itu."
"Hahaha.. Alasan lain apa yang membuatmu kukuh ingin menikahi putraku selain uang?! Hah?! Aku sudah banyak bertemu dengan gadis sepertimu, Andita! Kau tidak dapat membohongiku seperti ayahmu dulu, yang nyaris membuat perusahaanku bangkrut karena kelicikannya! Apa kau ingin mengikuti jejak ayahmu juga dengan memanfaatkan putraku? Kau pasti menganggap Zidan adalah mesin uang bagimu! Tapi aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!"
Sontak Andita terhenyak ketika Tuan Wildan membawa-bawa mendiang ayahnya.
"Apa maksud anda Tuan? Kenapa anda berbicara dengan membawa-bawa mendiang Ayah saya?! Apa anda mengenal ayah saya?!"
"Ya, tentu saja aku mengenal mendiang ayahmu, Hadi Andriansyah! Dulu dia adalah orang kepercayaanku. Namun sayang, aku terlambat menyadarinya jika dia adalah seorang pengkhianat yang ingin mencuri data perusahaanku. Sampai-sampai perusahaanku saat itu nyaris bangkrut karena ulahnya!"
__ADS_1
Jadi dulu Ayah pernah bekerja pada Tuan Wildan?!
"Tuan, saya rasa anda sudah salah paham dalam menilai Ayah saya! Ayah saya bukanlah seorang pengkhinat! Saya yakin itu!"
Tuan Wildan tersenyum sinis.
"Sudah kuduga kau pasti akan membela ayahmu! Jika kau tidak percaya kau bisa tanyakan hal ini langsung pada mantan calon mertuamu, Tuan Reyhan! Dia adalah saksi kuncinya. Dan asal kau tahu, alasan inilah yang membuat mantan calon mertuamu itu tidak pernah merestui hubunganmu dengan putranya, Dirga!"
Deg
Dunia Andita seolah berhenti berputar ketika mendengar penuturan Tuan Wildan. Kenyataan pahit apalagi ini? Batinnya bergumam.
Tidak mungkin Ayah melakukan hal itu!
Seketika bayangan mendiang ayahnya semasa hidup melintas diingatan Andita.
Ayahnya adalah pria yang jujur dan bertanggung jawab. Dia selalu menyayangi istri dan anak-anaknya. Dan ayah adalah sosok yang selalu bersikap terbuka pada keluarganya.
Jadi bagaimana mungkin ayah akan melakukan hal sekotor itu, dengan mencuri data perusahaan Tuan Wildan?
"Kenapa?! Apa kau sedang pura-pura terkejut?!"
Andita mencoba mengontrol gejolak dihatinya. Berkali-kali ia menelan saliva karena rasa sesak didadanya. Andita mengumpulkan keberanian menatap kembali mata dingin itu.
"Tuan, saya sama sekali tidak tahu menahu tentang hal ini! Yang saya tahu Ayah saya bukanlah orang seperti itu! Saya yakin semasa hidup beliau tidak pernah melakukan hal yang sudah anda tuduhkan padanya!"
"Jadi kau menganggapku tengah berbohong?!"
"Saya tidak menganggap anda begitu Tuan?"
"Lalu?"
Andita memejamkan matanya. Kedua tangannya dibawah meja semakin erat meremas ujung bajunya.
Sungguh Andita masih tidak percaya jika mendiang ayahnya dapat melakukan hal itu.
"Sudahlah Andita! Aku tidak ingin terlalu lama membuang waktuku disini! Terserah kau mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku! Yang jelas, aku cukup puas ketika ayahmu mengalami kecelakaan, karena itu hukuman yang setimpal bagi seorang pengkhianat!"
__ADS_1
"Tuan!!!" Bentak Andita.
Dadanya kembang kempis menahan gejolak amarah. Andita tidak dapat lagi membendung airmatanya yang sedari tadi tertahan. Bibirnya bergetar. Hatinya terasa begitu sakit dan perih ketika ada seseorang yang menghina ayahnya.
"Anda tidak bisa .."
"Cukup Andita! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulutmu! Tujuanku bertemu denganmu adalah aku ingin kau meninggalkan putraku!" Potong Tuan Wildan ketika Andita masih ingin berbicara. Kini sorot matanya berubah tajam diiringi dengan geraman.
"Aku akan memberikan apapun dan berapapun uang yang kau minta, asal kau pergi jauh dari kehidupan Zidan untuk selamanya! Karena sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan kalian!"
"Tapi saya tidak bisa melakukan itu Tuan!"
Cih, keras kepalas sekali gadis ini!
"Berhentilah bersikap keras kepala! Bukankah kau tidak mencintai Zidan? Jadi untuk apa kau berada disisinya?!"
Seketika Andita terdiam. Dia tidak mungkin mengkhianati Zidan, karena Zidanlah penolongnya ketika dia sedang membutuhkan bantuan.
Disaat Andita terdiam, Tuan Wildan menghubungi anak buahnya yang berjaga didepan pintu. Ia menyuruhnya masuk kedalam, untuk membawakan sebuah map berisikan surat yang telah ia siapkan sebelumnya.
Setelah menyerahkan map itu, anak buah Tuan Wildan pun segera keluar dari ruangan tersebut.
"Buka map itu dan baca suratnya baik-baik!" Ucap Tuan Wildan seraya menyodorkan sebuah map berwarna coklat kehadapan Andita.
Andita melihat kearah Tuan Wildan dan map itu secara bergantian.
"Surat apa ini Tuan?"
"Bukankah barusan sudah kukatakan? Buka dan baca, setelah itu kau akan tahu apa maksudku! Aku yakin ini akan sangat menguntungkan bagimu!"
Andita menelan salivanya. Dengan perasaan ragu dan tangan gemetar, ia meraih map cokelat itu. Perlahan Andita membukanya, netranya langsung terfokus pada tulisan yang tertera dikepala surat.
"Surat Perjanjian?!"
.
.
__ADS_1