MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Kerinduan


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Andita begitu syok ketika mendapat kabar dari Stella tentang kondisi Zidan yang memburuk. Kakinya seketika melemas. Jantungnya seolah ditusuk ribuan jarum.


Dengan tergesa-gesa Andita mengambil tasnya dan segera bergegas kerumah sakit dengan diantar oleh supir pribadinya.


Sudah tiga hari ini Andita tidak menemani Zidan karena kondisi tubuhnya yang menurun drastis akibat kelelahan.


Awalnya Andita menolak untuk beristirahat dirumah. Ia mengkhawatirkan keadaan Zidan. Andita takut jika Zidan akan mencarinya ketika lelaki itu sadar dari komanya.


Namun Nyonya Liyana dan Ibunya meyakinkan Andita jika semua akan baik-baik saja dan mereka yang akan menemani Zidan.


Setelah dibujuk akhirnya Andita pun menuruti saran ibu dan ibu mertuanya itu.


Tapi sepertinya hari ini Andita menyesali keputusannya untuk beristirahat dirumah.


Rasa cemas, khawatir dan takut menjadi satu ketika Stella mengabari tentang kondisi Zidan yang memburuk.


Tentu hal itu membuat pikiran Andita menjadi kacau dan tak karuan. Andita mencoba menghubungi Nyonya Liyana dan Ibunya namun tak ada satupun dari mereka yang mengangkat panggilan telepon darinya


"Pak tolong lebih cepat lagi!" Pinta Andita pada supir pribadinya yang baru.


Sementara supir pribadi Andita yang lama masih harus beristirahat untuk memulihkan kondisinya pasca mengalami penusukan saat kejadian penculikan Andita hari itu.


"Baik Non!"


Tiga puluh menit kemudian mobil yang ditumpangi Andita telah sampai dirumah sakit.


Andita segera turun dari mobil dan berlari sepanjang koridor agar dirinya cepat sampai ke ruang perawatan Zidan.


Begitu Andita sampai, Andita langsung membuka pintu ruangan suaminya itu.


Ceklek.


Netra Andita memindai seisi kamar. Ia melihat seluruh anggota keluarganya sudah berada disana. Begitupun dengan Stella.


Mereka semua yang berada didalam ruangan tersebut melihat kearah pintu yang dibuka oleh Andita.


"Bagaimana keadaan Zidan? Apa yang terjadi dengannya? Apa semua baik-baik saja?!"


Satu persatu pertanyaan meluncur dari bibir Andita. Kakinya melangkah masuk dan langsung menghampiri sisi kanan suaminya.Namun tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Andita.


"Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaanku?! Bagaimana keadaan Zidan?!" Tanya Andita panik.


Stella mendekat kearah Andita lalu perlahan ia mengatakan jika nyawa Zidan tidak bisa diselamatkan.


Deg.


Dunia Andita seolah berhenti berputar. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Stella.


"A-apa katamu?! Nyawa Zidan ..?"


Nyonya Liyana yang berdiri dibelakang Andita segera merangkul bahu menantunya itu dari belakang.

__ADS_1


"Kau harus sabar Andita. Kau harus mengikhlaskan suamimu." Ucapnya.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Kalian pasti bercanda kan?! Zidan masih hidup! Dia tidak mungkin.."


Netra Andita kini beralih pada tubuh suaminya yang terbaring diatas brankar.


"Zidan ...ayo bangun Zidan! Kau pasti bercanda kan?! Ini aku istrimu! Apa kau tidak ingin melihatku?! Ayo buka matamu! Zidan!!" Teriak Andita.


Andita menepuk-nepuk pipi Zidan berkali-kali kemudian mengguncang tubuhnya.


Namun Zidan tak bergeming hingga membuat tangis Andita seketika pecah diruangan itu. Ia menangis tersedu-sedu diatas dada bidang suaminya.


"Zidan..apa yang kau lakukan?! Kenapa kau meninggalkanku?! Hiks..hiks!"


Semua orang yang berada diruangan itu saling memandang. Mereka tidak tega melihat keadaan Andita yang begitu histeris.


Tiba-tiba sebuah telapak tangan menyentuh kepala Andita dan mengusapnya dengan lembut.


"Kenapa berisik sekali, hm?! Kau mengganggu tidurku!"


"Aku akan mengganggu tidurmu sampai kau bangun Zidan. Aku akan..." ucapan Andita diantara isak tangisnya seketika menggantung saat ia menyadari sesuatu.


Andita segera mengangkat tubuhnya dari dada Zidan lalu matanya melihat kewajah lelaki itu. Netra sepasang suami istri itu pun saling bertemu.


"Zidan?!! Kau sudah sadar?!!"


******


Semenjak mengetahui suaminya sudah siuman dari koma, Andita tak berbicara sepatah katapun. Ia masih kesal karena semua orang mengerjainya. Termasuk suaminya sendiri.


Zidan memandangi wajah Andita yang sedari tadi mendiamkannya. Semua orang sudah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan mereka berdua.


Sebenarnya Zidan sudah sadar dari komanya sejak semalam. Nyonya Liyana yang pertama kali mengetahuinya.


Hanya saja Zidan meminta pada semua keluarganya agar tidak memberitahukan hal tersebut pada Andita. Dia ingin membuat kejutan. Tapi sepertinya kejutan itu gagal.


Zidan pikir Andita akan senang. Alih-alih membuat kejutan malah membuat istrinya menangis.


"Sampai kapan kau akan mendiamkanku? Apa kau tidak merindukanku?"


Andita tidak bergeming. Ia memalingkan wajahnya kearah lain.


"Hm.. sepertinya kau memang tidak merindukanku!"


Zidan menatap langit-langit kamar pura-pura merajuk. Sesekali ekor matanya melirik kearah Andita.


"Kenapa kau tega Zidan? Kenapa kau tega membohongiku?!" Lirih Andita tanpa melihat Zidan. Bibirnya bergetar. Air matanya masih setia mengalir.


Zidan memalingkan wajahnya pada Andita. Melihat kondisi istrinya seperti itu hati Zidan berdesir perih. Ia merasa sangat bersalah.


Zidan mengulurkan tangannya. Sebenarnya ia ingin sekali beranjak dari brankar dan memeluk tubuh istrinya itu. Namun tenaganya belum sepenuhnya pulih.


"Maafkan aku Andita! Aku tidak bermaksud membohongimu! Ayo kemarilah!"

__ADS_1


Andita menatap Zidan kemudian ia berdiri dan duduk disisi brankar. Zidan meraih tangan Andita lalu menaruhnya diatas dadanya.


"Jangan marah lagi! Aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis."


"Aku hanya ingin tahu seberapa besarnya cintamu padaku. Dan aku juga ingin tahu bagaimana reaksimu jika aku tidak ada lagi disampingmu."


Zidan mengecup tangan Andita yang digenggamnya. Manik matanya menatap manik mata Andita.


Seketika itu juga Andita langsung menghambur memeluk tubuh Zidan. Tangis yang ditahannya kembali luruh diatas dada bidang suaminya.


"Kau benar-benar jahat Zidan! Kau benar-benar jahat!"


"Apa kau tahu saat aku mendapat kabar tentangmu dari Stella, hatiku benar-benar hancur?! Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika kau tiba-tiba pergi dariku!" Andita terus memukul pelan tubuh Zidan.


Zidan meringis. Walaupun Andita memukulnya pelan namun tubuhnya merasakan sakit akibat dari sisa luka-luka yang dialaminya.


"Apa kau ingin membuatku koma lagi Andita?! Pukulanmu membuat tubuhku sakit!"


Andita menggigit bibirnya, lalu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Zidan.


"Maaf! Aku sedang kesal padamu! Aku hanya ingin memberimu hukuman karena sudah membohongiku!"


Zidan tergelak mendengar ucapan Andita. Apalagi melihat wajah Andita yang menggemaskan. Ia menghapus sisa airmata istrinya.


"Kau bisa menghukumku sepuasmu tanpa harus membuatku kesakitan."


"Bagaimana?!"


"Kemarilah!"


Zidan menjentikan jarinya dan memberi kode pada Andita untuk mendekatkan wajahnya. Kemudian tangan kanan Zidan menahan tengkuk leher Andita.


Nafas mereka mulai menerpa kulit wajah masing-masing. Saat jaraknya semakin dekat Zidan sedikit memiringkan kepalanya lalu perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Andita.


Mereka pun mulai saling memagut dan mencecap. Melepaskan kerinduan yang selama satu bulan ini mereka rasakan.


Semakin lama ciuman Zidan semakin menuntut. Ia merapatkan tubuh Andita pada tubuhnya. Tangannya mulai meraba bagian-bagian tubuh Andita lainnya.


Andita yang juga merasakan kerinduan mendalam pada suaminya itu ikut menikmati cumbuan Zidan. Tanpa memperdulikan dimana saat ini mereka berada.


Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah saling melepaskan rindu. Saat mereka tengah larut dalam kabut gairah tiba-tiba seseorang membuka pintu.


Ceklek.


Netra Zoya membulat sempurna. Ia tercengang ketika melihat pemandangan dihadapannya.


.


.


Bersambung...


Maaf yaa belum bisa crazy up๐Ÿ™ slnya pagi otor kerja pulang malam. Ini aja diusahakan ngetik padahal mata udah ngantuk-ngantuk ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2