
Satu minggu kemudian.
"Kau kenapa? Sejak tadi kuperhatikan kau selalu tersenyum!" Tanya Andita saat sedang mengancingkan kemeja suaminya.
"Bagaimana aku tidak tersenyum. Semalam kau kalah lagi dariku! Tapi ku akui kau ada kemajuan. Kau lebih agresif! Sepertinya aku harus lebih sering mengajarimu!" bisik Zidan dengan nakalnya.
Andita terperangah. Ia langsung menghentikan aktifitasnya mengancingkan kemeja. Wajahnya mulai bersemu merah saat mengingat pergulatan panas mereka semalam diatas ranjang.
Tiba-tiba .
"Akkkhhh..."
Zidan memekik kesakitan saat Andita mencubit pinggangnya dengan begitu keras.
"Kenapa kau mencubitku!"
"Jangan mengingat itu lagi! Atau aku akan mencabut ginjalmu!" Ancamnya.
Zidan tak bisa menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Andita.
"Wah kau mulai berani mengancamku ya! Lihat saja, malam ini aku akan membuatmu tidak bisa berjalan!"
Netra Andita membola. Ia mendeliki Zidan.
"Ya sudah, kau pakai saja kemejanya sendiri! Aku akan turun untuk sarapan!"
Andita segera berbalik namun Zidan langsung memeluknya dari belakang.
"Kau tidak boleh pergi! Tugasmu belum selesai! Bukankah disurat perjanjian sudah tertulis bahwa kau harus patuh padaku?! Kenapa sekarang kau berani mengancamku? Hm?!"
Zidan menggigit kecil telinga Andita hingga yang punya sedikit meringis.
"Awhh, hishh!! Bagaimana aku tidak mengancammu?! Kau selalu saja menggodaku!" Protes Andita sambil memegangi telinganya.
"Bukankah lebih baik menggoda istriku sendiri daripada menggoda istri orang lain diluar sana?"
Andita terdiam. Ada benarnya juga yang dikatakan Zidan. Hanya saja Andita terlalu malu jika suaminya itu terus saja mengingatkannya tentang malam panas mereka.
"Baiklah, baiklah! Kali ini kau menang lagi!" Andita segera berbalik dan kembali melanjutkan tugasnya mengancingkan kemeja Zidan dengan wajah sedikit ditekuk.
"Tersenyumlah! Aku tidak ingin melihat wajah cantik istriku ini cemberut!" Zidan menyentuh dagu Andita. Andita menatap Zidan lalu tersenyum seindah mentari pagi.
"Nah begitu kan lebih cantik!" pujinya.
"Oh ya Zidan, boleh kah aku pergi kerumah Ibu? Aku bosan dirumah! Aku janji akan segera pulang sebelum kau pulang."
Zidan nampak berpikir. Ia sangat keberatan jika Andita keluar rumah. Zidan hanya takut jika ayahnya masih berusaha untuk memisahkan mereka dan akan melakukan sesuatu pada Andita.
"Bagaimana jika aku yang meminta Ibu dan Nazwa untuk main kerumah? Jika perlu aku akan meminta mereka menginap disini." Tawar Zidan.
"Oh ayolah Zidan! Aku ini istrimu bukan tawananmu! Aku juga butuh refreshing. Kau sudah berjanji akan mengizinkanku keluar jika kita sudah menikah bukan?! Maka tepatilah janjimu!"
Zidan menangkup wajah Andita dan menatapnya lekat-lekat.
"Bukan aku tidak ingin menepati janjiku Andita. Hanya saja aku masih takut jika Ayah melakukan sesuatu padamu! Pasti saat ini Ayah masih menyuruh orang suruhannya untuk mengawasi kita."
"Ya Tuhan, Zidan! Kau tidak boleh berpikiran buruk seperti itu pada Ayahmu! Lagipula saat pernikahan kita, Ayah dan Ibu datang bukan?! Itu berarti Ayah sudah merestui kita!"
Belum Andita, Ayahku belum merestui hubungan kita!
"Ah, baiklah! Kau boleh pergi asal dikawal oleh supir dan beberapa bodyguardku. Mereka akan memastikan keamananmu!"
__ADS_1
Andita tergelak mendengar ucapan suaminya.
"Tidak Zidan! Aku tidak butuh bodyguardmu! Lagipula aku bukan Ibu pejabat yang butuh pengawalan. Aku akan pergi dengan supir saja. Itu sudah cukup!"
"Andita.."
"Zidan, please!"
Zidan membuang nafas kasar saat melihat wajah memelas istrinya. Mau tidak mau iapun merelakan Andita pergi dengan supir.
"Ya baiklah! Kali ini aku mengalah. Asal kau bisa menjaga dirimu baik-baik!"
Seketika wajah Andita berbinar.
"Tentu saja sayang! Aku akan menjaga diriku untukmu! Terimakasih..Muuacch!"
Sekilas Andita mencium bibir Zidan lalu memeluknya dengan erat. Tindakan Andita yang tiba-tiba sontak membuat degub jantung Zidan berdetak dua kali lebih cepat. Ia tidak menyangka Andita akan berani menciumnya lebih dulu.
Tadi dia bilang apa? Sayang?!
Senyum mengembang terbit diwajah tampan itu ketika istrinya memanggilnya 'sayang'.
******
Disebuah ruangan yang cukup besar Zidan tengah menanti seseorang. Ia memperhatikan ruang kerja itu dengan seksama. Meskipun tidak sebesar ruang kerjanya di Royal Group namun ruangan ini nampak rapi dan bersih.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka saat Zidan tengah menatap keluar jendela. Zidan pun menoleh.
"Paman!" Sapa Zidan. "Maafkan aku, jika kedatanganku kemari begitu mendadak!"
Pria paruh baya yang dipanggil paman oleh Zidan tak lain adalah Tuan Reyhan. Ia berusaha tersenyum pada tamu tak diundangnya itu.
"Tidak apa-apa Zidan! Kau tamu kehormatanku. Datanglah kapanpun kau mau!"
"Oh ya, selamat Zidan atas pernikahanmu dengan Andita! Paman minta maaf karena tidak bisa hadir diacara pernikahanmu itu!"
Zidan tersernyum seramah mungkin.
"Tidak apa-apa Paman! Aku tahu kau sangat sibuk. Ucapan selamat darimu saja sudah cukup bagiku, terimakasih!"
Sebenarnya apa tujuan anak ini datang kemari? Setelah apa yang dia lakukan pada perusahaanku, tidak mungkin dia akan kembali mengajak kerjasama! Apa dia hanya ingin menertawakan kesialanku?
"Oh ya, Zidan apa ada yang bisa ku bantu? Mengingat kau tidak pernah datang kemari sebelumnya." Tuan Reyhan menyandarkan punggungnya disofa dengan satu kaki menyilang.
"Tujuan kedatanganku kemari untuk meminta maaf padamu Paman, setelah apa yang kulakukan pada Dirga beberapa minggu lalu. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghormatimu sebagai pemilik utama perusahaan Lite Properti. Saat itu aku .."
"Sudah tidak apa-apa Zidan. Lagipula Dirga sudah menceritakan semuanya! Aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena kedua putra-putriku itu telah membuat kesalahan yang cukup fatal padamu! Mereka memang perlu diberi pelajaran!" Potong Tuan Reyhan.
Zidan menyunggingkan sedikit senyumnya.
Ya, mereka memang pantas mendapat pelajaran!
"Terimakasih Paman. Sekali lagi aku minta maaf!"
Tuan Reyhan tersenyum mengangguk.
"Oh ya Paman, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kau mengenal mendiang Ayah Andita?"
Jlebb
Tiba-tiba wajah Tuan Reyhan berubah pias.
__ADS_1
Untuk apa dia tiba-tiba menanyakan si brengsek itu?!
"Ayah Andita? Maksudmu Hadi Andriansyah?"
"Ya, Paman! Apa kau mengenalnya?"
"Aku mengenalnya, hanya saja kami tidak terlalu dekat."
"Oh begitu ya."
"Hmm..Apa sebelumnya kalian pernah satu pekerjaan,,ehm, maksudku, satu kantor. Apa kalian pernah satu kantor?"
Tuan Reyhan yang mulai tidak nyaman dengan pertanyaan Zidan pun balik bertanya.
"Sebenarnya ada apa Zidan? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan mendiang Ayahnya Andita? Apa ada masalah?"
Zidan menghela nafas kemudian membuangnya perlahan.
"Maafkan aku Paman jika pertanyaanku membuatmu tidak nyaman. Aku dengar dari Ayah, jika mendiang ayah Andita pernah mencuri data perusahaan Ayahku dan kau yang menggagalkannya, apa itu benar?"
Ah, jadi tua bangka itu sudah mengatakan semuanya pada putranya.
Tuan Reyhan mengubah ekspresinya seolah-olah dirinya merasa tidak enak pada Zidan.
"Ya, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini padamu Zidan, karena aku merasa tidak enak hati. Tapi berhubung kau menanyakan hal ini padaku secara langsung, maka mau tidak mau aku harus menceritakannya."
******
Andita baru saja keluar dari toko kue. Ia membeli beberapa kue basah dan camilan kering untuk Ibu dan Nazwa sebagai oleh-oleh.
Sang supir turut membantu membawakan belanjaan majikannya itu. Saat akan berjalan menuju parkiran tiba-tiba ada seseorang yang tengah berlari kencang dari arah samping seolah sedang dikejar sesuatu dan akhirnya tidak sengaja menabrak tubuh Andita hingga gadis itu tersungkur ke aspal.
"Awwhh,,hishh!!!" Pekik Andita. Ia sangat terkejut ketika tubuhnya membentur aspal hingga telapak tangannya sedikit tergores.
"Nona! Anda tidak apa-apa?!" Teriak pak supir yang juga ikut terkejut.
Ia segera membantu Andita untuk berdiri begitu pun dengan orang yang menabraknya.
"Ma-maaf Nona! Saya tidak sengaja!" Ucap orang itu.
Andita seperti tidak asing dengan suara lelaki tersebut meskipun kepalanya ditutupi topi dan sebagian wajahnya ditutupi masker. Begitupun dengan orang yang menabrak Andita. Ia merasa tidak asing dengan wajah gadis dihadapannya.
"Andita?!"
"Paman Bima?!"
Mereka memanggil secara bersamaan. Namun netra lelaki yang bernama Bima itu langsung tertuju pada dua orang berbadan besar yang tengah mengejarnya.
"Andita! Aku harap kita bisa bertemu lagi nanti! Aku akan menceritakan tentang kematian Ayahmu! Ini kartu namaku!" Paman Bima buru-buru menyodorkan kartu namanya dari balik jaket yang ia kenakan.
Setelah mengatakan itu, ia pun segera pergi dari sana. Andita masih terlihat syock. Ia mencoba mencerna kata-kata lelaki paruh baya tadi yang mengatakan tentang kematian Ayahnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Paman Bima tiba-tiba mengatakan hal itu?
Andita hanya menatap nanar kartu nama yang saat ini tengah dipenggangnya.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan hadiah kopi bunga dan votenya ๐๐