MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Pengakuan


__ADS_3

Beberapa waktu lalu, di saat Andrew dan Zoya tengah bertengkar, Zidan dan Andita yang berjalan lebih dulu justru merasa sebaliknya.


Mereka sedang menikmati momen kebersamaan yang terasa begitu indah.


Zidan menggenggam tangan Andita yang tengah memegang tali kekang kuda, lalu perlahan mengarahkan kuda itu untuk berjalan.


"Sayang!" panggil Zidan.


"Ya?!"


"Apa kau tahu? kau adalah wanita pertama yang menaiki kuda kesayanganku ini!"


"Benarkah?"


"Hemm."


"Wah, kalau begitu aku beruntung bisa menungganginya bersama suamiku yang tampan ini!" puji Andita sekilas ia menolehkan kepalanya kesamping.


Dan..Cupp


Zidan langsung mengecup pipi kanan Andita.


"Hish, sayang! Kau selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan! Apa kau tidak lihat dibelakang ada Ken dan Stella!"


"Haha.. Biarkan saja! Jika mereka mau mereka bisa melakukannya!"


Andita hanya berdecak menanggapi ucapan suaminya itu. Tiba-tiba Zidan teringat sesuatu. Ia menyuruh Andita untuk memegang tali kekang kuda itu sebentar.


Awalnya Andita tidak mau karena takut jika nantinya kuda itu akan mengamuk. Namun Zidan meyakinkan Andita bahwa tidak akan apa-apa asalkan Andita tidak terlalu kuat menarik tali kekangnya.


Kemudian Zidan pun segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sana.


"Sayang, tutuplah matamu!" titah Zidan.


"Tutup mata? Lalu bagaimana dengan kudanya?!" tanya Andita panik.


"Tidak apa-apa hanya sebentar saja!"


"Tapi.."


"Ayo cepat!"


Andita pun segera memejamkan matanya.


"Sudah!"


Setelah mendengar ucapan Andita, Zidan langsung melingkarkan tangannya kedepan tubuh istrinya itu sambil memegang kotak yang sudah disiapkannya.


"Sekarang buka matamu!"


Perlahan Andita membuka matanya. Dan seketika ia tercengang saat melihat kalung berlian dengan liontin hati yang sangat indah berada dihadapannya. Bahkan ditengah liontin itu terdapat inisial nama Andita.


"Sa-yang i-ini?!"


"Ini hadiah untukmu! Cantik bukan?"


Andita mengangguk-anggukan kepalanya. Netranya terus menatap kalung berlian nan cantik itu.


"Cantik sekali!"


"Aku pakaikan ya?"

__ADS_1


"Hu'umh!"


Dengan senang hati Zidan memakaikan kalung berlian itu dileher Andita. Setelah selesai Zidan mendekap tubuh Andita dari belakang. Dagunya bertopang pada bahu istrinya itu.


"Jaga kalung ini dengan baik! Karena aku memesan kalung ini khusus untukmu!"


"Tentu! Aku pasti akan menjaganya dengan segenap jiwaku! Lagipula pasti harga kalung ini sangat mahal tentu saja harus dijaga dengan baik! Benarkan?!"


"Bukan perkara harganya! Tapi aku memesan dan membeli kalung ini dengan penuh cinta untukmu! Jadi kau harus menjaganya seperti kau menjaga cintamu untukku! Mengerti?!"


Andita sedikit menjauhkan kepalanya dari Zidan lalu menoleh kesamping dan mencium pipi suaminya itu.


"Aku mengerti sayang! Terimakasih atas hadiahnya! Maaf aku belum bisa memberikan apapun untukmu, sementara kau sudah banyak sekali memberikan hadiah untukku!" lirih Andita.


"Bagiku, kau adalah hadiah terindah dalam hidupku Andita! Aku hanya akan meminta satu hal padamu."


"Apa?"


"Jangan pernah pergi dariku! Selamanya tetaplah disampingku apapun yang terjadi! Barjanjilah!" Zidan mengulurkan jari kelingkingnya.


"Ck! Bukankah aku sudah pernah berjanji padamu sayang?"


"Aku ingin mendengarnya lagi!"


Andita tertawa mendengar permintaan suaminya itu.


"Ya ya baiklah, aku berjanji, aku tidak akan pernah pergi darimu! Apapun yang terjadi, selamanya akan tetap disampingmu! Bagaimana? Sudah puas?" tanya Andita sembari menautkan kelingkingnya pada jari Zidan.


"Belum!"


"Kenapa belum?!" Andita mendelik.


"Baiklah aku akan memberikannya nanti malam!" ucap Andita dengan nada malu-malu. Ia mengalihkan pandangannya kedepan agar rona merahnya tak terlihat oleh Zidan.


Namun Zidan langsung memalingkan wajah Andita hingga kembali menghadap wajahnya.


"Aku ingin sekarang!" ucapnya dengan suara berat dan mata yang sudah berkabut.


Sementara dibelakang.


"ASTAGA!!! Apa yang mereka lakukan Ken?!" Stella membelalakan matanya saat melihat Zidan mencium Andita.


Ken yang juga melihat kelakuan tuannya itu langsung menutup mata Stella dengan telapak tangannya.


"Tutup matamu! Jika tidak otak mesummu akan traveling kemana-mana!" ucap Ken.


"Ken! Lepas! Lagipula aku sudah melihatnya!" ketus Stella seraya menyingkirkan tangan Ken dari matanya.


"Aku hanya tidak habis pikir, kenapa mereka berciuman ditempat terbuka seperti ini?! Seperti dunia hanya milik mereka berdua dan kita hanya mengontrak!" gerutu Stella.


"Jika kau mau kau juga bisa melakukannya!" ucap Ken.


"Hah? Yang benar saja?! Memangnya kau mau berciuman denganku disini?!" tanya Stella dengan polosnya.


"Bukan denganku!"


"Jika bukan denganmu dengan siapa, hah?!"


"Dengan dia!" netra Ken melirik kearah kuda yang sedang mereka tunggangi.


Membuat Stella tercengang mendengar ucapan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Hish! Kau itu benar-benar tega sekali Ken!" cicit Stella. Ia langsung menyikut dada Ken. Sementara Ken hanya tertawa karena sikutan Stella sama sekali tidak berasa apa-apa.


Tidak lama kemudian terdengar suara ringkikan kuda yang begitu keras sampai memekakkan gendang telinga.


Hingga membuat Zidan dan yang lainnya menoleh ke asal suara tersebut.


"Tolong! Tolong aku!!" teriak Zoya histeris. Suaranya terdengar sangat panik dan ketakutan.


Hanya karena ingin melampiaskan emosinya, Zoya menarik tali kekang kuda itu terlalu kuat sehingga membuat kuda tersebut mengamuk.


"ZOYA!!!"


Semua orang nampak terkejut saat mereka melihat kuda yang ditunggangi Zoya berlari dengan liarnya.


******


Zidan segera turun dari kudanya lalu mengulurkan tangannya pada Andita.


"Sayang, maafkan aku! Aku harus menolong Zoya! Dia dalam bahaya!"


Andita yang mengerti ucapan suaminya dengan cepat menganggukan kepalanya, lalu menerima uluran tangan Zidan dan segera turun dari kuda putih itu.


Kemudian Zidan kembali naik keatas kuda untuk menyelamatkan Zoya. Sebelum pergi ia berpesan kepada Ken dan Stella untuk menjaga Andita.


Ken dan Stella pun mengiyakannya. Sementara Andita hanya bisa menatap nanar kepergian Zidan.


Disisi lain, Zoya yang sudah ketakutan masih berusaha menghentikan kuda yang tengah berlari itu dengan cara menarik tali kekangnya terus menerus.


Namun bukannya berhenti, kuda tersebut malah semakin menjadi dengan mengangkat kedua kaki depannya keatas hingga membuat Zoya kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terhempas jatuh dari atas punggung kuda tersebut.


"Aaaaa!!!"


Bugh


Dengan keras tubuh Zoya jatuh ketanah dan berguling-guling diatasnya. Bahkan kepalanya nyaris saja membentur sebuah batu besar yang terdapat disisi lapangan berkuda.


"ZOYA!!!" teriak Zidan.


Ia menambah kecepatan laju kudanya. Begitu sampai ditempat Zoya terjatuh, Zidan segera turun dan meraih tubuh sahabatnya itu kedalam dekapannya.


"Zoya! Kau tidak apa-apa?!" tanya Zidan panik seraya mengguncang pelan pipi Zoya.


Wajah Zoya berbinar. Ia tersenyum senang saat tahu Zidan yang menyelamatkannya. Zoya pun mencoba menyentuh wajah lelaki yang selama ini telah mengusik hatinya itu.


"Zi-dan, a-ku men-cintaimu!"


Slerrp


Seketika pandangan Zoya menggelap hingga akhirnya ia pun tak sadarkan diri sebelum tangannya berhasil menyentuh wajah Zidan.


Deg, Deg, Deg


Mendengar pengakuan Zoya barusan, Zidan melebarkan matanya. Tubuhnya seolah membeku ditempat. Pandangannya lurus menatap wajah yang dulu pernah mengisi hatinya itu.


Bagaimana mungkin Zoya mengatakan hal itu padanya? Tidak! Dia pasti salah dengar. Zidan mencoba mengelak apa yang baru saja didengarnya.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2