
Andita sedikit terkejut saat pelayannya itu menyebut nama Zoya.
Mau apa Zoya datang kemari?
Batin Andita bertanya-tanya.
"Suruh dia masuk Bik! Aku akan segera menemuinya." ucap Andita.
"Baik Non!"
Pelayan itu pun segera pergi dari hadapan Andita.
"Stell, setelah adonannya mengembang langsung saja kau masukan kedalam loyang ya lalu setelah itu di panggang! Aku akan kedepan dulu menemui Zoya." ucap Andita seraya melepas celemek yang mengikat tubuhnya.
"Siap chef!" jawab Stella sigap, diiringi tawa renyah keduanya.
Hubungan Stella dan Andita yang begitu akrab berawal ketika Stella menjadi dokter pribadi yang merawat Zidan pasca Zidan sadar dari koma.
Bahkan Andita pernah memberi saran pada Stella agar gadis itu bersikap jual mahal terhadap Ken, ketika ia menyadari bahwa Stella ternyata menyukai pengawal sekaligus asisten pribadi suaminya itu.
Setelah Stella mengikuti saran dari Andita dan ternyata berhasil hubungan pertemanan keduanya semakin erat.
Sampai saat ini pun Stella tidak sungkan untuk bercerita tentang kisah asmaranya dengan Ken pada Andita. Karena Stella begitu mempercayai gadis itu.
Namun berbeda dengan Andita. Meskipun mereka sudah cukup akrab, Andita tidak mau terlalu gamblang menceritakan persoalan rumah tangganya pada orang lain.
Ia harus bisa membatasi diri. Palingan Andita hanya menceritakan pengalaman pribadinya saja sebelum ia menikah dengan Zidan.
******
"Zoya!" Panggil Andita ketika ia tiba diruang tamu.
Zoya yang sedang duduk disofa sambil memainkan ponselnya pun menoleh keasal suara.
"Andita!"
Keduanya saling melempar senyum. Andita berjalan mendekati Zoya. Sementara Zoya langsung berdiri ketika Andita datang.
Mereka berdua saling berpelukan dan saling menempelkan pipi. Setelah itu Andita menyuruh Zoya untuk kembali duduk.
Seperti biasa Zoya berbasa-basi menanyakan kabar Andita. Padahal tujuannya datang kemari hanya untuk bertemu dengan Zidan. Ia berharap sudah pulang dan ia bisa bertemu dengan lelaki itu.
"Maaf Andita jika aku datang tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Aku baru saja menemui klienku yang juga tinggal didaerah sini. Jadi aku pikir tidak ada salahnya jika aku mampir kemari." dusta Zoya.
Entah sejak kapan dirinya pandai berakting.
"Tentu tidak apa-apa Zoya! Aku malah merasa sangat senang jika kau mau datang kemari."
Andita segera memanggil pelayan dan memintanya untuk membawakan minuman.
"Oh ya dimana Zidan? Apa dia belum pulang dari perjalanan bisnisnya?"
"Belum. Tapi rencananya dia akan pulang hari ini." jawab Andita.
"Oh begitu." Zoya sedikit kecewa mendengarnya.
Tidak lama Stella datang menghampiri keduanya. Ia terlihat terburu-buru.
"Andita!" panggil Stella.
__ADS_1
Andita dan Zoya refleks menoleh kearah Stella yang muncul dari arah belakang.
"Stella kau disini?!" tanya Zoya.
"Hai Zoya, bagaimana kabarmu?!" Stella langsung menghampiri Zoya dan melakukan hal sama seperti yang Andita dan Zoya lakukan diawal pertemuan.
"Kabarku cukup baik. Bagaimana dengan kabarmu?!"
"Seperti yang kau lihat. Aku juga baik!" jawab Stella.
"Ada apa Stell? Barusan kau memanggilku?" tanya Andita.
"Uhm ya Andita. Sorry! Sepertinya aku tidak bisa membuat kue denganmu sampai selesai. Karena tiba-tiba saja aku mendapat panggilan mendadak dari rumah sakit. Ada pasien darurat yang membutuhkan pertolongan. Sementara dokter yang seharusnya berjaga masih melakukan operasi dirumah sakit lain!" ucap Stella panjang lebar.
"Oh begitu. Yasudah tidak apa-apa kau bisa pergi Stell. Aku yang akan melanjutkan pekerjaanmu membuat kue!" jawab Andita.
Ia mengerti dengan tugas utama Stella sebagai seorang dokter.
"Tunggu! kalian sedang membuat kue?" tanya Zoya.
"Ya Zoya, kebetulan karena kekasih hati kami akan pulang, kami membuat kue untuk memberinya kejutan! Tapi sayang sepertinya aku tidak bisa ikut menyambutnya!" sahut Stella antara senang dan sedih.
"Kekasih hati?!" Zoya mengernyitkan keningnya.
"Hu'um." Stella menganggukan kepalanya seraya tersenyum.
Tunggu! Apa Stella juga menyukai Zidan?!
Zoya mulai was-was jika saingannya bertambah.
"Memang siapa kekasih hatimu Stell?" Zoya merasa penasaran.
"Jadi kau belum tahu siapa kekasih hatiku Zo?"
Zoya menggelengkan pelan kepalanya.
"Ken! Dia adalah kekasih hatiku!" jawab Stella mantap. Senyum mengembang terbit diwajah cantiknya.
"What?! Ken?!" Zoya nampak terkejut. Ia menatap tidak percaya pada Stella dan Andita.
"Benarkah yang diucapkan Stella barusan Andita?!" tanya Zoya memastikan.
Tentu saja Andita mengangguk karena itu memang kenyataannya.
"Kau tidak percaya padaku Zoya?!" tanya Stella yang nampak kecewa.
"Bukan aku tidak percaya padamu Stell. Tapi.. Ppfffttt.. Yang benar saja kalau Ken itu adalah kekasihmu?!"
"Memangnya kenapa jika Ken adalah kekasihku? Apa ada yang salah?!"
Stella mulai kesal ketika melihat ekspresi Zoya yang terkesan meremehkan. Ia bahkan lupa dengan tujuan awalnya yang hendak pergi ke rumah sakit.
"Kau jangan marah Stell. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya merasa terkejut saja."
"Kau itu kan cantik, berpendidikan tinggi dan memiliki profesi yang cukup mumpuni. Kenapa kau harus memilih Ken sebagai kekasihmu? Dia hanya pengawal Zidan yang merangkap menjadi asisten pribadinya. Kau bahkan bisa mendapatkan pria yang lebih segalanya dari pada Ken, Stell."
Jlebb
Ucapan Zoya bagaikan anak panah yang langsung menancap kedalam ulu ati bagi siapa saja yang mendengarnya.
__ADS_1
Tak terkecuali bagi Andita dan Stella. Mereka berdua tidak percaya jika Zoya terang-terangan meremehkan profesi Ken.
Tidak terima dengan ucapan Zoya, Stella maju satu langkah kehadapan gadis itu. Ia mengepalkan tangannya menahan geram.
Tatapannya begitu tajam, tak ada lagi tatapan ramah seperti sebelumnya.
Tentu Stella merasa sakit hati jika kekasihnya dihina.
Stella menatap Zoya begitu tajam. Sementara Zoya yang ditatap malah terlihat santai.
Berbeda dengan Andita yang sedari tadi nampak tidak tenang. Ia seolah merasa akan terjadi perang dunia ketiga dirumah suaminya itu.
"Apa yang kau katakan barusan Zoya? Ken hanya seorang pengawal dan asisten pribadi Zidan?" tanya Stella. Suaranya terdengar menahan amarah.
"Ya. Bukankah itu fakta?" Zoya menyedekapkan tangannya diatas dada.
"Aku hanya ingin kau mendapatkan lelaki yang pantas untukmu Stell. Apa salahnya jika aku memperingatkanmu?" lanjut Zoya.
Stella berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia memang tidak begitu mengenal Zoya. Mereka baru saling bertegur sapa ketika bertemu di rumah sakit.
Tapi melihat cara berpakaian dan latar belakang Zoya, Stella yakin jika Zoya sama sepertinya. Sama-sama berpendidikan.
Hanya saja Stella tidak percaya jika tutur bahasa Zoya seperti sampah.
"Jelas itu salah Zoya! Kau tidak perlu repot-repot memikirkan diriku. Pikirkan saja dirimu sendiri! Pantas atau tidaknya Ken untukku itu bukanlah urusanmu!"
"Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Itu sudah lebih dari cukup! Tidak masalah jika dia hanyalah seorang pengawal maupun asisten pribadi. Yang terpenting bagiku dia bukanlah pria beristri ataupun kekasih orang lain!"
Duarr
Bagai tersambar petir disiang bolong, Zoya tidak menyangka jika ucapan Stella begitu menohok baginya.
Padahal Stella tidak sengaja mengatakan hal itu. Ia hanya ingin membela Ken. Tapi ucapannya barusan malah membuat Zoya merasa tersindir dan mati kutu.
Kini kedua wanita berbeda profesi itu saling menatap penuh kilatan amarah.
Andita yang melihat hal tersebut berusaha memisahkan mereka sebelum nantinya terjadi pertempuran yang lebih sengit.
"Sudah cukup Stell! Bukankah kau harus segera pergi kerumah sakit?! Jangan buang waktumu! Cepat pergilah!" titah Andita.
"Ya kau benar Andita! Sebaiknya aku tidak membuang waktuku untuk melayani orang-orang yang tidak penting! Masih banyak orang yang membutuhkan pertolonganku. Kalau begitu sebaiknya sekarang aku pergi!"
Stella berbicara sambil terus menatap Zoya. Dengan perasaan marah dia berlalu melewati tubuh ramping designer itu.
Sementara Zoya yang sedari tadi juga menahan geram karena ucapan Stella langsung meraih minuman yang sudah disediakan oleh pelayan diatas meja. Ia meneggaknya dengan penuh rasa kesal.
Melihat hal tersebut Andita mengernyitkan keningnya.
"Ada apa Zoya? Apa kata-kata Stella barusan menyakitimu?!" tanya Andita yang penasaran dengan perubahan raut wajah Zoya.
"Tidak! Aku tidak apa-apa Andita." jawab Zoya sambil berusaha menetralkan ekspresinya.
Dasar dokter tidak tahu terimakasih! Aku mencoba mengingatkannya tapi dia malah menyindirku! Sungguh sial!
.
.
Bersambung~~~
__ADS_1