MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Surat Perjanjian 2


__ADS_3

Pagi ini Zidan baru saja selesai berolah raga diruang gym pribadinya. Keringat segar masih terlihat membasahi seluruh tubuh atletisnya. Hari ini ia begitu bersemangat berolah raga karena sejak semalam dirinya tidak bisa tidur.


Ia terus memikirkan Andita, Andita, dan Andita. Kenapa nama gadis itu selalu memenuhi isi kepalanya?


Zidan mengusap wajah kasar. Sepertinya untuk membuat Andita memiliki perasaan yang sama dengannya, dirinya harus lebih extra bersabar.


Jangka tiga tahun pernikahan kontrak yang ia ajukan pada Andita dirasa adalah waktu yang sangat cukup untuk membuat gadis itu jatuh cinta padanya.


Jika aku tidak bisa membuatmu tinggal disisiku karena keinginanmu sendiri, maka aku akan membuatmu tinggal disisiku karena keinginanku!


Zidan segera bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri. Berhubung hari ini adalah hari libur, ia ingin menjenguk calon ibu mertuanya.


Sebenarnya ia ingin sekali dekat dengan keluarga calon istrinya itu. Tapi nampaknya Andita sengaja tidak memberinya kesempatan untuk mengenal anggota keluarganya lebih jauh.


Zidan telah selesai dengan ritualnya. Lelaki berparas tampan itu sudah mengenakan kaus santai berwarna putih polos dipadu padankan dengan celana chino shorts berwarna beige.


Untuk menunjang penampilannya lebih cool, Zidan mengenakan sepatu sneaker dan topi dad hat diatas kepalanya. Selain ingin menjenguk calon ibu mertuanya, dia juga ingin bertemu dengan calon istrinya.


Otomatis dia harus membuat pujaan hatinya itu terkesan dengan penampilannya saat nanti mereka bertemu.


Setelah selesai, Zidan mengenakan kaca mata hitam dan tidak lupa ia menyemprotkan parfume kesukaannya keseluruh tubuh.


Perfect! Gumamnya.


Dengan langkah lebar Zidan keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Ia begitu bersemangat sekali untuk pergi kerumah Andita.


Berhubung hari ini hari libur, Zidan akan pergi dan mengendarai mobilnya sendiri. Ia tidak ingin mengganggu Ken dihari akhir pekan ini. Karena lelaki itu pun pasti butuh waktu untuk beristirahat dari pekerjaannya yang begitu padat.


Zidan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Didalam mobil ia terus bersenandung ria seperti pemuda yang sedang kasmaran.


Padahal kemarin dirinya baru saja ditolak oleh Andita. Dan semalam pun nyaris mabuk karena gadis itu. Tapi hari ini? Zidan seolah ingin melupakan segalanya. Ia akan menganggap penolakan Andita akan dirinya kemarin tidak pernah terjadi.


Pria itu belum mau menyerah, karena beberapa hari lagi pernikahannya akan terlaksana.


Setelah memakan waktu perjalanan hampir 1 jam, Zidan pun telah sampai dirumah Andita. Tidak lupa, tadi ia sempat mampir membeli cake untuk keluarga calon istrinya itu sebagai buah tangan.


Begitu sampai dihalaman rumah, Zidan melihat Nazwa sedang menyiram tanaman.


"Hai Naz! Apa kabar?!" Tanya Zidan dengan seulas senyum diwajahnya.


"Kak Zidan!" Nazwa segera menaruh alat penyiram tanaman ketika melihat siapa yang datang. Kemudian Nazwa segera menghampiri calon kakak iparnya itu.


"Kabarku baik Kak!"


"Syukurlah! Ini aku bawakan sesuatu untukmu dan Ibu semoga kalian suka!" Ujar Zidan seraya menyodorkan satu buah paper bag berisikan cake.


"Terimakasih Kak!"


"Oh ya Naz, dimana Andita? Kenapa kau menyiram tanaman sendiri?"


Seketika ekpresi wajah Nazwa berubah menjadi gugup.

__ADS_1


"Emm,,,, Kak Andita, emmm.."


"Ada apa Naz?! Kenapa wajahmu berubah gugup seperti itu? Dimana Andita?" Suara Zidan mulai terdengar tidak sabar.


Nazwa masih kebingungan mencari untuk alasan. Pasalnya dia sudah berjanji pada Andita untuk tidak memberitahukan hal apapun pada calon kakak iparnya itu.


"Nazwa! Apa semua baik-baik saja?!" Perasaan Zidan mulai tidak enak.


"I-iya Kak! Semua baik-baik saja!"


"Lalu dimana Andita?"


"Kak, Kak Andita pergi menemui seseorang."


"Siapa?"


Bagaimana ini?! Apa aku harus jujur saja pada Kak Zidan?


"Nazwa?!" Suara Zidan membuyarkan lamunan Nazwa.


"Kak Andita pergi menemui Tuan Wildan, Kak!" Spontan Nazwa mengatakan yang sebenarnya karena ia merasa terkejut.


"Apa?! Tuan Wildan? Dia itu Ayahku! Untuk apa Andita menemui Ayahku?!" Wajah Zidan seketika berubah merah padam saat mendengar nama sang Ayah disebut.


"Bukan Kak Andita yang ingin menemui Ayah Kak Zidan, tapi Ayah Kak Zidanlah yang ingin bertemu dengan Kak Andita!"


Nyess


Seketika perasaan Zidan bertambah menjadi tidak karuan. Hatinya gusar. Dia yakin ayahnya memiliki tujuan pada Andita. Meskipun ia sendiri tidak tahu apa tujuan ayahnya itu, namun Zidan yakin, tujuan ayahnya bukanlah untuk memberikan restu pada mereka. Karena Zidan lebih tahu bagaimana watak sang ayah.


"Di-direstoran Kak!"


"Apa nama restorannya?!"


"The Paquite Resto!" Jawab Nazwa terbata.


Zidan pun segera melepaskan cengkraman tangannya dari bahu gadis itu.


Paquite Resto?! Bukankah itu restoran milik Ayah?!


Zidan mengusap wajah kasar. Tanpa menunggu lama ia segera pergi dari rumah Andita dan melesatkan mobilnya menuju resto milik sang ayah.


******


"Surat Perjanjian?!"


Sekilas Andita menatap wajah Tuan Wildan. Lalu netranya kembali beralih pada surat yang tengah digenggamnya saat ini.


"Saya sama sekali tidak mengerti maksud dari surat perjanjian ini Tuan!"


"Bagaimana kau bisa bilang tidak mengerti, Andita?! Disitu dijelaskan dengan rinci, kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik jika kau pergi meninggalkan putraku! Selama kau menghilang dari kehidupan Zidan, aku akan memberikan fasilitas dan mencukupi segala kebutuhanmu juga keluargamu!"

__ADS_1


"Tuan! Tapi saya sudah mengatakan pada anda, bahwa saya tidak akan mundur dari pernikahan ini! Itu berarti saya tidak akan pernah meninggalkan putra anda!"


"Aku sudah yakin kau pasti akan mengatakan hal itu lagi dan tidak akan langsung menyetujuinya! Tapi alangkah baiknya jika kau pikirkan dulu tawaranku ini dengan kepala dingin. Ingat Andita, kau tahu siapa aku bukan? Aku bisa melakukan apapun dengan kekuasaanku! Termasuk pada keluargamu!"


"Apa anda sedang mengancam saya, Tuan?!"


"Terserah apa anggapanmu! Aku tidak peduli. Bukankah saat ini adikmu sedang magang disalah satu perusahaan swasta? Aku bisa saja membuatnya dikeluarkan dari sana, jika kau tetap mempertahankan egomu itu!"


Jlebb


Andita merasa bahwa saat ini Tuan Wildan sedang tidak main-main dengan ucapannya. Bagaimana jika itu terjadi? Pasti perasaan Nazwa akan kecewa dan sedih.


"Tuan, tolong jangan bawa keluarga saya dalam hal ini! Mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya!"


"Kalau begitu cepat ambil keputusanmu! Tandatangani surat perjanjian itu! Maka semuanya selesai. Kau akan mendapatkan banyak uang dariku dan aku tidak akan mengusik keluargamu! Tapi dengan satu syarat, kau harus menghilang dari kota ini! Jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi dihadapan keluargaku terutama putraku, Zidan!"


Deg


Mendengar ucapan Ayah dari calon suaminya, membuat sukma Andita seolah direnggut paksa dari raganya. Netranya menatap nyalang lurus kedepan. Bibirnya sedikit terbuka. Lidahnya kelu. Dadanya terasa begitu sesak.


Kenapa dirinya harus dihadapkan pada pilihan sesulit ini? Antara keluarga dan perasaannya untuk Zidan. Mana yang harus dia pilih?


Jika ia menandatangani surat itu, itu berarti ia mengingkari janjinya pada Zidan. Dan yang lebih parahnya lagi dia harus menghilang dari kehidupan lelaki itu untuk selamanya.


Tapi jika dia memilih mempertahankan janjinya dengan menikahi pria itu, maka artinya keluarganyalah yang menjadi korban keegoisannya.


Sekilas Andita membasahi bibirnya. Gadis itu mencoba menetralkan rasa yang berkecamuk dalam hatinya.


Perasaannya pada Zidan tidak begitu kuat hingga dirinya harus mengorbankan keluarganya.


Andita membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya berat.


Andita, bukankah saat ini Tuhan sedang mengabulkan doamu?


Kemarin kau berandai-andai, jika ada seorang dermawan yang ingin memberimu pinjaman uang cuma-cuma, maka kau bisa membebaskan dirimu dari hutangmu pada Tuan Zidan?


Ya, benar inilah saatnya! Tuhan sedang berpihak padamu.


Mungkin kau memang tidak ditakdirkan untuk menikahi pria itu!


Andita memejamkan matanya. Dengan tangan gemetar ia meraih pulpen yang sudah disediakan diatas meja.


Seandainya Andita melihat, saat ini Tuan Wildan tengah tersenyum puas dengan kemenangannya.


Andita sudah menaruh tangannya diatas kertas. Degub jantungnya berpacu tak beraturan. Dia tidak tahu keputusannya ini sudah benar atau tidak, yang jelas Andita hanya memikirkan keluarganya.


"Cepatlah tandatangani surat itu! Aku tidak memiliki banyak waktu!"


Sekilas Andita menatap Tuan Wildan seraya mengangguk pelan. Ketika ia akan menggerakkan tangannya tiba-tiba...


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2