
Andita sudah sampai dirumah. Suasana rumah terlihat begitu sepi dan gelap. Beberapa lampu didalam ruangan sudah dipadamkan.
Nazwa dan ibunya pasti sudah tidur. Mengingat malam sudah sangat larut. Untung saja Andita membawa kunci cadangan sehingga ia tidak perlu membangunkan adiknya itu.
Perlahan Andita memusatkan kunci pada lubang pintu dan memutarnya. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu tidur Nazwa maupun sang ibu.
Ceklek
Pintu sudah terbuka. Andita pun masuk kedalam rumah, kemudian ia kembali menutup pintu dan menguncinya. Dengan langkah yang sangat pelan Andita berjalan menuju kearah kamar.
"Hufft!" Andita menghela nafas begitu ia sudah berada didalam kamarnya. Ia menaruh tas kecil yang dibawanya kepesta tadi diatas nakas.
Lalu gadis itu melangkahkan kakinya kearah meja rias. Andita melepas satu persatu jepitan yang menyanggul rambutnya.
Setelah semua terlepas, Andita mengibas-ngibaskan rambut hitamnya itu. Kemudian ia mulai membersihkan wajahnya dari sisa-sisa make up.
Setelah semua selesai, terakhir Andita akan melepas gaunnya. Gaun yang membawanya pada sebuah pesta yang akhirnya tidak pernah ia duga. Zidan melamarnya. Padahal Andita pikir, Zidan akan mengenalkannya pada kedua orang tuanya lebih dulu. Namun ternyata ia salah.
Tiba-tiba sekelebat bayangan Rachel dan Nyonya Reyhan melintas dikepalanya. Saat itu mereka menatap Andita dengan penuh amarah dan kebencian.
Apakah aku sudah terlalu jahat pada Rachel?
Andita segera menggelengkan kepalanya menepis rasa bersalah dihatinya. Ia langsung menuju kekamar mandi dan melepas gaunnya disana sekalian membersihkan diri.
Kini Andita sudah selesai dengan semua aktifitasnya dan bersiap untuk tidur. Tubuhnya terasa sangat pegal sekali. Karena selama dipesta dirinya terlalu lama berdiri.
Gadis itu merangkak naik keatas kasur. Tangannya sudah meraih saklar lampu disampingnya.
Namun tiba-tiba pandangannya teralihkan pada lemari pakaiannya yang berdiri disudut ruangan. Ia teringat sesuatu.
Andita beranjak dari tempat tidur dan menghampiri lemari itu. Kemudian Andita membukanya. Gadis itu meraih sebuah kotak yang tersimpan disekatan paling atas.
Kotak segi empat bergambar bunga-bunga dengan ukuran 20cm yang terbuat dari bahan kaleng itu menarik perhatian Andita. Andita membawa kotak itu bersamanya. Kemudian gadis itu mendudukan dirinya dilantai dengan menyilangkan kedua kakinya.
Tubuhnya bersandar pada dipan kasur. Perlahan Andita membuka kotak itu. Lalu menatap benda-benda yang terdapat didalamnya.
Nyess..
Desiran halus yang terasa menyakitkan hati kembali ia rasakan saat melihat barang-barang yang pernah diberikan Dirga untuknya.
Barang-barang sederhana yang membuatnya amat sangat bahagia kala itu. Andita menumpahkan semua benda itu diatas lantai hingga berserakan.
Cih, kenapa dulu aku bisa mencintai laki-laki sebrengsek Dirga!
Andita memperhatikan satu persatu benda-benda itu. Dari mulai gelang, boneka, gantungan kunci, dompet dan masih banyak lagi barang-barang receh yang diberikan Dirga padanya.
Kemudian Andita meraup semua barang itu lalu membuangnya ketempat sampah yang ada disudut kamarnya.
__ADS_1
Tempatmu yang tepat adalah disini! Bukan didalam lemari ataupun didalam hatiku!
Brugh..
Setelah itu Andita kembali duduk dilantai, yang tersisa hanya selembar foto. Ya, itu foto dirinya bersama Dirga ketika mereka masih saling merajut kasih.
Foto itu diambil tiga tahun lalu, ketika Dirga pulang untuk menjenguk orang tuanya. Mereka pergi tamasya secara diam-diam.
Andita menatap foto itu lamat-lamat. Didalam foto itu terlihat sekali wajahnya begitu bahagia. Dirga merangkul bahunya. Mereka tersenyum bersama kearah kamera.
Sungguh kala itu adalah saat-saat paling bahagia dalam hidup Andita. Ketika ia kehilangan sosok seorang Ayah, Dirga mampu menguatkannya.
Tapi kini semuanya berbeda, semuanya tak lagi sama. Orang yang ia cintai mengkhianatinya dengan wanita lain. Andita menggeram.
Gadis itu kembali bangkit dari duduknya dan berjalan kearah nakas. Ia membuka laci dan mencari-cari sesuatu. Korek api.
Cetrekk
Andita menyalakan korek api itu dan mulai membakar ujung foto Dirga bersamanya. Netranya ikut menyala bersama terbakarnya foto tersebut.
Andita meletakkan foto itu didalam kotak tadi. Hingga perlahan foto itupun menjadi abu. Lalu Andita kembali menghampiri lemarinya. Dia mengambil sebuah jas dari dalam lemari itu. Jas milik Zidan.
Andita mematut dirinya didepan cermin seraya memeluk jas tersebut. Kenapa hanya dengan memeluk jas ini saja rasanya begitu hangat? Andita memejamkan matanya mulai meresapi, ia langsung teringat saat-saat Zidan menolongnya malam itu. Andita pun tersenyum samar.
Namun tidak lama Andita tersadar.
Andita mengutuk dirinya sendiri. Lalu ia buru-buru mengembalikan jas itu kedalam lemari dan merangkak naik keatas tempat tidur. Tidak lupa ia mematikan lampu dan menarik selimut. Tidak lama kemudian Andita mulai terlelap.
******
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi kiri Zidan, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Zidan mengusapnya dengan punggung telapak tangannya.
Lelaki itu meringis karena tamparan dari sang ayah begitu kuat hingga pipinya pun terasa panas. Saat ini Zidan tengah menghadapi kemarahan dari Tuan Wildan.
Ya, tadi Ken menghubunginya dan memberitahu bahwa ayahnya saat ini sedang marah besar diruang kerjanya. Hingga Nyonya Liyana pun tidak berani menghampiri sang suami.
Sebelum Zidan datang, Ken yang menghadapi Tuan Wildan. Lelaki itu dicecar seribu pertanyaan seputar gadis yang dilamar putranya tadi dipesta. Kemudian Tuan Wildan menyuruh Ken untuk segera meminta Zidan datang kehadapannya.
Dan disinilah sekarang Zidan berada. Didalam ruang kerja ayahnya yang sudah berantakan karena amukan Tuan Wildan. Dua lelaki berbeda usia itu pun terlibat perseteruan.
"Kau benar-benar membuatku malu, Zidan!" Teriak Tuan Wildan dihadapan wajah putranya.
"Apa kau pikir dirimu sudah hebat, hingga kau sama sekali tidak menghargaiku sebagai Ayahmu, hah?!"
"Jawab aku!" Tuan Wildan mencengkram kerah jas Zidan. Zidan hanya menunduk terdiam tidak menjawab pertanyaan dari sang ayah.
__ADS_1
Tuan Wildan menghempaskan tubuh putranya, hingga membuat tubuh tinggi lelaki itu sedikit goyah.
"Maafkan aku, Ayah!" Lirih Zidan.
"Apa?! Maaf katamu?! Kau pikir keluarga Rachel akan menerima permintaan maafmu setelah kau mempermalukan dan menghina harga diri mereka, hah?!" Geram Tuan Wildan.
Zidan memberanikan diri mengangkat kepalanya. Kini netranya dengan netra sang ayah bersibobrok.
"Ayah, asal kau tahu sedikit pun aku tidak pernah berniat untuk menghina Rachel ataupun keluarganya! Bukankah sudah kukatakan sejak awal, bahwa aku tidak menerima perjodohan itu?! Dan akupun sudah menolaknya! Lalu kenapa Ayah selalu memaksaku untuk menerimanya?!"
Tuan Wildan menatap sinis kearah Zidan.
"Rupanya sekarang kau sudah berani menentang keputusanku! Apa karena gadis tidak beradab itu?! Gadis yang ingin membunuh seorang wanita paruh baya dengan cara mencekiknya?!"
"Yah! Andita tidak seperti itu! Dia bukan gadis yang tidak beradab! Saat itu dia hanya kehilangan kendali karena Nyonya Reyhan terus menghinanya!" Bela Zidan.
"Wah, bagus sekali! Sekarang kau bahkan membelanya!"
"Aku bukan membelanya! Tapi itulah kenyataannya!"
"Benarkah?! Apa kau memiliki bukti?!"
"Ya! Aku memiliki buktinya!"
Zidan merogoh saku celananya. Dia membuka layar ponsel lalu mencari video ketika Nyonya Reyhan menghina Andita direstoran. Saat itu Zidan penasaran apa penyebab Andita sampai melakukan hal tersebut pada Nyonya Reyhan.
Keesokan harinya Zidan pun berencana mendatangi restoran itu lagi, lalu meminta pihak manajemen restoran untuk memperlihatkan rekaman cctv semalam.
Betapa terkejutnya Zidan ketika Nyonya Reyhan terus menyerang Andita dengan cara merobek gaunnya. Tentu saja itu membuat Andita murka dan akhirnya menyerang balik Nyonya Reyhan.
Alhasil Zidan pun meminta pihak manajemen restoran itu untuk mentransfer rekaman video keponselnya.
Zidan memperlihatkan video itu pada Ayahnya. Namun Tuan Wildan tetap tak bergeming.
"Apa Ayah sudah lihat, bagaimana perangai dari Nyonya Reyhan? Tentu saja Andita membalasnya, karena itu menyangkut harga dirinya!" Ucap Zidan.
"Dan yang perlu kau tahu suamiku, Rachel pun memiliki sifat yang sama buruknya dengan Ibunya itu!" Timpal Nyonya Liyana yang tiba-tiba masuk kedalam ruang kerja Tuan Wildan.
Sedari tadi ia menunggu diluar, takut jika sesuatu terjadi pada putranya. Karena suaminya begitu amat sangat marah.
"Kau!" Tuan Wildan menggeram.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak biar semangat up 🙏❤
__ADS_1