MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Persahabatan Atau Cinta?


__ADS_3

Zidan tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mencumbu Andita.


Padahal dirinya baru saja sadar dari koma.


Namun saat berdekatan dengan istrinya, jiwanya seolah bangkit kembali. Ia pun tak bisa menahan hasratnya.


Awalnya Zidan mencium Andita dengan lembut. Namun semakin lama semakin menuntut. Zidan menekan kepala Andita agar bibirnya leluasa menguasai benda kenyal milik istrinya itu.


Dengan semangat yang menggebu-gebu Zidan melu mat bibir Andita. Menghisap dan mencecapi rasa yang ia rindukan. Lidahnya bermain hingga bagian terdalam rongga mulut Andita. Membelit dan menyapu apa saja yang ia temui didalam sana.


Andita yang nyaris kewalahan melayani permainan Zidan mencoba bertahan. Ia juga tidak mau kalah.


Bukankah seharusnya dia yang menghukum Zidan? Kenapa malah Zidan yang seolah sedang menghukum dirinya?! Sepertinya suaminya itu sedang mengerjainya lagi.


Andita membalas ciuman Zidan lebih agresif dengan sedikit emosi. Dan hal itu membuat Zidan merasa ditantang. Seringai tipis muncul diwajahnya. Ia tak memberi ruang sedikitpun bagi Andita untuk bernafas.


Disaat dua insan itu tengah asyik saling membalas ciuman, tiba-tiba..


Ceklek


Terdengar suara pintu ruangan Zidan dibuka seseorang. Mata Zoya membulat sempurna. Ia tercengang melihat pemandangan dihadapannya.


Begitupun dengan Andita dan Zidan yang tak kalah terkejut. Seketika mereka menghentikan aktifitasnya dengan posisi yang begitu intim.


Zidan belum melepaskan pagutan bibirnya dari Andita. Begitupun sebaliknya. Netra keduanya langsung teralihkan pada Zoya.


Andita yang baru tersadar dari rasa terkejutnya buru-buru melepaskan diri dari Zidan. Dengan cepat ia beranjak turun dari brankar suaminya itu.


"Zoya?! Kau disini?!" Tanya Andita kikuk sembari merapihkan bajunya yang sedikit terangkat akibat ulah Zidan.


"Ekhem! Ya Andita aku kemari ingin menjenguk Zidan. Tadi diluar aku bertemu dengan Bibi Liyana dan dia menyuruhku untuk langsung masuk kemari. Tapi sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat! Aku tidak tahu kalau.."


"Ah tidak apa-apa Zoya! Lupakan saja yang kau lihat barusan! Kemarilah!" Potong Andita cepat. Jujur ia merasa canggung dan malu hingga membuatnya menjadi salah tingkah.


Sementara Zidan malah sebaliknya. Pria itu terlihat santai dan biasa saja. Ia mencoba tersenyum pada Zoya.


Padahal jauh didalam lubuk hatinya ia kesal setengah mati karena hasratnya belum tuntas untuk disalurkan.


"Umm,, Zidan, sepertinya aku harus menemui Stella. Kau berbincanglah dulu dengan Zoya."


"Untuk apa menemui Stella?! Aku ingin kau tetap disini!" Ucap Zidan yang seolah tidak rela jika Andita pergi.


Sebenarnya Andita hanya mencari alasan. Selain ingin menghilangkan rasa malunya karena kepergok oleh Zoya, Andita juga ingin agar Zoya lebih leluasa mengobrol dengan Zidan.


"Aku ingin menanyakan pada Stella tentang kondisimu dan kapan kau boleh diizinkan pulang dari rumah sakit. Apa kau tidak ingin pulang, hm?!" Andita mengusap lembut pipi Zidan.


Zidan menangkap tangan Andita lalu mengecupnya.


"Tentu saja aku ingin pulang! Aku tidak sabar ingin segera memakanmu!" Ucap Zidan tanpa canggung yang bisa didengar oleh Zoya.

__ADS_1


Zoya memalingkan wajahnya kearah lain saat mendengar ucapan Zidan pada Andita. Kenapa tiba-tiba hatinya lagi-lagi merasakan sesuatu yang aneh.


Sementara Andita malah semakin dibuat salah tingkah karena ucapan suaminya itu. Sekilas Andita melirik kearah Zoya lalu kembali menatap Zidan.


"Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu."


"Jangan lama-lama! Cepatlah kembali!"


"Hemm." Andita mengangguk. Kemudian tatapannya beralih pada Zoya.


"Zoya, aku akan keluar sebentar. Kau tidak keberatan kan jika kutinggal dan menemani Zidan disini?" Tanya Andita.


"Tentu saja tidak Andita! Pergilah. Aku akan menemani Zidan!" Zoya tersenyum pada Andita.


******


"Bagaimana kondisimu Zidan?" Tanya Zoya ketika Andita sudah keluar meninggalkan ruangan itu.


Ia duduk dikursi sebelah brankar Zidan. Kemudian menatap pria itu lekat-lekat.


"Seperti yang kau lihat, kondisiku belum sepenuhnya pulih. Tapi sejauh ini sudah lebih baik." Jawab Zidan seraya tersenyum pada Zoya.


"Bersabarlah! Kau pasti akan segera sembuh."


Zoya memberi semangat yang diamini oleh Zidan.


"Oh ya, bagaimana dengan kabarmu? Apa kau sedang tidak sibuk hingga kau bisa datang kemari?"


"Thanks, atas waktumu Zoya!"


"Santai saja Zidan. Kau tidak perlu berterimakasih. Dulu kau yang selalu meluangkan waktumu untukku. Sekarang giliranku yang meluangkan waktu untukmu!"


Zidan tersenyum tipis mendengar ucapan Zoya. Ya, memang dulu dia lebih banyak meluangkan waktu untuk Zoya.


"By the way, dimana Andrew? Kenapa dia tidak datang bersamamu?" Tanya Zidan yang tiba-tiba teringat Andrew.


Sejenak Zoya terdiam. Ia bingung harus menjawab apa ketika Zidan menanyakan lelaki itu.


Pasalnya sudah satu minggu ini ia kesulitan menghubungi Andrew yang tengah melakukan perjalanan bisnis ke Jepang.


Sebisa mungkin Zoya bersikap biasa saja dihadapan Zidan. Ia tidak ingin Zidan berpikiran macam-macam tentang kekasihnya itu.


"Saat ini Andrew tengah melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, Zidan. Aku sudah memberitahu tentang musibah yang kau alami padanya. Dan Andrew turut prihatin dengan musibah yang menimpamu."


"Dia memintaku untuk menyampaikan salam dan permintaan maafnya padamu, karena dia belum sempat datang kemari untuk menjengukmu."


"Oh begitu. Tidak apa-apa! Dia pasti sangat sibuk. Sampaikan saja kembali salamku padanya."


"Ya, nanti akan kusampaikan!"

__ADS_1


Mereka berdua kembali terdiam. Zoya berusaha mencari topik lain untuk dibahas.


"Oh ya Zidan, kenapa kau harus nekat seperti ini? Aku tidak menyangka jika kau akan membahayakan dirimu sendiri demi menyelamatkan Andita."


Zidan mendelik.


"Andita adalah istriku Zoya. Sudah sepantasnya aku menyelamatkannya jika dia dalam bahaya."


"Tapi karenanya, kau harus mengalami koma."


"Itu tidak masalah! Aku bahkan rela menukar nyawaku untuknya karena Andita sangat berarti untukku."


Nyess


Entah kenapa kalimat yang diucapkan Zidan tiba-tiba membuat hati Zoya terasa panas. Ada perasaan iri yang terselip disana.


Padahal selama ini Zoya hanya menganggap Zidan sebagai seorang sahabat, tidak lebih.


Atau mungkin karena selama ini lelaki itu selalu ada untuknya hingga ia tidak rela ketika Zidan tiba-tiba membagi perhatiannya pada wanita lain.


Zoya tersenyum kecut.


"Begitukah?!"


"Ya."


"Aku jadi ingin bertanya padamu."


"Apa?"


"Menurutmu lebih berarti hubungan persahabatan atau cinta?"


"Tentu saja keduanya. Karena yang namanya sebuah hubungan bagiku itu sangat berarti!" Jawab Zidan lugas.


"Lalu bagaimana jika aku dan Andita tengah berada di posisi yang sama? Sama-sama dalam bahaya. Siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu?! Sahabatmu atau istrimu?" Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Zoya.


Zidan tersentak. Ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Zoya. Sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu.


"Apa maksudmu Zoya?" Tanya Zidan dingin.


Seketika Zoya memalingkan wajahnya kesembarang arah. Ia mencoba menetralkan gemuruh yang menerjang hatinya. Ia juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya.


Zoya kembali menatap Zidan dan berusaha tertawa.


"Hahaha.. Aku hanya mengetesmu Zidan! Kenapa wajahmu seserius itu!"


.


.

__ADS_1


Berhubung besok mau puasa, mohon maaf lahir dan batin ya readersku sayang🙏😊


__ADS_2