MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Kencan 1


__ADS_3

"Wisata Taman Bermain?!!" Seru Andita saat ia membaca plang yang terbentang ketika mobil sport Zidan akan memasuki lahan parkir.


"Hemm. Kita akan menghabiskan waktu disini dan bermain sepuasnya! Kau suka?!" Tanya Zidan.


Andita menoleh kearah suaminya dengan wajah berbinar.


"Ya! Aku sangat suka Zidan! Sudah lama sekali aku tidak pergi ketaman bermain." Jawab Andita.


"Benarkah? Berarti sebelumnya kau sudah pernah datang kemari?" Tanya Zidan.


"Humm, pernah." Andita menganggukan kepalanya.


"Huh!" Mendengar jawaban Andita tubuh Zidan menjadi lemas.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa."


Tiba-tiba ekspresi wajah Zidan berubah kesal.


Padahal niat Zidan membawa Andita berkunjung ke wahana taman bermain agar ia dan istrinya itu memiliki kenangan tersendiri. Tapi ternyata Andita malah sudah pernah datang kesini sebelumnya.


"Dengan siapa kau pernah datang kemari?!" Tanya Zidan penuh selidik. Netranya fokus sambil mencari tempat parkir.


"Dengan Ibu, Nazwa, dan juga dengan..."


"Siapa?" netra Zidan melirik tajam kearah Andita.


Namun wajah Andita malah berubah menjadi sendu. Membuat Zidan mengernyitkan keningnya.


"Apa dengan mantanmu?!" Tebak Zidan yang melihat raut wajah Andita tiba-tiba berubah sedih.


Andita menggeleng cepat sambil tersenyum getir.


"Bukan."


Zidan menghela nafas lega. Tadinya Zidan pikir Andita pernah datang kemari dengan mantannya. Jika ya, Zidan akan kembali membawa mobilnya keluar dari sana dan mengajak Andita ketempat lain.


Karena ia tidak sudi datang ketempat dimana Andita pernah mengunjunginya bersama laki-laki lain.


"Lalu dengan siapa lagi kau pernah datang kemari?" tanya Zidan yang masih penasaran.


"Dengan Ayah." Jawab Andita dengan suara yang super pelan. Tiba-tiba saja ia teringat mendiang ayahnya.


Dulu sewaktu mendiang ayah Andita masih hidup, mereka sekeluarga pernah datang kemari dan menghabiskan waktu bersama.


Tapi sekarang sang ayah sudah berpulang. Sampai Andita lupa rasanya jalan-jalan bersama keluarga karena dulu sepeninggal ayahnya, Andita lebih fokus dengan penyakit yang diderita sang ibu.


Ketika mendengar jawaban istrinya itu, ada desiran halus dihati Zidan. Ia paham pasti saat ini Andita tengah merindukan sosok mendiang ayahnya tersebut. Dengan sangat lembut Zidan pun mengusap kepala Andita.


"Jangan sedih sayang. Ayahmu pasti sudah bahagia disurga sana."


Mendengar ucapan suaminya, Andita hanya tersenyum dan mengamininya.


"Terimakasih Zidan. Terimakasih untuk semuanya. Dan terimakasih juga karena kau sudah mengajakku kemari! Aku jadi tidak sabar ingin mencoba semua permainan disini!" Ucap Andita mencoba untuk tidak larut dalam kesedihan.


Melihat raut wajah istrinya yang sudah kembali ke mode ceria, Zidan pun tersenyum senang.

__ADS_1


Paling tidak, rasa bersalahnya pada Andita karena semalam sudah membentak dan nyaris menamparnya pun sedikit berkurang.


"Sama-sama sayang! Tentu kau harus mencoba semua permainan disini."


Setelah mereka sampai diparkiran, Zidan segera turun dari mobil kemudian ia memutarinya dan membukakan pintu untuk Andita. Zidan tersenyum hangat sembari mengulurkan tangannya.


"Ayo turun!" Ajak Zidan.


Andita terkesiap dengan tindakan Zidan. Bagaimana tidak? Pasalnya sikap Zidan siang ini berbeda 180 derajat dengan sikapnya semalam.


Sebenarnya Andita sendiri belum bisa melupakan kemarahan suaminya yang mengerikan tadi malam padanya. Tapi melihat usaha Zidan yang sepertinya ingin memperbaiki hubungan mereka, Andita pun menghargainya.


Andita mengangguk seraya menyambut uluran tangan itu.


Mereka berdua bergandengan tangan saat mulai memasuki arena taman bermain.


"Kau tunggu disini! Aku akan membeli karcis lebih dulu!" Titah Zidan yang dibalas anggukan oleh Andita.


Zidan pun segera membaur dengan pengunjung lainnya untuk mengantri membeli karcis.


Setelah mendapatkan dua karcis terusan, Zidan dan Andita mulai memilih wahana yang akan mereka naiki.


Wahana pertama yang dipilih oleh Andita adalah kora-kora. Zidan pun menuruti pilihan istrinya itu. Ia dan Andita menaiki perahu besar bersama pengunjung lainnya.


Andita tertawa senang, meskipun menurut Zidan permainan itu kurang mengasyikan dan menantang.


Kini permainan kedua Zidan yang memilih. Zidan melabuhkan pilihannya pada roller coaster.


Awalnya Andita menolak. Dia sedikit takut dengan permainan itu. Namun setelah Zidan meyakinkannya akhirnya mau tidak mau Andita pun menuruti keinginan Zidan.


Namun saat kereta itu mencapai puncaknya dan hendak terjun kebawah, wajah Andita seketika memucat. Ia memejamkan mata.


Zidan yang melihat perubahan air muka istrinya itu menjadi sedikit panik.


"Kau kenapa Andita?"


Andita tidak menjawab pertanyaan Zidan. Bibirnya terkatup rapat. Sementara tangannya sudah berkeringat.


"Jika kau takut genggamlah tanganku. Aku akan selalu bersamamu!"


Andita menoleh pada suaminya. Kata-kata Zidan barusan seolah memiliki sarat akan makna yang membuatnya merasakan aman dan nyaman.


Andita pun meraih tangan Zidan dan menggenggamnya begitu erat, untuk sesaat mereka saling menatap. Lalu seketika...


Aaaaaaaaaa


Terdengar teriakan semua orang saat roller coaster itu meluncur kebawah dan berputar-putar mengikuti jalurnya.


Zidan dan Andita pun berteriak sekencang-kencangnya diatas sana, seolah sedang melepaskan beban dipundak mereka. Mereka sangat menikmati permainan itu.


Setelah permainan usai, dengan jantung yang masih berdebar-debar mereka berdua turun dari wahana tersebut. Andita tertawa begitu lepas. Rasa takutnya hilang seketika.


"Ternyata seru juga ya ,haha!"


"Sudah kubilang kan, aku akan membuatmu tertawa!"


Andita mengangguk kesenangan dan menggandeng tangan suaminya. Ia tersenyum begitu manis seraya mengerlingkan matanya.

__ADS_1


"Terimakasih suamiku."


Wajah Zidan memerah saat Andita memanggilnya suamiku. Apalagi saat Zidan mendapat kerlingan mata dari Andita, ia merasa detak jantungnya berpacu dengan cepat.


Dimata Zidan tatapan Andita begitu nakal, hingga pikiran kotornya untuk melahap sang istri kembali muncul.


"Haish!" Zidan mengusap wajah kasar. Karena dia harus menahan hasratnya kali ini.


Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya dengan mencoba beberapa wahana permainan disana. Dari mulai Hysteria, Rumah Hantu, Kicir-kicir dan terakhir Biang Lala.


Sekilas Zidan yang melihat raut bahagia diwajah Andita ikut merasakan kebahagiaan itu. Ia merasa puas karena misinya untuk menebus kesalahannya semalam berjalan lancar.


Sama sekali tidak ada rasa lelah diwajah keduanya. Yang ada mereka berdua sangat bersemangat untuk menikmati semua permainan disana.


******


Setelah puas menjajal semua wahana permainan, Zidan mengajak Andita untuk makan disebuah food court.


Walau bagaimanapun mereka tidak boleh melupakan perut mereka yang membutuhkan amunisi. Agar tenaga mereka tetap terjaga.


Zidan memesan satu porsi gulai kambing berikut nasinya. Sementara Andita memesan satu porsi menu olahan seafood yakni udang saus padang. Tidak lupa mereka memesan dua gelas minuman dingin karena cuaca sangat panas.


Mereka berdua makan dengan lahap. Disela makannya, Andita menawarkan makanannya pada Zidan, namun Zidan menolak karena ia alergi seafood.


Andita sedikit tercengang karena selama menikah dia baru mengetahui hal tersebut. Pantas saja para pelayan dirumah mereka tidak pernah memasak olahan seafood. Ternyata tuan mereka memiliki alergi.


"Sejak kapan kau memiliki alergi Zidan?" Tanya Andita yang merasa penasaran.


"Sejak kecil." Jawab Zidan sambil memasukan makanan kedalam mulut.


"Humm." Sejenak Andita terdiam.


"Ada apa?!" Tanya Zidan.


"Tidak. Hanya saja saat ini aku merasa buruk, karena selama menikah aku sama sekali tidak tahu apapun tentangmu."


Zidan terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.


"Lambat laun kau juga akan tahu apa yang aku suka dan tidak aku suka sayang."


Andita tersenyum samar.


"Ayo cepat habiskan makananmu! Karena kencan kita belum selesai." Ucap Zidan.


"Memang kita mau kemana lagi?"


Zidan hanya tersenyum penuh arti.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaa Readersku sayang... 👇👇👇


Like Komen Hadiah dan Votenya


Terimakasihh🙏

__ADS_1


__ADS_2