
"Aku memang udah gak sabar, Mi. Soalnya udah pengin banget meluk Davina. Bila perlu David pengin langsung ngadon cucu sekarang"
"Kayaknya Davina emang udah bener - bener cinta deh sama kamu?"
"Kenapa Mami bisa seyakin itu, kalau Davina udah mulai cinta ke aku?" tanyanya ingin tahu.
"Ya bisa. Sini Mami kasih tahu. Sebenarnya, kalau Mami yang jadi Davina sudah pasti Mami bakalan curiga banget tentang kondisi kamu ini."
"Ah, iyalah. Mami aku kan pinter banget dan hebat kaya buaya."
"Maksud kamu?" tanya Karina sambil mengangkat sebelah alisnya
"Begini, Mi. Buaya kan gak bisa di kadalin." jawab David sambil terkekeh pelan.
"Jadi? Kamu menganggap Mami ini seperti buaya?" tanyanya kesal
"Bukan, Mi. Kenapa Mami mudah baper banget sih?"
"Habisnya, kamu bawa - bawa buaya. Kalau menurut kamu Mami ini buaya berarti kamu anaknya buaya dong."
"Buaya darat lebih tepatnya." timpal David dan kembali tersenyum.
"Ekhm. Maaf Bu bos, menganggu obrolan kalian. Saya mau tanya, apakah setelah ini saya sudah bisa memanggil istrinya Pak David untuk masuk?" tanya dokter gadungan itu.
"Terserah kamu. Tapi kamu harus ingat, jangan sampai menantuku curiga. Kalau menantu saya sampai curiga, bisa di pastikan putra kesayanganku ini bakalan mati beneran."
"Baik, Nyonya bos."
"Dan ingat, setelah kamu keluar dari ruangan ini. Bilang kepada menantuku agar dia tidak masuk dulu kedalam ruangan ini, sebelum aku keluar. Karena ada hal penting yang masih aku diskusikan dulu dengan putraku. Apa kamu mengerti."
"Iya, Nyonya Bos. Nyonya Bos tenang saja, saya akan mengatur semua dengan baik."
"Bagus."
"Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu, Nyonya Bos."
"Ya,"
__ADS_1
Setelah kepergian dari sang dokter gadungan. Karina kembali di buat khawatir dan cemas dan kini dia sedang berjalan mondar mandir tak jelas. Hingga mengusik ketenangan dari David.
"Mami kenapa? Apa sedang ada masalah? Kok David perhatiin Mami megang handphone terus dan terlihat cemas?" tanya David ingin tahu.
"Ini semua karena Papi kamu udah pulang dari perjalanan bisnisnya. Dan kamu tahu? Papi kamu sekarang lagi menuju ke rumah sakit ini." jawab Karina dengan ekspresi wajah yang tampak cemas dan khawatir.
"Bukannya itu malah bagus ya, Mi. Kalau Papi sampai datang ke rumah sakit sudah bisa di pastikan bisa membuat Davina lebih yakin dengan akting kita."
"Haishhh. Sini Mami kasih tahu kamu lagi. Jadi, masalahnya itu, Papi kamu itu belum tahu tentang rencana kita. Mami takut rencana kita bisa langsung kebongkar kalau Papi kamu datang kesini."
"Aduh, gimana dong,Mi. Mami kan tahu sendiri kalau Papi sangat jenius pasti akan ketahuan kalau kita sudah berbohong. Pokoknya David gak mau,Mih. Kalau Davina nanti akan semakin membenci David jika kita ketahuan membohonginya lagi." ucap David dengan panik.
Ya, David sangat tahu, jika Papinya itu sangat tahu sifat dan sikapnya luar dan dalam dan jika David ketahuan berbohong sudah di pastikan, Papinya itu akan membongkar sandiwara ini pada Davina.
"Mami! Jangan mondar mandir seperti itu. Aku pusing liatnya!" Protes David yang kini sedang ikutan gelisah.
"Mami juga lagi cemas David. Karena Papi kamu itu sulit sekali di hubungi. Padahal mami kan harus kasih tahu tentang rencana kita. Biar dia juga bisa ikutan akting sama kita."
"Memangnya Papi juga bisa akting, Mi?" tanya David ragu.
Karina terdiam sejenak sambil memegang dagunya.
"Ya ampun, Mami! David kira Papi itu bisa akting. Kalau begitu sembunyikan Papi saja. Dan sebisa mungkin Mami tahan Papi agar jangan sampai masuk ke ruangan David. David gak mau ya, rencana yang sudah berjalan lancar ini akan hancur karena Papi."
"David, sayang. Tenanglah. Biar Mami yang akan urus tentang Papimu." ucap Karina berusaha untuk tenang.
Sedangkan David kini menatap ke arah ibunya dengan tatapan yang tidak yakin, jika ibunya itu bisa membuat Ayahnya untuk berakting sempurna. Ya, setahu David, Ayahnya itu adalah orang yang sangat kaku dan pasif. Dan beruntungnya David memilki ibu yang super aktif dan agresif. David pun langsung membayangkan jika sang adik Naura, mungkin bisa lahir ke dunia ini karena usaha keras dari ibunya yang super aktif dan agresif. Itu.
"Sayang, kenapa kamu lihatin Mami seperti itu? Memangnya kamu sedang memikirkan apa? Atau? Kamu ragu yah dengan kemampuan Mami?"
"Gak ada, kok. Aku hanya kagum dengan Mami yang selalu sangat cantik seperti biasanya." ucap David berbohong
"Aduh, anak Mami yang super ganteng ini, dimana kamu belajar kata gombalan seperti itu, hm?" tanya Karina sambil mencubit gemas pipi David.
"Mami..." rengek David.
"Ada apalagi anak tampanku?" tanyanya dengan nada yang sedikit manja.
__ADS_1
"Kalau nanti Papi nggak mau ikutan akting bagaimana? Mami juga kan tahu sendiri, kalau Papi itu sangat menjunjung tinggi kejujuran." ucap David dengan nada suara yang sedikit kesal.
"Tenang, sayang. Nanti kalau Papimu itu nggak mau gabung dalam rencana kita. Mami akan mengancam Papimu supaya dia tidak dapat jatah malam untuk bikin adonan lagi dengan Mami."
"Tapi, kalau Papi gak takut sama ancaman dari Mami, bagaimana?"
"Tinggal Mami suruh aja Papimu untuk tidur di luar."
"Terus, kalau Papi masih gak-"
Belum selesai David menyelesaikan kalimatnya dengan tuntas, Mami Karina sudah mengangkat tangannya, yang artinya jika David tidak usah berbicara lagi.
"Dengar, sayang. Biar Mami yang akan mengurus semuanya. Jadi, kamu itu jangan cerewet lagi. Mami itu heran sama kamu, perasaan kamu tidak pernah secerewet ini dan sangat irit sekali buat bicara?"
"Itu karena David sedang terkena virus cinta, Mih. Mami masa gak tau juga." jawab David sambil mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah yang cemberut.
"O.M.G!!"Teriak Mami Karina pelan. Saat mendengar ucapan dari putranya Karina begitu shock kenapa tingkah putranya itu terlihat seperti anak kecil. "David, sayang. Kalau begitu Mami akan keluar dulu yah. Kalau Mami bicara sama kamu, Mami makin pusing."
"Ya ampun, Mami. Kok bisa ngomong kaya gitu Mih, gimana dong solusinya? Jangan tinggalin David?"
"Kamu jangan nakal di dalam kamar. Mami mau keluar sebentar. Ingat, kalau sampai bikin keributan Mami gak bakalan bantuin kamu lagi. Kamu juga tahu kan, demi kamu Mami itu sampai rela gak ikutan arisan berlian yang limited edition itu." ancam Mami Karina sambil mengungkit kembali tentang pertemuan arisan berlian limited edition yang di batalkan itu demi membantu sandiwara cinta untuk anaknya.
"Iya, Mi. David akan patuh."
"Ya sudah, Mami keluar dulu."
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.