MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Hukuman Dari Mami Karina


__ADS_3

Saat mereka sudah berada di dalam kamar tidur Davina. Venus langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan tadi, Ve?" tanya Davina.


"Mimpi buruk,Na. Sumpah aku sudah nggak mau datang ke rumah suami kamu lagi." jawab Venus dengan nada suara yang terdengar kesal.


Davina mengernyitkan dahinya karena bingung dengan ucapan Venus yang masih sepenggal cerita itu.


"Mimpi buruk apa?" tanyanya lagi.


"Sebenarnya itu bukan mimpi buruk karena tidur juga sih?"


"So? To the point aja ceritanya. Jangan muter - muter kaya kaset rusak gini," ujar Davina sambil memijat pelipisnya.


Kepalanya sangat pusing sekarang karena tidak cukup tidur.


"Oke. Aku akan cerita dengan jelas apa maksud dari mimpi buruk aku tadi."


Kini Venus dan Davina duduk saling berhadapan sekarang. Kemudian Venus pun mulai bercerita dan Davina pun sudah tidak tahan lagi untuk menahan tawanya saat mendengarkan cerita tentang Daffa yang mencium Venus.


"Hahahaha. Bisa - bisanya semalam kamu bisa kena tipu si Daffa, Ve." ucap Davina sambil tertawa memegang perutnya.


"Jangan ketawa kamu, Na!" Desis Venus.


"Oke,oke maaf." ucap Davina. "Jadi, itu kan first kiss kamu ya, Ve?" lanjut Davina bertanya dengan tatapan yang tidak bisa percaya.


Padahal sebelumnya Venus itu sudah memiliki beberapa mantan pacar. Masa semua mantan pacarnya nggak dapat dan yang dapat malah si Daffa, pikirnya.


"Iya, ketiban sial aku semalam.Aku kesal. Aku benci banget pokoknya. Huaaaa...."


"Cup...cup...." Davina berusaha menenangkan Venus yang menangis. "Sudah, jangan nangis dong anak Bunda," lanjutnya sambil terkekeh.


***


Sedangkan pembicaraan Daffa dan Mami Karina terhenti karena ponsel milik Daffa berbunyi.


"Ya?" ucap Daffa saat panggilan telepon terhubung.


"Lo dimana sekarang? Lo itu sebenarnya lagi panasin mobil pakai starter atau lo lagi panasin mobil dengan cara mendorongnya?"


"Pilihan yang kedua bagus."


"Jangan macam-macam sama gue. Cepetan kesini!"


Daffa menjauhkan ponselnya dari telinganya saat mendengar omelan dari David dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf.Kemudian langsung mematikan panggilan telepon itu.


"Lebih baik kita langsung masuk aja sekarang, Daff." ajak Mami Karina.

__ADS_1


"Iya Bibi."


"Huh sebel! Masa sepagi ini harus pergi sih kerumah orang. Mana belum sarapan lagi!" Gerutu Daffa di dalam hati.


Saat David sedang menunggu kedatangan Daffa di ruang tamunya. Tiba - tiba saja bulu kuduknya jadi merinding sendiri, padahal gak ada angin. Ia pun mulai merasakan bad feeling sekarang.


Dan sesaat kemudian perasaan buruknya itu menjadi kenyataan saat melihat Maminya masuk ke ruang tamu bersama dengan Daffa.


Tubuh David mendadak keringat dingin saat Ibunya mulai mendekat ke arahnya. "Aduh mampus gue. Mana Davina udah pergi tadi. Gue harus jawab apa yah, kalau di tanya Mami soal Davina lagi?" ucap David di dalam hati yang sedang memikirkan cara agar bisa menjawab pertanyaan dari Ibunya nanti.


"Pagi Mami?" sapa David sambil memeluk ibunya


"Mana istrimu?" tanya Karina menanyakan keberadaan Davina di rumah David.


"Maksudnya Davina, Mi?"


"Iyalah. Memangnya istri kamu ada berapa?"


"Hanya satu dong, Mi." jawabnya dengan senyuman yang di paksakan.


"Jadi kemana dia? Sudah berapa hari kalian nggak berkunjung ke rumah Papi dan Mami? Dan kenapa belakangan ini setiap Mami telepon nggak pernah kamu angkat David?" tanya Mami Karina.


"Aku sibuk, Mi."


"Cih, sibuk apa?"


Daffa yang mendengarkan ucapan dari David rasanya pun ingin muntah. Padahal si Bosnya itu bukannya sedang sibuk bekerja tetapi lagi ngurus nasib percintaannya yang hampir kandas.


"Sekarang kamu udah berani bohongin Mami ya?" ujar Mami Karina sambil menjewer telinga David dengan kuat.


Sedangkan Daffa yang melihat penderitaan dari David hanya tertawa terbahak-bahak. Kapan lagi ia bisa melihat David tersiksa seperti itu coba. Ia bahkan langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengambil video David yang sedang jewer oleh Ibunya. Mungkin saja video yang Daffa ambil hari ini bisa di manfaatkan untuk nantinya.


"Mi, udah lepasin. David minta maaf, Mi." pinta David sambil meringis kesakitan. Ya, titik kelemahannya David memang pada telinganya apalagi sekarang tarikan dari Maminya di telinganya itu semakin kuat.


"Mami tahu, pasti Davina sekarang sedang berada di rumah Ibunya dan tidak mau bertemu dengan kamu lagi, kan. Mudah - mudahan saja Davina nggak sampai gugat cerai kamu, David!" Desis Karina.


"Hampir saja dia mau di gugat cerai oleh Davina, Bibi." sambung Daffa yang mulai memanas - manasi Karina.


"Apa?!" Karina pun berpura-pura untuk terkejut dan kembali menjewer telinga David dengan kuat.


"Kurang ajar lo, Daff!" Geram David di dalam hati. Sudah di pastikan Maminya itu sudah tahu tentang semuanya yang terjadi di antara dirinya dan juga Davina. Dan pelaku utama yang membocorkan masalah rumah tangganya mungkin saja Daffa.


"Mi, sakit. Ampun Mami." desis David.


"Mau bohong lagi kamu sama Mami?!"


Dengan cepat David langsung menggelengkan kepalanya. Jika terus - terusan di jewer begini mungkin saja telinga David bisa langsung putus.

__ADS_1


"Mami itu sudah tahu semuanya apa yang terjadi antara kamu dengan Davina semalam."


"Mami tahu dari Daffa ya?" tanya David memastikan. "Dasar pengkhianat kamu, Daff!" Pekik David dengan tatapan tajam ke arah Daffa.


"Jangan asal sembarangan kalau nuduh orang, Bro." balas Daffa tak terima.


"Lalu? Kalau bukan dari mulut lo yang ember itu dari siapa lagi coba?"


"Mami itu sudah tahu dari detektif swasta yang udah Mami sewa. Mami sebenarnya senang kamu berinsiatif bikin cucu buat Mami dan Papi, tapi cara kamu yang salah David. Masa kamu sampai paksa istri kamu begitu." tukas Karina.


"Ya namanya juga aku khilaf, Mi. Lagian waktu itu aku juga lagi mabuk dan kebetulan dia yang peluk aku duluan."


"Ya tetap aja kamu itu maksa, David."


"Aku tau aku salah, Mi. Aku juga sudah meminta maaf pada Davina."


"Dan sayangannya David belum di maafin sama Davina, Bibi. Malahan tadi Davina langsung pergi lagi, dan katanya David tadi Davina itu bertambah marah karena udah di kerjain sama David lagi," ujar Daffa yang ikutan nimbrung lagi. Ya, tugas yang di berikan oleh Karina pada Daffa saat berada di depan rumah hanya untuk mengompori David saja.


"Jadi apa rencanamu?"


"David mau datang ke rumahnya Davina dan meminta maaf lagi, Mi."


"Ckck!"


"Haduh, dimana hilangnya otak jeniusmu itu, David?!" Ujar Karina sambil menggelengkan kepalanya. Ya, sepertinya Karina harus mengajarkan putranya itu sesuatu yang ekstrim untuk urusan percintaan anaknya kali ini.


"Lalu? Apa Mami mau suruh aku untuk sengaja nabrakin mobil ke tiang listrik gitu? Nanti kalau aku mati beneran gimana?" tanya David.


"Ya Tuhan. Dimanakah hilangnya kejeniusan anakku yang sangat tampan ini?" ucap Karina sambil mengusap wajahnya.


"Bibi yang sabar, Bi. Memang bakalan susah kalau kita ngomong sama orang yang lagi terkena sindrom bucin." sahut Daffa.


"Emangnya kamu pernah bucin?"


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2