MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Sadar Dari Koma


__ADS_3

Didalam ruang ICU, Andrew, Zidan dan Andita dibuat terkejut saat mereka melihat kearah layar monitor yang menunjukkan jika grafik detak jantung Zoya melemah. Bahkan nafas Zoya pun melambat.


Dengan cepat Zidan keluar ruangan dan segera memanggil dokter jaga. Tidak lama kemudian beberapa tim medis datang dan langsung memberi pertolongan pada Zoya.


Sementara Zidan dan yang lainnya diminta menunggu diluar.


Dokter segera mengambil tindakan dengan menempelkan alat pacu jantung didada Zoya untuk merangsang detak jantungnya agar kembali berfungsi dengan normal.


Diluar, Andrew nampak gusar. Ia terlihat mondar mandir didepan pintu ruang ICU, berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi lagi pada kekasihnya itu.


Begitupun dengan Zidan dan Andita yang tak kalah cemas. Mereka hanya bisa berdoa dalam hati agar Zoya baik-baik saja.


Tak berselang lama dokter yang memeriksa Zoya pun keluar. Dokter mengatakan bahwa detak jantung Zoya sudah kembali normal.


Namun sewaktu-waktu kondisinya bisa saja kembali menurun.


Mengingat kecelakaan yang Zoya alami cukup parah. Hingga mengakibatkan beberapa bagian tubuhnya mengalami patah tulang dan luka bakar serius.


Bahkan dokter mengharuskan Zoya untuk segera menjalani operasi. Dan tindakan operasi itu tidak dapat dilakukan tanpa adanya persetujuan dari anggota keluarganya.


Andrew yang benar-benar mencintai Zoya tanpa ragu mengaku sebagai suami Zoya.


Ia yang akan bertanggung jawab dengan kondisi wanita itu berikut dengan biaya pengobatannya.


Disisi lain Zidan yang mendengar hal tersebut, sedikit merasa keberatan. Ia juga ingin membantu biaya pengobatan Zoya.


Bukan karena ia masih mencintai Zoya, melainkan ia juga turut bertanggung jawab atas apa yang menimpa sahabatnya itu. Karena tanpa sengaja dialah yang sudah membuat Zoya mengalami kecelakaan.


Namun Zidan tidak bisa mengutarakan rasa berat hatinya, sebab ia juga harus memikirkan perasaan Andita.


Zidan tidak ingin Andita mempunyai pikiran bahwa dirinya masih mencintai sahabatnya.


*****


Detik demi detik berlalu. Hari demi hari berganti. Sudah hampir dua bulan Zoya mengalami koma. Belum ada tanda-tanda bahwa ia akan sadar.

__ADS_1


Padahal operasi dibagian tulang belakangnya telah dilakukan satu minggu setelah dokter memacu jantung Zoya hari itu.


Dan sudah hampir dua bulan ini juga Andita menemani Zoya setiap hari dirumah sakit jika Andrew sedang pergi bekerja.


Awalnya, Zidan tidak mengizinkan Andita untuk bolak-balik kerumah sakit, mengingat sang istri tengah hamil muda dan selalu mengalami morning sickness. Ia khawatir jika Andita akan merasa kelelahan.


Namun Andita meyakinkan Zidan bahwa ia akan baik-baik saja. Pada akhirnya mau tidak mau Zidan pun melepaskan Andita, asalkan istri tercintanya itu bisa menjaga diri dengan baik.


Lagipula Zidan bisa menganggap ini sebagai bentuk pertanggung jawabannya pada Zoya. Meskipun ia tidak turun tangan secara langsung untuk melakukannya.


Dan kini seperti biasa, Andita tengah duduk disamping brangkar tempat Zoya berbaring. Bahkan netra Andita tidak pernah luput memandangi wajah Zoya yang berbalut perban itu lekat-lekat.


Dalam hati Andita selalu timbul pertanyaan yang sama. Kenapa Zoya bisa berubah seperti ini? Kenapa dia harus mencintai Zidan yang jelas-jelas sudah menikah dengannya? Padahal disisi lain ada Andrew yang mencintainya.


Lalu Andita mengingat awal pertemuannya dengan Zoya dihari pernikahannya beberapa bulan silam.


Saat itu Zoya mengulurkan tangan dan menawarkan persahabatan padanya. Tanpa ragu Andita menjabat tangan itu meskipun sebenarnya ia cukup tahu diri dengan perbedaan status sosial mereka.


Namun Zoya tidak memperdulikan hal tersebut. Hingga membuat Andita merasa nyaman bersahabat dengan Zoya. Sebelum akhirnya ia menyadari bahwa Zoya memiliki perasaan lain terhadap Zidan.


Perlahan-lahan Zoya menggerakan jemarinya, membuat Andita membeliakkan matanya.


Lalu Andita menyentuh tangan Zoya untuk memastikan jika yang ia lihat tidaklah salah. Kemudian netra Andita beralih menatap wajah Zoya.


"Zo-Zoya! Kau sudah sadar?!" ucap Andita terbata saat melihat mata Zoya sedikit demi sedikit terbuka.


"An-di-ta." lirih Zoya.


*****


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Andrew cemas saat dokter baru saja selesai memeriksa keadaan Zoya.


Ketika melihat Zoya menggerakkan jemarinya dan mulai membuka mata, Andita segera memanggil dokter dan menghubungi Andrew.


Hingga tanpa pikir panjang lelaki itu segera meninggalkan pekerjaannya dikantor demi menemui sang pujaan hati yang terbaring lemah dirumah sakit.

__ADS_1


Namun sayang, ketika Andrew tiba Zoya kembali menutup matanya dan itu membuat Andrew khawatir.


"Saya rasa kondisi istri mulai ada peningkatan Tuan. Meskipun belum sepenuhnya sadar, namun perlahan pasien sudah bisa merespon keadaan disekitarnya. Anda juga bisa membantunya dengan mengajaknya berbicara secara perlahan untuk merangsang kinerja otaknya. Karena itu diperlukan agar kondisi pasien segera pulih. Tapi saya ingatkan untuk tidak berbicara hal-hal yang bisa membuat kondisinya kembali drop." jelas dokter.


"Baik dok saya mengerti." jawab Andrew.


Setelah selesai, dokter pun segera keluar dari ruangan tersebut hingga kini menyisakan Andita dan Andrew yang tengah menemani Zoya.


"Andita, aku ucapkan terimakasih karena kau sudah mau menemani Zoya selama hampir dua bulan ini. Jika tidak ada kau, mungkin aku ..."


"Sudahlah Andrew, kau tidak perlu berterimakasih seperti itu. Aku sudah menganggap kalian seperti keluarga. Lagipula, aku juga tidak tega melihat Zoya sendirian dirumah sakit tanpa ada yang menemaninya." potong Andita. Ia berdiri disamping kiri Zoya.


Andrew yang duduk disamping kanan Zoya tertegun mendengarnya.


"Andita, kenapa kau begitu baik? Padahal Zoya pernah membuatmu nyaris kehilangan nyawa. Mungkin jika wanita lain yang mengalami hal itu, pasti mereka tidak akan sudi menemani Zoya disini. Dan bisa jadi mereka akan sangat bersyukur dengan keadaan Zoya yang seperti sekarang." ucap Andrew sendu sambil mengalihkan pandangannya dari Andita ke Zoya.


Andita hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Andrew.


"Bohong jika aku tidak sakit hati dengan perbuatan Zoya hari itu Andrew. Bukan hanya membuatku nyaris kehilangan nyawa, tapi Zoya juga nyaris membunuh janin yang ku kandung. Seandainya sesuatu terjadi pada calon anakku, mungkin sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau memaafkan Zoya." tutur Andita.


Netranya menatap Zoya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kalau begitu aku mewakili Zoya untuk meminta maaf padamu Andita." ucap Andrew.


"Tanpa kau wakili, aku sudah memaafkannya lebih dulu Andrew."


Andrew tersenyum simpul.


"Terimakasih."


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2