
Dirga melangkahkan kakinya keluar dari gedung Royal Group. Dia merasa puas karena telah memprovokasi pemilik perusahaan besar itu agar hatinya goyah pada Andita. Gadis yang membuat keluarga dan kakaknya malu dihadapan banyak orang.
Bagaimana tidak malu, selama ini Rachel dan keluarganya terlalu percaya diri dan besar kepala dengan menyombongkan pada semua orang yang berada dikalangan sosialitanya, bahwa Zidan akan menjadi bagian dari keluarga mereka.
Namun kenyataannya, saat perayaan ulang tahun Zidan, pria itu malah memilih gadis lain yang notabene dari kalangan biasa untuk jadi pendamping hidupnya.
Tentu saja hal itu membuat keluarga Tuan Reyhan mendapat banyak cibiran. Bagaimana bisa seorang putri terpandang seperti Rachel kalah dari gadis biasa?
Itulah mengapa keluarga arogan itu ingin sekali membuat perhitungan untuk membalas rasa malu dan sakit hati mereka pada Andita.
Apapun akan mereka lakukan agar gadis seperti Andita tidak bisa memiliki Zidan.
Ketika akan menuju parkiran mobil, langkah Dirga terhenti kala melihat dua orang yang tidak asing baginya.
Begitu pun dengan kedua orang itu, yang memang hendak melangkah masuk kedalam gedung. Mereka berdua yang baru tiba sehabis melakukan pengecekan dilapangan, secara bersamaan terkejut melihat keberadaan Dirga disana.
Kedua orang itu saling melempar pandang, kemudian kembali beralih menatap Dirga.
Perlahan Dirga berjalan maju mendekati mereka berdua dengan seringai tipis diwajahnya.
"Hai Andita! Bagaimana kabarmu? Akhirnya kita bertemu lagi!"
Andita tidak membalas sapaan mantan kekasihnya itu. Dia lebih memlih memalingkan wajahnya kesembarang arah. Dadanya terasa panas ketika dirinya harus dipertemukan lagi dengan Dirga.
Masih ingat betul diingatan Andita, bagaimana lelaki dihadapannya ini menduakannya dan memutuskan hubungan dengannya secara sepihak dengan alasan yang tidak masuk akal.
Tidak mendapat respon dari Andita, mata Dirga memindai Ferdy.
"Hai Fer! Bagaimana kabarmu? Lama kita tidak jumpa!" Dirga mengulurkan tangannya namun sayang tak disambut oleh Ferdy. Karena Ferdy tahu Dirga hanya basa basi.
"Kabarku baik Dirga! Maaf kami buru-buru! Ayo Andita!"
Tiba-tiba Dirga menghalau kaki Andita hingga gadis itu tersungkur ke aspal.
"Dirga! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Ferdy. Sesegera mungkin ia membantu Andita untuk berdiri.
"Ups! Maaf Nona Andita! Haish.. Salah, maksudku Nona Zidan! Maaf, aku tidak sengaja! Tiba-tiba kakiku terasa kebas." Ucap Dirga seraya menggoyangkan sebelah kakinya yang tadi dipakai menghalau kaki Andita.
"Kau benar-benar keterlaluan Dirga!" Ferdy mencengkram kerah jas lelaki itu.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu dari jasku!"
""Ferdy! Sudah lepaskan dia! Kita tidak perlu membuang-buang waktu dan tenaga hanya untuk melayani orang sepertinya!"
Ferdy menghempas kasar tubuh Dirga. Dirga menyeringai sambil menepuk-nepuk jasnya yang tadi disentuh oleh Ferdy.
"Hhh,, Andita.. Andita... Kau pintar sekali! Dengan wajah sok polosmu, kau merebut Tuan Zidan dari Kakakku, lalu dibelakangnya kau bermain gila dengan Ferdy. Sungguh wanita tidak tahu malu!"
"Tutup mulutmu Dirga! Jika kau tidak tahu apapun lebih baik kau simpan saja omong kosongmu itu!" Andita menuding wajah Dirga dengan jari telunjuknya.
Dirga meraih jari telunjuk Andita, lalu mengepalkannya dalam genggaman tangannya.
"Kenapa kau marah Andita? Bukankah itu kenyataan?! Kau mendekati Tuan Zidan karena uang kan? Dasar ******! Aku tahu tak tik mu, kau rela mengangkang demi menggapai keinginanmu!"
"Dirgaaa!!!" Ferdy kembali mencengkram kerah jas Dirga. Lelaki itu benar-benar marah mendengar ucapan Dirga barusan.
Sementara Andita yang tak kalah terkejut sama sekali tidak menyangka Dirga akan mengatakan hal sekotor itu padanya. Ia masih terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dirga.
"Kau benar-benar lelaki bajingan Dirga! Aku benar-benar menyesal pernah mengenalmu! Lepaskan tanganku brengsek!"
Dirga semakin menyeringai.
"Ya, aku pun sama! Aku benar-benar menyesal pernah memiliki hubungan dengan ****** sepertimu Andita!"
Buggh
Tiba-tiba Ferdy melayangkan bogem mentah pada wajah Dirga. Hingga membuat lelaki itu jatuh tersungkur keaspal.
Tidak berhenti sampai disitu, Ferdy menindih tubuh Dirga dan terus melayangkan pukulan secara bertubi-tubi.
"Ferdy hentikan! Kau bisa membunuhnya!" Teriak Andita ketika melihat wajah Dirga sudah babak belur dan mengeluarkan darah.
"Biarkan saja dia mati Andita! Lelaki sepertinya memang pantas mendapatkan ini! Dia sudah berani mencampakkanmu, sekarang dia berani menghinamu! Dia benar-benar lelaki brengsek!"
Bugh Bugh Bugh
Tenaga Andita tidak cukup kuat untuk melerai Ferdy yang terus memukuli Dirga. Hingga akhirnya Andita pun meminta tolong pada security kantor. Tiga orang security segera berlari kearah dua orang yang tengah berkelahi itu.
"Berhenti! Ada apa ini?! Kenapa kalian berkelahi?!" Teriak security. Perkelahian itu tak luput dari perhatian banyak orang.
__ADS_1
Ferdy masih terus berusaha memukuli Dirga, namun tubuhnya segera ditarik oleh dua security. Sementara Dirga yang ingin membalas serangan Ferdy, tubuhnya segera ditahan oleh satu security dan beberapa orang karyawan yang ikut membantu.
"Lepaskan!" Dirga memberontak minta dilepaskan. Begitu juga dengan Ferdy. Namun para security yang memisahkan mereka tidak mau mendengarkan kedua lelaki itu.
"Kau benar-benar menyedihkan Ferdy! Kau pantas mendapat gelar sad boy! Dulu sebelum ****** itu bersamaku kau tidak mendapatkannya! Dan sekarang setelah dia lepas dariku, kau masih belum bisa juga mendapatkannya! Kau tahu kenapa alasannya?! Karena kau tidak memiliki apapun untuk bisa dia genggam! Kau hanya memiliki kebodohan hingga kau terus dimanfaatkan olehnya!" Ucap Dirga diselingi seringai mengejek.
"Tutup mulutmu brengsek! Atau aku akan merobeknya hingga kau menangis darah!"
"Hahaha.. Lakukan saja jika kau berani!"
Plakk
Andita yang maju kehadapan Dirga langsung menampar lelaki itu dengan keras.
"Beraninya kau!"
"Berhenti bicara sebelum kau benar-benar kehilangan mulut busukmu itu! Lebih baik sekarang kau pergi dari sini, brengsek! Atau aku akan mengirimmu kepenjara seperti waktu itu!" Ancam Andita.
Mendengar kata polisi tubuh Dirga langsung bergidik karena teringat Ayahnya. Jujur saja, Dirga lebih takut pada ayahnya ketimbang pada polisi.
"Cih, beraninya kau mengancamku! Lepaskan aku! Dengan senang hati aku akan pergi dari sini!" Ucapnya pada orang yang memegangi tangannya.
Security dan beberapa karyawan itu pun melepaskan tangan Dirga.
Dirga segera berlalu memasuki mobilnya dan pergi dari kantor Zidan dengan perasaan kesal karena wajahnya babak belur. Semua orang telah bubar, hanya menyisakan Andita dan Ferdy.
"Kau tidak apa-apa Fer?!"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau tidak apa-apa? Apa ada yang luka?!"
Andita menggeleng.
"Tidak ada! Aku baik-baik saja! Maafkan aku, karena diriku, kau harus berkelahi dengan Dirga."
"Sudahlah Andita! Kita lupakan saja kejadian hari ini. Dan kau jangan pernah mengingat semua perkataan yang bajingan tadi lontarkan padamu! Dia benar-benar lelaki gila!"
Andita menatap Ferdy lekat-lekat. Ia bersyukur memiliki sahabat seperti Ferdy, yang masih membelanya disaat-saat seperti ini.
"Ayo kita masuk!" Ajak Ferdy.
__ADS_1
.
.