
"Minum dan makanlah dulu! Tidak perlu terlalu tegang, karena aku tidak akan melakukan hal buruk padamu!" Suara berat itu terdengar ramah. Namun juga sangat menakutkan bagi Andita.
Andita menundukkan kepalanya. Netranya tidak berani menatap pria yang kini tengah makan dengan santainya dan duduk dihadapannya itu. Kedua tangannya sudah gemetar sejak dari tadi dan saling meremas ujung baju.
Menahan rasa gugup dan takut yang bercampur menjadi satu.
Kini mereka berdua tengah berada disebuah restoran mewah bergaya Eropa milik keluarga Wijaya. Mereka berbincang di private room, sehingga tidak akan ada orang yang mendengar perbincangan mereka.
"Apa kau tidak mendengar ucapanku, Nona Andita?"
Perlahan Andita memberanikan diri menengadahkan wajahnya. Kini netranya saling bertubrukan dengan netra pria paruh baya yang baru pertama kali ditemuinya itu.
Sekilas netranya mirip sekali dengan Zidan. Tentu saja karena pria paruh baya yang duduk dihadapannya saat ini adalah ayah dari calon suaminya yaitu Tuan Wildan.
Andita bisa melihat tatapan yang diberikan Ayah Zidan padanya begitu datar dan dingin.
Tuan Wildan menatap Andita begitu intens. Seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Andita hanya bisa menelan saliva. Bibirnya bergetar. Dirinya bagai seorang pesakitan yang tengah menanti sebuah hukuman.
"Ma-maaf Tuan! Sa-saya tidak lapar!" Jawab Andita terbata. Wajahnya sudah memucat seolah tak dialiri darah.
Tuan Wildan tersenyum sinis pada gadis dihadapannya itu. Perlahan dia menaruh sendok dan garpu diatas piringnya. Tangannya meraih gelas yang berisikan orange jus lalu menyesapnya. Kemudian ia mengelap mulutnya dengan tisu.
"Kenapa kau merasa gugup? Apa kau takut padaku?"
Andita kembali menundukkan kepalanya. Tenggorokannya tercekat. Sungguh saat ini rasanya dia ingin sekali berlari sejauh mungkin agar terbebas dari tatapan tajam sang calon ayah mertua.
Ya, semalam saat Andita tengah berbincang dengan Nazwa, ada satu pesan yang masuk kedalam ponselnya.
Temui aku besok jam 10 pagi, di The Paquite Resto. Aku ingin berbicara denganmu!
Wildan Wijaya.
Dan Andita tahu siapa pemilik nama Wildan Wijaya itu. Ya, dia adalah Tuan Wildan, ayah dari Zidan, calon suaminya. Karena waktu itu Zidan pernah menyebut nama sang ayah dalam perayaan ulang tahunnya.
Tapi darimana Tuan Wildan tahu nomor teleponnya? Ah, Andita malah tidak ingin memikirkan hal itu. Karena Andita tahu, Tuan Wildan adalah salah satu orang yang berkuasa. Tentunya tidak sulit jika dia harus mencari nomor telepon satu orang saja.
Bagaimana ini?! Apa aku harus menemui beliau?
Malam itu Andita merasa gugup. Hingga Nazwa yang melihat perubahan raut wajah Andita bertanya padanya. Akhirnya Andita pun menceritakan siapa orang yang baru saja mengiriminya pesan.
__ADS_1
Nazwa menyarankan agar Andita memberitahu Zidan. Namun belum juga saran Nazwa diiyakan, Tuan Wildan kembali mengirimi Andita pesan.
Besok orangku yang akan menjemputmu! Datanglah sendiri, dan jangan memberitahukan hal ini pada Zidan! Karena ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu!
Deg
Jantung Andita seolah berhenti ditempat. Batinnya menerka-nerka. Apa yang ingin Tuan Wildan bicarakan dengannya? Apa ini tentang hubungannya dengan Zidan?
Ah, sudah pasti soal itu!
Andita kembali melirik Nazwa dan memberitahunya bahwa ia diminta datang sendiri.
"Menurutku Kakak temui saja Tuan Wildan. Aku akan menemani Kakak! Jika dia tidak mengizinkan, maka Kakak tidak usah pergi menemuinya!"
"Tidak Nazwa! Kakak akan pergi sendiri. Tuan Wildan adalah orang terpandang. Kakak yakin dia tidak akan melakukan hal buruk pada Kakak! Mungkin dia memang hanya ingin berbicara berdua saja dengan Kakak. Karena beliau bilang, ini adalah hal yang penting. Jadi Kakak akan menemuinya sendiri!"
"Apa Kakak yakin?"
"Ya. Kakak yakin!"
Nazwa pun hanya bisa pasrah dengan permintaan sang kakak.
"Tapi Kak!"
"Nazwa, please!"
"Ah iya, iya, baiklah! Aku tidak akan memberitahukan hal ini pada Kak Zidan."
Akhirnya Andita pun memutuskan untuk pergi sendiri menemui Tuan Wildan.
******
"Kenapa kau merasa gugup? Apa kau takut padaku?"
Andita menundukkan kepalanya. Tenggorokannya terasa tercekat. Sungguh rasanya saat ini Andita ingin sekali berlari sejauh mungkin agar dirinya terbebas dari tatapan tajam itu.
"Jadi hanya sebatas ini keberanianmu Nona Andita?" Tuan Wildan menekankan suara pada pertanyaannya.
Pria paruh baya itu menyunggingkan sudut bibirnya kala melihat Andita tak berkutik sama sekali.
"Tuan, tolong panggil saja saya Andita, karena saya bukan seorang Nona Muda. Jadi anda tidak perlu memanggil saya dengan sebutan Nona."
__ADS_1
Akhirnya dengan segenap kekuatan, Andita memberanikan diri membuka mulutnya. Sekilas ia melihat pemilik wajah yang sedang mengintimidasinya itu.
Tuan Wildan tergelak mendengar ucapan gadis dihadapannya. Ia menyandarkan tubuhnya dikursi dengan menyilangkan kakinya.
"Ya, aku tahu jika kau bukan seorang Nona Muda! Kau hanya bermimpi untuk bisa menjadi seperti Nona Muda! Maka dari itu kau mencoba mendekati putraku agar impianmu itu menjadi kenyataan. Bukankah begitu?!"
Jleb
Perkataan Tuan Wildan sukses membuat hati Andita mencelus sampai ke ulu hatinya. Bagaimana mungkin Tuan Wildan mengatakan ini padanya. Namun Andita lebih memilih diam seribu bahasa.
"Kau tahu kenapa aku memintamu datang menemuiku?"
Andita menggeleng pelan.
"Tidak Tuan."
"Benarkah kau tidak tahu?"
Andita terdiam. Tentu saja dia tahu, namun ia tak berani berkata apapun. Andita kembali menggelengkan kepalanya.
"Baiklah akan kuberitahu!" Tuan Wildan masih menyorot Andita dengan tajam.
Sementara sekujur tubuh sudah mulai mengeluarkan keringat. Suasana didalam ruangan saat ini terasa begitu mencekam dan panas baginya. Padahal AC diruangan tersebut menyala.
"Aku tidak ingin berbasa-basi denganmu! Karena waktuku terlalu berharga. Aku sudah tahu sedikit banyaknya tentang dirimu. Bahwa kau bukanlah gadis yang berasal dari keluarga terpandang. Aku tidak mengerti bagaimana caramu mendekati putraku, Zidan. Tapi yang pasti aku tahu, kau melakukan semuanya karena uang! Dan perlu kau ketahui, sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan Zidan! Jadi jangan pernah sekalipun kau bermimpi untuk bisa masuk kedalam keluarga kami!"
Jlebb
Kata-kata Tuan Wildan seperti ribuan jarum yang langsung menusuk kedalam jantung Andita. Kenapa rasanya begitu sakit sekali mendengarnya. Meskipun sebelumnya Andita pernah merasakan hal yang jauh lebih sakit daripada ini.
Tapi saat ini dadanya sungguh begitu sesak. Kenapa semua orang selalu memandang dirinya dari status? Hanya karena dirinya berasal dari keluarga biasa, apa tidak bolehkah dirinya bahagia?
Bukankah mereka diciptakan oleh Tuhan yang sama?
Mata Andita mulai memanas. Sebisa mungkin ia tidak boleh menangis dihadapan calon ayah mertuanya itu.
.
.
Bersambung...
__ADS_1