MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Tepati Janjimu


__ADS_3

"Tidak Andita!!" Bentak Zidan.


Andita dan Nazwa langsung menoleh keasal suara.


Tu-tuan Zidan?! Kenapa dia ada disini?


Zidan menghampiri Andita dengan langkah lebar. Sorot matanya menyiratkan kemarahan. Pantas saja sejak dikantor, dirinya merasa begitu cemas. Zidan tidak fokus bekerja karena terus memikirkan Andita yang tidak menjawab panggilan teleponnya.


Dua minggu lalu setelah Andita datang kepadanya untuk meminta bantuan, komunikasi antara dirinya dan gadis itu mulai ada kemajuan. Zidan meminta pada Ken untuk memberikan nomor ponsel Andita padanya. Kemudian dari situ Zidan mulai aktif menghubungi Andita dengan alasan ingin mengetahui perkembangan kesehatan ibunya agar pernikahannya dan Andita segera terlaksana.


Sebelumnya Andita meminta pada Zidan, agar pernikahan mereka dilangsungkan setelah ibunya pulih dari sakitnya. Dan Zidan pun menyanggupi itu.


Hari ini, sejak tadi pagi Zidan terus menghubungi Andita, namun gadis itu sama sekali tidak merespon panggilan ataupun membalas pesan darinya. Tentu Zidan merasa kesal. Ia memutuskan untuk datang kerumah sakit bersama Ken. Dan betapa terkejutnya Zidan ketika mendengar Andita akan mendonorkan ginjalnya pada ibunya.


"Apa kau sudah kehilangan akal Andita?!" Hardik Zidan ketika ia sudah berada dihadapan Andita. Tangannya mencengkram bahu gadis itu. Sekilas netra Zidan melihat kearah Nazwa lalu kembali menatap Andita.


"Tuan lepaskan!" Andita menepis tangan Zidan. "Kenapa anda tiba-tiba datang kemari Tuan?!" Sorot mata Andita terlihat tak kalah kesal.


"Ikut aku, kita perlu bicara!" Zidan menarik tangan Andita dan membawanya kehalaman belakang rumah sakit, meninggalkan Ken dan Nazwa yang masih mematung.


Zidan melepaskan tangan Andita setelah mereka sampai dihalaman rumah sakit. Zidan menatap gadis itu dengan tatapan tidak percaya.


"Apa kau sudah tidak waras sampai kau ingin mendonorkan ginjalmu?!" Ucap Zidan menahan geram.


"Apa Tuan?! Anda menyebut saya tidak waras? Sepertinya anda yang tidak waras Tuan! Apa salahnya jika saya ingin mendonorkan ginjal saya pada Ibu saya sendiri, hah?!" Jawab Andita tak kalah emosi.


Zidan mengusap wajah kasar. Ia memejamkan mata mencoba menahan amarahnya.


"Kau tahu apa resikonya jika seseorang hanya memiliki satu ginjal untuk hidup?!" Tanya Zidan.


"Ya. Saya tahu, dokter sudah mengatakannya pada saya!"


"Jika kau sudah tahu, kenapa kau masih ingin melakukan donor ginjal?!"

__ADS_1


"Karena saya ingin Ibu saya sembuh Tuan! Saya sangat menyayangi Ibu saya. Saya tidak ingin melihat Ibu saya meregang nyawa hanya karena dia tidak mendapatkan donor ginjal!" Jawab Andita dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca. Satu kali kedipan saja, sudah bisa dipastikan air matanya akan jatuh.


Kini Zidan menatap wajah Andita dengan sendu. Kenapa hatinya selalu berdenyut nyeri ketika melihat Andita dalam keadaan kacau seperti ini.


Tolong jangan menangis. ~Zidan.


Andita menundukan pandangannya, dan benar saja tidak lama kemudian airmatanya mendesak keluar. Zidan yang tidak tahan melihat gadis yang dicintainya bersedih segera membawa Andita kedalam dekapannya, secara bersamaan isak tangis Andita pun semakin pecah didalam pelukan Zidan.


"Jangan menangis!" Zidan mengusap lembut punggung gadis itu.


"A-apa aku salah ji-jika a-aku ingin menolong I-ibuku?!" Tanya Andita terbata ditengah isak tangisnya.


Zidan menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak, kau tidak salah! Hanya saja aku tidak ingin kau hidup dengan satu ginjal ditubuhmu!"


"Ta-tapi bagaimana dengan Ibuku?!"


"Lihat aku! Bukankah aku ada disini? Aku akan membantumu sebisaku. Aku akan menyuruh orang-orangku untuk mencarikan pendonor ginjal yang cocok untuk Ibumu! Kau jangan pernah berpikir untuk hidup dengan satu ginjal didalam tubuhmu. Aku tidak akan pernah mengizinkannya!"


Andita menatap Zidan lekat-lekat. Ia sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Zidan.


"Apa hak anda melarang saya untuk mendonorkan ginjal pada Ibu saya sendiri Tuan?! Bukankah kita belum menikah? Anda belum berhak untuk mengatur hidup saya seperti ini!" Lirih Andita.


Zidan menyentak udara dihadapannya. Kenapa gadis dihadapannya ini tidak mengerti juga jika dirinya sangat mengkhawatirkan keadaannya.


"Jelas aku berhak melarangmu! Meskipun kita belum menikah, tapi kau sudah menandatangani surat perjanjian itu. Dan kau pun sudah menerima uangnya! Jadi tugasmu sekarang adalah menuruti perintahku! Jika kau membantah, kau harus mengembalikan seluruh uang yang aku beri padamu saat ini juga!" Ancam Zidan.


Seketika Andita membeliakkan matanya. Dia tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Zidan. Ingin sekali rasanya Andita memaki lelaki dihadapannya ini. Namun akhirnya dia memilih mengalah.


"Baiklah kali ini saya akan menuruti perintah anda! Saya harap anda segera mendapatkan pendonor yang tepat untuk Ibu saya! Jika sampai anda tidak bisa mendapatkannya dalam waktu dekat ini, jangan pernah mencegah saya lagi untuk mendonorkan ginjal saya, anda mengerti!" Andita menekankan setiap kata-katanya, lalu setelah mengatakan itu Andita pun pergi dari hadapan Zidan.


******

__ADS_1


Lima hari kemudian.


Seperti yang Zidan janjikan pada Andita bahwa dirinya akan mencarikan pendonor ginjal untuk ibunya, kini Zidan sudah mendapatkan seseorang yang dengan sukarela akan mendonorkan ginjalnya. Tentu saja Zidan mendapatkan pendonor itu dengan bantuan beberapa orang suruhannya.


Zidan menghargai jasa si pendonor dengan memberikan sejumlah uang yang cukup besar sebagai kompensasi.


Serangkaian pemeriksaan sudah dilakukan orang itu dan hasilnya cocok dengan Ibu Andita. Tentu Andita dan Nazwa sangat senang mendengarnya. Jadwal operasi pun telah ditentukan oleh dokter.


Dan saat ini, Andita dan Nazwa sudah berada didepan kamar operasi. Detik berganti menit, menit berganti jam. Tidak terasa sudah lima jam berlalu, Andita dan Nazwa harap-harap cemas menanti dokter keluar dari ruangan itu.


Tidak lama pintu terbuka, dokter telah selesai melakukan tugasnya. Dokter pun mengatakan pada Andita jika operasinya semua berjalan lancar. Betapa bahagianya Andita dan Nazwa mendengar hal itu. Kemudian para tim medis segera memindahkan Ibu Andita keruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif.


Saking bahagianya Andita segera menghubungi Zidan. Zidan yang tengah menghadiri rapat dengan beberapa petinggi perusahaan menyempatkan diri mengangkat telepon dari Andita. Betapa bahagianya Zidan karena Andita menghubunginya. Sebab selama ini Zidanlah yang lebih dulu menghubungi gadis itu.


"Hallo, Andita, ada apa? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Zidan.


"Hallo Tuan, maaf jika saya mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin memberi kabar jika operasi Ibu saya berjalan lancar!" Ucap Andita.


Tentu saja Zidan sangat senang mendengar hal itu.


"Syukurlah! Aku senang mendengarnya!" Jawab Zidan.


"Ehm, Tuan, sekali lagi saya ucapkan terimakasih pada anda, karena sejauh ini anda sudah berkenan membantu saya, jika tidak ada anda mungkin..."


"Aku sudah menepati janjiku bukan? Sekarang giliranmu yang menepati janjimu!" Potong Zidan.


Mendengar Zidan menagih janji padanya, Andita refleks menggigit bibirnya. Ia sadar ini bukan akhir segalanya, melainkan sebuah permulaan yang nantinya akan merubah kehidupannya kedepan.


"Baik Tuan, saya akan menepati janji saya pada anda!"


.


.

__ADS_1


__ADS_2