MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Memberitahu Yang Sebenarnya


__ADS_3

Zidan benar-benar tidak habis pikir, ternyata kecurigaannya selama ini pada lelaki paruh baya itu benar adanya.


"Jadi selama ini dia yang sudah memanipulasi laporan keuangan dan penyalahgunaan aset perusahaan Ayah lalu mengkambing hitamkan Ayah Andita agar dia disalahkan?!"


"Apa motifnya?!" Geram Zidan.


"Bisa saja karena Tuan Reyhan iri dengan jabatan yang diperoleh oleh mendiang Ayah mertua anda, Tuan. Sehingga dia melakukan hal sekotor ini padanya!" Jawab Ken.


"Cih! Dia benar-benar manusia serakah!"


"Tapi dari mana Andita mendapatkan bukti ini?! Jika dia memiliki bukti ini, itu berarti yang menculik Andita adalah..." Zidan menatap kearah Ken.


"Sepertinya orang suruhan Tuan Reyhan yang sudah menculik Nona, Tuan! Tuan Reyhan pasti sudah tahu jika bukti itu ada pada Nona, maka dari itu mereka menculiknya!"


Zidan mengetatkan rahang seraya mengepalkan tangannya.


"Kurang ajar! Mereka berani bermain-main denganku! Jika benar mereka yang menculik Andita, kita harus segera bertindak Ken! Aku tidak mau jika sampai sesuatu terjadi pada istriku!"


"Lalu apa rencana anda Tuan?!"


Zidan nampak berpikir sejenak.


"Sepertinya kita harus menemui lelaki itu!"


******


Diperusahaan Tuan Reyhan, lelaki paruh baya itu nampak sedang menghubungi seseorang. Wajahnya terlihat berbinar seperti baru saja menemukan sebuah harta karun yang berlimpah.


"Hahaha.. Kerja bagus! Ini yang aku tunggu sejak tiga tahun lalu! Kalian akan mendapatkan bonus dariku untuk usaha kalian, asalkan kalian benar-benar menjaga mereka agar tidak kabur dari tempat itu!" Titah Tuan Reyhan pada orang suruhannya diseberang sana.


"Anda tenang saja bos! Mereka berdua sudah kami ikat. Dan kami jamin mereka tidak akan bisa kabur dari tempat ini!"


"Bagus! Sekarang juga aku akan segera kesana!"


"Siap bos!"


Klik.

__ADS_1


Sambungan telepon terputus. Tuan Reyhan nampak tersenyum smirk. Matanya menerawang jauh seolah ia siap memakan mangsanya.


"Hadi.. Hadi.. Ternyata bukan hanya nasibmu saja yang buruk. Bahkan nasib putrimu pun akan sama buruknya denganmu! Begitu juga dengan Bima. Mereka berdua akan segera menyusulmu kealam baka! Hahaha!!!"


"Aku harus segera kesana, untuk menghancurkan bukti yang mereka punya!"


Tuan Reyhan segera beranjak dari kursi kebesarannya. Ia meraih jas dan kunci mobil lalu segera meninggalkan perusahaan.


Saat akan keluar dia berpapasan dengan putranya, Dirga.


"Ayah, kau mau pergi?!" Tanya Dirga.


"Ya, aku ada urusan penting diluar! Kau jaga perusahaanku dengan baik! Handle semuanya, jangan sampai mengecewakanku! Jika kau mampu aku akan menyerahkan perusahaan ini padamu!" Jawab Tuan Reyhan seraya menepuk pundak sang putra. Lalu ia segera pergi dari sana.


"Ayah akan menyerahkan perusahaan ini padaku?! Ah sepertinya itu ide yang bagus! Aku tidak perlu lagi menjadi bawahannya. Aku akan membuat perusahaan ini benar-benar menjadi milikku seutuhnya, tanpa harus membaginya dengan Rachel." Dirga tersenyum smirk.


Bukan tanpa alasan Dirga mengatakan itu, sebab selama ini Rachel selalu saja merongrong dirinya.


Rachel selalu meminta Dirga mengirimkan sejumlah uang untuk menutupi kebutuhan Rachel yang masih glamor diluar sana tanpa sepengetahuan sang ayah. Dan itu membuat Dirga merasa muak.


******


Ketika mobil Zidan yang dikendarai Ken nyaris memasuki area perusahaan Tuan Reyhan, tiba-tiba mereka melihat lelaki paruh baya itu keluar dari gedung tersebut.


"Tuan, sepertinya Tuan Reyhan akan pergi." Ucap Ken.


"Ikuti dia Ken! Jangan sampai kita kehilangan jejaknya. Aku yakin saat ini lelaki itu pasti akan menemui anak buahnya yang sudah menculik Andita!"


"Baik Tuan!"


"Jangan lupa, kau hubungi orang-orangku agar mereka mengikuti kita! Lelaki brengsek itu pasti memiliki penjagaan yang ketat disana!"


"Siap Tuan!"


Ken segera menginjak pedal gas mengikuti mobil Tuan Reyhan yang baru saja keluar dari gedung.


Di dalam perjalanan yang menegangkan itu Zidan teringat akan penghinaan yang dilontarkan Ayahnya pada Ayah Andita saat Tuan Wildan bertandang kekantornya.

__ADS_1


Ia pun terpikirkan sesuatu. Zidan meraih ponsel milik Paman Bima dan mentransfer video Tuan Reyhan ke ponselnya lalu mengirim video itu pada sang ayah.


"Kita lihat Ayah, apa reaksimu setelah mengetahui yang sebenarnya!" Gumam Zidan. Sorotnya terlihat tajam.


******


Triing...


Bunyi sebuah pesan masuk dari Zidan ke ponsel Tuan Wildan. Lelaki paruh baya itu segera meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja kerjanya.


Tuan Wildan dengan santai membuka layar ponsel kemudian mulai membaca pesan yang dikirimkan sang putra.


Kau pasti akan terkejut dan tidak percaya dengan apa yang akan aku perlihatkan padamu, Ayah!


Sebuah video. Tuan Wildan mengkliknya dan video itu pun terputar.


Adegan demi adegan yang diperlihatkan dalam video itu seketika membuat netra Tuan Wildan membola. Apalagi ketika Tuan Wildan mendengar suara Tuan Reyhan dan sekelompok orang suruhannya yang merasa berhasil menjebak Hadi.


Kau lihat saja Hadi, setelah ini hidupmu akan hancur! Namamu akan rusak dan kau akan dipenjara untuk hal yang tidak kau lakukan! Hahaha!!


Seketika Tuan Wildan mengeraskan rahangnya. Dia meremas ponsel miliknya sambil menahan geram.


"Apa-apaan ini?! Jadi Reyhan yang telah memfitnah Hadi?! Bajingan! Selama ini dia sudah menipuku mentah-mentah!"


Tuan Wildan segera menelepon Zidan. Tak lama terdengar suara diseberang sana.


"Bagaimana Ayah? Apa kau sudah melihat videonya? Apa sekarang kau sudah percaya jika Ayah Andita tidak bersalah dalam kasus itu?!"


Namun bukan menjawab pertanyaan putranya, Tuan Wildan malah balik bertanya.


"Dimana kau?!"


"Tentu saja aku akan menyelamatkan istriku!" Zidan membuang nafas kasar. "Aku akan membawanya pulang bersamaku!"


.


.

__ADS_1


__ADS_2