MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Karena Kecerobohan


__ADS_3

Diruang kerja.


Dua jam sebelum Zidan kembali kekamar, Zidan mencoba mengontrol emosinya yang meledak-ledak.


Suami mana yang tidak murka saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ada orang lain yang sengaja ingin mencelakai istri dan juga calon anak mereka?


Itulah yang dirasakan Zidan saat ini. Marah, benci, kecewa jadi satu. Saat melihat video cctv yang memperlihatkan Zoya membuang kalung Andita dan dengan sengaja menakuti Andita. Hingga akhirnya istrinya itu jatuh tenggelam kedalam kolam.


Zidan benar-benar tidak menyangka bahwa Zoya akan melakukan hal sejahat itu.


"Zoya!"


Netra Zidan menyala seiring dengan tangannya yang mengepal kuat dan rahangnya mengeras.


"Kenapa kau melakukan ini pada Andita?!" gigi Zidan gemeletuk menahan geram dan sesak didadanya secara bersamaan.


Tiba-tiba kilasan saat Zoya menyatakan cinta padanya kembali terngiang ditelinga Zidan. Zidan mencoba mengurai semuanya.


Ia pun segera membuka laci meja kerja yang sudah lama tidak ia buka.


Zidan mencari-cari foto lawas kebersamaannya dengan Zoya dan juga Andrew.


"Sial! Kemana foto itu?!" umpat Zidan.


Namun yang ia temukan hanya surat perjanjian pra nikahnya dengan Andita. Zidan menjambak frustasi rambutnya sendiri. Ia mengkhawatirkan sesuatu.


Secepat kilat Zidan memeriksa cctv yang ada diruang kerjanya dua minggu belakangan ini.


Dengan teliti Zidan mengecek satu persatu video sesuai dengan tanggalnya. Hingga berakhir pada tanggal dimana ia baru saja kembali dari luar kota.


Zidan begitu syok saat melihat Zoya masuk kedalam ruang kerjanya dengan cara diam-diam. Bahkan terlihat jelas sorot kebencian ketika Zoya melihat foto pernikahannya dengan Andita.


Video itu terus bergulir sampai pada Zoya menemukan foto mereka dan juga surat perjanjian yang Zidan buat.


"DAMN IT!! KENAPA AKU BISA SECEROBOH INI?!" Zidan menggebrak meja begitu keras. Meluapkan emosi yang membuncah dijiwa.


"Harusnya kubakar dari dulu foto dan surat perjanjian itu sebelum ada orang yang menemukannya! Dan Zoya, dia pasti sudah salah mengartikan hal itu. Dia pasti mengira bahwa aku masih mencintainya!" Zidan mengusap wajah kasar.


"Pantas saja Zoya berubah pada Andrew. Jadi ini alasannya?! Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan! Aku harus bicara dengannya."


Zidan segera meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Ia mencari kontak Zoya lalu menghubungi wanita itu.


Hanya dalam hitungan detik telepon Zidan tersambung.


"Besok aku akan datang ke apartemenmu. Kita perlu bicara!"


*****


Setelah berhasil menguasai emosinya, Zidan kembali kekamar. Rasanya ia ingin sekali memeluk tubuh Andita dan mengucapkan beribu maaf karena tidak bisa menjaganya dan janin dalam kandungannya.


Semua karena salahnya. Salahnya yang tidak membuang foto itu sejak lama. Padahal foto itu tidak berarti apa-apa lagi bagi Zidan semenjak ada Andita dihidupnya.


Saat Zidan membawa masuk kakinya kedalam kamar, Zidan terkejut melihat Andita yang tengah berdiri dipinggir balkon sambil melamun.

__ADS_1


Dan lebih terkejut lagi ketika Andita menanyakan tentang perasaannya pada Zoya. Sungguh mendengar nama itu batin Zidan kembali bergemuruh.


Zidan bisa melihat ketakutan dimata Andita saat ia merubah ekspresinya menjadi tajam.


Padahal Zidan bukan marah karena Andita menanyakan soal Zoya melainkan ia marah karena wanita itu nyaris saja membunuh istri dan juga calon anaknya.


"Katakan! Kenapa kalungmu bisa jatuh kedalam kolam? Apa Zoya melakukan sesuatu padamu?!" ulang Zidan.


"Apa kau tidak akan marah jika aku mengatakan yang sejujurnya? Apa kau akan percaya padaku?"


"Aku tidak akan marah padamu. Dan aku akan selalu percaya dengan apa yang kau katakan."


Andita menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia mulai bercerita.


"Awalnya Zoya ingin melihat lebih dekat kalungku karena menurutnya kalung ini sangat indah." Andita menyentuh dan menatap kalungnya lekat-lekat.


"Tanpa pikir panjang aku melepasnya. Kemudian aku pergi ketoilet sebentar. Namun saat aku kembali, aku melihat Zoya tengah membuang kalung ini kekolam renang."


"Aku terkejut dan menanyakan pada Zoya kenapa dia membuang kalungku. Dan kau tahu apa yang Zoya katakan?"


"Apa?"


"Dia mengatakan bahwa dia mencintaimu Zidan! Dan dia juga tahu bahwa kau pernah mencintainya."


Deg


Zoya.. Jadi itu yang kau katakan pada Andita?!


Zidan memang tidak bisa mendengar apa yang Zoya katakan di cctv karena jarak keduanya yang cukup jauh dari kamera pengintai.


"Dugaanku ternyata selama ini benar bahwa Zoya mencintaimu. Aku tidak sanggup mengatakan semuanya dihadapan Andrew siang tadi. Karena pasti Andrew akan sangat terluka." lanjut Andita.


Zidan langsung membawa tubuh Andita kedalam pelukannya lalu mengusap lembut punggung wanitanya itu.


"Kau tenang saja, apapun yang terjadi cintaku hanya untukmu. Dan soal Andrew, aku akan memikirkannya nanti."


"Tapi yang aku tidak mengerti disini adalah kenapa Zoya bisa tahu jika kau pernah mencintainya Zidan? Sementara kau mengatakan padaku bahwa kau tidak pernah mengungkapkan perasaanmu pada Zoya?"


Deg


Zidan terpaku mendengar pertanyaan Andita. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa selama ini dirinya masih menyimpan foto kebersamaannya dengan Zoya dan Andrew.


Apalagi dibelakang foto itu terdapat ungkapan cintanya.


"Entahlah, aku tidak tahu!" dusta Zidan.


*****


Ditempat berbeda, Zoya tengah menatap tajam kearah Andrew yang duduk bersebrangan dengan dirinya.


Sepulang dari kediaman Zidan, Andrew memutuskan untuk mengikuti mobil Zoya, dan ingin kembali berbicara dengan kekasihnya itu mengenai hubungan mereka.


Andrew bersikeras mempertahankan hubungannya dengan Zoya. Sementara Zoya tetap pada pendiriannya bahwa ia ingin berpisah dari Andrew.

__ADS_1


"Aku mohon Zoya pikirkan ini baik-baik! Aku mencintaimu. Aku sudah memutuskan untuk menikah denganmu. Tidakkah hatimu tersentuh dengan permintaanku?!"


"Sudah kukatakan aku tidak bisa Andrew! Keputusanku sudah final, aku ingin mengakhiri hubungan kita!"


"Berikan aku alasan yang jelas Zoya!"


Zoya memalingkan wajahnya seraya tertawa kecil. Kemudian kembali menatap Andrew.


"Aku sudah tidak mencintaimu! Itu alasanku. Kau puas?!"


"Tidak mencintaiku?! Apa karena kau mencintai pria lain lalu dengan tega kau mencampakanku begitu saja?!"


"Aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu!"


"JAWAB AKU DENGAN JUJUR ZOYA!" Andrew mulai marah dan bangkit dari duduknya.


"Berhenti berteriak padaku Andrew!" Zoya tak kalah marah dan ikut berdiri dihadapan Andrew.


"Jika aku mengatakan bahwa aku memang mencintai pria lain apa kau akan mundur?! Apa kau akan berhenti mengharapkanku?! Hah?!"


Tangan Andrew mengepal kuat. Netranya menyorot tajam kearah Zoya.


"Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah melepaskanmu jika alasanmu adalah karena pria lain Zoya, ingat itu! Aku akan mencari tahu siapa pria yang sudah berani merebutmu dariku. Aku akan membunuhnya!"


Deg


Seketika tubuh Zoya membeku. Ia menatap nyalang pada Andrew yang saat ini melangkah pergi meninggalkannya.


Brakk!


Andrew keluar dan menutup pintu dengan kasar. Sementara Zoya kembali terduduk lemas di sofanya.


Tidak lama terlihat layar ponselnya berpendar. Membuat Zoya mengalihkan pandangannya kesamping dimana ponsel itu berada. Terukir nama Zidan disana.


Seketika Zoya merasa sangat senang, karena Zidan menghubunginya disaat yang tepat.


Segera Zoya menggeser lencana berwarna hijau itu dan mengangkat telepon darinya.


" Hallo Zidan."


"Besok aku akan datang ke apartemenmu. Kita perlu bicara!"


Klik


Sambungan telepon langsung terputus begitu saja. Zoya terhenyak. Ia mencoba menghubungi Zidan kembali. Namun nihil, Zidan tidak mengangkat telepon darinya.


"Ada apa lagi ini?! Kenapa suara Zidan terdengar dingin? Apa karena Andita..?!"


"Tidak! Andita tidak mungkin mengatakan apapun pada Zidan kan?! Meskipun dia mengatakannya, tapi Andita tidak memiliki bukti untuk menuduhku!"


Raut wajah Zoya mulai terlihat khawatir.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2