MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Sebuah Jawaban


__ADS_3

"Apa kau sama sekali tidak sadar dengan kesalahanmu?!"


Lagi-lagi Dirga menelan salivanya. Ia tahu saat ini Zidan tengah menahan amarah padanya karena ia sudah menghina Andita.


Dirga memberanikan diri menatap Zidan. Ada ketakutan dalam hatinya ketika ia menatap mata tajam itu.


"Apa ini ada hubungannya dengan perkataan saya tempo hari Tuan? Jika benar, tolong maafkan kekeliruan saya! Saya sungguh meminta maaf pada anda!"


Zidan berdecih. Ia sama sekali tidak menduga ternyata hanya sebatas inikah keberanian mantan kekasih calon istrinya itu.


"Perkataan yang mana maksudmu?!" Tanya Zidan pura-pura tidak tahu.


Dirga benar-benar dibuat mati kutu oleh Zidan.


"Perkataan saya yang menghina Andita tempo hari dihadapan anda Tuan! Saya sungguh minta maaf soal itu! Saya tidak bermaksud menghina Andita. Saya sangat berharap anda mau memaafkan kesalahan saya!" Ucap Dirga seraya menundukkan pandangannya.


"Jadi kau sudah sadar atas kesalahanmu?!"


"Ya Tuan!"


"Tapi aku merasa kau tidak tulus meminta maaf soal itu. Kau meminta maaf hanya karena ingin menyelamatkan perusahaanmu bukan?!"


Glekk


Dirga benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa agar Zidan mau memaafkannya. Jika bukan demi perusahaan dan menghindari amukan sang ayah mungkin Dirga tidak sudi memohon seperti ini.


Ken yang berdiri dibelakang Zidan menatap sinis kearah Dirga. Begitu juga dengan Zidan, dalam hatinya ia tersenyum senang melihat ketidakberdayaan Dirga.


Zidan akan membuat laki-laki brengsek itu menyesal karena sudah bermain-main dengannya.


"Tuan, saya mohon! Saya akan melakukan apapun asal anda mau memaafkan saya!"


Zidan menarik sudut bibirnya.


"Benarkah?! Bagaimana jika aku menyuruhmu untuk meminta maaf pada Andita dengan berlutut dihadapannya?! Apa kau bersedia?"


Deg.


Dirga terkejut mendengar ucapan Zidan. Raut wajahnya berubah merah padam. Tangannya mengepal diantara kedua lututnya. Netranya kini berubah tajam menatap kearah laki-laki itu.


Bagaimana mungkin seorang Dirga Utomo akan berlutut dihadapan seorang gadis biasa seperti Andita?! Sampai mati pun ia tidak sudi.


"Tuan apa anda sedang ingin menjatuhkan harga diri saya?!" geram Dirga. Karena baginya percuma saja ia memohon pada Ziean toh dia tetap tidak akan mengivestasikan kembali sahamnya pada perusahaannya.


"Apa maksudmu?! Apa kau merasa aku sedang menjatuhkan harga dirimu?? Bukankah kau sendiri yang mengatakan akan melakukan apapun agar aku memaafkanmu?"


"Kau ingin aku bekerja sama dan menginvestasikan kembali sahamku pada perusahaanmu bukan?! Aku akan mengabulkannya asal kau mau meminta maaf dan berlutut dihadapan calon istriku!"


Dirga membuang nafas kasar. Ia benar-benar tidak percaya dengan permintaan Zidan.


"Sampai matipun saya tidak akan pernah melakukan hal itu Tuan! Itu sama saja mencoreng harga diri saya!"


"Kalau begitu lupakan kerja sama diantara perusahaan kita! Aku tidak pernah memaafkanmu! Kau pantas menerima ini, karena sudah berani menghina calon istriku! Kau menyebutnya seorang jal*ng padahal kakakmu sendiri adalah seorang jal*ng!"


"Apa maksud anda, Tuan?! Kenapa anda malah menghina Kakak saya?! Apa anda tidak sadar juga jika ja*lang sesungguhnya adalah Andita?!"


"Tutup mulutmu Dirga!! Atau aku akan benar-benar menghancurkanmu! Ken, perlihatkan fotonya pada laki-laki brengsek ini!"

__ADS_1


Ken pun segera menyodorkan selembar map cokelat kehadapan Dirga.


"Apa ini?!"


"Buka dan lihatlah! Maka kau akan tahu seperti apa Kakakmu itu! Bagaimana mungkin aku akan menikahi seorang gadis yang tidak bisa menjaga martabat dirinya sendiri?!"


Dengan sedikit ragu Dirga pun meraih map cokelat itu lalu membukanya. Tiba-tiba netranya membulat sempurna.


Betapa terkejutnya ia ketika mendapati foto Rachel tengah berciuman panas dengan seorang lelaki dan hanya memakai pakaian minim yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Darimana anda mendapatkan foto ini Tuan?!" Dirga bertanya dengan bibir begetar.


Ia takut Zidan akan menjadikan foto itu senjata untuk menghancurkan nama baik keluarganya.


"Darimana aku mendapatkannya itu sama sekali tidak penting! Aku hanya ingin kau sadar bahwa kau telah salah memilih lawan."


"Dan aku ingatkan kepadamu, sebaiknya lain kali kau berhati-hati jika ingin melakukan sesuatu! Jika tidak, kau akan tanggung sendiri akibatnya! Sekarang pergilah! Aku tak punya waktu untuk melayanimu!" Usir Zidan.


Dirga menggeram kesal mengetahui dirinya diusir seperti ini. Lelaki itu mengusap wajah kasar. Ternyata sia-sia dia datang kemari.


"Baiklah saya pergi! Terimakasih atas waktu anda, Tuan!" Dengan perasaan kesal Dirga pun beranjak dari duduknya.


Namun saat akan berdiri ekor matanya tak sengaja melirik keatas, dan menangkap sosok Andita yang tengah berdiri menatap kearahnya.


Gadis itu?! Kenapa dia ada disini?!


Dirga semakin geram saja dibuatnya ketika Andita tersenyum sinis padanya. Zidan yang menyadari hal itu mengikuti sorot mata Dirga, betapa terkejutnya ia ketika melihat Andita diatas.


Kenapa dia berdiri disana? Bukannya beristirahat!


Lelaki itu pun menghentakkan kakinya dan segera berlalu dari kediaman Zidan dengan perasaan kesal.


******


Zidan masuk kedalam kamar yang ditempati Andita bersama beberapa pelayan yang membawakan pakaian perempuan yang dipesannya tadi dibutik melalui telepon.


Ia menyuruh pelayannya menaruh semua pakaian di walk in closet dengan rapi. Para pelayanpun mengikuti perintah Zidan.


Andita yang terkesiap melihat pemandangan didepannya hanya bisa diam.


Ia menyandarkan punggungnya pada bahu kasur dan meluruskan kakinya. Zidan tersenyum pada Andita dan menghampiri gadis itu.


"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" Zidan menyentuh kening Andita dengan punggung telapak tangannya.


Lagi-lagi Andita terkesiap dengan tindakan calon suaminya itu. Apalagi saat Zidan mendudukan dirinya ditepi ranjang disamping kaki Andita.


"Ya, saya sudah lebih baik Tuan, terimakasih!"


Setelah semua pelayan selesai dengan tugasnya, kini hanya tinggal Andita dan Zidan yang berada didalam kamar.


"Kenapa tadi kau keluar kamar? Apa kau butuh sesuatu?" Zidan mengusap lembut pipi gadis itu.


"Ya, tadi saya berniat kedapur untuk mengambil air minum Tuan."


"Kalau begitu biar aku meminta pelayan agar membawakan air minum kemari untukmu!"


"Tidak Tuan, terimakasih! Saya sudah tidak haus." Andita mencekal tangan Zidan yang hendak bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Benar kau sudah tidak haus?"


"Hemm." Andita menganggukkan kepalanya.


Untuk sesaat keduanya terdiam. Kemudian Andita memberanikan diri untuk bicara.


"Oh ya Tuan, saya ingin mengucapkan terimakasih karena anda sudah begitu baik pada saya."


"Sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak sengaja mendengar pembicaraan anda dengan Dirga barusan. Saya sama sekali tidak menyangka jika anda akan melakukan hal sejauh itu padanya." ucap Andita.


"Hemm, It's okey! Aku melakukan itu karena kau adalah calon istriku. Sudah kewajibanku untuk melindungimu!" Zidan mengusap lembut anak sulur rambut Andita.


Tatapan itu...


Seketika Andita teringat mimpinya saat Zidan menatap gadis lain dengan tatapan penuh cinta. Hatinya berdenyut nyeri kala mengingat semua itu. Sungguh ia seolah tidak rela membaginya pada siapapun.


"Tuan!" Andita menghentikan gerakan tangan Zidan. Ia memberanikan diri untuk menggenggamnya.


"Hemm, ada apa?"


"Apakah yang anda katakan sewaktu dikantor itu sungguh tulus?! Ehm,, maksud saya pernyataan anda yang ...."


Andita menggigit bibirnya, ia tidak sanggup berkata-kata. Terlalu malu baginya untuk menanyakan tentang perasaan Zidan padanya.


Zidan yang mengerti arah pembicaraan Andita, seolah seperti mendapatkan lampu hijau. Ia tersenyum sembari menggenggam tangan gadis itu. Sementara tangan lainnya menyentuh dagu Andita.


"Apa kau sedang menanyakan perasaanku padamu?" Zidan menatap wajah Andita lekat-lekat.


Andita hanya mampu menundukkan pandangannya seraya mengangguk pelan.


Zidan semakin mengembangkan senyuman diwajahnya.


"Tentu saja perasaanku tulus padamu! Apa kau tidak bisa melihatnya?! Aku begitu mencintaimu Andita. Sampai detik ini aku masih mencintaimu! Apa sekarang kau sudah memiliki perasaan padaku?!" Tanya Zidan.


Seketika wajah Andita bersemu merah. Degub jantungnya kian berdebar-debar kala netranya menatap manik mata emerald itu.


Apa sebaiknya aku jujur padanya?


Perlahan tapi pasti Andita menganggukan kepalanya.


"Umhh, I-iya Tuan! Saya memiliki perasaan terhadap anda." jawab Andita terbata.


Tiba-tiba kalimat itu lolos begitu saja dari bibir mungil Andita. Tidak bisa digambarkan lagi betapa bahagianya perasaan Zidan saat ini.


Seketika Zidan langsung membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Ia memeluknya begitu erat.


Terimakasih Tuhan kau telah mengabulkan doaku..


.


.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiah kopinyaa yaaโ˜• biar otor tambah semangat updatenya ๐Ÿ™โค


Oh iya untuk visual otor ga bisa kasih yaa, takutnya ga sesuai ekpektasi kalian. Tar yang ada malah buyar menghalunya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2