
Sepeninggal Dirga dari ruangannya, suasana hati Zidan bertambah kacau. Zidan malah semakin merindukan Andita disisinya. Bayangan Andita yang selalu menghindarinya setiap saat mampir kedalam pikirannya.
Haruskah ia ungkapkan saja perasaannya agar gadisnya itu mengerti? Bagaimana jika Andita menolak perasaannya? Dirinya belum sanggup untuk menerima penolakan dari gadis yang dicintainya.
Andita..
Berkali-kali Zidan mendesah frustasi. Konsentrasi dan semangatnya bekerja hari ini seketika menguap entah kemana. Kenapa bisa-bisanya gadis itu mencuri hatinya hanya dengan kerlingan mata saja?
Disaat larut dalam lamunannya, tiba-tiba Zidan terlonjak kaget ketika pintu dibuka seseorang.
"Hish.. Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu! Mengagetkanku saja!" Desis Zidan disaat melihat Ken masuk keruangannya secara mendadak.
"Maafkan saya Tuan! Tadi saya baru saja mendengar dari beberapa karyawan, bahwa diparkiran kantor baru saja terjadi keributan, ada dua orang laki-laki tengah berkelahi."
Tubuh Zidan yang tadinya bersandar pada kursi kebesarannya, langsung ia condongkan kedepan ketika mendengar laporan dari Ken.
"Siapa lagi yang berani membuat keributan dikantorku, hah?!"
"Siapa lagi jika bukan salah satu anggota keluarga Tuan Reyhan, Tuan? Hanya putra putri mereka yang berani membuat kegaduhan dikantor ini!" Ujar Ken yang juga ikut geram dengan kelakuan Dirga.
"Hufftt!" Zidan mengusap wajah kasar.
"Dengan siapa lelaki brengsek itu berkelahi?"
"Ferdy. Teman satu tim Nona Andita."
"Kenapa cecunguk itu harus berkelahi dengan Ferdy? Memang apa masalahnya?"
"Apalagi jika bukan karena Nona Andita, Tuan! Barusan yang saya dengar dari salah satu karyawan, saat mereka berkelahi disana juga ada Nona Andita dan ..."
"Dan apa?!"
"Dirga mengatakan hal buruk pada Nona. Dia mengatakan jika Nona adalah seorang ..."
Ken tidak berani melanjutkan kata-katanya. Sementara raut wajah Zidan sudah berubah memerah menahan amarah. Seolah dia sudah tahu apa yang dikatakan Dirga pada Andita.
"Sepertinya aku harus memberi pelajaran pada lelaki brengsek itu!" Zidan mengepalkan tangannya memukul meja.
"Suruh Andita keruanganku! Aku ingin bicara dengannya!"
"Baik Tuan!"
******
Sementara diruang kerja Andita beberapa karyawan masih terlihat berbisik-bisik soal perkelahian yang terjadi diparkiran kantor. Mereka tidak menyangka gadis bernama Andita itu menjadi primadona ditempat mereka bekerja.
Bagaimana tidak disebut primadona, jika dia menjadi bahan rebutan dari tiga pria sekaligus. Yang dua diantaranya sama-sama memiliki perusahaan.
Ya, mereka tadi sempat mendengar kata-kata cacian yang dilontarkan Dirga pada Andita, yang secara tidak langsung Dirga menyebut jika mereka pernah memiliki hubungan. Dan beberapa karyawan tahu siapa Dirga, karena ketika Dirga masuk kedalam kantor mereka, Dirga memperkenalkan dirinya sebagai salah satu CEO dari perusahaan Lite Properti.
"Kenapa semenjak dia masuk kekantor ini selalu saja ada masalah?!"
"Entahlah! Mestinya sebelum Tuan Zidan jatuh kedalam pelukannya, dia seharusnya sudah lebih dulu dikeluarkan dari kantor ini! Dari awal selalu datang terlambat dan sekarang membuat masalah."
"Aku benar-benar tidak menyukai gadis itu!"
"Ya aku juga! Dia memang gadis pembuat masalah!"
__ADS_1
"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan selain bergosip?!" Hardik kepala divisi yang tiba-tiba datang dari arah belakang. Membuat beberapa karyawan itu terkejut.
"Ma-maaf Bu!" Jawab mereka serempak.
"Bubar kalian!"
Mereka yang baru saja bergosip pun bubar. Kepala divisi melanjutkan langkah kakinya ke arah meja Andita.
"Andita!"
"Ya Bu?"
"Tuan Zidan memanggilmu keruangannya, sekarang!" Setelah mengatakan itu kepala divisi pergi kembali keruang kerjanya.
Andita menoleh kearah Ferdy, yang juga sedang menatapnya.
"Apa Tuan Zidan tahu soal perkelahianmu dengan Dirga?"
"Entahlah!"
******
Zidan menatap Andita lekat-lekat yang berdiri beberapa langkah dari meja kerjanya. Kemudian Zidan berdiri dan berjalan menghampiri calon istrinya itu. Kini posisi mereka berdua saling berhadap-hadapan.
Pandangan Andita tertunduk ketika Zidan menatapnya dalam. Zidan berdiri dengan kedua tangan didalam saku celananya.
Ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana pembicaraan mereka.
"Lihat aku!" Satu tangan kokoh Zidan meraih dagu Andita.
Jantung Andita berdebar-debar kala mata emerald itu menatapnya begitu intens.
Andita tergagap ketika Zidan menanyakan soal Dirga.
"Emm, ti-tidak! Dia tidak menyakiti saya!"
Netra Andita berusaha menghindar dari tatapan Zidan.
"Aku tahu dia pasti mengatakan sesuatu padamu! Katakan apa saja yang dia ucapkan padamu?"
Andita berusaha menyingkirkan tangan kokoh Zidan yang menyentuh dagunya.
"Sudah saya katakan Tuan, lelaki itu tidak mengatakan apapun! Jika anda menyuruh saya datang kemari hanya untuk membahas masalah yang tidak penting seperti ini lebih baik saya kembali bekerja, permisi!"
Andita langsung berbalik badan hendak keluar, namun Zidan menarik tangannya hingga tubuh Andita menubruk dada bidang lelaki itu.
Sontak tindakan Zidan membuat Andita terkejut bukan kepalang. Gadis itu membelalakan matanya saat kini posisi mereka begitu intim. Tangan kiri Zidan melingkar pada pinggang Andita. Sementara tangan kanannya menyentuh tengkuk leher gadis itu.
Tanpa aba-aba Zidan langsung melu-mat habis bibir ranum Andita begitu dalam.
"Emmpph.. Tu-tuan.. Emmph.. Lep..emmph!"
Andita mencoba memukul dan mendorong dada bidang Zidan dengan kedua tangannya yang menjadi pembatas tubuh mereka.
Namun Zidan semakin erat memeluk Andita. Bibir dan lidahnya terus menerobos masuk kedalam bibir gadis itu. Ia tidak peduli dengan Andita yang sedari tadi terus memberontak. Zidan menggigit bibir bawah Andita hingga Andita meringis sakit dan mulutnya sedikit terbuka.
Lidah Zidan terus menjelajahi rongga mulut gadis itu hingga bagian terdalamnya. Bibirnya menghisap dan mencecapi rasa manis yang membuatnya candu.
__ADS_1
Suara erangan dan ******* kecil yang keluar dari bibir mungil Andita membuat gairah Zidan semakin bangkit. Ciumannya semakin lama semakin menuntut.
Yang ada dipikiran Zidan saat ini adalah melampiaskan kekesalannya pada Andita yang selalu menghindari dirinya. Bagaimana mungkin disaat banyak gadis diluar sana yang menginginkannya, Andita malah memilih menghindarinya?
"Emmphh..lep..pas..kan..ahhh!"
Sekuat tenaga Andita masih berusaha mendorong tubuh Zidan. Karena tenaga Zidan begitu kuat menguasai dirinya, akhirnya Andita menginjak keras kaki atasannya itu hingga ia mengaduh.
"Awwhh, hissh...!!" Pekik Zidan. Pelukannya pun melonggar.
Disaat bersamaan Andita mendorong dan menampar wajahnya.
Plakkk
"Apa hanya hal ini yang bisa anda lakukan pada saya, Tuan?!" Teriak Andita. Suaranya menggema seisi ruangan.
Tanpa terasa kedua sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening. Andita mengusap bibirnya yang masih menyisakan saliva Zidan disana dengan telapak punggung tangannya. Ia merasa benci dengan lelaki yang saat ini berdiri dihadapannya itu.
"Saya sangat menghormati anda, Tuan! Tapi bisakah anda juga menghormati saya?! Saya bukan ******!"
Jlebb
Kata-kata Andita membuat Zidan tersadar akan perbuatannya. Ia tidak menganggap Andita seperti itu.
Sementara Andita berkata seperti itu karena dia tiba-tiba teringat ucapan Dirga yang mengatakan bahwa dia seorang ******.
"Andita! Apa yang kau katakan?! Aku tidak bermaksud..."
"Cukup Tuan! Saya rasa, saya telah membuat kesalahan dengan datang kemari! Dan saya rasa saya juga telah membuat kesalahan dengan menerima tawaran anda! Sungguh saya menyesal menerima tawaran perjanjian itu!" Bentak Andita. Dengan nafas tersengal-sengal ia mengeluarkan emosinya.
Zidan nampak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Andita.
Apa?! Dia menyesal?!
Dadanya berdenyut nyeri ketika Andita mengucapkan kata menyesal padanya. Andita segera berbalik meninggalkan Zidan. Namun secepat kilat Zidan menangkap kembali tubuhnya dari belakang.
"Berhenti Andita!" Zidan kembali mendekap erat tubuh gadis itu.
"Aku mohon maafkan aku! Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu! Aku hanya merasa marah dan kecewa saat kau terus menghindariku!"
Andita terisak dalam diam. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud lelaki yang tengah memeluknya saat ini. Namun karena emosinya lebih mendominasi, Andita terus mencoba melepaskan diri.
"Lepaskan saya Tuan! Sungguh saya tidak mengerti maksud anda! Jika anda menganggap saya selalu menghindari anda, bukankah itu adalah hal yang wajar?! Raga kita memang terikat surat perjanjian, tapi tidak dengan hati kita! Jadi untuk apa anda marah dan kecewa pada saya?!"
Lagi-lagi kata-kata Andita membuat perih hati Zidan. Sepertinya memang dia harus mengutarakan perasaannya agar gadisnya itu mengerti.
Zidan menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya.
"Kau ingin tahu kenapa aku merasa marah dan kecewa padamu?"
Posisi mereka belum berubah. Zidan menopang dagunya pada bahu Andita. Tangan kekarnya masih setia melingkar erat pada perut gadis itu. Zidan mendekatkan bibirnya pada telinga Andita hingga nafas hangatnya menerpa kulit dan membuatnya meremang.
"Itu karena aku mencintaimu! Sangat mencintaimu."
.
.
__ADS_1
Update 2 bab dulu yaa, soalnya dari semalam statusnya di review terus 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejaknya sayangkuh❤