
Bertepatan dengan lagu pertama yang dinyanyikan oleh Davina selesai, minuman yang sudah mereka pesan pun sampai.
"Kamu nggak nyanyi, Ve?" tanya Davina yang sedari tadi melihat Venus sedang sibuk sendiri.
"Sebentar lagi. Tapi aku mau bertanya sesuatu sama kamu dulu dan kau harus menjawabnya dengan jujur ya, Na."
"Memangnya kamu mau nanya apa, Ve?"
"Kamu tadi cemburu kan, saat melihat David yang di kelilingi oleh para wanita yang ada di cafe itu?"
"Nggak tuh, ngapain juga aku cemburu sama dia. Lagian aku juga bukan siap - siapanya dia." elak Davina dengan jutek.
"Ya ampun Davina Aurelia. Apa kamu itu udah lupa ya kalau si David itu masih suami lo dan lo itu harus wajib dan mengingat hal itu."
"Nggak penting juga."
"Yakin dia nggak penting? Tapi gimana ya kalau seandainya David bakal bawa salah satu para wanita yang ada di Cafe itu kerumah? Walau bagaimanapun pesona David memang tidak bisa di remehkan loh. Apalagi pas waktu tadi David menyanyi bawaannya tuh cool habis. Kalau dia suka sama aku, pasti aku tidak akan pernah menolak dia deh," goda Venus.
"Yakinlah. Memang David itu nggak penting."
"Beneran yakin nih?"
"Tahu ah gelap." jawab Davina jutek. Tapi di dalam hati Davina berkata "Awas saja kalau David berani membawa salah satu wanita di cafe itu ke rumah."
...***...
Setelah puas memaki dan mengomeli Daffa atas gagalnya rencana mereka malam ini, Daffa dan David pun kembali ke meja mereka.
"Maaf Pak Nathan, saya jadi tidak enak karena acara meeting kita agak terganggu gara - gara kejadian tadi." ucap David merasa bersalah.
Tentu saja kalau bukan karena ide dari Daffa pastinya David tidak akan mau bernyanyi seperti tadi.
"Wah, jangan serius begitu Pak David.Lagian meeting kita juga sudah berakhir sekitar setengah jam yang lalu." jawab Nathan "Saya juga tidak menyangka jika Pak David ternyata bisa menyanyi dengan sebagus itu dan permainan gitar anda tadi keren sekali." Lanjut Nathan memuji David.
"Terima kasih atas pujiannya, Pak."
"Tapi kenapa Pak David tadi nggak bilang kalau istri anda juga datang ke cafe ini?" tanya Nathan. "Saya juga kan mau melihat dan berkenalan dengan wanita yang beruntung yang sudah bisa mendapatkan Pak David." lanjutnya.
"Mereka lagi berantem, Pak Nathan. Sudah dua hari sih mereka berantemnya." jawab Daffa keceplosan. Dan dengan cepat Daffa langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Sementara David menatapnya tajam seakan ingin mencekik Daffa sekarang juga.
"Sorry, Bro." ucap Daffa dengan gerakan bibirnya.
"Hahahaha...."
Pak Nathan pun tertawa setelah mendengar jawaban dari Daffa. Ya, jujur saja Nathan itu suka pria yang seperti Daffa karena suka ceplas-ceplos dan tidak memendam sesuatu sendiri.
"Saya tahu kok. Saya juga kan pernah muda Pak David." ucap Nathan sambil terkekeh.
Sementara itu, kini muka David sudah mulai merah padam, karena sedang menahan amarahnya pada Daffa serta merasa malu pada rekan bisnisnya. Dan memang seharusnya mulut Daffa itu harus di berikan pelajaran lagi setelah ini.
"Pak Nathan, kalau saya boleh meminta saran? Ada tips nggak biar istri kita itu tidak marah lagi?" tanya Daffa tiba - tiba.
"Ada,"
"Ada, Pak? Kalau begitu, Pak Nathan cepat kasih tahu caranya pada Bos saya ini, Pak." ucap Daffa dengan penuh antusias.
"Sebenarnya wanita itu manusia yang lembut dan mudah luluh hatinya. Asalkan kita itu tulus dan mau berusaha untuk meminta maaf pasti akan mereka maafin kok."
"Bagaimana caranya, Pak?" tanya Daffa.
"Tapi istri saya marah besar dan bilang benci pada saya, Pak." lirih David. Dan Ya, padahal David sudah beberapa kali mengatakan permintaan maafnya pada Davina namun Davina tetap saja tidak mau memperdulikan atau memaafkannya. Jika David mengingat kejadian yang terjadi tadi pagi hatinya kembali merasakan sakit sekali. Seperti di tusuk oleh ribuan pedang.
Sedangkan Daffa yang mendengarkan ucapan dari David berusaha untuk tidak terkejut sama sekali. "Pantas saja, tadi pagi setelah bertemu dengan Davina dia itu kelihatan seperti orang yang tidak mau hidup lagi." ucap Daffa di dalam hati.
"Coba Pak David bujuk istri anda dengan membelikannya barang atau bunga yang istri anda sukai." ucap Pak Nathan memberikan saran.
David terdiam sejenak dan teringat kalau ia tidak tahu apapun mengenai apa yang Davina sukai.
"Dan wanita itu biasanya sangat suka kalau kita sebagai suami itu perhatian padanya. Coba nanti Pak David membelikan bunga pada istri anda. Dan bila perlu jika istri anda masih marah juga, belikan bunga itu setiap hari."
"Bunga ya, hmm." gumam David sambil memegang dagunya. Mungkin saja ia akan mencobanya.
"Baiklah Pak. Saya akan mencobanya. Terima kasih atas sarannya Pak Nathan." ucap David sambil tersenyum.
Kemudian Nathan pun berpamitan pada Daffa dan David. Setelah itu David meminta Daffa untuk membayarkan tagihan makanan dan minuman mereka.
Dan setelah masuk kedalam mobil, David melirik ke arah Daffa yang terlihat sedang sibuk menyetir untuk pulang ke Apartemennya. Ya, kali ini David juga memilih untuk menginap lagi di Apartemen milik Daffa karena David masih takut jika Ibunya itu akan datang tiba-tiba ke Apartemennya. Apalagi untuk hari ini, David sama sekali tidak berani untuk membalas pesan ataupun mengangkat telepon dari Ibunya. Ya, David masih takut jika nantinya akan di tanya tentang Davina. Mau jawab apa coba?
__ADS_1
"Daff, tadi terakhir kali lo itu chattingan sama Venus itu jam berapa?" tanya David tiba-tiba. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak sekarang.
"Kenapa emangnya?" Bukannya menjawab pertanyaan dari David. Daffa malah balik bertanya.
"CK!" David berdecak kesal.
"Tinggal lo jawab aja kenapa? nggak usah nanya balik bisa nggak sih, bikin gue kesel aja."
"Itu kan privasi, Bro. Apalagi menyangkut masalah chattingan."
"Kampret lo. Memangnya yang duluan nyuruh buat lo chattingan sama Venus itu siapa coba?" maki David.
"Ya, lo yang nyuruh lah..."
"Nah, sekarang itu gue lagi tanya hasilnya. Karena perasaan gue nggak enak sekarang. Gue takut terjadi apa-apa dengan mereka."
"Mereka? Lo itu lagi nggak salah ucapkan, Bro?"
"Iya,ya. Maksud gue itu istri gue. Nggak usah banyak bacot deh. Gue itu udah cape banget berdebat sama lo. Sekarang ponsel kamu mana, Daff."
Daffa kemudian menepikan mobilnya lalu mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam saku celananya dan langsung menyerahkannya pada David.
"Ingat, lo itu jangan berani buka atau baca pesan selain dari Venus ya." seru Daffa.
"Iya, tenang aja. Lagian isi pesan di ponselmu udah bisa ketebak, pasti isinya gak jauh dari pesan gombalan untuk wanita lo itu." sahut David cepat.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1