
"Emangnya kamu pernah bucin?"
"Pernah dulunya, Bi." jawab Daffa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mana mungkin dia bisa merasakan kebucinan lagi kalau setiap malam suka gonta-ganti perempuan. Apalagi dia masih trauma dengan kisah percintaannya yang kandas sekitar dua tahun lalu. Ya, saat sedang cinta - cintanya dia malah di tinggal nikah oleh pacarnya. Rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang. Itulah mengapa salah satu alasan dirinya tidak pernah terfikir lagi untuk menjalani suatu hubungan yang serius dengan seorang perempuan.
"Wow, pernah ya. Sekarang mana pacarmu? Coba kenalkan pada Bibi?" ujar Mami Karina dengan semangat yang menggebu.
Sedangkan David yang melihat mengernyitkan dahinya melihat tingkah Ibunya yang seperti anak ABG yang ingin mendengar kisah asmara temannya itu.
"Kalau pacarnya si Daffa itu sudah tidak terhitung lagi Mami?" celetuk David tiba-tiba dia akan membalas dan membully Daffa saat ini. Lihat saja. Mungkin Daffa juga akan mendapatkan jeweran di telinganya. Tapi kalau dapat cibiran dan petuah itu pasti.
"Maksud kamu Daffa itu sebenarnya kelinci darat?"
"Apaan kelinci darat, Mi?"
"Kamu nggak tahu apa itu kelinci darat?"
"Kalau aku nanya berarti aku gak tahu, Mamiku, sayang?"
"Lalu, kalau kamu Daffa? Apa kamu juga gak tahu juga apa artinya kelinci darat?" tanya Mami Karina menatap Daffa dengan serius. Mungkin Daffa bisa menjelaskan kepada David jika ia tahu artinya.
"Gak tau, Bibi." jawab Daffa.
"Masa anak muda zaman sekarang gak tahu. Waduh, sepertinya kalian ini memang kurang bergaul." ledek Karina.
David menghela nafas panjangnya. Kalau Maminya sudah bermain tebak-tebakan seperti ini. Padahal niat Maminya kan hanya ingin membantu dirinya tapi kenapa melebar membahas tentang kelinci darat.
"Coba kalian tebak sekali lagi kalau kalian bisa menebaknya dengan benar Mami kasih hadiah."
Lagi - lagi David menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd ibunya hari ini. Memang benar sedari dulu tingkah Ibunya itu memang berbeda dari teman - teman David yang lain.
"Hadiahnya gede gak, Bi?" tanya Daffa dengan raut wajah yang berharap kalau hadiahnya uang tunai yang banyak.
"Iya, kalau ada yang bisa jawab Bibi bakalan kasih uang jajan senilai 50 juta."
"Wah, kalau begitu aku mau, Bi." sahut Daffa dengan antusias. Kapan lagi kan dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dengan menebak sebuah kata, pikir Daffa.
"Kalau aku nggak mau ikutan, Mi. Karena uangku sudah banyak." jawab David dengan sombong. Sebenarnya ia malas juga memikirkan hal-hal kecil yang tidak penting seperti itu.
__ADS_1
"Bibi kasih waktu lima menit ya, Daff. Habis ini Bibi mau pergi arisan soalnya."
Daffa sedari tadi mondar - mandir sambil berpikir. Tapi sudah beberapa menit berlalu ia masih tidak bisa menebak apa yang di maksud dari 'Kelinci darat'.
"Aku menyerah saja, Bi." ucap Daffa pasrah. Menguras otak juga sedari tadi padahal dirinya sudah berusaha menjawab tapi jawabannya tidak ada yang betul.
"Lah, kok udah menyerah aja? Dasar anak muda zaman sekarang, payah!" Cibir Karina.
"Mami gak usah bahas kelinci darat dulu deh. Mendingan Mami itu jelasin rencana Mami yang tadi." pinta David.
"Jadi kamu mau mendengar lebih lanjutnya rencananya Mami tadi?"
"Ya, aku mau tau Mamiku, tersayang."
"Tapi kenapa dari kemarin kamu gak cerita ke Mami tentang masalahmu dengan Davina? Kamu anggap Mami ini orang tua kamu bukan sih?"
Gleg!
David tertohok dengan ucapan dari Maminya itu. Padahal dia memilki alasan tersendiri kenapa selama ini tidak bercerita tentang permasalahannya dengan Davina. Ya, salah satunya David itu takut jika Ibunya akan marah dan menghukumnya seperti tadi.
"Ya, karena aku itu takut Mami bakalan marah kalau aku cerita," jawab David.
"Buktinya Mami marah gak tadi?"
"Salah kamu sendirilah tadi pakai acara bohong segala dan gak angkat telepon atau pun membalas pesan dari Mami kemarin. Mami kan jadi khawatir."
"Ya sudah kajeng Mami, putra tampanmu yang penuh dosa ini meminta maaf." ujar David dengan kedua tangan memohon di depan dada. "Sekarang please... Mami mau bantuin aku ya?" lanjutnya dengan nada yang memohon.
"Tadi kan Mami sudah kasih kodenya, sisanya kamu pikirkan sendiri lah."
David melongo dengan tatapan yang tak percaya, Maminya itu bisa tega dengannya. Padahal sedari tadi Ibunya itu terlihat begitu antusias.
"Mi, kok Mami tega sama aku sih? Mami itu sebenarnya mau cucu gak sih?"
Mendengar kata 'cucu' Karina langsung menatap wajah putra tampannya dengan wajah iba. Tapi ada satu hal yang harus ia tanyakan dulu sebelum membantu rencana putranya itu.
"Mi, please bantuin David ya?" rengek David sambil memeluk lengan Karina. Sudah terlihat seperti anak manja saja dirinya saat ini. Karena biasanya David tidak pernah bersikap seperti itu pada Ibunya.
"Ehm... oke. Mami bakalan bantuin kamu. Tapi...."
__ADS_1
Sebelum Karina menyelesaikan ucapannya, David dengan tidak sabar sudah langsung memotong lebih dulu ucapan ibunya.
"Tapi apa, Mi? Masa sama anak sendiri harus ada tapinya sih?"
"Awwww. Aduh.... ampun, Mi." teriak David sambil mendapatkan jeweran lagi dari Maminya itu.
"Kamu ini gak sopan banget jadi orang! Mami belum selesai bicara malah kamu langsung potong ucapan Mami." desis Karina.
"Maaf, Mi. Itu karena aku sudah tidak sabar soalnya. Entah kenapa aku yakin kalau rencana Mami bakal berhasil. Berbeda jauh dengan rencana seseorang yang ada di sini. Gagal total. Yang ada Davina tambah benci sama aku, Mi." sindir David.
"Wah, Lo lagi nyindir gue nih?" ucap Daffa yang tidak terima.
"Mi...., Ayolah Mami cepat jelasin rencana Mami yang tadi." desak David yang sudah tidak sabar lagi. Dan mengabaikan ucapan dari Daffa.
"Sebentar, sayang. Mami mau mikir dulu." sahut Karina.
Ya, memang masih ada beberapa hal yang harus Karina pikirkan lagi jika ingin rencananya berhasil. Dan untuk masalah lainnya ia sebenarnya tidak masalah sama sekali jika harus mengeluarkan uang banyak.
"Kenapa Mami malah mikir lagi? Bukankah tadi rencananya sudah ada?"
"Sabar David! Ampun deh Mami sama kamu ini. Gak sabaran banget.Mami kan harus mikir dan cari Kru buat kamu pentas akting nanti. Agar dapat meyakinkan Davina. Dan Mami juga harus cari orang buat gantiin kamu untuk nabrakin mobilnya ke tiang."
"Oh, jadi Mami lagi mikir buat cari orang buat gantiin aku, ya? Jadi bukan aku kan yang harus nabrakin mobilnya ke tiangnya? Syukurlah kalau gitu." ucap David sambil mengusap dadanya.
"Iya, gak mungkinlah Mami bakalan ngebiarin kamu yang lagi bucin dan mau kasih Mami cucu harus kamu yang beneran buat nabrakin mobilnya ke tiang. Kalau nantinya kamu langsung mati, gimana?."
"Tapi Mami mau tanya satu hal sama kamu, David?" tiba-tiba suara Karina berubah menjadi serius. Daffa dan David mulai memandangnya dengan serius.
"Kamu kali ini beneran sudah jatuh cinta sama Davina, kan? Nggak sedang bohongin Mami lagi, kan?" lanjutnya memastikan perasaan David pada Davina.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.