Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Lebih Sayang Abah


__ADS_3

“Maaf..,” ucap Nila lembut menyerahkan dompet Rendi.


Tatapan Nila sendu dan kosong, Nila sendiri masih belum mengerti harus bagaimana.


Rendi pun mengangguk, memberikan senyum lembut dengan penuh penyesalan. Rendi tidak menyangka sesuatu yang menurutnya dulu wajar, tapi sebegitu melukai hati Baba.


Tapi Rendi tidak ingin membenani Nila lebih banyak. Rendi tahu di balik sorot mata Nila menyimpan berjuta beban yang disebabkan olehnya, juga luka hati atas perkataanya dulu. Itu sebabnya Rendi mengalah membiarkan Nila memilih Babanya walau Nila sempat mematung ragu.


Rendi ingat betul bagaiamana Nila dulu begitu manis dan penurut, menatapnya dengan penuh cinta saat pertama dia sampai di Bambu Teduh, mendaftar dan masuk pondok. Lalu menginap di rumah Ummi untuk pertama kalinya. Seharusnya malam itu menjadi malam pertama mereka dan berkenalan lebih dekat, tapi karena Nila masih anak kecil, Rendi memilih pamit ke Ibukota karena harus bekerja. Dan semenjak malam itu Nila patuh menjadi anak Ummi walau tanpa dia.


Wajah itu berbeda sekali dengan saat ini, matanya sembab, rona meraah di pipi yang dia lihat semalam pun sirna. Bibirnya juga tertutup rapat, kata maaf yang Nila lontarkan juga terasa sangat berat.


Rendi tahu betul semua karenanya. Rendi tidak boleh menahan dan menambah sakit Nila. Rendi tidak ingin karenanya hubungan seorang Putri dan ayah akan rusak.


Rendi harus membuktikan cintanya yang benar, cinta seorang dewasa yang harus membawa kebahagiaan dan mendekatkan pada ketaatan Sang Pencipta, bukan nafsu, dendam atau ambisi dan penuh emosi.


“Mas yang minta maaf, ikuti Babamu. Tunggu ya. Mas akan temui Baba lagi, biar kado- kado ini mas yang urus, kamu berdoa ya!”


Sembari menerima dompetnya, Rendi membisikan harapan yang tulus. Berharap Nila masih ikut melangitkan cinta mereka agar bisa bersatu dengan suka cita tanpa kesalahpahaman.


Nila hanya menelan ludahnya, tidak iya atau tidak. Nila hanya mendengarnya tanpa bisa diungkapkan arti kalimat itu, namun kalimat Rendi cukup membuatnya tenang.


Nila kemudian melirik Bunanya sudah di mobil, tidak mau buat masalah, Nila bergegas lari, masih dengan piyamanya, menenteng pakaian kotor dan membawa tas kuliahnya.


Dengan berani, Rendi berdiri tegap, menatap mobil Baba yang meninggalkan rumah Jingga dengan marah tanpa pamit.


Jingga dan Adip rupanya juga memperhatikan, tapi mereka memilih tidak mencegaah Babanya.


Semua tahu, Baba jika sedang marah tidak bisa diganggu. Bahkan Buna saja terkadang lebih memilih diam atau meninggalkan Baba sejenak. Jika dipaksa dihadapi, seperti hari ini, Baba akan semakin meledak.


Begitu mobil Baba menghilang dari pandangan, Rendi menurunkan tubuhnya, berjongkok memunguti kertas pembungkus kadonya.


“Ehm…,” Adip dan Jingga berdehem. Akan tetapi begitu Rendi menoleh Jingga langsung balik kanan masuk, sementara Adip mendekat.


“Biar dibereskan Simbok Pak, kita sarapan dulu saja, mari,” ucap Adip ramah dan penuh hormat.


Rendi kemudian tersenyum menoleh ke Kakak iparnya itu, “Nggak apa- apa ini udah selesai kok!” jawabnya mengambil semua kertas terkumpul dalam satu tangan. Pembungkus kado kan disobeknya besar- besar jadi mudah diambil.


Sampah langsung Rendi masukan ke tong, setelah itu Rendi memasukan satu persatu kado teman- teman Nila dengan hati- hati ke kardus.


Adip kemudian membantunya, sembari melihat sekilas isi kadonya.


“Bapak sungguh sudah mencintai Nila?” tanya Adip memberanikan diri mengajak Rendi bicara dari hati ke hati.


Rendi menghela nafasnya tidak langsung menjawab, tanganya masih sibuk menata barang Nila dengan hati- hati.


Adip pun mengerti tidak menambah pertanyaanya dan memilih menunggu serta mengembalikan satu barang yang merupakan mug cantik ke Rendi.


Setelah tertata rapi, Rendi kemudian menatap Adip dalam.


“Aku tidak tahu lebih tepatnya kapan aku mencintainya, apa juga arti perasaan ini, tapi yang pasti Nila tidak seperti yang aku duga awalnya, dia lebih dewasa dari yang aku kira, dan aku tertarik denganya, bukan hanya tertarik, tapi aku yakin untuk hidup denganya,” jawab Rendi.


“Tertarik atau penasaran?” tanya Adip lagi menegaskan.


Rendi kemudian tersenyum mendengar pertanyaan Adip.


“Umurku sudah 33 tahun, bahkan lebih tua darimu kan, sudah bukan masanya aku penasaran, aku butuh pendamping!” jawab Rendi lagi.


Mendenggar itu sekarang gantian Adip yang sedikit tersenyum.


“Maaf sebelumnya, tidak bermaksud Saya meragukan bapak, atau mendukung bapak menyerah. Saya hanya ingin tahu apa masalah sebenarnya dari sisi Pak Rendi. Sebelum mantap berjuang melanjutkan hubungan ini? Apa bapak sudah memikirkan rencana selanjutnya, maaf maksudnya, Bapak sudah 33 tahun dan 5 tahun lebih tua dari saya, sementara Nila masih usia berjuang, baru mau punya ktp. Apakah tidak dipertimbangkan lagi. Seperti rencana keturunan dan lain sebagainya?” tanya Adip lagi.


Rendi mendengarkan pertanyaan Adip yang panjang dengan tenang, kemudian menoleh tersenyum lagi ke Adip.


“Sebelum aku menyanggupi permintaan orang tua ku 3 tahun lalu, aku sudah memikirkan itu?"


"Keturunan mungkin memang penting dalam kehidupan, aku juga pernah dengar agama kita senang jika kita punya banyak keturunan, menjadikaan merekaa khalifah di muka bumi ini, tapi kita juga harus ingat. Anak itu tentang kuasaNya kan? Anak juga bisa jadi ujian. Banyak yang menikah lebih muda dariku hingga kini usia mereka melampauiku belum mempunyai keturunan, dan begitu sebaliknya. Aku tidak mempermasalahkan itu, Nila mau langsung mempunyai anak atau tidak? Semuanya bisa kita diskusikan bersama bagaimana baiknya. Jangankan tentang anak. Usiaku sampai kapan aku juga tidak tahu. Prinsipku, menikah untukku tentang visi dan misi, tentang tujuan, aku merasa sudah waktunya, aku menikah. Aku sekarang butuh partner. Dan aku yakin Nila punya itu,” jawab Rendi tak kalah panjang.


Adip mendengarkanya mengangguk, rupanya Rendi mempunyai prinsip lain dalam hal rencana hidup. Adip jadi malu sendiri, membicarakan tentaang cinta bagi mereka memang agak aneh. Tapi Adip masih penasaran atas kesalahan yang Rendi buat.


“Kalau boleh tahu, kenapaa Bapak yakin Nila mempunyai nilai yang pas menjadi teman Pak Rendi?” tanya Adip lagi.


Rendi tersenyum lagi dan melihat sekeliling takut ada Jingga.


“Jangan bilang- bilang ya!”

__ADS_1


Adip mengangguk, lucu sekali Pak Rendj yang biasanya dingin kaku mendadak seperti anak muda yang tersipu.


"Ya!"


“Jujur awalnya aku berniaat menikahinya, hanya karena aku yakin kalau perkataan Abahku selalu benar, tapi aku masih ragu Nila itu hanya gadis kebanyakan bahkan kukira dia aneh, kecentilan atau bodoh, mau- maunya dia dinikahkan di usianya yang dini, aku juga sempat berfikir membuat istrimu sakit, bagaimana rasanya Jingga punya ipar sepertiku? Bodoh ya aku?" ucap Rendi jujur lagi.


Adip di sini agak tersentak. Ucapan Jingga ternyata benar.


"Apa yang mematahkan semua pikiran Pak Rendi?"


"Aku baca buku diarinya,” jawab Rendi. “Dan aku yakin, Abahku memang terbaik!” lanjut Rendi lagi mantap. Untuk pertama kalinya curhaat ke sesame laki- laki tentang perempuan.


Adip mengernyit agak syok, rupanya Rendi orang yang sangat patuh terhadap ayahnya, sepertinya juga tidak ada pendekatan romantic yang terjadi di antara Nila dan Rendi seperti dirinya dan Jingga, melainkan hanya karena membaca satu buku Diary.


“Kapan bapak baca buku diary itu?” tanya Adip masih penasaran.


Rendi diam, mereka kan bertengkar sekitar dua bulanan kurang, Rendi membaca sekitar 1 minggu awal mereka bertengkar. “1- 2 bulanan yang lalu, ya banyak sih bukan hanya itu,” jawab Rendi lagi.


Adip pun mengangguk, “Apa itu berarti yang diceritakan Jingga dan Oma benar?” tanya Adip lagi kini semakin dalam mengorek kesalahan Rendi.


“Tidak semua benar,” jawab Rendi.


“Maksudnya?” tanya Adip.


Rendi kemudian menceritakan bagaimana dia bisa menjaab pertanyaanya. Hari itu teman- teman Rendi membawa pasangan, Axel juga memamerkan hendak menikah lagi. Rendi kemudian ditanya mana istrimu? Sendirian aja.


Rendi pun menjawab Iya, “Iya aku sendiri aja? Kenapa memangnya? Sendiri juga tidak masalah dan dia tetap enjoy. Aku sendiri?" kurant lebih begitu.


Maksud Rendi adalaah saat itu kan Rendi kemana- mana memang masih sendiri, Rendi juga tidak mungkin mengaku di hadapan teman- temanya sudah nikah sirih dengan anak lulus SMP yang dititipkan di pondok.


Bagi teman- teman Rendi yang kuliah di luar juga sebagian beraagama non muslim Rendi dan abahnya kolot, konyol dan ribet.


Tapi Bagi Abah, menikah sirih dengan tunangan lebih terhormat menikah sirih. Walau mereka membuat janji saling menjaga tidak berhubungan dulu, mereka juga LDR, tapi jika ada komunikasi, atau pertemuan, mereka sudah saling halal.


Mereka juga jadi akan saling menjaga pandangan karena keduanya sudah saling sadar sudah ada pasangan. Dan saat pendidikan selesai mereka kembali ke pasangan mereka.


“Oh… gitu,” jawab Adip sekarang mengerti akar permasalahanya.


“Ini tentang komunikasi, aku memang selalu menolak Ummiku untuk menemui Nila, aku takut kelepasan dia kan masih bau kencur, umiku marah saat aku bilang begitu, saat Umiku marah sepertinya Nila juga dengar dan salah paham,” jawab Rendi lagi malu- malu.


Kali ini Rendi menggaruk pelipisnya malu, malam itu Rendi kan masih gengsi juga jutek ke Nila.


Rendi memang tidak mengiyakan atau cerita keadaan di kafe, kalau Rendi mengaku tidak menikah. Rendi juga tidak mentalak Nila. Rendi hanya meminta Nila agar menerima kenyataan kalau mereka itu menikah karena perjodohan, jangan menuntut dan maalah menuduh Nila menuntut hak batin istri. Tapi itu Nila artikan berbeda dan menyakitinya.


“Aku salah menjawabnya, karena kupikir, dia masih terlalu dini bertanya. Aku juga mengatainya buruk, mungkin dia sakit hati,” jawab Rendi memelankan ucapanya.


“Itu berarti benar, Bapak menyakiti Nila dan menceraikanya?”


“Oh tidak… tidak, tidak ada kata cerai di antara kita. Aku hanya bilang, kenapa kamu tanya- tanya begitu? Apa kamu sedang menuntutku? Lucu sekali anak kecil menuntutku agar bersikap sebagai suami yang baik, maksudnya kan kita belum saling mengenal, jadi aku mengatainya centil,” begitu jawab Rendi dengan jujurnya.


Adip sedikit menelan ludahnya ternyata orang dewasa di depanya itu tidak terlalu pandai juga memperlakukan wanita. Adip jadi ingin geleng- geleng kepala dan mengatai Rendi bodoh, tapi takut menyinggung, Adip pun hanya menghela nafasnya.


Tentu Nila menangis, jika itu Jingga, sudah pastilah Jingga marah tiga hari tiga malam.


“Oh gitu, berarti ini tentang komunikasi, ya?” ucap Adip menyimpulkan.


Rendi pun mengangguk. “Menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Rendi akhirnya minta tolong.


Adip diam berfikir, bagaimana ya cara buat Baba bisa tenang. “Kita harus temui Buna dulu, setelah itu Oma Nurma, baru ke Baba lagi,” ucap Adip memberitahu lagi.


“Oma Nurma?” tanya Rendi sembari berfikir,


Adip mengangguk.


“Oh iya,” jawab Rendi langsung tersenyum, sejak awal Rendi datang, orang yang begitu santun dan mengasihi Rendi kan Oma Nurma.


“Coba deh Pak Rendi ngobrol apa adanya seperti sekarang, tentang keyakinan status Pak Rendi dan Nila, apa yang Pak Rendi rasa, ke beliau. Biasanya sih Oma, lebih bisa mengerti, dan bisa sampaiin ke Baba. Kalau Baba udah bilang "tidak" seperti tadi, Adip sama Jingga nggak berani, Pak, ini aja Baba pulang nggak pamit dan nggak nemuin Dipta artinya Baba marah besar,” tutur Adip memberitahu idenya.


“Oke… makasih banyak ya, maaf gara- gara aku, kalian jadi ikut kenaa marah?” tutur Rendi menepuk bahu Adip.


“Saya hanya bisa doain yang terbaik, Pak!” jawab Adip bersikap netral.


Rendi mengangguk lagi. “Ini biar taruh sini ya, barangkali Nila mau ambil!” tutur Rendi menyerahkan kado Nila.


“Ayo sarapan dulu, Pak!” ajak Adip.

__ADS_1


Rendi melihat jamnya. “Aku ada kuliah pagi juga ada jadwal konsulan sama anak- anak, kasian merekaa, aku sarapan di luar saja, makasih ya!” jawab Rendi pamit.


Adip pun tidak memaksa, Adip mengerti kata Jingga, Rendi kan memang tidak suka terlambat masuk kelas.


Rendi kemudian pergi meninggalkan rumah Adip dan langsung menuju ke kampus.


****


Sepanjang perjalanan mobil yang Baba kendarai begitu mencekam dan hening. Nila masuk dan duduk di kursi belakang, Baba yang memegang setir dan Buna duduk di samping Baba.


Buna sangat paham, jika Baba memegang stirnya erat, lalu tatatapanya focus di depan, itu artinyaa isi kepalanya sedang berkecamuk. Daripada Baba emosi salah setir apalagi Baba sudah tua, Buna lebih baik diam, sembari kepalanya berfikir.


Sesekali Buna lihat Nila dari spion, sepanjang jalan Nila diam menaatap ke jalanan.


Nila sendiri bingung. Nila sudah berusaha patuh pada Baba, Nila beersedia dijodohkan, Nila menjaga diri dan hatinya, untuk Rendi. Nila berharap selain dia bahagia orang tuanya juga.


Sayangnya Nila disakiti, Nila patuh pada orang tuanya untuk menjauh. Nila pun menjaga jarak dari Rendi.


Tapi kenapa di saat Nila jaga jarak, Rendi jadi baik, dan kenapa saat Rendi menjadi seperti yang diinginkan Nila, Nila juga memaafkan, Baba malah Nuduh Nila macam- macam lagi. Nila bingung mau berdiri dimana?


Selain bingung, hati Nila juga tidak bisa dibohongi, dia merasa senang meraasa bahagia dengan perubahaan Rendi.


Tidak berselang lama, mereka sampai di halaman rumah Baba. Baba pun menghentikan mobilnya, mereka semua kemudian turun.


Rumah sudah sepi, Iya dan Iyu sudah berangkat ke sekolah, Amer juga sudah berangkat ke kantor. Nila melihat jam besar di ruang tamu. Nila pun panik, sekarang kan waktunya kuliah.


Nila jadi berjalan cepat ingin segera masuk kamar, mandi dan bersiap kuliah.


“Nila!” bentak Baba tersinggung.


“Gleg!” Nila jadi kaget dan berhenti, Buna pun kaget dan beristighfar kenapa suaminya jadi galak begitu.


“Ya, Ba!” jawab Nila.


“Sopan sekali Baba duduk kamu jalan begitu saja!”


“Maaf Ba!”


“Duduk! Baba mau ngomong!” titah Baba tegas.


“Tapi Ba, Nila mau mandi, Nila telat kuliahnya!” jawab Nila dengan polosnya.


“Kamu berhenti kuliahnya!” jawab Baba lagi tegas.


“Gleg…,” Nila langsung lemas, bahkan kresek baju kotornya langsung terjatuh.


“Baba…,” lirih Buna ikut terkejut tidak menyangka, suaminya ambil keputusan cepat.


“Dia pasti akan bertemu lagi dengan pria itu, Baba larang Nila kuliah!” ucap Baba lagi dengan tegas.


“Tik…,” satu air mata Nila terjatuh mengaliri pipinya, Nila tidak menyangka Baba sekejam ini. Ucapan Baba mematahkan hati Nila.


“Jangan nangis, duduk sini!” ucap Baba lagi tidak peduli dengan kesedihan Nila.


Nila mematung sembari menyeka air matanya. Sementara Buna tidak tinggal diam langsung menyela.


“Maas, apa maksud Mas Nila nggak boleh kuliah? Apa hubunganya dengan Rendi? Masa Baba korbanin pendidikan Nila?” tanya Buna sampai akhirnya memanggil Baba dengan sebutan Mas, menempatkan dirinya ingin bicara sebagai istri.


“Boleh kuliah. Tapi Pindah kampus!” jawab Baba lagi sedikit bergeser.


“Ba… dibicarakan dulu baik- baik,” tutur Buna lagi.


Nila yang penurut mendekat ke Baba duduk, tapi hatinya sangat dongkol.


“Tidak, Nila tidak boleh ketemu Rendi lagi, Baba sudah tidak percaya dia lagi! Nila keluar dari kampus itu!”


“Ba…,” lirih Nila memberanikan diri bicara.


“Jangan membantah! Kampus banyak, kamu tinggal milih kampus mana? Mau di kota dan Negara mana? Baba akan daftarkan sekarang!” ucap Baba lagi seenaknya.


Nila mengepalkan tanganya, dadanya sangat sesak. Sejak kecil Nila kan selalu berusaha jadi anak penurut dan manis kenapa Baba setega ini. Nila pun memberanikan diri menyampaikan keinginanya.


“Tapi Ba…Nila ingin tetap di kampus Negeri Ba. Nila akan patuhi semua kata Baba, tapi tolong ijinkan Nila tetap di sini, Nila ingin dekat dengan Buna, Baba dan adik- adik,” tutur Nila memohon dengan derai air mata.


Baba membisu mendengar kata Nila.

__ADS_1


“Nila SMP sudah jauh Ba, Nila SMA juga sudah jauh. Apa Baba ingin Nila pergi dari hidup Baba dan Buna. Apa Nila tidak berarti untuk Baba dan Buna? Nila tidak ingin kampus manapun kecuali kampus terbaik yang dekat Baba dan Buna.., Nila nggak mau merantau lagi Ba. Baba tidak ingin dekat dengan Nila? Kenapa Nila justru merasa Abah dan Baba lebih sayang Abah ke Nila? Kenapa Baba selalu ingin Nila pergi?”


__ADS_2