
"La..," panggil Bang Adip.
"Iya Kak!" jawab Nila.
"Bang Adip mau sholat, minta tolong temani Kakakmu sebentar ya!" tutur Adip ke Nila begitu Nila masuk ke ruang obserbasi persalinan Jingga.
"Iya Kak!" jawab Nila mengangguk.
Bang Adip pun pamit ke Jingga untuk ke masjid di komplek rumah sakit Opa Nando (Opanya Jingga, Ayahnya Dokter Gery). Bang Adip mendekat ke Jingga yang tampak berbaring di atas bed tempat tidur dan menatap layar televisi. Jingga sejarang pun sudah beralaskan underpad dan tidak mengenakan pakaian dalam karena air ketubanya masih terus rembes.
"Sayang... Bang Adip ke masjid, sholat dulu ya!" tutur Adip membelai rambut istrinya yang berubah jadi gendhut.
"Jangan lama- lama lho Bang!" ucap Jingga masih dengan gaya manjanya, mulutnya cemberut dan pipinya mengembung tidak rela suaminya hilang dari pandanganya barang sedetik.
"Iya sayangku. Abang kan sholat doain kamu dan anak kita juga! Bentar ya!" tutur Adip menenangkan.
"Ya pokoknya jangan lama- lama. Jingga takut Bang!" ucap Jingga lagi.
"Takut kenapa? Ada Nila kan?"
"Ya kalau ada apa- apa? Pokoknya Bang Adip harus temani Jingga!" ucap Jingga lagi setelah minum obat induksi persalinan mendadak jadi kumat manjanya. Apalagi lendir darah mulai ada. Perutnya juga mulai terasa mules walau masih jarang.
"Astaghfirulloh. Sholat doang. Belum kenceng- kenceng kan? Obatnya juga baru diminum kan? Kata dokter juga efeknya agak lama! Insya Alloh nggak apa- apa. Selesai sholat, pasti Abang temenin!" jawab Adip mengulur sabar menenangkan Jingga. Padahal sholat cuma beberapa menit.
"Ya...!" jawab Jingga sambil manyun walau berat mengijinkan Adip keluar ruangan.
"Ya udah. Pengen sesuatu nggak? Biar Bang Adip belikan sekalian?" tawar Adip sebelum pergi.
Jingga manyun berfikir.
"Nggak ah nanti Abang lama? Cepet balik aja!" jawab Jingga.
"Oke... Abang sholat ya!" tutur Adip akhirnya. "Cup" Adip pun memberi kecupan di kening Jingga. "Pokoknya semangat ya Sayang. Abang percaya kamu bisa lahiran normal. Sehat- sehat ya!" bisik Adip menyemangati Jingga.
Jingga pun mengangguk.
Adip kemudian pergi meninggalkan Nila dan Jingga.
Sementara Nila sedari tadi diam duduk di sofa pojok ruangan itu. Nila berusaha bermain ponsel dan tidak mendengar atau melihat kakaknya dan suaminya bermesra.
Jingga dan Bang Adip sejak awal menikah memang selalu menampakan kemesraanya di depan Nila. Tidak peduli adiknya masih anak baru gede. Nila terkadang malu sendiri, tapi juga membuat Nila berangan banyak hal akan bayangan masa depanya.
"Dhek..!" panggil Jingga ke Nila.
__ADS_1
"Iya Kak!" jawab Nila sembari meletakan ponselnya.
"Buna udah tahu kan?" tanya Jingga.
"Udah Kak!" jawab Nila.
"Kapan Buna ke sini?" tanya Jingga lagi.
"Paling besok Kak. Kalau nggak nanti kalau udah lahir. Oma kan juga baru pulang. Vio, Iya Iyu nggak mau ditinggal maunya ikut Buna!" jawab Nila lagi.
"Hhh...," Jingga pun menghela nafasnya cemberut dan memalingkan muka dari Nila.
Sebagai anak pertama, Jingga memang sejak kecil kasih sayangnya terbagi ke adik- adiknya. Padahal di saat- saat seperti ini Jingga juga butuh Buna. Itu sebabnya begitu punya suami Jingga ingin bermanja sepenuhnya.
Nika pun paham kalau kakaknya murung dan be sedih. Walau Nila hatinya juga dirundung gelisah, sakit, dan marah. Nila mengesampingkan semua masalahnya dan memilih menyemangati Kakaknya dan berusaha bahagia.
Nila bangun dari duduknya, mendekat ke Jingga.
"Kakak mau ngomong sama Buna? Nila telponin ya!" tutur Nila lembut.
"Nggak usah. Yang penting Buna udah tahu kan? Sshh...," jawab Jingga terpotong tiba- tiba perutnya mulai kontraksi.
Nila pun peka, melihat kakaknya kesakitan, tangan Nila pun terulur memegangi pinggang kakaknya yang kata Jingga mulai terasa sakit.
"Sshh...," Jingga tidak menjawab hanya mengambil nafas dalam dan membuangnya pelan, mengikuti arahan teknik relaksasi yang diajarkan bidan dan dokter.
Selang beberapa detik kontraksi Jingga pun hilang.
"Iya Nila...makasih ya. Doain ponakan kamu cepet lahir ya!" ucap Jingga lagi.
Nila mengangguk. Karena sudah mulai beradaptasi, Jingga pun ingat kalau dia butuh sesuatu agar membuatnya tetap terjaga dan bertenaga. Jingga berubah pikiran, dia pun menelpon Adip untuk membeli apa yang Jingga ingin.
Karena baru beberapa menit minum obat, kontraksi Jingga belum terlalu sering, sehingga saat Jingga tidak kontraksi Jingga dan Nila sama- sama terbengong melihat televisi.
"Kamu kenapa?" tanya Jingga juga peka melihat tatapan Nila yang kosong dan hampa.
"Nggak apa- apa Kak!" jawab Nila tersenyum dewasa tidak ingin menyusahkan Kakaknya yang hendak berjuang.
"Bohong. Kakak, kakakmu. Kakak tahu kamu lagi mikirin sesuatu!" ucap Jingga lagi.
"Iyah. Nila mikirin, nanti ponakann Nila mau Nila kasih nama siapa ya? Bakalan mirip siapa ya?" jawab Nila masih berusaha cefia dan menutupi lukanya.
Jingga menelan ludahnya dan menatap mata Nila. Walau Nila berusaha tersenyum, tapi Jingga tidak bisa dibohongi.
__ADS_1
"Kenapa tadi kamu cepet banget keluarnya? Kamu udah ketemu Pak Rendi? Bilang apa?" tanya Jingga cepat, tepat pada intinya.
"Gleg!" Nila yang sudah berusaha akting bahagia langsung menelan ludahnya gelagapan.
"Bilang apa dia?" tanya Jingga mendesak.
"Nggak apa- apa Kak!" jawab Nila menunduk tidak ingin cerita banyak. Nila masih memegang prinsip tidak ingin membagi sedihnya juga tidak ingin cerita sesuatu yang menurutnya jelek tentang suaminya.
"Yakin?" tanya Jingga mendesak.
"Ehm...," dehem Nila berusaha menetralkan perasaanya. Tidak ingin terus didesak Nila pun tersenyum.
"Kakak tenang aja. Nila baik- baik aja Kak. Insya Alloh, Nila yakin untuk tetap bercerai dari Mas Rendi. Nila yakin ini jalan terbaik agar Mas Rendi bahagia juga Nila bisa memantaskan diri jadi istri!" jawab Nila berusaha berkata tegar dan mantap ke Jingga , padahal hati Nila terasa sangat berat dan sakit meski Nila tidak tahu kenapa.
Jingga kemudian tersenyum dengan tatapan hangatnya. Jingga pun meraih tangan Nila dan membelainya lembut.
"Niatmu menikah sungguh sangat mulia Nila. Tapi untuk menikah dan mencapai kemuliaan itu tidak butuh hanya niat. Kematangan berfikir, emosi, mental dan cinta juga kesiapan fisikmu perlu. Alloh tahu yang terbaik, jangan sedih ya. Kelak pasti kamu akan mendapatkan jodoh terbaikmu!" tutur Jingga lagi menasehati Jingga.
Sebenarnya Jingga juga kasian ke Nila masih muda sudah bergelar janda. Akan tetapi kalau difikir itu lebih baik, janda tapi masih ori daripada perawan tapi sudah menjadi bekas dan mantan banyak orang. Itu sebabnya Jingga mendukung perceraian itu.
Nila pun mengangguk.
"Sshh...," kontraksi Jingga datang lagi dan Nila pun sigap mengelus pinggang Jingga lagi.
****
Di ruang tunggu bersalin yang lain.
Seorang pemuda tampan itu pun duduk di atas sofa sembari memegang ponselnya dan bersungut- sungut.
"Siapa nama gadis tadi. Menyebalkan sekali mengataiku tidak tahu apa- apa? Dia tidak tahu aku siswa terpandai di SMA Internasional. Lihat saja aku akan ambil kuliah kedokteran! Aku bisa buka rumah sakit sendiri juga." batin Pemuda itu.
****
Di tempat lain
Rendi mengakhiri kuliahnya dengan sisa tenaganya. Dia bahkan tak menatap mahasiswanya, pandanganya tertunduk seperti orang tak berdaya. Dia tidak banyak menjelaskan sesuatu dan lebih banyak memberikan tugas.
Setelah kelas bubar, dengan langkah yang terasa berat dan pelan, Rendi menuju ke mobilnya dan langsung pulang. Padahal ponselnya terus berdering beberapa mahasiswanya meminta bimbingan skripsi tapi dia cancel.
Hati Rendi merasa terkoyak dan sakit. Esok sidang perceraianya. Rendi berharap dia bisa menebus kesalahanya dan memintaa maaf ke Nila saat Nila meminta bertemu tadi. Tapi Sekarang Nila kembali memblokir ponselnya.
"Seharusnya aku bahagia melepaskanya. Ini kan yang aku inginkan? Tapi kenapa aku menjadi seperti ini?" gumam Rendi frustasi.
__ADS_1