
"Duh... mahal banget ya bukunya?" gumam Dita sembari memilih- milih buku.
Mendengar gumaman Dita, Nila langsung menoleh.
"Ambil aja Dit!" ucap Nila ramah.
"Hah?"
"Ambil aja!" ucap Nila lagi.
"Aku belinya ini dulu aja deh. Aku pinjam bukumu ya!" ucap Dita menunjukan dua buku.
"Iish.. udah ambil aja buku yang kamu butuhin, nggak usah dipikirin masalah harga!" ucap Nila lagi
"Maksudmu apa? Ini mahal- mahal Nila. Total satu jutaan lebih lho!" ucap Dita berbisik.
"Ssstt... udah ambil dan bawa!" ucap Nila lalu mengambil buku- buku yang dibutuhkan ke keranjang.
Dita pun melongo. Dita kan uang satu juta itu aja Ibunya di kampung jual beras untuk makan. Dita mau beli bukunya nyicil dulu karena buku harganya ratusan ribu.
Nila tidak peduli Dita lagi yang masih tercengang, dia juga tidak mau menjelaskan kalau bagi Nila uang satu juta itu sangatlah kecil.
"Brak!" Tiba- tiba saat Nila berjalan satu buku terjatuh dan satu pria tampak membungkuk mengambil.
__ADS_1
Nila pun menarik tanganya dan sedikit mundur agar tak bersentuhan dengan pria itu. Pria itu kemudian bangun mengambil buku dan menoleh Nila.
"Haii... Bu Nila!" sapa pria itu sembari tersenyum sinis.
Dita yang di belakang Nila ikut tercengang. Apalagi Nila.
"Farel?" gumam Nila waspada.
"Lagi apa di sini Bu Nila?" sapa Farel lagi.
"Kamu nggak liat aku lagi nyari Buku? Kamu sendiri juga nyari buku kan?" jawab Nila sedikit ketus.
Nila berfikir terhadap pria tidaj boleh terlalu ramah. Dia bicara seperlunya saja.
"Oh orang sepertimu masih butuh buku ya? Aku kira tinggal bayar dosen aja nilaimu udah langsung bagus!" ucap Farel masih tetap mengejek Nila karena Nilai ujian masuknya dikalahkan Nila.
"Farel maaf ya. Aku nggak ada energi untuk bertengkar dan berdebat sama kamu. Kita sekarang udah jadi temen sekelas, minta tolong ya. Bisa kan nggak usah bikin masalah?" jawab Nila.
"Wohoo... sayangnya aku nggak mau jadi temanmu!" jawab Farel.
"Ya, terserah kamu!" jawab Nila malas lalu menoleh ke Dita untuk berlalu meninggalkan Farel.
Dita pun jadi heran, selama di kelas, Nila dan Farel tak ada komunikasi dan tak saling kenal. Kenapa sekarang mereka seperti kenal.
__ADS_1
"Kalian udah saling kenal sebelumnya?" tanya Dita.
Nila menunduk sejenak bingung mau menjelaskanya.
"Sebenarnya bukan kenal.sih. Tapi kita pernah ketemu di rumah sakit!" jawab Nila.
"Oh pantes waktu itu Farel kek liatin kamu. Aku rasa dia naksir deh sama kamu!" ucap Dita berbisik.
"Apaan sih? Jangan mudah menyimpulkan emang setelan dia begitu. Udah yuk bayar. Malas kalau ketemu dia lagi!" ucap Nila ke Dita.
"Eh tapi ini gimana buku aku?"
"Aku bilang tenang aja semua aku yang bayar!" ucap Nila baik
"Eh ya nggak boleh begitu. Ya udah aku utang deh ya!" ucap Dita lagi.
"Ishh ... nggak usah bawel aku baru buka tabungan jadi lagi banyak uang ini aku!" ucap Nila beralasan agar Dita mau dibayari.
Dita hanya bisa diam karena Nila nekat mendoring belanjaan buku ke kasir. Lalu membayarnya. Dita pun heran karena katanya buka tabungan tapi Nila membayar dengan sebuah kartu. Kartu yang Nila pakai juga berbeda dengan atm yang dia bawa.
Tapi Dita hanya membatin.
Tidak selang berapa lama mereka selesai dan mereka berjalan keluar. Saat melewati area deteksi tiba- tiba deteksi mall berbunyi.
__ADS_1
Nila dan Dita langsung berhenti. Satpam langsung datang.
Dita dan Nila langsung pandang. "Aku nggak ambil apapun kok!" ucap Dita pucat