Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Ngeyel


__ADS_3

"Haaps...," seorang gadis cantik dengan rambut terurai langsung membelalakan matanya begitu pintu lift terbuka.


Gadis itu keluar dengan cepat lalu berlindung di balik sakaguru hotel yang menjulang tinggi dan megang di dekat lift di lobi hotel.


"Ada apa sayang?" tanya Teman yang sebelumnya bersamanya


"Ssstt... Om diam aja!" ucap gadis itu.


Lelaki mapan itu mengangguk mengikuti gadis manisnya.


Gadis manisnya menatap ke arah lorong kamar dan menuju ke resepsionist. Gadis itu tanganya tergerak merogoh ponsel di tas manisnya


"Gue nggak salah liat kan? Itu dokter Rendi? Itu juga Nila Putri kan? Wuaah it is amazing. Ini di luar dugaan gue. Dan gue harus kasih tahu Celine dan temen- temen nih!" gumam gadis itu lalu mengarahkan kamera ke aras dua orang yang dia kenal.


"Tunggu... apa mereka saudaraan? Kenapa di kelas mereka tampak tak saling kenal? Apa mereka pacaran? Nila kan berhijab? Apa mereka menikah? Tapi kalau menikah kenapa Nila masih di antar jemput keluarganya? Apa jangan- jangan mereka? Tapi mereka terlihat sweet sekali? Kalau menikah harusnya mereka tinggal satu rumah kan?" gumam gadis itu mengambil gambar lalu buru- buru menyembunyikan ponselnua dan menyeret pria matang yang bersamanya.


****


Nila dan Rendi berjalan beriringan, karena di tempat umum, baik Rendi dan Nila sama- sama menjaga jarak.


Akan tetapi saat di persimpangan lorong, Nila berjalan ke arah lift, sementara Rendi ke arah resepsionist.


Spontan Nila meraih tangan Rendi.


"Mas mau kemana?" tanya Nila


Rendi berhenti sebentar lalu menatap Nila. Senang rasanya Nila berani meraih tanganya.


"Beresin kamar?" jawab Rendi.


Nila kan walau anak Baba hampir tidak pernah memesan kamar sendiri. Saat SD walau sering berlibur bahkan di luar negeri, Nila selalu berlenggang bersama keluarnya dan semua dilayani. Jadi Nila tidak tahu kalau harus mengembalikan kunci dan lain sebagainya.


"Kan ada petugasnya nanti yang beresin. Udah Nila bayar kok!" jawab Nila.


"Oh ya? Berapa tagihanya?" tanya Rendi.


"Adalah!" jawab Nila sembari menundukan pandanganya, sebenarnya agak banyak, tapi uang yang Nila gunakan juga uang dari Rendi selama 3 tahun yang selalu Rendi taruh di kamarnya atau Rendi transfer sebagai tanggung jawabnya sebagai suami walau mereka tak bersama.


"Jawab aja, nanti mas ganti!" jawab Rendi tenang tangannya malah tergerak menggenggam tangan Nila dan menatapnya penuh kasih.


"Nila juga pakai uang yang dari Mas kok! Alhamdulillah tabungan kita udah lumayan banyak! Udah kita ke rumah Oma aja ayuk!" ajak Nila.


"Uang dari Mas? Tabungan kita?"


"Iyah. Tagihan Syahriah pondok seringnya dibayar Abah. Kata Abah uang dari Mas, buat jajan Nila. Tapi Nila kan seringnya puasa, pakaian Nila juga banyaknya Buna yang belikan kalau pas jenguk. Jadi uang dari Mas, Nila tabung!" jawab Nila menjelaskan


Rendi tersenyum hatinya semakin tersentuh mendengar penjelasan Nila. Nila masih muda walau di asrama pesantren seharusnya di usianya uang masih muda Nila punya banyak keinginan. Tapi ternyata walau anak orang kaya Nila tetap hemat dan sederhana


Rendi kemudian mengusap kepala Nila yang tertutup hijab dengan lembut.


"Makasih ya! Kamu sudah kelola uang dengan baik," ucap Rendi tercekat, saking senangnya bingung harus ucap apa. Rendi pun tak ingin menanyakan berapa tabungan Nila. Uang yang sudah dia berikan dia anggap sudah hak Nila.


Nila mengangguk tersipu dan malu kepalanya di elus begitu.


"Pulang ayuk!" ajak Nila.


"Ya. Tapi kan kuncinya harus dikembalikan dulu!" jawab Rendi


"Oh gitu bukanya ditinggal?" tanya Nila dengan polosnya.


"Ya nggak! Kasih ke petugas dulu!" jawab Rendi


"Yaya!" jawab Nila menyeringai Nila sungguhan baru tahu.


Lalu mereka mengembalikan kunci. Karena mereka pesan kelas mahal dan menggunakanya tidak lebih dari dua jam, Nila dan Rendi mendapatkan cashback berupa bingkisan paper Bag yang Nila dan Rendi sendiri tidak tahu apa isinya.


Rendi dan Nila pun menerimanya dengan senang. Mereka pun berjalan ke luar, dengan wajah manisnya Nila mengintip isi paperbagnya penasaran. Sementara Rendi menatap Nila tersenyum ternyata menyenangkan dan menggemaskan melihat sisi Nila sebagai anak kecil yang sedang penasaran


"Banyak banget Mas isinya?" ucap Nila dengan polosnya.


"Apa emangmya?"

__ADS_1


"Kayaknya ada pakaianya juga gak tahu ini ada kotakanya. Nanti dibuka yah?" ucap Nila ceria sembari berjalan menatap Rendi.


Entah menyenangkan saja untuk Nila mendapatkan hadiah.


Rendi hanya mengangguk senang. Begitu sampai parkiran mereka pun gass ke rumah Oma.


Sesampainya di mobil Nila tidak sabar membuka bingkisanya. Ternyata ada piyama tidur, boneka panda kecil, notebook dan ballpoint, kartu ucapan juga bros cantik. Karena yang pesan kamar atas nama Nila semua barang perempuan.


Nila pun berbinar memandangi hadiahnya. Rendi sesekali melirik membiarkan Nila asik dengan hadiahnya, Nila kembali menjadi dirinya yang masih suka mengumpulkan barang itu.


"Maafin Mas, yang salah menilaimu. Kamu bukan hanya memenuhi semua kriteria yang dianjurkan agama kita. Tapi kamu juga sangat menarik.


Mas juga tidak tahu, setiap hal darimu membuat Mas semakin terpukau. Kadang kamu menjadi anak kecil yang menggemaskan, kadang kamu terlihat dewasa, kadang juga kamu begitu berani? Aku suka keberanianmu mempertahankan prinsipmu saat melawan Mas?" gumam Rendi melirik Nila saat mereka berhenti di lampu merah.


Ya. Saat Nila tanya alasan Rendi meminta bertahan, Rendi menjawab dengan jawaban rasional. Namun hatinya berkata, Rendi jatuh cinta bukan hanya pada apa yang ada di buku Nila. Tapi semuanya, semua hal yang Nila tampakan Rendi suka.


Rendi juga banyak menghadapi berbagai jenis karakter mahasiswi, baik dari kalangan bawah atau atas.


Rendi hampir hafal karakter kebanyakan siswanya. Tapi buat Rendi kali ini Nila berbeda.


Nika anak orang kaya tapi sederhana. Nila patuh tapi Nila juga berani mempertahankan pendapatnya tanpa merendahkan Rendi. Nila juga emosinya naik turun sehingga banyak membuat Rendi gemas. Terlebih dari semua itu, Nila sangat cantik dan disayangi keluarganya.


Seperti Buna, begitu lampu hijau nyala, dan Rendi menyalakan mobilnya sepersekian meter, paper bag di tangan Nila melorot terjatuh dari pangkuan Nila. Nila yang memakai seatbelt ternyata sudah terlelap karena tidak diajak ngobrol


"Haish... dia selalu tertidur saat naik mobil?" gumam Rendi melirik Nila.


Nila terlelap sampai melongo. Meski begitu tetap saja Nila manis.


Rendi pun membiarkan Nila tertidur sampai di depan rumah Oma.


Rendi menghentikan mobilnya.


"Udah sampai, Dhek!" tutur Rendi memberitahu.


"Emm.." Nila malah hanya menggeliat lembut.


Rendi pun menghela nafasnya. Lalu menatap dekat. Sayangnya saat Rendi mendekat kepala Nila tertunduk dan kedua kening mereka terbentur. Nila pun terbangun dengan wajah mereka sangat dekat.


"Cup!" karena sudah dekat Rendi sekalian saja mengecup kening Nila.


"Mas...," pekik Nila kaget namun hatinya berdesir. Kecupan Rendi terasa begitu hangat dan lembut.


"Udah sampai! Ayo turun!"


"Kok Nila jadi dheg- dhegan ya? Oma mau ngomong apa ya?" tanya Nila


Rendi tersenyum. "Oma mau kasih Mas resep obat kuat!" jawab Rendi ngasal.


"Hoh?" pekik Nila terbengong benar- benar spechless dengan jawaban Rendi.


Rendi malah cuek dan membuak pintu mobil.


"Resep obat kuat apa maksudnya?" gumam Nila mengernyit lalu ikut turun


*****


"Sepertinya mereka beneran rujuk. Ish kok mereka sweet gitu sih Oma. Bunga kan jadi ingin?" keluh Bunga mendengus bermanja ke Oma


Kaca depan mobil Rendi kan transparan jadi Bunga dan Oma yang menanti mereka di lantai dua melihat Rendi mencium kening Nila.


Oma tersenyum mendengarnya.


"Katanya kamu udah punya pacar!" jawab Oma.


"Tapi kan Bunga belum menikah Oma. Papah sama Mamah kan selalu ingetin Bunga. Ingat dosa ingat dosa. Nggak boleh ini nggak boleh itu. Ish!" keluh Bunga malah curhat


"Mau dinikahkan juga kaya Nila?" tanya Oma.


"Mmm...nggak nggak! Bunga belum yakin sama pacar Bunga!" jawab Bunga lagi.


"Hhh..." Oma hanya menghela nafas lalu meletakan teh nya dan bangun dari duduknya mau menemui Nila.

__ADS_1


"Oma turun ya!" ucap Oma.


"Ya!" jawab Bunga tidak ikut turun


Bunga sudah diberitahu Oma. Kalau Oma memang ingin menguji Rendi dan Nila secara pribadi tentang kesiapan mereka melanjutkan pernikahan. Bunga menghargai itu dan akan menemui Nila setelah Oma selesai bicara.


Bel berbunyi. Rendi dan Nila tidak tahu kalau Oma sudah melihat mereka.


Di bel kedua pintu terbuka. Oma menyambut mereka dengan senyum. Nila dan Rendi pun langsung mencium tangan Oma. Oma lalu mengajak Nila dan Rendi duduk di bangku favorit Oma. Samping rumah yang menghadap ke kebun mini Oma.


Mereka pun mulai mengobrol.


"Oma senang melihat kalian berbaikan begini!" ucap Oma.


Rendi tersenyum senang sementara Nila menunduk tersipu ke Oma. Rasanya malu saja, datang ke Oma bersama pria. Walau Rendi suaminya tapi baru ini Nila datang berdua bersama Rendi seperti baru pertama berkencan dan mengenalkanya ke Oma.


"Terima kasih Oma!" jawab Rendi.


"Kalian berdua yakin sama- sama ingin mempertahankan pernikahan kalian?" tanya Oma.


"Yakin Oma!" jawab Rendi tegas sementara Nila hanya mengangguk.


"Oma cuma mau pesan ke kalian!" ucap Oma.


"Ya Oma!" jawab Nila dan Rendi kali ini kompak.


"Menikah itu tidak semudah yang terlihat! Ke depan akan banyak tantangan yang kalian hadapi apalagi usia kalian terpaut jauh!" ucap Oma mulai memberi pesan


Nila mengangguk menyimak.


"Ya Oma!" jawab Rendi kali ini memposisikan sebagai cucu Oma yang patuh.


"Oma sih sepertinya tidak perlu sampaikan banyak petuah. Nak Rendi lebih banyak belajar hadis kan?"


"Tidak juga Oma. Rendi masih tidak tahu apa- apa!" jawab Rendi merendah. Sementara Nila hanya diam


"Oma cuma minta. Kamu laki- laki. Ucapanmu itu seperti sebilah pisau. tajam dan berbahaya, tapi juga bisa membantu dan bermanfaat. Pengalaman yang sudah kalian lalui jadikan pelajaran. Jaga ucapanmu!"


"Ya Oma. Rendi minta maaf!"


"Dan kelak, jika Nila membuatmu marah. Atau Nila melakukan kesalahan yang tidak kamu suka atau tidak kamu maafkan. Atau kamu jatuh cinta pada orang lain!" ucap Oma terpotong.


"Oma kok ngomong gitu?" potng Rendi cepat.


Tapi Oma langsung menggerakan telapak tanganya berdiri meminta dibiarkan melanjutkan katanya. Rendi mengangguk.


"Jika semua itu terjadi. Tolong. Jangan sedikitpun pukul Nila atau selingkuhi Nila. Kamu boleh mengembalikan Nila pada kami atau kamu katakan yang sejujurnya!" lanjut oma


Nila yang mendengarnya langsung manyun dan mencebik sedih. Kenapa pesan Oma sangat menyedihkan.


"Insya Alloh Rendi akan menyayangi Nila dan tidak akan melakukan kekerasan Oma. Rendi juga akan setia!" jawab Rendi


"Yah. Oma selalu mendoakan kalian begitu!" jawab Oma. Lalu menatap ke Nila.


"Dan kamu!" ucap Oma ke Nila.


"Ya Oma!"


"Jangan mudah meminta cerai? Itu dibenci Alloh. Dia suamimu. Kamu harus menghormatinya. Jika dia salah, sabar! Tegur dengan baik," ucap Oma


Nila pun mengangguk.


"Jangan salah ya Nak Rendi. Nila terlihat pendiam begini. Dia anak Alya dan Ardi. Tidak ada rumusnya mereka akan diam saja dan patuh begitu saja. Mereka sama- sama ngeyel sebenarnya!" ucap Oma lagi memberikan bocoran ke Rendi


"Huh?" Nila mencebik .


Sementara Rendi melirik ke Nila dan mengusap tengkuknya. Ya sedikit- sedikit memang sudah terlihat.


'"Ingat juga. Walau umurmu lebih tua. Kakak- kakak Nila itu bodyguard Nila. Kalau kamu me yakiti Nila. Mereka tidak akan tinggal diam!" lanjut Oma mengancam.


"Iya Oma!"

__ADS_1


__ADS_2