Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Catatan Penting.


__ADS_3

“Dheg…,”


Seketika itu pipi Nila memanas, deguban jantungnya terasa lebih keras dan iramanya tak beraturan, begitu melihat siapa yang datang.


Apalagi saat antena telinganya menangkap ungkapan Dita, yang keluar begitu tulus dan apa adanya. Bahkan Nila langsung menoleh ke Dita, dengan tatapan getir. Ada rasa yang menyayat hatinya walau Nila tak dapat mengartikanya.


Nila langsung menelan ludahnya dan menundukan kepalanya. Kepalanya terasa sangat berat untuk dia tegakan, meski hati rasanya sangat ingin menatap ke depan.


Benar kata Dita, pria yang berjalan masuk dengan langkah tegap itu memang tampan. Apalagi seiring matang usianya, wibawa dewasanya semakin terlihat.


Nila juga pernaah mengagumi dan mengakui itu dalam waktu dan penantian yang lama. Hingga kekaguman yang besar dan penantian yang tak bertepi itu porak poranda dan balas menghantam, menjadi rasa sakit yang tak tereja.


Nila pun memilih menjadi penonton, berusaha menyembunyikan diri, mengunci rapat pintu mulutnya, bersikap layaknya mahasiswa lain yang seolah tak mengenal satupun dari Farel dan Pak Dosen tampan itu. Tidak ada yang tahu, bahwa Dosen itu, bersama ayah Nila bernah bersaksi mengucap janji suci membawa dengan Tuhan, menerima Nila sebagai istrinya.


****


“Kenapa berhenti?” tanya Pak Rendi dengan wajah penuh wibawanya, tanpa senyum tapi juga tidak marah, ekspresinya datar dan serius, tidak bisa ditebak.


Sementara Dimas langsung gelagapan. Dimas tahu siapa Pak Rendi, dosen yang paling mengayomi anak- anak aktif seperti Dimas, dosen muda yang mendukung ide- ide kreatif mahasiswa. Akan tetapi sekali dia marah dan kecewa, keputusanya tak ada yang bisa mematahkan, terkadang kejam.


Kalau saja Pak Rendi sudah menikah seperti dosen lain dan Pak Rendi mau menerima tawaran menjadi PNS di kampus itu, tahun lalu bahkan Pak Rendi terpilih menjadi Dekan di fakultas kedokteran universitas nomor satu itu.


Sayangnya Pak Rendi memilih sebagai dosen kontrak 10 tahun, dengan kementerian, karena dia pernah di sekolahkan oleh kementerian negara. Rendi memang wajib mengabdi di kampus asal dia menimba ilmu itu, setelah itu baru dia memilih jalan sendiri.


Pak Rendi juga belum menikah sehingga orang lain melihat point kedewasaan dan kebijaksanaanya mendapat nilai min.


Meski begitu, Pak Rendi memegang jabatan sebagai ketua bidang kemahasiswaan, dia juga memegang beberapa program kampus dan ikut beberapa kelompok keilmuan. Jadi walau saat itu dia tidak mengajar, jika terjadi sesuatu, di mahasiswa, Pak Rendi juga salah satu dosen yang bertanggung jawab. Dia juga mempunyai wewenang menghukum atau memberikan kebijakan tertentu sebagai pengajaran.


“Saya minta maaf, saya terbawa emosi!” ucap Dimas jujur.


Dimas hafal betul, walau pertanyaan Rendi retoris dan membuka jalan Dimas bisa berbohonng, tapi kalau ketahuan bohong akan bermasalah. Jadi Dimas memilih jujur agar jika terjadi masalah dia mempunyai payung yang melindunginya.


Sementara Farel tampak masih diam dengan wjaah angkuh dan penuh amarahnya.


“Lhoh kok minta maaf?” tanya Rendi dengan wajah santai, seakan dia tidak tahu apa- apa, tapi sorot matanya begitu tajam dan susah diartikan.


Rendi duduk bersandar di dekat meja dengan tangan dimasukan ke saku. Meski begitu, Rendi sama sekali tidak melirik apalagi menoleh ke Nila. Seakan semua mahasiswa di depanya adalah anak didik yang tidak dia kenal.


“Saya minta maaf Pak, saya siap menerima hukuman atau bahkan dikeluarkan dari anggota BEM,” ucap Dimas lagi, dia sadar diri dan takut.


Rendi kemudian tersenyum, mengeluarkan tanganya yang ada di saku dan menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal.


“Kok sampai bawa- bawa BEM? Hei… pintu ini tidak kamu tutut dan ini ruang terbuka, tanpa sengaja aku dengar ada keriuhan di sini, sepertinya ada pertunjukan, aku ingin lihat, ayo lanjutkan!” tutur Rendi lagi pura- pura.


Dimas menunduk semakin ketakutan, sementara Farel tetap diam dan menunduk.


“Oke karena kalian tidak ingin aku melihat, coba salah satu penonton ada yang bisa beritahu saya? Pertunjukan apa yang baru saja terjadi?” tanya Pak Rendi melempar tanya ke mahasiswa lain.


Dita tentu saja gatal ingin menjawab, sayangnya saat Dita hendak angkat tangan, langsung ditahan Nila.


“Ssst…,” ucap Nila mencegah.


Dita pun mendelik, “Kenapa?” tanya Dita lirih.


“Kamu di sini mau belajar serius kan? Kamu nggak mau sia- siain beasiswa kamu kan? Apa untungnya kamu jawab? Jangan cari masalah, kita nggak tahu siapa mereka!” bisik Nila.


Dita pun patuh pada Nila, dan tanpa Dita tahu, dua bangku di belakang Dita mengangkat tangan juga.


“Ya kamu, yang rambut panjang, berdiri! Beritahu saya!” ucap Rendi.

__ADS_1


Ternyata Celin mahasiswi yang sempat menyita perhatian Dita tampak antusias terhadap perseteruan Farel.


Dengan menyelipkan, helaian rambut wangi dan tebalnya, Celine berdiri, semua mahasiswa pun menoleh ke Celine.


Lalu dengan percayaa diri, tidak takut pada Farel, Celin memperkenalkan diri, dan menceritakan detail peristiwa pemukulan juga ejekan Farel. Cerita Feline menunjukan Farel salah.


Rendi mendengarkan dengan seksama, lalu menunduk sejenak sambil tersenyum dan sepersekian detik mengangkat wajahnya yang sangat mengerikan menatap Farel.


Farel yang tadi masih percaya diri mendadak pucat. Walau bagaimanapun Farel masih belasan tahun, emosinya masih suka meluap- luap tidak stabil, bahkan KTP saja baru dia kantongi belum genap setahun, sementara Pak Rendi tampak begitu matang.


“Jadi kamu merasa kegiatan seperti ini tidak penting?” tanya Rendi tenang ke Farel.


Farel menelan ludahnya.


“Benar kata saudari Celine? Kamu mengatakan kegiatan orientasi seperti ini tidak penting? Saudaraa Farel? Eh siapa namamu?” tanya Rendi lagi.


“Iya!” jawab Farel kini mulai gentar.


“Kalau begitu, coba beritahu saya? Bagaimana seharusnya pelajaran yang kamu dapatkan di sini?” tanya Pak Rendi dengan sangat tenang tanpa emosi atau mengintimidasi, sengaja ingin menguji. “Sebagai calon dokter yang genius dan pintar?” sambung Rendi menyindir.


Farel yang tadinya biang onar dan awalnya sengaja ingin mengerjai kakak tingkat dan ingin menunjukan siapa dirinya yang anak orang kaya dan merasa pintar, diperlakukan seperti itu oleh Rendi jadi gemetaran.


“Lhoh kok nggak jawab?” tanya Pak Rendi lagi.


Karena Dimas dan Farel tampak canggung, Pak Rendi kembali melempar ke mahasiswa lain,


“Ada yang mau berpendapat? Perlu nggak kegiatan orientasi ini? Kalau memang nggak perlu. Kita bubarkan! Setuju ya?” ucap Rendi tegas.


“Saya hitung 3 mundur! Yuk yang nggak setuhu siapa,,?” ucap Rendi memancing.


Suasana orientasi, yang sebelumnya tampak monoton, karena isinya penyampaian materi tentang kampus, mendadak jadi tegang, dan sepertinya Pak Rendi menyukai pembelajaran yang membuat mahasiwa berfikir dan melibatkan mereka.


“Ya.. silahkan!”


Hanan pun memperkenalkan diri, dan mohon ijin berpendapat.


“Menurut saya penting, karena kita kan tholabil ‘ilmi di sini, tidak hanya semata mendapatkan ilmu kedokteran, setelah itu selesai. Kita juga perlu mengenal kampus ini, juga teman- teman kita, yang nanti akan menjadi partner kita belajar. Bukankah penentu keberhasilan belajar kita, selain diri kita sendiri juga lingkungan kita!” ucap Hanan.


“Ada lagi?” tanya Rendi melemparkan pertanyaan ke yang lain.


Kali ini Dita ikut aktif dan Nila tidak bisa mencegahnya. Rendi menoleh sejenak, hanya saja, Rendi focus ke Dita.


“Menurut saya perlu Pak, jika kita hanya terus belajar pengetahuan, rasanya membosankan, teori- teori, kan berserakan di internet, buku- buku juga banyak, tapi pelajaran seperti ini, hanya bisa kita dapatkan di sini. Bahkan teman- teman saya yang dulu kuliah Via internet, pernah bilang bosan dan ingin ngalamin kaya kita!” ucap Dita percaya diri.


Rendi pun hanya menyimak dan mengangguk- angguk, tanpa menoleh ke Nila.


“Ada lagi?” tanya Rendi.


Mahasiswa lain akhirnya terpancing ikut menjawab, beberapa merasa perlu, dengan berbagai alasan termasuk dapat pacar. Akan tetapi tetap ada satu yang membela Farel, hal seperti orientasi ini menyebalkan dan buang- buang waktu. Rendi menerima semua jawaban dengan sportif, dan Pak Rendi justru tepuk tangan dan mengapresiasi calon mahasiswanya itu ternyata aktif antusias semua.


“Karena 98 persen setuju, maka kegiatan ini tetap di lanjutkan,…” tutur Rendi.


Dimas, Dita dan yang lain pun mengembangkan senyum lega merasa dibela.


“Namun…,” ucap Rendi kemudian dengan wajahnya yang berubah serius lagi.


“Tindak kekerasan apapun alasanya tidak dibenarkan. Dan saya sangat kecewa dengan kejadian ini, kalian sudah dewasa! Seharusnya tahu, tempat ini bukan arema drama. Dimas…” ucap Rendi kemudian.


“Siap Pak!”

__ADS_1


“Datang ke ruanganku 15 menit sebelum jam pulang!”


“Siap Pak!”


“Dan kamu, siapa namamu?” ucap Pak Rendi menunjuk Farel.


“Farel!” jawab Farel.


“Ini bukan kampusmu! Ini bukan istana milik ayahmu!” ucap Rendi menatap Farel serius.


“Kalau kamu tidak setuju dan tidak suka dengan aturan di kampus ini, ambil semua berkasmu, secepatnya ajukan surat pengunduran dirimu!" tutur Rendi tajam mentap Farel.


Farel diam. Tapi Pak Rendi tidak peduli, ketimbang melihat Farel yang mengerikan, Rendi beralik ke mahasiswa lain.


"Dan untuk semuanya. Ini catatan penting! Hargai waktu kalian, profesi kalian bukan hanya tentang pengetahuan, ada banyak nyawa yang bergantung pada kalian kelak, dan dalam menyelamatkan mereka, bukan hanya pengetahuan kalian juga butuh, hati empati perasaan dan yang jelas kelak kalian akan bekerja dengan berkerjaran dengan waktu! Menentukan diagnose mengambil keputusan tindakan semua harus cepat!” ucap Rendi memberitahu dengan bijak.


Semua mahasiswa pun semangat mendengarkan, lalu Pak Rendi melirik ke Farel.


“Sepertinya kamu, dari keluarga berada dan otakmu cerdas, ingin jadi spesialis apa kamu nantinya?” tanya Pak Rendi masih memperlakukan Farel dengan baik walau jelas- jelas Pak Rendi sedang menyalahkan Farel.


Farel gelagapan dan menjawab, “Bedah!”


“Nah apalagi bedah, tanganmu harus cepat bekerjaran dengan waktu dan teliti, agar semua pekerjaanmu selesai tanpa ada yang terlewat dan tanpa ada perdarahan yang sia- sia. Jadi telat adalah masalah besar yang harus kalian buang mulai sekarang. Dalam hal apapun! Mengerti?” tanya Pak Rendi lagi.


Farel mengangguk.


“Datang ke ruanganku besok pagi 15 menit sebelum perkuliahan dimulai!” ucap Rendi memberi tugas juga ke Farel.


Farel mengangguk walau terlihat malas.


Lalu Pak Rendi mempersilahkan Farel duduk, dan mmeberikan kode ke Dimas untuk melanjutkan kegiatanya. Setelah itu Pak Rendi pamit pergi.


Dimas pun melanjutkan penyampaian materinya. Mahasiswa kembali tenaang mengikuti beberapa penyampaian materi juga permainan berkelompok.


Mahasiswa dibentuk beberapa kelompok dengan nama- nama kelompok menggunakan diagnose- diagnose penyakit popular ataupun penyakit aneh.


Nila dan Dita pun kini mempunyai kelompok kecil yang berjumlah 7 orang. Kelompok Nila diberi nama kelompok Demensia.


Dimas dan kakak tingkat Bem lain memberikan tugas ke mereka agar, di bawa esok hari. Esok adalah jadwal outbound dan di isi permainan- permainan yang ditujukan mengeratkan pertemanan juga kekompakan.


Untuk memenuhi tugas- tugas beberapa kelompok menghabiskan waktu berkumpul di kantin. Nila dan teman- temanya pun serius membahas semua persiapan itu.


Dan di kantin tidak hanya kelompok Nila tapi juga banyak kelompok, hingga di tengah- tengah obrolan membahas tentang akesoris yang akan mereka bawa, membuat yel- yel dan juga tugas materi. Ada beberapa teman Nila yang nyeletuk membicarakan Pak Rendi.


“Tadi itu dosen apa sih? Namanya siapa?”


“Kalau nggak salah dosen anatomi? Aku pernaah liat di story kakakku!”


“Oh namanya siapa?”


“Aku lihat di nametagenya Pak Rendi!”


“Eh denger- denger dia masih jomblo lho!”


“Yang bener?”


“Iyah!”


“Waah kita diajar dia nggak ya?”

__ADS_1


Mendengar semua obrolan itu, Nila jadi tidak nyaman dan Nila segera pamit pulang lebih dulu.


__ADS_2