
Menembus jalanan ibukota yang padat dan panas, seorang gadis yang menenteng tas mahal memasuki area apartemen mewah. Dia segera turun dari mobilnya dan berlenggang masuk menuju salah satu unit di lantai 20 gedung tinggi itu.
"Tit tit tit....,"
Setelah pintu lift terbuka dia pun memencet sandi unit aparetemen itu, dan terbukalah pintunya.
Di sofa yang membentuk setengah lingkaran dengan satu meja kecil di depanya, menghadap ke dinding kaca yang di depanya tersaji pemandangan kota dimana gedung tinggi berjajar, seorang pria paruh baya, tampak menyesap rokok dengan tersaji minuman berwarna merah di gelas bening nan cantik.
Mendengar langkah kaki gadis itu, pria itu pun menoleh dan tersenyum.
"Kuliahny menyenangkan Baby?" tanya Pria itu.
Sayangnya gadis itu tidak menjawab, dia hanya melempar tasnya sembarangan ke arah kasur, dia mengkerucutkan bibirnya dan duduk di samping pria itu.
Pria itu mematikan puntung rokoknya, lalu menengok dan mencebik melihat gadis cantik itu cemberut.
"Kenapa bibirnya manyun begini? Huh?" tanyanya dengan menyentuh bibir gadis itu.
"Kapan Della dibelikan sepatu yang bagus yang Della ingin Om?" tanya Della merajuk.
Rupanya Sepatu Nilla yang dia rusak adalah sepatu incaranya.
Pria paruh baya yang dipanggil Om Baik itu pun mencondongkan tubuhnya dan merangkul gadis itu.
"Sabar.. Kan kemarin Om udah transfer kamu dan belikan kamu tas. Om sedang urus anak Om dulu!" jawab Om baik itu.
"Ish...," gadis itu pun mencebik.
"Senyum dong. Nanti Om belikan!"
"Om...anak Om kan kerjaanya bikin pusing Om, bikin malu, Della bikin senang Om. Kenapa nggak Della yang didahuluin sih?" protes Della lagi.
Pria itu menghela nafasnya, melepas rangkulanya lalu meminum minuman yang tersaji. Dalam benaknya tentu beda, anak dan simpanan. Anaknya adalah darah dagingnya yang akan jadi pewarisnya.
"Om akan mendahulukanmu. Tapi anak Om juga harus diurus!" ucapnya lagi menghibur Della.
__ADS_1
"Teman Della, suaminya cuma Dosen muda lho Om. Dia udah beli sepatu yang Della ingin. Om kan katanya Bos. Masa nggak bisa?" rayu Della lagi.
"Ya. Nanti kita beli!" jawab Om itu menoel pucuk hidung Della.
"Beneran?"
"Iya!"
Della pun tersenyum dan mendekat ke Om baik itu, meraih tanganya dan dia bersandar pada pria itu.
"Om satu minggu ini. Dela pulang ke sini ya!" lirih Della lagi
Om Baik itu pun menoleh agak kaget.
"Tapi ini apartemen anak Om!"
"Kan dia masih direhab kan Om?" tanya Della.
Pria itu pun mengangguk. "Kenapa kamu ingin pulang ke sini? Apa kamu tidak dicari keluargamu?" tanyanya.
"Kamu diskors?" tanya Om Baik itu kaget.
"Ya!" jawab Della mengangguk.
"Berani- beraninya dia skorsing anak pintar sepertimu?" tanya Om itu.
"Ya gitu Om. Della benci. Dia itu dosen sok perfect dan kurang kerjaan!" adu Della.
Della pun mengarang cerita, kalau dia bertengkar dengan Nila. Hingga Della menunjukan foto Rendi.
Seketika itu, Om itu mengernyit.
"Dia lagi?" pekiknya.
"Om kenal dia?" tanya Della.
__ADS_1
"Dia yang membuat Farel dikeluarkan!" celetuk Om Baik itu yang ternyata adalah ayah Farel.
Della, yang baru tahu kalau Farel bermasalah dengan Rendi langsung memekik kaget.
"Kata Om anak Om tengker sama orang? Kok sama Pak Rendi sih Om?" tanya Della.
Ya, hanya Celine dan teman Farel yang tahu tentang kejadian sore itu. Bahkan Della yang menjadi simpanan ayah Farel tidak tahu.
"Dosenmu ini yang menganiaya Farel!" jawab Om Baik itu.
"Kalau gitu laporin aja Om!"
"Awalnya Om mau gitu. Tapi anak pertama Om, mencegahnya. Mereka membuat kesepakatan agar Farel tidak penjara!" jawab Om baik.
"Tapi, Farel patah, masuk rumah sakit lama. Dia juga dikeluarkan dan sekarang masih begitu. Ini parah Om?" hasut Della lagi.
Om Baik itu tampak diam
"Ya, walaupun Della kesal ke Farel karena selalu rebut perhatian Om. Tapi walau bagaimanapun dia anak Om? Masa Om diam aja anaknya digituin?" lanjut Della menghasut.
Om Baik itu melirik ke Della sembari mengulum lidahnya, lalu meminta Della mengambil ponselnya. Seketika itu, teleponya tersambung dengan seseorang.
"Ya. Bastian. Ini aku"
"Ya, Tuan!'
"Berkas dan bukti penganiayaan dan semua hasil visum Farel masih ada kan?" tanya Om baik pada seseorang di telepon dan sepertinya dijawab masih.
"Jangan buang. Ajukan saja. Jangan ikuti apa kata Dion!" titah Om Baik itu.
Della yang mendengarnya pun tersenyum senang, lalu memeluk Om itu dari belakang.
Om itu pun kemudian menoleh ke Della dan memebelai Della pelan. Ditenggaknya minuman di depanya sampai habis. Hingga kemudian meraih dagu Della mendekatkan pada mukanya dan lahapnya mulut Bella.
Bella pun menyambut dengan senyum hangatnya
__ADS_1
****