Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Ikut Rendi


__ADS_3

Masih di depan pintu laborat, dimana tempat mahasiswa berganti sepatu tindakan dan sepatu luar, teman- teman Nila dan juga Rendi masih berkumpul di situ. Beberapa mahasiswa yang merasa permasalahan sepatu tidak bermanfaat dan tidak penting sudah pergi, namun sebagian besar yang kepo, juga dekat dengan Nila dan gengnya Celine masih menetap di situ.


Rendi langsung mengeratkan rahangnya memegang sepatu yang bagian kulit depanya meleleh entah kenapa?


“Dita!” panggil Rendi menoleh ke Dita.


“Ya, Dok!”


“Siapa yang bilang sepatu ini didapat karena Nila jadi sugar Baby?” tanya Rendi tenang, tidak segera mendekat ke Nila atau menatap Nila. Rendi hanya melirik Nila lalu fokus ke sepatunya dan ke Dita.


Padahal saat Nila lihat Rendi tiba- tiba datang, Nila sangat senang. Rasanya ingin berlari cepat memeluk Rendi dan menangis di dadanya. Nila juga yakin Rendi inginkan hal yang sama. Semalam kan Rendi juga video call dengan Nila sampai Nila tidur tidak tahu siapa yang mematikan, meski oleh Rendi dibagi dengan makan dan berkumpul dengan rekan- rekanya. Nila cuma ingin dia tidak kesepian dan tahu aktivitas Rendi.


Dita langsung melirik ke Della, Dita ingin Della jentel. Sementara Dela langsung menelan ludahnya gelagapan. Teman- teman yang lain menunduk takut. Berbeda dari yang lain Celine tampak tenang, dan mengangkat tangan.


“Kamu yang bilang?” tanya Rendi ke Celine


“Bukan saya, tapi Della!” jawab Celine di luar dugaan Nila dan Dita, juga Della. Celine kan sahabatnya Della, kenapa Celine buka kartu Della. Della pun melirik ke Celine merasa dihianati.


“Benar Della?” tanya Rendi mengeratkan rahangnya menatap Della galak.


Della ikut mengeratkan rahang memilin bajunya, hatinya berdebar, dia juga sangat malu kalau benar, Rendi suami Nila.


“Jawab, coba jelaskan apa itu sugar Baby? Kenapa kamu menuduh Nila itu sugar Baby. Dapat istilah darimana?” sahut Rendi lagi, masih selow tapi tidak mau memberi jeda dan langsung menatap Della.


Rendi tahu kalau Della tampak gelagapan tidak menjawab.


“Jawab! Apa itu sugar Baby!” bentak Rendi kali ini serius keluar galaknya.


Della tambah kaget, dan gemetaran. Akan tetapi Dita, Nila dan yang lain sedikit terhenyak, Rendi bertanya, sungguh tidak tahu atau ngetes.


Karena sudah di hadapan Rendi, walau terbaata, Della pun menjawab.


“Sugar Baby adalah sebutan, untuk anak sekolah atau gadis remaja yang menjual dirinya pada pria dewasa dan beruaang!” jawab Della lirih lalu menunduk.


Rendi menyunggingkan senyum masam, lalu menggigit bibir bawahnya sedikit menggelengkan kepalanya.


“Sekarang jawab. Ada yang bisa jelaskan apa yang kalian ingat dari praktek kalian tadi? Atau sebutkan ada otot dan pembuluh darah apa saja yang terlibat di sistem Kardiovaskuler?” tanya Rendi lagi.


Semua diam tidak menjawab, walau sebenarnya dari mereka beberapa tetap ingat dan tahu apa materi praktek tadi. Tapi mereka ketakutan untuk menjawab.


“Prak!” Rendi seketika itu langsung melempar sepatu Nila kasar dan seperti sengaja membanting keras. Untung sepatu jadi tidak menimbulkan pecahan yang keras dan bisa melukai. Meski begitu, lemparanya cukup membuat semua mengkerut kaget.


Rendi langsung menatap Della tajam.


“Ajukan surat pengunduran dirimu. Keluar dari kampus sini. Tarik uang sumbangan bapakmu. Isi otakmu sangat menjijikkan. Percuma kamu kuliah.” Ucap Rendi sangat kasar mengatai Della kasar.

__ADS_1


Della langsung tertunduk tidak berani mengangkat wajahnya, begitu juga yang lain. Nila ikut gemetar, perkataan Rendi sangat kasar. Nila bisa merasakan sakitnya hati Dela dikatai dosenya begitu.


Akan tetapi Nila hanya bisa mencengkeram bajunya, karena Nila sendiri belum pernah melihat Rendi semarah ini. Nila pun mengangkat wajahnya memperhatikan Rendi karena takut suaminya akan terlewat batas.


“Bisa- bisanya mahasiswa kedokteran, mengisi otak dengan pikiran semacaam itu, sudah hafal kamu anatomi sistem metabolisme tubuh apa aja? Sudah bisa jelaskan ada berapa pembuluh darah organ reproduksimu? Tidak bermutu, menjijikan sekali kamu, apa jangan- jangan itu pekerjaanmu!” omel Rendi lagi menyentak dan semakin menghina Della.


Hingga akhirnya tertunduk dan matanya merah meneteskan air mata, Nila pun melirik ke Della dan menatap suaminya yang marah. Ya, Rendi masih menatap benci Della. Kalau laki- laki mungkin Rendi sudah pukul, tapi Rendi sadar dia saat ini sebagai dosen.


Nila menelan ludahnya semakin tegang.


“Siapa yang jaga lab hari ini?” tanya Rendi lagi.


“Bu Fita, Pak!” jawab Dita.


“Panggil!” ucap Rendi tambah galak.


“Saya tidak akan kasih ampun, kalau sampai saya temukan bukti ada pelanggaran pemakaian fasilitas kampus!” ancam Rendi lagi.


“Mas… udah!” sahut Nila akhirnya memberanikan diri, angkat bicara walau gemetaran. Semua jadi menoleh ke Nila.


Walau sedikit gelagapan Nila langsung mendekat ke Rendi.


“Udah nggak usah diperpanjang…,” lirih Nila lembut meminta sedikit canggung dan ragu. Nila menelan ludahnya menjeda, matanya tampak nanar, “Kalau kita jujur teman- teman tidak akan salah mengira!” lanjut Nila. "Sudah ya!"


“Dengar semuanya. Nila ini istriku. Dan kamu Della, dengar! Sepatu ini pemberianku!" tutur Rendi dengan gagah menunjukan ke teman- teman Nila kalau dia adalah suami yang membusungkan dada untuk istrinya.


"Kita menikah secara terhormat karena kami dijodohkan." lanjut Rendi menunjukan kalau Nila mengenal pacaran.


"Meski begitu, aku mencintainya dan menghormatinya. Kalau kalian menghinanya itu berarti menghinaku.Kenapa kita tidak sampaikan. Status dan pernikahan orang lain itu bukan hal yang harus kalian pikirkan dalam menjalani proses belajar. Kalian di sini itu kuliah, didiklah diri kalian menjadi mahasiswa yang berkualitas, isi otak kalian dengan ilmu bukan mempermasalahkan status orang apalagi kriminal!” ucap Rendi lagi memberikan peringatan ke mahasiswanya.


“Mas,” pekik Nila lagi, ternyata Rendi masih marah.


“Diam kamu!” jawab Rendi melepas rangkulanya dan malah sekarang berganti membentak Nila, tidak suka ucapanya dijeda. Ya, saat ini Rendi sedang menjadi dosen bukan suami Nila.


“Bukan tentang masalah sepatu istriku yang aku beli dengan uangku. Tapi yang harus kalian ingat. Ada tumpahan cairan di sini itu adalah kesalahan dan keteledoran. Kalian tidak bertanggung jawab dan kriminal. Secepatnya akan kuperiksa dan aturan kampus akan tetap berlaku!” ucap Rendi memberi peringatan.


"Hiks... Hiks...," seketika itu, Sania dan Miki yang tidak tahan langsung meneteskan air mata, spontan bersimpuh.


"Dok. Kami mohon. Maafkan kami. Nila tolong maafkan kami!" ucap Keduanya meminta maaf.


Nila kemudian melirik ke Dita.


"Kami janji kami akan patungan untuk mengganti sepatu Nila. Tapi kami mohon. Tolong maafkan kami!" lirih Mikki merengek.


Rendi sebenarnya malas sekali menghadapi drama anak ingusan yang banyak drama begini. Rendi kemudian melirik ke Nila istri mungilnya. Tapi kenakalan yang dilakukan mahasiswa dewasa ini akan bahaya kalau dibiarkan.

__ADS_1


"Darimana kalian dapat cairan ini?" tanya Rendi kemudian.


Mikki dan Sania langsung diam, melirik Della. Kalau mereka mengaku bukan hanya mereka bertiga yang kena. Sebab cairan itu adalah cairan yang tidak diperjual belikan dan di simpan di tempat yang khusus.


Rendi melirik jam lalu melihat ke arah dalam, Rendi tidak nyaman di situ membuat forum.


"Kalian bertiga datang ke ruanganku 1 jam lagi. Sekarang bubar!" ucap Rendi singkat.


Selain Sania, Mikki dan Della bernafas lega dan buru- buru pergi tidak ingin ada masalah. Termasuk Nila dengan polosnya menggandeng Dita.


"Haish...," desis Rendi meraih tangan Nila.


"Mau kemana?" tanya Rendi berbisik mendadak kembali melunak.


Dita yang dengar menoleh sungkan, dan Nila juga melirik ke Dita tidak nyaman.


"Udah nggak apa- apa. Aku duluan ya!" lirih Dita mengerjapkan matanya, lalu menatap Rendi menganggukan kepala dan sedikit senyum tanda hormat.


"Ehm...," dehem Nila sekarang berdiri dengan kedua tanganya di depan menunduk.


"Ikut Mas!" ucap Rendi.


"Kemana?" tanya Nila dengan polosnya.


"Ck!" decak Rendi geram. "Harus tanya segala kemana?" gumam Rendi.


"Hah? Mas bilang apa?" tanya Nila tidak jelas mendengar.


Rendi pun menghela nafasnya menoleh ke sekililinh dan mengusap kepalanya.


"Udah, jalan dan ikut kemana Mas pergi!"


"Ya bentar!" jawab Nila.


"Mau apalagi?"


"Sepatunya!"


"Buang!" ucap Rendi.


Nila masih terbengong, walau kulitnya rusak, tapi kan itu sepatu bersejarah.


"Haihs!" desis Rendi tidak sabar, Rendi kemudian mengambil sepatunya membawanya dengan tangan kirinya dan tanganya langsung menggandeng tangan Nila.


"Ayo ikut!"

__ADS_1


__ADS_2