Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Abah


__ADS_3

“Maaf Pak Rendi, anda dilarang masuk!” ucap satpam di rumah Baba. 


Flash back.


Sehari kemarin setelah diwhatsap Fatma untuk tidak pulang menemui Abah, Rendi memilih menenangkan diri tidur bermalas- malasan di rumah. Hari berikutnya Rendi menjalankan aktivitasnya sebagai dosen. 


Dan tiga hari sudah Rendi berlalu, Rendi pulang ke rumah orang tuanya. Abah dan Umminya masih marah. Tapi mereka tetap orang tua yang sadar, memaafkan adalah sifat yang dicontohkan rosululloh. Walau hatinya sakit, marah dan kecewa Abah dan Ummi tetap bersedia menemui Rendi.


“Abah tidak perlu kan mengajarimu hukum nikah lagi? Masa S3, ajaran agama kita sendiri yang seharusnya kita pegang teguh tidak tahu?” tutur Abah Yusuf dengan nada sangat tenang, menyindir putranya sendiri. 


Abahnya Rendi sebenarnya ingin Putranya memperdalam ilmu agama, agar kelak menjadi penerusnya. Sayangnya Rendi lebih suka mengejar ilmu kedokteran. Jadi Abah sering mengungkit dan menyindir.


Rendi menunduk merasa bersalah dan malu. 


“Akbar tidak pernah mengikrarkan kata cerai Bah, Akbar mohon maaf, Akbar salah, Akbar akui, Akbar salah berniat menikahi Nila untuk melampiaskan sakit hati dan hanya mengikuti Ummi. Aku tidak menemuinya, karena merasa sangat konyol Rendi menikahi bocah, tapi kan aku sama sekali tidak pernah menyakitinya secara fisik. Akbar mengatakan masih sendiri, Akbar ingin melindungi nama Akbar, Akbar takut dikatai kolot, pedofil atau tidak wajar menikahi bocah!” jawab Rendi lagi menjelaskan alasan logis versinya


Abah hanya diam lalu menyesap rokoknya dengan gagang kayu yang mengkilap mendengarnya. Abah masih duduk bersilah dengan sarung dan koko putihnya.


Rendi yang sudah mengutarakan semua pendapatnya diam menunggu tanggapan Abahnya.


Abah masih tetap menikmati rokoknya beberapa saat tidak menjawab, sehingga tercipta suasana hening. Rendi yang tidak merokok hanya menunduk mengerti sifat Abahnya. Ya Abah memang suka bersikap aneh, seperti sedang menguji kesabaran putranya, juga memberi waktu untuk berfikir. 


Setelah beberapa saat, bahkan sampai memakan waktu 20 menit akhirnya Abah mematikan rokoknya.


Rendi yang sudah mulai pegal masih tetap duduk di hadapan Abahnya seperti murid yang sedang dihukum. 


Ya, Abah memang mendidik Rendi begitu disiplin tak ubahnya santri, itu sebabnya Rendi juga galak ke mahasiswanya. 


“Hhhh...,” Abah terdengar menghela nafas panjang. 


Rendi pun mengangkat wajahnya berharap Abahnya segera menjawab. 


“Buatkan Abah kopi lagi!” tutur Abah malah memerintah. 


Rendi yang sedang memohon maaf patuh dan mengangguk. Seorang Gus Rendi, atau kalau di pesantren krab dipanggil Gus Akbar ke dapur sendiri walau di dapur banyak santri yang siap melayani. Rendi pun membuat kopi untuk ayahnya, lalu menyajikanya. 


“Ini Bah....,” tutur Rendi. 

__ADS_1


Abah tidak menjawab dan hanya menoleh Rendi tajam. 


Rendi diam masih berfikir. 


“Jadi menurutmu, gimana?” tanya Abah malah melontarkan pertanyaan yang membuat Rendi berfikir. 


“Gimananya apa Bah?” tanya Rendi bingung.


“Kamu mau apa?” tanya Abah lagi. 


Pertanyaan dan jawaban Abah sangat simpel dan tidak banyak kata, tidak membernarkan Rendi atau menyalahkan Rendi. Tapi hal itu membuat Rendi pusing dan malu. “Rendi mau apa? Rendi sendiri bingung!” 


“Ehm...,” Rendi berdehem walau dengan ayahnya, Rendi sangat berhati- hati bicara. Rendi hanya terus menunduk. 


Abah pun kembali tersenyum. 


“Kalau memang kamu malu beristrikan Nak Nila, Abah yang minta maaf. Abah dan Umi yang salah,” tutur Abah kemudian dengan sangat tenang. Tak ada ketegangan atau raut benci sedikitpun. 


“Hhh...maafkan Ummi dan Abah!” tutur Abah lagi, tidak malu meminta maaf.


Rendi jadi gelagapan dan malu. “Kenapa Abah minta maaf? Kan Rendi yang buat masalah, hubungan Abah dan Baba Ardi jadi renggang, pesantren juga kehilangan donatur? Abah juga harus menanggung malu pada santri- santri, keluarga  besar kita dan juga teman- teman Abah karena anak Abah bercerai!” tutur Rendi lagi 


“Terus kamu mau apa?” tanya Abah lagi. 


“Akbar hanya ingin kembalikan semuanya seperti dulu, Bah!” 


“Tidak bisa, yang terjadi ya sudah terjadi!” jawab Abi lagi. 


“Abah nggak marah atau malu?” 


“Untuk apa?” 


“Abah tidak ingin perbaiki hubungan dengan Baba Ardi?” 


“Apa yang harus diperbaiki? Yang tidak baik kan kamu, bukan Abah!” jawab Abah lagi dengan tenang. 


Kali ini Rendi pun cukup tersentil dengan pernyataan Abahnya. Sepertinya niat untuk meminta tolong juga harus dihentikan, Abah jelas sekali ingin mengatakan kalau Rendi harus selesaikan sendiri, tapi dengan kalimat tersirat. 

__ADS_1


“Maaf Bah!” ucap Rendi. 


“Bambu Teduh dan santri itu sudah punya rejeki sendiri. Abah tidak pernah risau akan hal ini. Kalau kamu pulang hanya memikirkan ini, kembalilah ke rumahmu!” tutur Abah malah mengusir anaknya, 


Terdengar halus, tapi ini cukup mematikan nyali Rendi. 


“Akbar ingin bertemu Abah, Bah. Akbar mohon maaf!” tutur Rendi lagi menolak pergi. 


Abah kemudian menegakan duduknya lalu menatap putranya itu. 


“Ilmu itu bukan seberapa banyak yang kamu dapat? Dan seberapa lama kamu sekolah. Hakikat ilmumu itu adalah apa yang kamu amalkan. Kamu tahu kan, semua hal berawal dari niat. Niat yang baik saja tidak selalu berakhir baik, apalagi diawali dengan niat yang salah.” Tutur Abah kali ini sedikit panjang tapi tetap butuh otak untuk berfikir. 


“Ya... Bah, Rendi salah!” jawab Rendi menyerap kata ayahnya bb


“Pulanglah. Benahi hati dan niatmu! Kamu sudah dewasa, tentukan sendiri jalanmu!” 


“Abah usir Akbar?” tanya Rendi gelagapan. 


Abah tidak menjawab dan tampak mengambil kopiahnya seperti hendak pergi. 


“Bah . lalu Akbar harus bagaimana? Akbar meyakini Nila masih istriku!” ucap Rendi lagi meminta pendapat dan pembenaran Ayahnya. 


Tapi Abah Yusuf tidak menjawab dan tampak berdiri berlalu mengacuhkan Rendi. 


Karena diusir ayahnya sendiri Rendi pun lemas. Ayahnya ternyata sudah ada jadwal pengajian lagi. 


Rendi pun masuk ke kamarnya. Kamar Rendi ternyata begitu terawat, tentu saja semua karena Nila. Bahkan bau tubuh dan parfum Nila masih terasa di kamar itu. Buku- buku dan kitab Nila juga ada di situ. Baju- baju Nila juga sebagian ada di situ. 


Rendi pun iseng- iseng membuka- buka buku Nila dan menemukan buku diary Nila. 


“Aku harus melepaskanya atau mengejarnya? Seharusnya aku bahagia kan?” gumam Rendi. Tapi kenapa semua jadi kacau. 


Rendi lalu membaca beberapa catatan diary Nila. 


“Aku harus memperjuangkanya!” gumam Rendi. 


**** 

__ADS_1


Dan sekarang Rendi berniat menemui Baba dan Nila. Sayangnya Baba sudah membatasi akses Rendi, bahkan nomer Rendi sudah diblokir Baba. 


__ADS_2