
Begitu Nila mengunci kamar, ternyata Baba pulang. Kepada Oma, Baba masih tersenyum, menyapa dan mencium tanganya. Kepada Iya dan Iyu pun Baba juga masih mengembangkan senyum, sempat memeluknya juga mencium kedua jagoan kembarnya itu.
Tapi pada Uung yang terlihat sedaang menyusu Buna di pojok ruangan dekat televisi Baba tak menyapa dan berlalu begitu saja.
Padahal biasanya, justru paling lama membercandai Uung, juga selalu peluk dan cium Buna.
Walau tidak disapa, Buna tahu suaminya pulang dan masih marah.
Buna hanya diam memperhatikan Baba berjalan masuk.
Buna memilih tak bicara, meski begitu Buna masih melakukan kewajibanya, memenuhi kebutuhan Baba. Seperti tadi saat Baba hendak ke kantor meski tak ada komunikasi, Buna tetap menyiapkan makan dan juga pakaian.
“Astaghfirulloh, aku lupa belum siapkan air hangat dan aroma terapi kesukaan Mas Ardi,” batin Buna ingat belum menyiapkan mandi Baba.
Sebenarnya Buna gatal ingin menyapa dan menyusul masuk Baba. Tapi Sayangnya Uung masih menggelantung, walau ASI sudah sangat sedikit keluarnya juga disambung formula, Uung suka sekali bermanja pada Buna. Buna pun memilih stay bersama Uung dan hanya melihat dari kejauhan.
Buna pikir membiarkan Uung bermanja sampai tidur awal dulu, biar nanti bebas bicara dengan Baba.
“Biar saja, sekali kalilah, Mas Ardi ngapa- ngapain sendiri? Dan bertahan marah?” batin Buna memalingkan tatapanya dan kembali menimang Uung.
****
Di tempat lain.
Bukanya mandi, Rendi malah mengambil bantal dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Setelah bertahun- tahun menyendiri, dan menerima telepon semua berkutat dengan pekerjaan, akhirnya Rendi bisa mendengar suara perempuan yang terdengar begitu polos manja dan menggemaskan. Rasanya menyenangkan.
Apalagi lewat telepon seluler seperti ramuan yang menghidupkan sel- sel di dalam tubuh Rendi yang lama tertidur. Kini Rendi benar- benar, semangat terlebih ini halal.
Nila sendiri menutup pintu kamarnya rapat, jangan sampai Iya Iyu masuk. Oma yang baru membaca Al Quran satu ruku' dia tinggalkan.
Tidak bisa diungkapkan apa ini rasanya, yang pasti sebelumnya Nila kesal timbul sesak yang tak diundang, tapi pikiranya terus dipenuhi pertanyaan tentang Rendi.
Dan sekarang dadanya mengembang, mengembang campur dongkol. Ingin marah tapi senang. Tidak tahu bagaimana cara mengungkapkanya, Nila benar- benar tidak habis pikir, Rendi mengatakan di grup kalau komputernya eror setelah dipakai Nila. Padahal menyentuh saja tidak.
Bahkan wajah Nila merona merah. Selain semua rasa itu, Nila juga dheg- dhegan, Nila juga malu- malu kalau sampai ketahuan Oma dan Buna sedang ditelpon Rendi. Padahal harusnya kan biasa saja, mereka kan sudah ijab qobul 3 tahun lalu. Entahlah rasanya seperti pencuri, Nila masih ngumpet layaknya orang backstreet.
"Kesini ngapain Mas?" pekik Nila dengan polosnya mendengar ucapan Rendi.
"Jemput istri lah?" jawab Rendi.
"Ish ...., nggak!" desis Nila tersipu dikatai istri.
“Lah kenapa?"
"Jangan cari masalah Mas!" jawab Nila.
"Cari masalah gimana? Mas kangen lho!" ucap Rendi lagi semakin berani.
Walau di kamar sendirian, Nila celingak celinguk. Seperti ada yang mengawasi padahal tidak. Malu sekali mendengar Rendi kangen.
"Kok diam?" tanya Rendi tidak sabar menunggu suara Nila.
"Nggak usah ngelantur. Cepat katakan. Kenapa Mas miscall- miscall terus? Pake acara fitnah Nila ngerusakin komputer?" tanya Nila manyun- manyun. Marah- marah gemas.
Entahlah. Pokoknya Tidak pernah Nila rasakan seperti sekarang susah dijelaskan, mau lembut tidak bisa. Mau lampiaskan rasa Dongkol, kesal, gemas tapi juga tidak kuasa, kenapa mudah memaafkan rasanya lebih ke ingin menonjok atau mencubit Rendi.
Padahal dulu, bayangan Nila, saat Rendi datang untuk Jingga, Rendi begitu tenang, berkarisma, duduk pun seperti membawa aura.
Apalagi saat dulu Rendi berkacamata, seperti orang pintar. Terlebih jika mendengar teman- temanya menceritakannya sebagai gus akbar. Nila saja saat berpapasan menunduk lembut sekali.
Tapi apa sekarang? Semuanya pergi. Rendi tidak pas kalau diperlakukan sopan dan lembut. Ternyata Rendi sukali buat hatinya naik turun. Bahkan ada saja ulahnya. Seperti sekarang mai. fitnah. Bukanya rasa bersalah masih sempat bilang sayang. Masih juga percaya diri sekali mau mendatanginya.
"Jawab dulu kenapa Mas diblokir?" tanya Rendi.
"Rahasia! Udah cepet mau apa?" tanya Nila mendesak.
"Mau ketemu kamu!" jawab Rendi lagi tambah ngawur.
"Iih. Jangan bercanda! Kalau nggak penting nggak usah ganggu!" jawab Nila.
"Kok ganggu sih?"
“Nggak ngomong, Nila matiin nih!" ancam Nila.
"Kalau dimatiin Mas masuk ke kamar kamu sekarang!" ancam Rendi tidak mau kalah.
"Apa?" pekik Nila, Nila langsung melotot meski tidak ada orang .
Saking khawatirnya Nila sampai membuka tirai jendela mencari Rendi. Takutnya Rendi seperti di drama- drama yang nekat masuk ke kamar.
Rendi pun ngakak mendengar Nila terdiam dan ada krek tirai.
"Nyariin ya?" tanya Rendi ngledek lagi.
"Iih!" jawab Nila tambah dongkol dan wajahnya memerah.
"Emang boleh Mas tidur di kamar kamu?" goda Rendi lagi
"Nggak!" jawab Nila cepat setengah membentak.
"Kan Mas suami kamu? Dulu aja diijinin! Kamu juga tidur di kamar Mas!" jawab Rendi saat setelah akad Rendi memang pernah masuk, walau tidak melakukan apa- apa. "Mas. Please Jangan bercanda. Nggak usah bahas lalu- lalu. Sesuai kesepakatan kita kan? Selesaikan dulu masalahnya!” jawab Nila serius padahal Rendi sedang goleran di sofa.
“Kapan kita buat kesepakatan?” jawab Rendi masih senang mengerjai Nila.
“Ih. Kok pura- pura lupa? Mas nggak ingat tadi pagi? Kemarin?” jawab Nila menyergah, benar- benar Rasanya pengen ngegas terus.
“Ingat!” jawab Rendi tetap tenang.
“Ya udah. Jangan bikin Baba marah. Tunggu aba- aba. Nila dulu. Pokoknya nggak usah telpon- telpon. Nggak usah juga bikin gara- gara di grup. Nila tahu. Akal- akalan Mas kan? Fitnah Nila. Nila nggak megang computer Mas ya. Tuh si Livi kali yang otak – atik!”
Akhirnya Nila ngomel melebar kemana- mana, sampai akhirnya tercetus nama Livi.
Mendengar kata Livi, Rendi langsung tercengang.
“Livi?” pekik Rendi langsung berfikir dan mengkonfirmasi.
Nila jadi gelagapan tambah malu.
“Udah ya? Kalau udah selesai nggak mau ada yang disampaikan. Nila matiin. Nila mau turun!” ucap Nila mau kabur.
“Jangan!” jawab Rendi cepat. Tapi Nila sudah mematikan.
Tidak mau diblokir lagi, Rendi langsung mengirim pesan.
“Kalau ditinggal dan diblokir lagi, Mas kesitu sekarang beneran lho. Ingat Mas punya hak atas kamu. Mas udah baik demi hormati Baba, mas ijinkan kamu pulang!” ketik Rendi langsung mengancam.
Nila memang masih marah, dan berniat mematikan ponselnya tapi belum sempat, ponselnya sudah bergetar masuk pesan.
Nila membukanya ternyata Rendi memang mengirim banyak foto tapi belum dia download.
Nila pun menyempatkan membaca pesan Rendi.
Nila terdiam ucapan Rendi benar sih.
Ya, memang seharusnya Nila lebih mengutamakan Rendi. Aturan bagaimana Istri bersikap ke suami masih berlaku untuknya, tapi rasanya masih malu, dan aneh.
Nila juga takut dan bingung, dimarahi Baba.
Sekarang suasananya serba salah. Tidak seperti bayangan Nila dulu.
__ADS_1
Bayangan Nila dulu, semua akan baik- baik saja. Rendi dan Nila LDR. Rendi nanti akan menyayanginya dengan lembut dan istimewa layaknya gus- gus yang lain, mengajarinya banyak hal.
Di ujung kelulusanya Nila dijemput Rendi dengan terhormat. Setelah itu Nila mengabdi pada Rendi, penuh kelembutan dan saling menghormati.
Tapi sekarang nyatanya semuanya beda dari ekpektasi, akhir lulusan yang seharusnya Nila penuh haru, Nila diperlakukan istimewa bertabur bunga, dijemput dengan hormat, diboyong ke rumah Rendi penuh suka cita, malah diwarnai air mata.
Oma sakit segala. Baba jadi marah. Sudah begitu Rendi pandai sekali menarik ulur hati Nila.
Nila ke Rendi yang tadinya Rindu, berganti kesal, bahkan rasanya ingin menonjok.
Masih Nila melamun, Rendi yang tidak sabar miscall lagi. Tapi oleh Nila drijek. Nila memilih wa.
“Mau bahas apa lagi?” jawab Nila jutek. Nila tidak mengiyakan atau menampik statement Rendi.
“Dosa, sama suami nggak boleh jutek, mana Nila yang anak kesayangan Ummi, coba tunjukin sama Mas! Suami pingin ngobrol malah dijutekin,” balas Rendi terus merayu Nila.
“Apaan sih?? Jangan nyebelin makanya,” ketik Nila
Tidak puas hanya berkirim pesan. Rendi telpn lagi. Bahkan telpon video. Karena takut dosa Nila menjawab panggilan Rendi, tapi videonya dia matikan.
"Hemm apa?" jawab Nila.
“Kok apa? Nggak usah jaim. Mas suami yang kamy rindukan juga kan? Mas masih ingat lho lirik puisi kamu? Pada rembulan yang bersinar..,” goda Rendi menyinggung puisi Nila saat di pondok, mengungkapkan dulu betapa Nila rindu Rendi.
“Sss… nggak usah dilanjut! Udah cukup, aku matiin nih!” Nila yang tadinya marah, mendengar Rendi mengingat puisinya, jadi malu, geli sekali dan tidak kuat mendengar Rendi menguliti isi hatinya.
“Hehee…,” di atas sofa di rumah yang jauh di sana Rendi langsung terkekeh sembari berguling memeluk bantal sofa. Senang sekali rasanya menggoda Nila.
“Ish nyebelin banget sih”
“Udah jujur aja. Ini Mas telpon kamu, Mas kangen sama kamu! Sekarang kalau kangen ngomong aja, puisinya jangan ditulis, diucapin!” rayu Rendi lagi.
“Nggak jelas!” jawab Nila benar- benar malu dan ingin mengalihkan pembicaran.
“Udah ah, nggak penting, Nila dicariin Oma, Nila lagi simakan sama Oma!” jawab Nila terus beralasan.
“Tunggu!” jawab Rendi tidak rela dan masih betah mendengarkan suara Nila yang lembut manja,
“Apalagi? Jangan bilang Nila suruh ke kampus, Nila nggak make computer Mas, jangan bilang juga kesini, Baba masih marah. Nila nggak akan telat lagi!” Jawab Nila.
“Kalau Nila marah nggak? Telat lagi ajalah! Ya!” jawab Rendi lagi masih terus mengerjai Nila.
Padahal Nila dongkolnya sudah di ubun- ubun.
"Marah!” jawab Nila cepat. "Nila matiin nih!"
“Iya- iya Nggak, dibilang kangen!"
"Tapi Nila enggak! Udah!"
"Oma suruh kita main berdua!” ucap Rendi cepat sebelum dimatikan beneran, akhirnya jujur intinya.
“Oma siapa?”
“Astaghfirulloh, ya Oma Mirna, kan Mas udah bilang!” jawab Rendi.
“Oh… jadi ke rumah Oma?” jawab Nila lagi.
“Kok ketus banget sih jawabnya?” jawab Rendi tersinggung, Rendi kan sudah menggebu- gebu ingin pamer kalau Oma merekaa setuju.
“Ya udah, iya, terus gimana?”
“Belum liat fotonya ya? Kok nggak komentar?” tanya Rendi berharap dipuji Nila.
“Belum Nila download," jawab Nila lagi dengan jujurnya.
Rendi pun menelan ludahnya, benar- benar ya Nila ini.
“Ya udah didownload, kamu seneng pasti!” peeintah Rendi lagi percaya diri.
“Ya ampun, ngobrol sama suami kok kaya buru- buru banget?” komen Rendi.
“Nila lagi nyimak Oma, Mas!”
“Yaya… ya udah besok abis kuliah Prof Hendra ke rumah Oma ya!” ucap Rendi.
“Hmm, yakin? Mas sempet?” jawab Nila malah tanya Rendi menyindir.
“Kok tanya sempet? Ya pastilah.” jawab Rendi.
“Ya kirain mau ketemu sama Livi!” jawab Nila keceplosan lagi keluar isi hatinya lagi kan isi otak Nila memang sedang berputar- putar nama Livi.
Rendi yang tadi tanya belum dijawab kembali heran.
“Siapa?” tanya Rendi lagi pura- pura tidak dengar.
“Gleg!” Nila yang menyadari keceplosan lagi langsung menutup mulutnya, "aduh, batin Nila.
“Tadi kamu bilang Livi? Kamu kenal Livi?” tanya Rendi mengulangi.
Karenaa malu, Nila buru- buru mematikan ponselnya.
"Dimatiin?" gumam Rendi lalu berfikir. "Kok dia tahu Livi? Apa dia kenal? Nggaklah mereka nggak kenal, tunggu- tunggu, ini pasti karenaa ayam? Apa dia tahu sesuatu dan cemburu?” tebak Rendi hatinya langsung mengembaang dan sekarang dia senyum- senyum.
Rendi mencoba menelpon Nila lagi. Profil Nila sekarang terbaca tapi tidak nyambung. “Aih dimatikan! Beneran,” gumam Rendi kesal.
Rendi jadi gemas sendiri, dan memeluk bantalnya erat.
Tidak mau lama- lama melamun, Rendi pun bergegas mandi. Sementara Nila yang pipinya bersemu merah walau hanya lewat telepon segera turun. Nila kembali bersua dengan Oma dan adik- adiknya.
“Buna sama Uung dimana?” tanya Nila ke Iya.
“Ke Baba!” jawab Iya.
Mendengar kata Baba, Nila meredup.n”Baba udah pulang?”
“Udah, tapi ke kamar, katanya capek!” jawab Iyu.
“Oh…,”
“Kita makan, yuk!” ajak Oma tiba- tiba,
Nila dan Iya Iyu mengangguk.
“Panggilkan Buna sama Baba ya anak ganteng!” tutur Oma meminta Iya daan Iyu.
“Iya Oma!” jawab Iya Iyu semangat.
Oma tersenyum mengangguk senang cucunya pintar dan tampan.
Nila dan Oma pun segeraa berjalan ke ruang makan.
Sayangya selang beberapa waktu Iya dan Iyu kembali tanpa Buna dan Baba.
“Baba katanya udah makan, Oma. Kita disuruh makan aja!” ucap Iya dan Iyu jujur.
“Oke!” jawab Nila senang tidak bertemu Baba. Nila masih takut dan bingung ke Baba. Nila ingin curhat dulu ke Buna.
*****
Di Kamar. Baba.
__ADS_1
Setelah Uung tidur di kamarnya, karena setelah dua tahun Uung diberi kamar sendiri, Buna masuk ke kamar menghampiri Baba.
Sayangnya, walau di kamar berdua, Baba masih enggan menatap Buna. Malah Baba semakin menunjukan kalau dia marah, terdengar, beberapa barang seperti terjaatuh, di kamar mandi, bukan memakai shower tapi Baba sepeti menyalakan kran air deras. Baba juga menutup pintu keras begitu keluar kamar mandi.
Saat ke walk in kloset, Baba juga membuka lemari kasar, mengacak- acak bajunya hingga berntakan. Biasanya kan Buna yang pilihkan dan disiapkan di atas kasur. Baba berjalan juga seperti menghentakan kaki.
Buna duduk tenang di atas kasur sembari memperhatikan Baba. Semakin tua kenapa Baba semakin kekanakan, Buna jadi ingin tertawa melihat Baba pundung. Lucu sekali batin Buna.
Buna biarkan pakaian di walk in closet berantakan. Buna memilih pura- pura baca majalah saja. Sok Baba marah.
Baba malah terlihat berputar putar di kamar, ke walk in closet juga ke kamar mandi seperti mencari sesuatu.
Buna pun menghela nafasnya.
“Ponselnya ada di sini!” ucap Buna tahu suaminya mencari ponsel yang tadi Baba lempar ada di dekat bantal.
Baba yang masih ngambek mengambilnya dengan muka malas dan tanpa kata, apalagi makasih.
Buna masih terus memperhatikan.
Baba kemudian duduk di sofa, mengambil tas kerjanya, dan mengeluarkan laptop, masih enggan menatap Buna.
Setelah itu Baba kembali mencari sesuatu lagi kebingungan.
Buna jadi tersenyum lagi.
“Kacamatanya ada di atas nakas! Inih!” tutur Buna memberitahu.
Baba diam seperti gengsi sedaari tadi ngegep Buna terus.
Walau punya ruang kerja, Baba kan seringnya ditemani Buna. Tua bukan halangan, saat berdua, Buna juga suka gelendotan menemani Baba. Semua keperluan Baba, Buna yang urus, Baba lebih sering kerja di kamar.
Kali ini Baba tengsin, tidak mau ambil kacamatanyaa, tapi tampak bangun. Buna menebak mau kabur ke ruang kerja menghindari Buna. Sayanganya belum jadi keluar, Iyya dan Iyu mengetuk pintu dan ajak makan.
Baba yang sedang malas pun beralasan sudah makan di acara dan ijin tidak ikut makan.
Dan Baba tidak kegep Buna lagi, begitu Iya dan Iyu pergi, perut Baba bunyi. Buna pun semakin tidak tahan tertawa dibuatnya. Baba semakin malu dan murung.
Buna akhirnya bicara.
“Mas.. Mas kenapa sih? Emang dengan Mas marah begini bisa kenyang? Iya dan Iyu ngajak makan Babanya lho! Makan yuk!” ucap Buna mengajak Baba.
Baba diam mematung.
“Hhh..,” Buna menghela nafasnya.
Dan tiba- tiba Baba bersin.
“Ck…,” mendengar suaminya bersin Buna berdecak dan mendekat.
“Obat Baba belum habis, Baba kan baru sembuh kemarin, kambuh lagi kan kalau marah?” jawab Buna memarahi Buna.
Ya, Baba memang baru sembuh dari demam dan sakit setelah 3 hari lalu Baba keluar kota, Baba sekarang sudah tidak boleh begadang.
Dimarahi Buna tiba, tiba baba berbalik, duduk ke sofa dan meletakan laptopnyan sedikit kasar sampai bunyi.
“Banting aja laptopnya sekalian Ba, nanti kalau datanya ilang nggak usah marah tapi ya!” sindir Buna tidak suka.
Dikatai begitu Baba sungguhan marah, tanganya tergerak menyapu vas bunga di atas meja di depanya.
"Prang!"
Buna sampai kaget mengelus dada dan istighfar.
“Astaghfirulloh, Mas! Apa salah vasnya kok dipecahin gitu?” tanya Buna.
Di luar dugaan Buna, bukanya menjawab, tiba- tiba Baba menunduk memijat keningnya dan Baba terdengar menangis.
Ya. Baba menangis menunduk dan tersedu-sedu, seperti mengeluarkan semua penat yang menyesakkan dadanya.
“Gleg!” Buna yang tadi ingin menertawai Baba dan langsung tercekat diam menggigit bibir bawahnya.
Baba sepertinya sungguh sedih dan ingin didengar.
Buna yang memang ingin bicara dan berbaikan dengan Baba, duduk mendekat.
Pelan- pelan Buna meraih pundak Baba dan mengelusnya lembut. Tapi Baba menampik dan menghindar seperti anak kecil.
“Kamu mau nertawain Mas kan? Mas payah kan? Mas jadi suami nggak jelas. Mas udah gagal jadi ayah dan suami!” ucap Baba tiba- tiba bicara ngelantur.
Buna jadi menarik tanganya dan terdiam. Sepertinya Baba memang benar- benar sedang sakit hati.
“Semua yang Baba lakuin salah!” lanjut Baba lagi. "Baba nggak ada guna! Hughs hugs..," Baba menunduk menyembunyikan muka kalutnya. Baba seperti menyesali sesuatu yang teramat sangat.
“Alya minta maaf, Mas!” ucap Buna kemudian, tidak tega dan bingung juga melihat Baba sekacau ini.
“Kamu selalu benar, untuk apa minta maaf! Anak- anak selalu dengarkan kamu, bukan aku!” ucap Baba lagi.
“Alya, minta maaf karena sudah menentang Mas tadi pagi. Alya tidak bermaksud melawan Mas, atau Nila tidak dengar Mas!” lanjut Buna bicara dengan sangat hati- hati.
“Kalian tidak akan tahu?” ucap Baba lagi.
"Ya, Buna ngerti kok maksud Mas. Tapi?"
"Ngerri apa? Nyatanya apa? Mas cuma khawatirin Nila. Mas mau perbaiki salah Baba. Tetap saja salah!" jawab Baba lagi.
Buna menelan ludahnya berusaha menata kata.
“Coba deh Mas, ingat- ingat. Bagaimana perasaan Nila saat Baba larang dia kuliah, apa salahnya kalau Nila kuliah sih?” tanya Buna pelan
Mendengar pertanyaan Buna, Baba gemas dan langsung menoleh.
“Kamu masih tanya alasanya. Sudah jelas dan pasti, Nila sampai pergi berduaan dengan Rendi, bahkan di kamar berdua, mereka tidak jujur ke kita. Kita tidak tahu apa yang mereka lakukan! Rendi itu laki- laki dewasa,” ucap Baba emosi dan menggebu.
Buna hanya menghela nafasnya menatap suaminya getir, Buna bisa merasakan kesakitan dari sorot mata Baba, tapi menurut Buna tidak seharusnya Baba begitu.
“Kalaupun iya memang kenapa?” tanya Buna malah nyeplos menantang pertanyaan Baba.
Dan kali ini, Baba tercekat.
Sesungguhnya Baba, saat mendengar pernyataan Rendi, Baba juga paham kalau nikah siri, letak cerainya ada di laki- laki, pihak perempuan mau menggugat cerai, harus isbat dulu.
Baba tahu Rendi pasti masih merasa punya hak atas Nila. Dan Baba sebagai laki- laki tau juga isi hati laki- laki. Di situ Baba merasa tidak rela.
Setelah Rendi pernah menyakiti Nila, Baba jadi ingin melindungi Nila. Merasa menyesal menikahkan Nila dan ingin Nila kembali dalam pengawasanya.
"Kok diam?" tanya Buna.
"Baba mau mereka bercerai saja!" jawab Baba.
"Kalau Rendi tidak mau dan Nila mau rujuk gimana?" tanya Buna.
Baba terdiam. Kini Baba menyesal kenapa anaknya dulu dinikahkan secara siri. Nikah siri kan tidak bisa mengajukan gugatan secara tertulis. Keputusan cerai ada di Rendi.
“Alya bukan menentang atau melawan Mas, Alya bukan setuju atau tidak setuju dengan semua pendapat, Mas. Tapi kenyataannya, Mas kan yang mengucap ijab qobul menyerahkan Nila ke mereka. Kita dosa kalau pisahin mereka."
"Bicara dan renungkan baik- baik Ba! Benaar kata Rendi, kalau Rendi publikasikan tentang pernikahan Nila, kita semua salah karena Nila saat itu masih 15 tahun. Itu memang kesepakatan kita! Mamah kan sekarang memang sensitif, Rendi tidak berniat cerai,” lanjut Buna.
"Mas takut," jawab Baba kemudian
Buna pun mengernyit.
__ADS_1
"Takut apa?"
"Baba takut Nila tiba- tiba hamil,"