Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Perang


__ADS_3

Nila tidak mengerti mau Buna. Di pikiran Nila seharusnya Buna kan juga istri, Buna harusnya tahu bagaimana perasaan Nila, betapa Nila khawatir dan rindu pada suaminya.


Nila menahan sesak di dada yang penuh kerinduan pada suaminya. Tapi kenapa Buna menahan Nila. Iya dan Iyu rupanya sedang ikut kemah acara pesantren kilat sebagai kegiatan tengah semester. Abang- abangnya kenapa juga tak kunjung pulang.


Oma juga menghabiskan waktunya di yayasanya. Hanya Vio uang menemaninya, tapi Vio kan tidak tahu apapun. Vio juga tak terlalu dekat dengan Nila karena Nila di pesantren, baru akrab, Nila sudah ikut Rendi. Alhasil Nila dicueki Vio.


Nila mau meminjam ponsel maid Vio, tapi Mbak Ninu kan nggak punya kontak teman- teman Nila.


Nila akhirnya murung sendiri di taman depan rumah Baba. Walau seumur hidupnya tak pernah marah ke Buna. Entah kenapa hari ini Nila kesal sekali ke Buna. Nila ingin ketemu Rendi suaminya. Nila ingin keluar, Nila mau tahu kabar suaminya kenapa malah dikurung bahkan pagar rumah ditutup semua supir libur dan kunci juga disembunyikan.


Nila jadi mendiamkan Buna, Nila menyendiri. Nila pun menunggu Baba. Sebagaimana Buna merayu, Nila selalu merengek.


"Nila mau ketemu Mas Rendi, Bun. Nila mau tahu kabar Mas Rendi!" jawab Nila kekeh.


"Iya. Nanti dikabari!"


"Nanti kapan? Nila mau tahu sekarang!"


"Sabar Nak!"


"Buna!" pekik Nila saking tidak tahanya, sampai matanya berkaca- kaca.


"Istighfar Nila. Kok kamu jadi begini?"


"Buna. Nila itu istri Mas Rendi. Mas Rendi itu suami Nila. Nila mau tahu kabar Mas Rendi. Nila mau temui dia!" jawab Nila mulai terisak.


Sebenarnya Buna juga gelagapan dan merasa sakit melihat putrinya tersiksa dengan rindu yang menyesakkan. Tapi Buna lebih tidak siap jika Nila keluar lalu diburu wartawan, mendapat cacian, ya perempuan selingkuh, bocil puber dini, mahasiswi keganjenan dan lain sebagainya. Pihak Laksana dan Buna Melly ternyata punya team yang sangat jahat membuat narasi palsu tentang Nila dan Rendi.


"Buna tahu Nak. Buna ngerti. Tapi Baba minta. Kamu tenangin diri dulu. Istirahatlah di rumah. Kamu harus sehat dulu. Kamu kan baru kecelakaan. Baba sedang bantu suamimu. Tenang dulu!" jawab Buna terus merayu Nila.


"Buna. Nila sehat. Nila baik- baik aja. Buna nyuruh aku tenang? Tapi kalau begini bukanya tenang Bun." sahut Nila menyanggah Bunanya.


"Lagian kan rumah Nila bukan di sini lagi!" lirih Nila mengimbuhi, Nila berucap dengan pelan karena Nila tahu itu akan membuat Bunanya sakit. Tapi di pikiran Nila memang itu kenyataanya. Sejak ijab qobul Baba ikrarkan beberapa tahun lalu, entah menyesal atau tidak Baba. Entah saat itu keputusan benar atau salah, tapi sejak saat itu Nila tahu, keluarga suaminya lebih berhak atas dirinya.


Kali ini Buna benar- benar tercekat. Ya, perkataan Nila memang melukai hati Buna. Tapi Buna sadar betul, sejak awal mendengar keputusan Baba mau menjodohkan Nila, hati kecil Buna sudah mengatakan, itu keputusan gegabah, salah, tidak tepat dan terkesan jahat untuk Nila yang saat itu baru lulus SMP.


Buna juga sudah menebak akan banyak polemik di kemudian hari dan itu pasti tidak mudah. Nila kan saat itu bau kencur, masih idealis, dia juga sedang puber pertama. Nila pasti akan iya- iya aja. Apalagi jika dibumbuhi kata- kata berbakti dan bahagiakan Babanya. Padahal Buna sadar betul pikiran orang akan berkembang. Dan sekarang semua sudah terlewati, Buna tidak boleh sakit hati, apa yang menimpa Nila juga kesalahanya dan sudah konsekuensinya melepas putrinya menikah di usia dini.


"Maafkan Buna. Buna hanya tidak ingin kamu terluka. Terserah kamu mau apa. Tanyakan saja pada Babamu. Kamu bisa tunggu Babamu dan katakan semua yang kamu ingin padanya!" ucap Buna akhirnya.


Buna rasanya sudah serba salah dan bingung.

__ADS_1


"Kalau gitu pinjam ponsel Buna buat telepon Baba!" ucap Nila kemudian.


Seketika itu Buna gelagapan. Isi chat Buna dan suaminya kan Buna pusing, Nila bukan anak SMP lagi yang bisa dikurung. Buna sudah bingung kasih penjelasan ke Nila. Jawaban Baba malah semakin menperketat aturan, kalau Nila sampai pergi dari rumah, Baba akan marah.


"Sebentar lagi Baba mu akan pulang tunggu saja!" jawab Buna tidak mau Nila baca chattinganya.


"Bun. Pinjam sebentar!" jawab Nila semakin merasa orang tuanya aneh.


"Ya bentar!" jawab Buna terdesak,.Buna kemudian mencari akal mengambilkan ponsel lain.


Nila langsung menghubungi Baba. Sayangnya Baba tidak menjawab panggilan Nila. Nila jadi kesal.


"Sudah! Tunggu saja!" tutur Buna lega.


Nila pun menunggu Baba di ruang tamu. Karena Nila juga masih minum obat, Nila menunggu Baba hingga larut malam dan ketiduran.


Buna pun hanya menelan ludahnya menatap getir putrinya


"Perjodohan Baba memang berhasil, Nak. Cintamu untuk suaminu begitu besar. Tapi kenapa jalanmu sesulit ini? Buna tidak tega melihat kamu begini? Tapi Buna juga tidak tahu harus bagaimana?" batin Buna sedih.


Buna menyelimuti Nila dan membiarkan Nila tidur di sofa.


Buna juga ikut risau sebab Baba belum pulang.


Walau belum mengiyakan pendapat Adip, namun rupanya Baba diam bergerak. Baba meeting di kantornya bersama timnya untuk mencari info semua keterkaitan perusahaan Baba dengan perusahaan Laksana.


Walau Baba marah dan inginya ngomel ke Rendi, tapi Baba juga terus berfikir upaya menyelamatkan Rendi.


Walau tak ke rumah sakit seperti yang dilakukan Fahri dan Syamsul, Baba mencari tahu semua tentang Farel.


Ya. Saat ke rumah sakit, Fahri dan Syamsul memang langsung ditolak. Keluarga Farel ternyata juga sudah mengantisipasi. Fahri dan Syamsul yang bukan orang Ibukota, juga keseharianya tahunya hanya mengaji, berdagang dari hasil tani dan ternak juga mengajar, tak tahu banyak tentang prosedur dan polisi.


"Perlu waktu, Tuan!" ucap Ahli IT nya Baba.


Baba melirik jam dinding di ruanganya. Ya tak ternyata sudah jam 11 malam. Pegawai Baba juga terlihat sudah letih dan menguap.


"Oke. Kita lanjutkan besok. Kita memang masih butuh banyak energi. Sepertinya kita sedang berperang. Tapi siapa musuh kita sebenarnya. Ini bukan hanya tentang Rendi. Tapi aku yakin Laksana tidak sendirian. Dia bahkan bisa menggerakan media dalam waktu singkat berani menyenggol jabatan Gery dan nama Gunawijaya. Aku tahu dia hanya tikus yang suka menjilat dan merayap. Siapa yang bantu dia?" ucap Baba setelah membaca banyak time line tentang anak dan menantunya. Baba merasa ini ada ikut campur orang beruang. Bukan alami viral karena menarik dibaca.


"Kita pasti akan menemukanya, Tuan!" jawab Anak buah Baba.


Baba mengangguk lalu mengemasi barangnya dan pulang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Buna menyambut Baba dengan wajah lesu.


"Belum tidur? Sayang?" tanya Baba kaget.


Buna belum menjawab, Buna meraih tangan Baba dan menciumnya lalu meminta jasnya agar Buna bawa.


"Semua baik- baik saja kan?" tanya Baba ke Buna.


"Lihatlah anakmu Ba?" jawab Buna lalu mengarahkan pandangan Baba ke Nila.


Baba langsung menoleh ke Nila yang tampak melongo tidur di atas sofa.


"Kok dia tidur di sini?"


"Dia menunggumu. Dia merindukan suaminya. Dia kekeh ingin menemui Rendi!" ucap Buna memberitahu.


"Banyak orang Laksana yang bisa membahayakan Nila." jawab Baba.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ba? Nila kan punya penjaga?" ucap Buna sebenarnya juga berpihak pada Nila dan mengerti mau Nila.


Baba tidak menjawab dan mengajak Buna duduk. Setelah sama- sama duduk, Baba pun menceritakan semua gundahnya.


"Rendi berat Bun. Dia terancam penjara lama. Dia terbukti melakukan tindak kekerasan ke mahasiswanya. Kasian Nila!" ucap Baba lesu.


Buna menelan ludahnya ikut sedih.


"Tapi kan katanya Rendi hanya membela Nila. Anak itu bawa barang haram!" jawab Buna.


"Di depan hukum dan polisi yang bermain itu bukti dan saksi. Luka- luka Nila sudah sembuh. Saksi itu paling nggak ada dua alat bukti. Orangnya Laksana hanya punya foto saat Rendi memukul Farel tidak ada foto bagaimana Farel memukul dan berkelahi dengan Nila." jawab Tuan Ardi lagi.


Buna semakin lemah mendengarnya, walau hanya menantu, Rendi sudah jadi anak Buna.


"Apa kata pengacara? Apa nggak ada cara dan jalan agar hukumanya diringankan atau di bebaskan?"


"Rendi tidak mau membuat konferensi pers ataupun minta maaf!" ulang Baba kesal jika ingat itu. Kenapa menantunya kakunya melebihi dirinya.


"Hhh.. Lalu kita mau bagaimana? Nila gimana?"


"Kita sedang berperang. Penyebar hoak bahkan berani membawa nama Gunawijaya dan Jabatan Gerry. Tidak banyak orang tahu identitas Rendi dan Nila jika tidak ada yang menyebarkanya!" jawab Baba lagi


"Mau sampai kapan kita batasi Nila. Nila bukan anak kecil lagi, Mas!" sahut Buna lagi.

__ADS_1


Baba memijit keningnya bingung mau bagaimana jelasinya. Hati Baba masih sangat khawatir dan menganggap Nila seperti Nila 3 tahun lalu, yang boleh dinikahi dan dimiliki tapi Baba minta dirawat dan dididik saja, karena menurut Baba Nila masih kecil, tahunya harusnya cukup kuliah dan senang- senang, bukan dapat masalah.


__ADS_2