Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Jadi Operator


__ADS_3

“Masuk…,” ucap Rendi ke mahasiswanya.


Dari rumah Adip, Rendi langsung menuju ke universitas tempatnya bekerja, dua mahasiswa yang sedang menyusun skripsi sudah menunggu untuk bimbingan.


Rendi datang membawa sebungkus bubur ayam yang dia beli di pedagang asongan. Begitu tiba, dia memang meminta mahasiswanya menunggu dia sarapan sebentar, begitu selesai sarapan dia pun mempersilahkan kedua mahasiswanya masuk.


Satu mahasiswa melakukan bimbingan sekitar 30an menit. Lumayan banyak yang Rendi periksa dan baca. Walau pelit Nilai tapi Rendi juga ingin mahasiswa bimbinganya lulus cepat. Rendi menghargai umur dan waktu, apalagi setelah S1 mereka masih banyak tahap.


Mahasiswa satu selesai, Rendi pun mempersilahkahkan satu mahasiswa lain yang kebetulan perempuan.


“Makasih, Dok,” ucap mahasiswi itu ke Rendi.


“Duduk,” ucap Rendi mempersilahkan dengan datar.


Mahasiswi itu pun duduk, Rendi pun menunggu hasil pekerjaan muridnya yang hendak dia koreksi. Sayangnya ada yang berbeda, mahasiswa itu bukan menyodorkan skripsinya tapi sekotak makanan.


Rendi pun langsung mengernyit.


“Apa ini?” tanya Rendi tanpa menyentuh.


Mahasiswa Rendi kali ini rupanya siswi yang sudah masuk semester 9. Dia terlambat lulus, seharusnya dia sudah koas, tapi Rendi juga tidak tahu selalu ada eror dan kesalahan di skripsinya.


Rendi padahal sudah sangat sering memarahinya, tapi dia terlihat santai padahal teman sekelasnya sudah pada koas.


“Maaf, Dok, saya sering lihat Dokter Rendi makan di kaki lima dekat lampu merah, saya buatin ayam srundeng untuk Dokter,” jawab Mahasiswa Rendi yang bernama Livi malah memberikan makanan.


“Ehm…” Rendi langsung berdehem menatap Livy sejenak lalu membuang pandanganya lagi dengan mimik kesal.


“Apa kamu sedang menyogokku? Bawa makananmu, bimbingan hari ini cancel, buat jadwal ulang!” ucap Rendi tegas ke Livi langsung menolak.


“Nggak Dok, sungguh, saya tidak sedang menyogok, Dokter Rendi nggak apa- apa kita nggak jadi bimbingan hari ini, tapi ini saya buat tulus buat Dokter Rendi! Tolong terima,” jawab Livy dengan percaya diri.


“Gleg!” Rendi menelan ludahnya, gelagat Livi agak berbeda dari mahasiswa lainya, bahkan diaa dimarahi tetap beraani menjawab.


“Please, Dok, terima ya Dok, makan aja, dokter belum punya istri kan, semoga ini membantu? Nggak apa- apa saya pulang, saya nggak usah bimbingan hari ini, kapan dokter punya waktu saya mau bimbingan dimana saja,” ucap Livi lagi sangat percaya diri.


Rendi semakin terbelalak, Rendi pun segera menangkap maksud tidak baik dari Livi.


“Keluar dari ruanganku, bawa makananmu!” jawab Rendi tegas.


Dibentak seperti itu Livi malah tersenyum ke Rendi.


“Keluar!” bentak Rendi lagi merasa jiijik.


Livi pun mengangguk bangun dan keluar tapi makananya tidak dibawa wajahnya juga taka da raut menyesal atau takut.


“Haish… mengerikan sekali?” gumam Rendi mengusap wajahnya kasar.


Raasanya sangat tidak nyaman dirayu oleh mahasiswinya.


Rendi kemudian memeriksa biodaata Livi, iya di akun intagram Rendi ternyata selaalu ada like dari Livi. “Wah harus tuker dosen ini,” gumam Rendi kritis dia harus mundur jadi pembimbing Livi.


“Begitu Baba luluh sepertinya aku harus cepat beritahu statusku,” gumamnya kini Rendi benar- benar mengerti pentingnya status pernikahan untuk dirinya.


"Oh ya Tuhan, menyedihkan sekali nasibku. Astaghfirulloh bantu aku buat Baba memaafkanku?"


Rendi melirik jam, sebentar lagi waktunya mengajar di kelas Nila.


Rendi pun lupa mengurus ayam srundengnya, Rendi langsung menyambar i-pad nya dan berjalan cepat ke kelas Nila.


Di kelas Nila, mahasiswa Rendi pun sudah tertib menunggu, begitu Rendi masuk mahasiswa secara mandiri langsung memberi salam hormat dan menyiapkan perkuliahan.


Akan tetapi sejenak mata Rendi terhenti di bangku kosong samping Dita, juga di bangku sebelah belakang. Dua mahasiswa Rendi absen. Nila dan Farel sepertinya tidak berangkat.


Rendi pun menelan ludahnya berkedip sesaat. “Apa dia baik- baik saja, semoga Baba tidak seperti yang aku pikirkan, tidak Baba pasti lebih bijak,” gumam Rendi menghela nafasnya sejenak. Rendi jadi khawatir dan merasa bersalah.


Dalam perjalanan ke kampus, di otak Rendi yang mengkhawatirkan Nila memang muncull berbagai spekulasi. Apa yang akan dihadapi gadis cantiknya, bagaimana mereka ke depanya. Apa yang harus Rendi lakukan.


Di otak Rendi sempat terbersit Nila dilarang kuliah atau pindah. Itu memang sangat mungkin dilakukan seorang Baba.


“Ehm…,” Rendi pun segera membuang pikiran buruknya, laki- laki haru positif thingking dan semangat.


Rendi kemudian melebarkan senyumnya seperti biasa mengabsen mahasiswanya dan tetap professional, memulai kegiatan perkuliahan.


****


Flashback di tempat lain.


“Hooh… astaghfirulloh Baba..,”


Buna langsung beristighfar, rasanya ingin menjerit ke Baba. Buna tidak bisa menahan emosi lagi mendengar penuturan anak gadisenya yang berderai air mata merasa tersisihkan oleh Ayahnya. Buna tersayat oleh pikiran Nila yang sampai salah mengira.


“Abah? Siapa Abah?” Sementara Baba Ardi menelan ludahnya tersentak dan tersinggung ada figure lain untuk anak gadisnya.


“Baba cukup! Nila! Sayang kamu jangan berfikir buruk begitu. Baba dan Buna sangat sayang ke kamu. Buna setiap saat merindukanmu Nak. Sudah. Sekarang, bangun mandi dan sana kuliah!” ucap Buna kini tegas.


“Bun!” Baba pun mengernyit menyela tidak terima.


Tapi Buna bersikap abai ke Baba dan menoleh ke Nila, “Nila cepat, bangun, mandi! Kuliah! Ya” tutur Buna lagi berani melawan Baba.


Nila mengangguk segera menyeka air matanya dan bangun meninggalkan Baba dan Bunanya.


Dengan nafas memburu, mulut yang terkatup rapat dan mata mencekung menahan amarah Buna menatap Baba.

__ADS_1


Baba jadi tergagap seperti tersudut. Sebenarnya, segalak- galaknya Baba, hati Baba juga tergetar kalau Buna dan Nila yang biasanya selalu lembut dan hangat sampai menangis melawanya. Baba kan juga tidak bisa tanpa Buna.


“Buna lawan Baba? Buna berani durhaka ke Baba karena Rendi?” tanya Baba terpojok lalu menyalahkan Buna.


“Istighfar, Ba, Istighfar!” ucap Buna sedikit keras


"Buna kok ngomong sama Baba tinggi begini. Aku suamimu lho Bun!" jawab Baba tidak terima.


"Ba...," jawab Buna emosi hendak marah tapi Buna terhenti ada langkah anak kecil dengan sepatu nyiit nyiitnya terdengar mendekat.


Baba tercekat dan mereka berdua kini terdiam sesaat saling pandang dan saling tegang, meredam emosi. Tidak berselang lama suara merdu celotehan Vio terdengar.


“Mommiii mommii adddi aabba .,” panggil Vio ke Baba dan Buna membuyarkan ketegangan Baba dan Buna.


Vio si buah hati kesayangan Baba memang beda sendiri memanggil Baba Bunanya, entah siapa yang ajari, Vio lebih suka panggil Baba Buna Mommy dan Daddy Baba.


Baba dan Buna yang sedang marah saling berseteru, keduanya langsung menelan ludah, mengerjapkan mata dan membuyarkan emosiny. Mau tidak mau, pada buah hati terkecil yang usianya belum genap 3 tahun mereka harus tersenyum.


“Morning Uung cantiknya Baba, came here…please..,” Baba yang jengkel ke Buna langsung mengulurkan tangan ke Uuung mengalihkan perhatian agar bisa mengacuhkan Buna.


Buna yang masih sangat dongkol ke Baba hanya bisa memaksa senyum masam ke Vio.


Vio si bungsu yang gembul pun berlari dengan tubuh gemoynya menghambur ke Baba.


Baba langsung menyambutnya, membawa Vio ke pangkuanya.


"Anak Daddy sudah wangi? Sini Daddy cium?" ucap Baba membercandai Vio menciumi Vio dan Vio langsunh tertawa kegelian. Buna dicuekin oleh mereka.


Buna hanya menatap getir ke suami dan anaknya ini. Baba terlihat sangat sayang ke Vio tapi kenapa Baba selalu posesif dan otoriter baik ke Jingga dulu dan ke Nila sekarang. Apa ke Vio kelak juga begitu.


Seketika itu Buna ingat, usia Baba sekarang sudah kepala 5, apa Baba dan Buna masih diberi kesempatan mendampingi Vio kelak.


“Ikang asih akan ikaan..,” ucap Vio sudah sangat ceriwis ajak Babanya kasih makan ikan. Kebiasan Baba dan Vio sebelum Baba bekerja atau di hari libur memang memberi makan ikan koi peliharaan Baba.


“Oh oke, anak Daddy mau kasih makan ikan?”


“Iyah…,” jawab Vio semangat dengan suaranya yang menggemaskan.


“Oke. Lets go!” jawab Baba mendadak ceria.


Akan tetapi Baba menggendong Vio bangun tanpa mengajak Buna atau pamit Buna, menoleh pun tidak. Baba masih mendiamkan Buna.


Buna pun terima..Buna memilih diam, dengan kepalanya berkecamuk sendiri.


Setelah Baba dan Vio menghilang dari pandangan Buna, menuju ke kolam ikan di taman luar, Buna menyandarkan kepalanya di sofa. Tubuh Buna yang menua juga sudah melahirkan tujuh anak membuatnya kini lebih lemah, kepalanya terasa pening saat tegangan tinggi begini.


Buna kemudian memijit kepalanya sendiri dan melepas hijabnya sembari berfikir. Buna sebenarnya tahu isi hati Baba. Tapi Buna tidak suka cara Baba.


“Aku harus bagaimana? Sepertinya Nila masih menyukai Rendi?"


Mungkin Mas Ardi juga terluka dan bimbang, masa kedua anak- anakku harus mengalami nasib yang sama denganku? Tapi kan ini semua sudah terjadi, Mas Ardi sendiri yang sudah melepas Nila sejak 3 tahun lalu, dia juga tidak mendengarkan ku saat itu!"


"Tapi. Sekarang? Jika benar cerita Rendi, aku akan berdosa memisahkan mereka? Mereka masih suami istri. Kenapa Mas Ardi selalu memutuskan sesuatu dengan emosi sih? Kan Mas Rendi sendiri yang dulu ngotot?” gumam Buna pusing.


Buna menikah muda meski Buna sudah lulus dan bergaji pengabdian, tapi Buna belum merasakan dunia kerja yang sesungguhnya. Jingga sendiri menikah di saat statusnya mahasiswa dan Nila malah sejak remaja.


Memang sih, walau tidak praktek di rumah sakit Buna masih aktif di beberapa lembaga juga sering jadi pembicara. Tapi masih atas nama Gunawijaya.


Saat kemarin mendengar keluhan dari sisi Nila, Buna memang mendukung pisah dan lega.


Buna tidak jadi merasa bersalah menikahkan Nila yang masih belia.


Tapi sekarang saat melihat apa yang terjadi dengan Nila dan Rendi, saat mendengar cerita Rendi, Buna jadi bimbang sendiri. Sepertinya jahat jika mereka memaksa Rendi pisah.


“Buna… Nila pamit,” ucap Nila mengagetkan Buna yang sedang melamun.


Nila tidak berdandan, hanya mandi cepat bahkan menyambar gamis dan hijab instan seadanya, meski begitu karena memang Nila cantik, ya Nila tetap manis.


Nila mengulurkan tanganya hendak bersalaman, Buna pun tersenyum menyambut.


“Semangat anak Buna ya! Buang semua pikiran yang nggak jelas kamu. Kami semua sayang kamu. Everything will be oke? Oke?" tutur Buna lembut ke Nila.


Nila pun mengangguk manis dengan senyumnya yang lembut.


"Berangkatlah! Belajarlah dengan penuh suka cita, jangan pikirkan masalah Baba dan Rendi, Buna akan bicara dengan Baba lagi, Baba hanya sedang emosi jangan dimasukan ke hati!” tutur Buna lagi. Ucapan Buna hampir mirip dengan perkataan Rendi saat Nila pamit. Mereka semua akan bantu ajak Baba bicara agar tidak menyala- nyala emosinya.


“Iya Bun, Nila baik- baik saja. Baba dimana? Nila berangkat sama siapa?” tanya Nila lagi.


“Baba jangan diganggu, dia sedang bersama Vio, biar moodnya bagus dulu, udah sana berangkat, nggak usah takut. Pak Iman udah ada kok!” tutur Buna lagi.


Nila pun mengangguk, ikut kata Buna. Setelah mencium tamgan dengan sedikit berlari, Nila mengajak Pak Iman berangkat.


“Pak agak cepat ya…, udah telat soalnya,” ucap Nila.


“Iya Non!” jawab Pak Iman.


Pak Iman pun mengikuti permintaan Nonanya, melajukan mobil lebih kencang dari biaanya.


Kebetulan Nila berangkat lebih siang sehingga jalanan mulai sepi. Pak Iman pun bisa mengikuti mau Nila. Mereka pun sampai lebih cepat.


Begitu sampai kampus Nila pun membuka mobilnya cepat dan berlari ke kelas waktunya sangat mepet.


“HHh hah…,” dengan ngos- ngosan Nila memaksa kakinya berhenti di depan pintu kelas yang hening.

__ADS_1


“Gleg!”


Rendi yang sedang di depan memegang pointer dan ceramah langsung terdiam menoleh ke Nila. Teman- teman Nila yang tadinya focus ke depan juga langsung menoleh ke Nila.


Sesaat Nila dan Rendi saling tatap, ada rasa bahagia dan lega datang di hati Rendi, dia pun memberikan tatapan penuh sayang. Sementara Nila sorotnya masih sendu, menyimpan banyak ke khawatiran, tapi itu tidak berlangsung lama hanya sekian detik.


“Ehm..,” keduanya kemudian berdehem dan sama- sama membuang muka, bersikap professional.


“M- maaf, p m Dok, saya telat,” ucap Nila terbata membuang kecanggungan.


Rendi mengulum lidahnya menahan diri agar tetap professional, tidak ada yang tahu hati Rendi sebenarnya sangat khawatir akan Nila, sedari tadi pun di otaknya terus berputar- putar nama Nila. Sekarang saat Nila datang, Rendi senang ingin menyambut Nila, memeluknya menanyakan kabarnya, tapi semua itu hanya angan belaka. Rendi harus menyimpan semua itu.


“Kamu ingat kan aturan di jam kuliahku?” tanya Rendi datar bersikap biasa seperti pada umumnya ke mahasiswa.


“I- iya Pak!” jawab Nila lirih. Iya Rendi kan punya aturan main saat kuliah. Bahkan Nila sempat usul.


Nila pun langsung murung, sorot mata Nila menyiratkan kesedihan dan marah, harusnya kan Rendi tahu apa masalahnya, semua karenanya. Kenapa harus ada aturan yang menyebalkan segala. Tidak bisakah duduk saja. Niat Nila kan hanya ingin belajar.


Rendi kemudian mengacuhkan Nila dan menatap ke teman- teman Nila.


“Dia yang waktu itu usul kan, kalau telat tetap diijinkan masuk kelas? Tali diberihukuman?” tanya Rendi lagi


Nila pun hanya menelan ludahnya dan mengeratkan rahangnya, apa Rendi lupa kalau mereka sedang menghadapi masalah besar, kenapa sok- sokan sekali bahas nggak penting.


“Iya Pak!” jawab Nila.


“Jadi kamu tanya karena kamu sudah menyiapkan diri untuk telat? Bagus sekali attitude mu. Bagaimana kamu bisa maju kalau telat saja sudah direncanakan?” tanya Rendi lagi menjengkelkan sekali bagi Nila.


Padahal Rendi hanya ingin menatap Nila berdiri di depanya lebih lama.


“Hhh…,” Nila hanya menghela nafasnya, rasanya sangat dongkol. "Maaf Pak. Saya.. saya tidak seperti itu!" jawab Nila terbata menahan ingin menangis.


“Gimna teman- teman? Coba cek di wa grup, apa temanmu ini memberi kabar kenapa terlambat? Boleh nggak masuk kelas? Gimana kesepakatan kemarin? Aku bukan dosen yang galak ya. Aku hanya ingin kalian punya komitmen dan disiplin!” tanya Rendi lagi.


Nila pun menundukan wajahnya benar- benar tidak tahan ingin menangis. Rendi menyebalkan sekali, apa Rendi tidak tahu, gara- gara dia, untuk bisa berangkat saja Nila harus bertengkar dengan orang tuanya.


Teman- teman Nila melihat ponselnya, ternyata tidak ada Nila mengirim pesan ijin telat, beberapa teman kemudian menjawab.


“Tidak ada…,”


“Berarti gimana sesuai kesepakatan? Boleh masuk?” tanya Rendi tetap berusaha professional.


“Kalau kesepakatan kemarin, tidak ada ijin, tidak ada alasan jelas dan lebih dari 15 menit, tidak masuk Prof!” jawab teman Nila dengan teganya.


Nila telat 17 menit.


Nila pun semakin lemas mendengarnya, Nila sudah berlarian untuk bisa kuliah. Kalau hasilnya tidak boleh masuk lebih baik tadi berangkay siang sekalian ikut kuliah dosen lain.


“Oke… maaf ya, Mbak Nila, sesuai kesepaakatan kemarin, terlambat lebih dari 15 menit tanpa ada alasan yang tepaat, silahkan menunggu di depan kelas! Kamu tidak diperkenankan ikut kelas sekarang!” ucap Rendi dengan sangat jelas.


Nila yang matanya sedari tadi nanar, akhirnya pun lepas air matanya. Nila sangat sedih, kesal marah. Bagaimana mungkin beralasan di grup kalau dia sedang di sidang bersama Rendi. Atau sekarang Nila menjawab di depan teman- temanya, "Alasanya kamu!"


"I-iya Dok!" jawab Nila lirih semabari menyeka air matanya. Nila tidak melawan lagi, ini memang sudah konsekuensinya telat.


“Maaf Dok,” tiba- tiba Celine angkat tangan saat Nila hendak berbalik.


“Ya!” jawab Rendi cepat.


“Menurut saya, kita ijinkan Nila masuk saja, Nila ikut kuliah tapi dikasih hukuman Pak. Sesuai kesepakatan. Sebenarnya saya lihat dia tadi antri di rumah sakit Permata, iya kan Nila? Mungkin dia punya privasi tentang sakitnya yang nggak ingin dibagi ke kita! Itu sebabnya dia tidak ijin di grup, Nila kan juga terlambat sedikit, Dok,” ucap Celine berbohong membela Nila.


Rendi pun tersenyum kecil, Rendi tahu Celine berbohong entah apa motifnya, hanya Rendi dan Nila kan yang tahu apa sebab Nila telat.


Nila sendiri terhenyak, kenapa Celine rela berbohong menutupi salahnya.


“Iya, Pak! Setuju! Saya yakin Nila telat tidak disengaja. Ijinkan Nila masuk, Pak!” Dita angkat tangan juga.


Selain Dita beberapa teman Nila yang lain ikut angkat tangan, mereka setuju kalau telat diberi tugas saja bukan tidak boleh masuk.


Biasanya, Rendi tegas tetap menolak dan meminta mahasiswa telat untuk.tidak masuk saja. Baginya permintaan anak- anak yang semakin lama semakin longgar dan disalah gunakan


Tapi ini Nila, istrinya sendiri yang sedang ia perjuangkan agar kembali menjadi miliknya. Melihat Nila meneteskan air mata dengan wajah pucat sebenarnya Rendi ingin merengkuh Nila, menyeka air matanya dan menenangkanya. Rendi pun memijat pelipisnya berfikir.


“Saya bersedia diberi tugas apapun, Pak! Tolong ijinkan saya ikut kuliah, saya janji tidak terlaambat lagi,” imbuh Nila ternyata masih memohon agar bisa kuliah wajahnya sangat pucat.


Rendi yang sedari tadi pura- pura semakin tidak kuasa bersandiwara, permintaan anak- anak pun jadi tameng dan alasan yang mendukung hatinya agar tidak membiarkan Nila keluar.


“Baiklah, batas boleh terlambat 1 kali. Nilaimu juga aku kurangi seberapapun nilaimu, maksimal hanya dapet b. Berlaku untuk semuanya. Jika terlambat sekali lagi tidak usah masuk. Langsung ke perpus saja!” Ucap Rendi mengabulkan walau tetap dengan persyaratan.


Nila pun mengangguk lega, lari- larinya tidak sia- sia


"Ya. Pak. Terima Kasih Dok!" jawab Nila. Lalu Nila berniat berjaalan duduk di tempatnya.


“Eh mau kemana kamu?” tanya Rendi menghentikan langkah Nila.


“Duduk Pak!” jawab Nilan menujuk kursi di sebelah Dita.


“Mundur!" ucap Rendi.


Nila jadi mengernyit.


"Pointerku baterainya habis, kamu jadi operator, duduk sana!" ucap Rendi menunjuk kursi di depan dimana ada laptop Rendi.


"Kamu juga harus buat rangkuman kuliahku dan koreksi pekerjaan teman- teman, 15 menit sebelum pulang kita nanti ada post test, jadi perhatikan baik- baik ya!” ucap Rendi memberi perintah.

__ADS_1


"Gleg!" Nila pun menelan ludahnya.


Apa artinya selesai kuliah Nila harus stay dulu mengoreksi pekerjaan teman- teman bersama Rendi?


__ADS_2