Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Nanti kan Ketemu


__ADS_3

"Kamu udah makan siang?" tanya Rendi masih tetap perhatian ke Nila sesampainya


"Belum...tadi sama Dita langsung sholat. Kenapa? Bukanya Mas bilang mau makan siang sama teman- teman Mas?" jawab Nila.


"Iya... tapi sepertinya mereka kurang ajar?" gumam Rendi tersadar.


Nila pun mengernyit. Apa maksud Rendi.


Tapi Rendi tampak memejamkan matanya masih seperti menahan sesuatu lalu membukanya lagi dan mengerjapkan matanya. Untungnya mereka sudah saampai di area parkir. Jadi Nila tidak khawatir membahayakan orang lagi. Nila pun mengira Rendi asal bicara karena pusing.


"Mas pusing banget ya? Mas sedia obat nggak? Minum obat dulu ya," tanya Nila.


"Kayaknya Mas butuh tidur sebentar, Dhek! Coba buka dashboard biasanya mas taruh pct disitu!" ucap Rendi menunjuk dashboard depan tempat duduk Nila


Nila memeriksanya yang ada malah seperangkat alat mandi dan satu pouch pakaian daalam Rendi. Nila jadi menelan ludahnya salah tingkah.


"Tidak ada!" jawab Nila.


Rendi menghela nafas dan memejamkan matanya lagi menyandarkan kepalanya di jok mobil.


Nila pun menatap suami di sampingnya itu penuh kasih. Meski begitu Nila masih terus positif thingking, bersyukur Rendi sakit, mereka sudah berhasil menepi di tempat parkir hotel. Otak Nila pun berputar, kasian Rendi dia harus cari solusi.


"Mas mau tidur di sini? Nanti sakit kepalanya? Diturunin aja joknya ya? Atau mau masuk ke dalam? Teman- teman Mas dimana? Katanya tadi mau ke kamar mandi? Apa kita turun aja. Kita cari minum hangat biar mas segeran gimana!" tutur Nila memberi ide Nila benar- benar khawatir.


Nila kasian kalau Rendi sakit harus diam diri di mobil.


Rendi pun membuka matanya dan menghela nafasnya. Menatap Nila dengan tatapan yang sulit dimengerti, Nila baru mendapatkan tatapan seperti itu.


"Oke!" jawab Rendi setuju.


Nila menelan ludahnya sedikit takut.


Nila yang hanya ikut Rendi patuh. Mereka keluar dan menuju lobi hotel. Sekilas Rendi berjalan biasa saja. Tapi Nila terus memperhatikan Rendi.


Rendi sesekali seperti menggelengkan kepalanya mengusir pusing. Jalanya juga seperti sempoyongan.


"Kalau pusingnya nggak bisa ditahan kita istirahat aja dulu aja Mas! Kita cari tempat istirahat!" tanya Nila khawatir dan sekarang Nila yang mendekat dan meraih tangan Rendi.


Rendi terhenti, lalu menatap Nila dengan sorot mata seperti tadi, bahkan sekarang matanya merah. Rendi menatap Nila sembari menelan ludahnya.


Nila jadi merinding takut. Tapi lebih kuat dari rasa takut. Nila khawatir terhadap suaminya. Nila melawan rasa takut itu dan justru memegang tangan Rendi.


"Mas sepertinya sakit. Apa kita ke rumah sakit aja? Tapi Nila nggak bisa nyetir. Bahaya juga mas begini?" Nila masih berusaha berfikir positif.


"Atau gini aja? Kita pesan kamar. Nila telponkan perawat homecare aja ya?" ucap Nila benar- benar khawatir.


Rendi malah tersenyum tapi senyumnya aneh. Matanya seperti mengerjap sesekali.


"Mas nggak mau buat kamu dalam bahaya. Mas hanya butuh mandi dan tidur sebentar. Kamu jangan dekat- dekat mas dulu ya. Kalau mau jalan- jalan ke sekitar sini juga boleh!" ucap Rendi masih berusaha melindungi Nila. Tapi ucapanya seperti ngelantur.


Nila mengernyit lagi. Dan berfikir apa maksud Rendi. Nila menangkap maksud Rendi, Rendi tidak mau nekad nyetir nanti nabrak orang. Mandi dan tidur kan memang bantu orang lebih fresh. Rendi menyuruh Nila keliling karena Rendi kasian ke Nila bosan. Nila jadi tambah kasian dalam keadaan sakit Rendi masih peduli.


"Nila nggak mau pergi!" jawab Nila dengan tatapan tulusnya.


Tiba- tiba Tangan Rendi terulur meraih pipi Nila membelai pipi Nila. Nila jadi takut Rendi aneh.


"Jangan khawatirin Mas!" ucap Rendi lirih.


Nila menelan ludahnya, jika sebelumnya Nila menepis entah kenapa Nila membeku membiarkan Rendi membelai pipinya pelan padahal mereka sedang berdiri di lorong hotel yang sepi.


"Mas baik- baik saja kan?" tanya Nila menangkap tangan Rendi yang sedang menyentuh pipinya dengan lembut


Rendi mengangguk."Mas Baik!"


Ya. Rendi memang sehat. Maksud Rendi bahaya, bukan bahaya mereka menabrak orang. Rendi meminta Nila pergi, karena tidak mau membuat Nila trauma atau benci. Rendi sedang melawan gejolak di dalam dirinya. Antara kesadaran dan hawa naapsunya.


Rendi tidak menyakiti hati dan perasaan Nila. Merampas sesuatu yang Nila jaga sebelum Nila sendiri merelakanya.


Setiap bersama Nila. Bahkan sejak Rendi masih enggan mengakui, Rendi memang merasakan debaran hangat. Tapi kali ini beda. Rendi tidak bisa menahanya, bahkan rasa itu bercampur pening di kepala. Jantungnya terasa sangat tidak nyaman juga ada rasa panas yang membakar, seperti pacuan obat yang bukan alami.


"Tapi Mas sepertinya tidak baik- baik saja. Ayo cari bangku. Nila pesankan kamar!" ucap Nila membantu Rendi berjalan lalu meminta Rendi duduk di sofa lobi hotel.


Bukan Rendi yang memesan kamar, tapi Nila. Bukan di lantai 4 dekat restoran dimana Vallen dan Axel menunggu. Nila hanya berfikir memberi jeda Rendi istirahat. Nila memesan kamar yang paling dekat dengan resepsionist dan sudah ready.

__ADS_1


Resepsionist pun menawarkan kamar luxury class di lantai satu. Dimana depan kamar itu langsung terhubung dengan kolam renang dan taman.


Walau sebenarnya berfikir agak sayang uang niatnya kan hanya istirahat sebentar, tapi Nila kan memang mampu. Rendi juga pasti punya banyak uang. Nila memesan kamar atas namanya.


"Ini kuncinya!" terima kasih jawab Nila.


Nila pun membawa Rendi cepat masuk.Kamarnya begitu luas indah dan megah. Rendi langsung menghempaskan badanya di atas kasur dan memeluk guling.


Sementara Nila berdiri ragu berdua bersama laki- laki. Meski begitu Nila terus meyakinkan dirinya.


"Aku memaafkan Mas Rendi. Mas Rendi juga bilangkan dia bukan meniadakanku. Tapi dia hanya menjawab kalau dia memang pergi sendiri saja. Mas Rendi suamiku!" batin Nila melangkahkan kakinya maju.


Rendi terlihat tengkurap memeluk bantal erat.


Nila masih polos tidak mengerti dan tidak bisa membaca situasi. Nila hanya sedikit ragu. mengalihkan pandangaya ke sekitar kamar dan memeriksa setiap sudut ruang.


"Kalau Oma sakit, Buna sering memintaku buat susu hangat! Ini ada susu. Aku rebus air saja kali ya?" batin Nila melirik ke Rendi yang tampak tidur tengkurap.


Nila pun menyalakan termos listrik.


"Sayang..." tiba- tiba Rendi memeluk Nila dari belakang dengan eratnya.


"Mas!" pekik Nila kaget dan gelagapan.


Tapi Rendi tidak mengucapkan apapun. Rendi hanya memeluk Nila sangat erat sampai Nila sesak. Dan Nila merasakan betul ada geli dan merasakan benda keras menonjok menekan Nila


"Mas sudah baikan?" tanya Nila tergagap.


Namun tiba- tiba. Dari celana Rendi terdengar suara dering telpon dan getaran telpon yang keras.


"Astaghfirulloh!" Rendi pun tersadar lalu melonggarkan pelukanya. Rendi seperti melawan gejolaknya.


Rendi mengambil ponsel dari sakunya. Melihatnya sejenak, bukanya mengangkat telpon Rendi malah mengumpat.


"Sy...it"


"Ada apa Mas?" tanya Nila memperhatikan.


"Tidak apa- apa. Kamu nggak takut di sini sama mas? Keluarlah. Tamanya bagus?" ucap Rendi masih kasian ke Nila malah mengkode Nila untuk keluar kamar.


"Kamu baik banget?" ucap Rendi lembut.


Tangan Rendi kembali terulur meraih pipi Nila.


"Mas udah baikan?" tanya Nila kemudian.


Bukanya menjawab Rendi tiba- tiba medaratkan bibirnya ke bibir Nila.


Kali ini Rendi bukan hanya mengecupnya, tapi Rendi me ***** bibir kecil Nila. Satu sachet susu coklat hangat yang sudah Nila sobek ujungnya terlepas dari tangan Nila. Nila kaget dan kelabakan menerima perlakuan Rendi yang sedikit brutal.


Tidak bisa dijelaskan rasanya, tubuhnya mendadak bergetar, geli, panas walau yang disentuh bibirnya tapi seperti ada rasa panas menjalar ke semua tubuh Nila.


Nila ingin menolak tapi kenapa tangan Rendi juga ikut bergerak. Bergerak merapatkan tubuh Nila dan menekan kepala Nila agar mereka saling terpaut erat. Sampai bibir Nila dilahap penuh oleh bibir Rendi. Dimainkannya hingga tak ada kesempatan Nila untuk bicara dan bernafas.


Nila juga kembali merasakan ada tonjolan yang tercetak jelas di bagian bawah tubuh Rendi. Tangan Rendi juga tergerak meraba tubuh Nila meraih benda bulat yang masih tertutup hijab. Di situ Nila kaget dan spontan mendorong Rendi menjauh.


"Mas.. jangan!" pekik Nila tersadar dengan ngos- ngosan.


Rendi juga tampak ngos- ngosan melawan gejolaknya sendiri. Walau di dorong Rendi tidak melawan malah mengusap wajahnya kasar.


"Astaghfirullah. maafin Mas!" ucap Rendi lalu Rendi menjauh dari Nila menyambar handuk yang tersedia di tatakan indah dan masuk kamar mandi


Nila memegang dadanya. Ya sekarang mereka berada di dalam kamar yang dingin dan nyaman. Benar kata Ummi dan Buna. Saat laki- laki dan perempuan berduaan yang ketiga adalah setan. Tapi mereka kan sudah menikah.


"Dosa nggak ya aku menolaknya? Aku takut? Aku keluar saja? Tapi Mas Rendi bagaimana? Masa iya aku biarkan dia pergi dalam keadaan sakit?" batin Nila terduduk di atas kasur


Rendi menyalakan kran air keras. Ponsel Rendi kembali berdering. Nila mengintip, ada nama Axel menelpon.


"Ini pasti teman Mas Rendi?" gumam Nila


Tapi Nila tidak mau lancang. Nila tidak berani mengangkatnya. Nila melihat sachet susu coklatnya terjatuh dan tumpah. Nila memilih membersihkanya. Berganti membuat teh saja.


"Orang yang paling tahu sakit dan cara obatin anaknya kan ibu. Apa aku tanya Ummi aja ya?" gumam Nila masih kepikiran Rendi dan tanya Ummi.

__ADS_1


"Ini kamu Nak?" pekik Ummi girang.


"Iya Ummi?"


"Kamu bersama Akbar? Kamu memaafkan kami?" tanya Ummi malah terdengar terisak saking terharunya mendapatkan telepon Nila.


Nila ikutan terharu. Dan dengan polosnya, Nila tanya Ummi menceritakan bagaimana keadaan Rendi dan dimana mereka berada. Tentu saja Ummi yang berada di balik telpon langsung berjingkat dan berharap lebih.


"Jangan pergi! Temani Akbar ya Nak. Buatkan minuman hangat saja. Coba balurkan minyak hangat ke tubuhnya. Nanti dia akan membaik! Kalau kurang tidur dan makan dia begitu. Mungkin masuk angin, dia harus istirahat," jawab Ummi memberitahu Nila.


Nila mengangguk walau Nila tahu tidak ada masuk angin di dunia kedokteran, Nila patuh saja. Pada tubuh yang lelah, memijat dan membalurkan minyak hangat kan memang membantu memperlancar peredaran darah.


"Iya Ummi!" jawab Nila.


Nila yang tadinya hendak keluar kamar kini jadi kembali berfikir. Dia jahat kalau ninggalin Rendi. Nila harus bantu Rendi.


Di hotel juga disiapkan minyak angin aroma terapi. Saat Nila membaca, ponsel Rendi berdering lagi. Kali ini namanya Vallen.


Awalnya Nila mengacuhkanya, tapi orang itu terus menelpon Rendi.


"Mas Rendi mandinya lama sekali?" gumam Nila. Tidak mau berisik Nila mengambil teleponya dan berniat memberitahu Rendi


"Mas...ada telepon!" panggil Nila mengetuk pintu kamar mandi.


*****


"Astaghfirullah apa yang aku lakukan. Obat apa yang Vallen masukan ke jus sirsak tadi? Sampai rasanya begini?" batin Rendi.


Rendi mengguyur tubuhnya berharap hawa panas di dalam dirinya reda. Rendi juga terpaksa membantu adik kecilnya tertidur dengan cara yang tidak seharusnya.


Sebenarnya Rendi ingin sekali menyalurkan ke Nila. Tapi dia menahan sekuat tenaga agar tak menyakiti Nila.


"Kenapa tidak tidur juga sih?" keluh Rendi kesal.


Jantungnya terasa terpacu sesak sangat, benar- benar tidak nyaman. Dia juga sudah mengupayakan agar adik kecilnya tidur tapi malah tambah keras. Air tidak meredakanya. Ya.. obat kimia yang dosisnya tidak tepat memang berbahaya untuk jantung membuat organ di dalam tubuh bekerja tidak semestinya.


"Mas ada telepon!" suara Nila malah terdengar begitu candu untuk Rendi.


Di dalam Rendi gelagapan. Rendi sedang menghindar agar tidak menyakiti Nila tapi suara Nila seperti lambaian yang semakin membuat Rendi gila.


"Mas.. mas baik- baik aja kan? Mandinya jangan kelamaan. Nanti tambah pusing!" ucap Nila lagi.


Rendi tidak menyahut, karena di dalam Rendi kesal dengan dirinya sendiri, sangat pening dan menyebalkan melawan diri sendiri.


Sementara Nila yang tidak dijawab jadi tambah khawatir. Nila menggedor pintunya lagi dengan keras.


"Mas baik- baik aja kan? Mas!" tanya Nila lagi, karena khawatir Nila membuka gagang pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci.


"Haghs!" Nila terbelalak kaget dan segera membalikan badanya cepat.


****


"Hhh...," Buna dan Baba sama- sama menghela nafas dan merebahkan badanya di sofa sesampainya di rumah


"Ada ada saja?" gumam Baba


"Kita tidak tahu asal usul orang tuanya seperti apa kan? Kita udah usaha menyelamatkan hidup mereka membimbing mereka. Ini bukan kuasa kita lagi?" jawab Buna.


"Sayang sekali masih belasan tahun harus meregang nyawa!" jawab Baba.


"Kita sudah bantu mereka sebisa kita!" jawab Buna lagi


"Itu sebabnya Mas sangat takut Nila bertemu laki- laki yang salah! Dan kenapa dulu Baba jodohkan Nila," ucap Baba menunduk.


"Kita udah usaha yang terbaik untuk anak kita!" jawab Buna.


"Apa Rendi sungguh akan mencintai Nila dan tidak menyakitinya?"


"Nanti kan kita ketemu? Alya liat dia serius!" jawab Buna.


"Hhh....,"


Salah satu anak panti asuhan Buna yang menginjakan bangku sekolah SMK, masih 16 tahun, pagi ini meninggal dunia. Anak asuh Buna ditinggalkan ibunya dan Buna temukan mengamen di pinggir jalan 3 tahun lalu. Buna tolong dia dan tawarkan sekolah.

__ADS_1


Karena Buna tidak mendidiknya dari awal, anak ini berkelakuan beda dari anak asuh Buna yang lain. Ternyata dia mempunyai pacar yang tidak bertanggung jawab.


3 hari anak ini tidak pulang ke panti dan subuh tadi ditemukan meninggal terbunuh oleh pacarnya, dan diketahui dia hamil.


__ADS_2