Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Sepatu dari Rendi


__ADS_3

Hari - hari berlalu, 3 hari sudah Rendi tugas di luar. 3 hari pula Nila menempati rumah Rendi sebagai nyonya. Ya, walau Baba meminta Nila pulang ke rumah, Nila meyakinkan Babanya, Nila tidak kesepian dan ingin menjaga marwahnya sebagai istri. Dia tidak ingin ketika dia punya rumah, suaminya pergi malah dia membiarkan rumahnya kosong.


"Hh... Ck. Semoga tidak diundur lagi. Dia sudah berjanji kan?" gumam Nila.


Hari ini Nila ada jam kuliah dari pagi hingga siang.


"Dia tidak bilang pulang jam berapa? Hh... gimana aku bisa jemput? Bukan salahku kan aku tidak menjemputnya?" gumam Nila.


Nila kemudian mandi dan bersiap ke kampus. Khusus hari ini Nila berdandan berbeda dari sebelumnya. Sebenarnya tanpa berdandan pun Nila sudah cantik natural. Alisnya yang tebal alami, bibirnya yang mungil juga kulitnya yang seputih susu. Dan hari Nila memolesnya, menambah sedikit warna bibirnya, juga mempertebal bulu mata lentiknya.


Jika Nila biasanya mengenakan hijab segiempat dan gamis polos berwarna gelap, hari ini Nila kuliah mengenakan gamis peach yang manis dengan pita di lengan. Nila juga mengenakan sepatu terbaiknya.


Nila berjaga, entah jam berapa Rendi suaminya datang, Nila bertemu dengan suami dalam keadaan segar.


"Pagi, Non!" sapa Pak Rahmat ternyata sudah menunggu Nila di depan rumah. Kalau Bu Siti belum, sebab tugas Bu Siti kan memang hanya membersihkan rumah.


"Pagi, Pak!" jawab Nila.


"Mari Non!" tutur Pak Rahmat membukakan pintu mobil.


Sayangnya Nila diam berfikir.


"Pak. Saya naik bus aja!" ucap Nila.


"Lhoh kok gitu Non? Apa saya ada salah?" tanya Pak Rahmat.


"Enggak. Pak Rahmat stand bye aja, takutnya tiba- tiba Mas Rendi telepon sampai?" jawab Nila memikirkan suaminya.


"Ya kan nggak apa- apa Non. Nanti saya jemput Pak Rendi! Tapi sebelumnya saya antar Non,"


"Mas Rendi ditanya jam berapa sampai, malah ketawa katanya mau kasih kejutan Pak!" jawab Nila.


"Ya. Biar Pak Rendi nanti tunggu dulu!" jawab Pak Rahmat.


"Ck. Bapak nggak tahu aja watak Pak Rendi? Saya aja kalau telat kuliah nggak dikasih ampun. Kalau dia nunggu Bapak. Nanti bapak dimarahi dan badmood!" jawab Nila.


"Masa sih, Non. Tapi masa sama istri gitu?" tanya Pak Rahmat.


"Ish. Udah saya naik Bus kota aja!" jawab Nila.


Pak Rahmat pun mengangguk. Sebelum ada Nila sebenarnya Pak Rahmat memang bukan supir, dia sama dengan Bu Siti menjaga rumah membersihkan halaman rumah Rendi, terutama saat Rendi menyelesaikan desertasinya di luar negeri.


Dan Nila, sebenarnya juga masih ada urusan terkait Ibu Farel, Ibu Herlina. Nila pun ingin pergi sendiri.


Seperti janjian Nila ternyata satu bis dengan Dita. Dita dan Nila pun saling tatap dengan wajah berbinar


"Kok kamu naik bus sih?" tanya Dita


"Ya emang kenapa?"


"Ehm... bapakmu kan konglongmer...," ucap Dita dengan polosnya tapi langsung ditutup Nila. Nila tidak ingin samping kanan kirinya dengar.


"Sshh.. Babaku manusia biasa!" bisik Nila.


"Ya oke. Kalaupun bukan Babamu. Suamimu lho... calon rek..," ucap Dita lagi dan langsung dicegah Nila lagi.


"Hemm ya maksudnya. Sebelumnya kamu juga dianter supir terus. Kok sekarang udah jadi nyonya malah naik angkutan umum?" tanya Dita lagi.


"Kamu nggak suka bareng aku apa gimana sih? Salah ya aku naik angkutan?" tanya Nila jadi tersinggung.


"He.. Nggak. Bukan gitu. Aku salut aja sama kamu. Suer. Terus kepo juga kenapa?" jawab Dita.


"Nggak apa- apa pingin aja. Sungguh!" jawab Nila.

__ADS_1


"Btw kamu cantik banget hari ini. Asa ada yang beda. Warna bibirmu juga fresh...," ucap Dita lagi malah merayu.


Nila tersipu dan kemudian mereka jadi bercanda. Tidak lama mereka sampai di kampus. Hari ini ada jadwal mereka kuliah di laboratorium mini hospital. Mereka pun langsung menuju kesana.


Suasana mini hospital saat pagi dan banyak kegiatan sangat ramai dan menyenangkan. Tidak seperti saat Nila dan Rendi janjian sore itu. Saat mereka melewati lorong,ingatan Nila kembali terhubung dengan Farel.


"Apa kabar Farel?" gumam Nila jadi kepikiran.


Sesombong apapun Farel, karena Farellah yang membuat Nila dan Rendi sore itu bersama. Setelah mengenal Ibu Herlina, Nila juga jadi kasian ke Farel. Ya Ibu Herlina banyak bercerita ke Nila.


Nila kemudian melirik ke Celine. Celine sudah tiba lebih dulu bahkan sudah mengenakan pakaian praktikum.


"Celine tahu semuanya. Bahkan tentang aku dan Mas Rendi. Dapat dari siapa foto- foto kita? Apa dia mengikutiku? Lalu untuk apa dia membuatmu mengenal Tante Lina. Kenapa tidak Celine sendiri yang menolong tante Lina?" gumam Nila jadi melamun dan tanpa sengaja Nila menabrak Della dan Sania yang membawa berkas.


"Maaf!" ucap Nila cepat dan langsung memunguti buku Della.


Della dan Sania langsung menggerutu kesal dan menatap Nila sengit.


"Kalau jalan pakai mata dong!" ucap Sania.


"Kalau ngantuk nggak usah kuliah kebanyakan ngejob sih?" sahut Della cepat dan kembali melemparkan tuduhan kasar


Tentu saja Nila dan Dita langsung mengernyit.


"Maksud kamu apa?" tanya Nila bangun sudah berhasil mengumpulkan buku Dita. Kali ini Nila menatap Della berani.


Della sebenarnya sedikit takut melihat ekspresi Nila yang serius. Della jadi ciur mental dan langsung merebut bukunya, lalu pergi


"Main pergi. Jawab! Maksudnya apa kamu Del?" seeu Dita tidak terima mau menghajar Della lagi


Tapi Nila langsung menahan.


"Apa sih Nil? Dia keterlaluan!"


Dita tengak tengok, benar saja ada banyak orang. Dita ingat dia kan sekolah karena beasiswa, Dita tak seperti Sania Della dan yang lain, Dita harus jadi anak baik dan tak bermasalah.


"Ya. Tapi mereka keterlaluan. Bikin mereka kapok! Kasih tahu yang sebenarnya!" tutur Dita.


"Aku malah berfikir lain Dit, kenapa diam?"


"Apa memangnya?"


"Kok mereka sampai tahu sih pas aku bareng suamiku di hotel. Kenapa mereka langsung menuduhku sekeji itu. Kenapa Della nggak tegur aku dan Mas Rendi? Kan kita sama- sama kenal? Padahal Della ada di sana? Kenapa dia malah foto kita juga sebarin ke teman- teman?" tutur Nila berfikir.


Ya, Miki memang kemarin kasih tahu Dita tentang foto yang Della kasih. Tapi Dita sudah janji ke Nila membiarkan Nila yang kasih tahu duluan. Nila juga menyimpan banyak tanya tentang Celine, itu sebabnya Nila pun jadi ingin membiarkan Della


"Iya ya?" jawab Dita


"Biasanya sih orang yang suka ngatain orang sebenarnya dia sedang...," ucap Nila.


Dita langsung mengernyit paham. "Jangan- jangan!"


"Sudah- sudah jangan suudzon!" tutup Nila tidak mau menggunjing.


Mereka pun segera berganti pakaian juga sepatu dan menuju ruang praktik. Walau Nila dan Dita tak menganggap serius, Della, tapi rupanya Della merasa kesal saat Nila yang biasanya diam mendadak berani melawan.


Saat mengikuti kuliah, Nila, Dita dan yang lain mengikuti dengan seriua dan gembira. Hingga tanpa terasa waktu praktek yanh sebenarnya hampir 2 jam lebih terasa cepat.


Mahasiswa pun bergegas ganti keluar.


"Ya Tuhan... Apa ini?" seru Della di tempat menaruh sepatu.


Mahasiswa pun menoleh, ternyata ada tumpahan air keras yang entah itu kenapa ada di situ. Miki dan Sania pun segera mengamankan sepatu kecuali satu sepatu.

__ADS_1


"Duh ya ampun sepatu siapa ini. Kasian banget!" ucap Sania mengambil sepatu yang jadi rusak itu.


"Wah sepatu mahal ini?" ucap Della lagi ternyata paham kalau sepatu Nila adalah sepatu branded dengan harga puluhan juta.


"What? Teman kita punya sepatu branded?" celetuk Sania.


"Ini nyatanya!" jawab Mikki. Lalu teman- temab yang lain ikut memerikaa. Ya sepatu yang dipegang Della ternyata memang mempunyai merek luar negeri dan semua tahu itu branded.


"Punya siapa?" tanya Sania.


"Aku tahu!" jawab Della.


Tepat di saat itu, Nila yang keluar duluan karena membereskan alat datang. Dita juga.


"Siapa lagi yang kamuflase punya kerjaan sampingan. Makanya punya barang- barang branded!" ucap Dita dengan sangat jelas.


Nila dan Dita yang mendengar dan melihat itu langsung menarik sepatunya.


Dan semua jadi tahu itu milik Nila.


"Kamu apain sepatuku?" tanya Nila


Della langsung tersenyum mengejek. Seakan puas menggiring opini teman- temanya berburuk sangka pada Nila.


"Duh. Sepatu kamu rusak. La. Nggak apa- apa ya. Nanti minta lagi sama Om om kamu suruh belikan!" ucap Della.


"Della keterlaluan ya kamu!" seru Dita tidak tahan sementara Nila langsung memeriksa septunya tidak peduli Dita dan Della.


"Keterlaluan apa?" tanya Della sengaja meledek.


"Terus aja kamu fitnah Nila punya om- om. Apa buktinya? Nggak liat Nila pakai hijab? Jangan- jangan kamu lagi yang jadi simpanan Om- Om?" sanggah Dita berani dan Della langsung mengernyit mukanya merah padam.


"Helleh! Aku tuh mahasiswa. Aku pintar. Orang tuaku tuh sanggup biayain aku. Nggak kaya kalian! Dan aku punya bukti teman- teman kalian akan syok kalau tahu kelakuan perempuan sok kalem ini!" jawab Della sangat emosi dan dia nekat memperlihatkan foto Nila di depan semuanya teman temanya.


Teman- teman Nila pun langsung syok dan menoleh ke Nila. Dita malah tertawa geli, ingat dirinya sendiri juga yang awal syok. Sementara Nila tak bergeming dan melirik ke Celine.


Heranya, Celine ada bersama Della, tapi Celine tak komentar apapun. Nila pun semakin yakin, Celin rupanya pandai menepati janji bahkan dia tahu dia dan Rendi sudah menikah tali silent pada Della.


"Kok lo ketawa sih?" tanya Miki spechless melihat respon Nila dan Dita. "Nila itu pandai sandiwara. Dia ada main sama Pak Rendi?" bisik Miki ke Dita.


"Nila itu istrinya Pak Rendi!" jawab Dita.


"What?" pekik semuanya dan sekarang Della langsung pucat gantian teman- temanya menatap Della.


"Kalian nggak percaya? Ini mah foto receh. Mau lihat yang lebih hot nggak? Kasih liat Nila. Biar teman- teman percaya. Nila emang sederhana, meskipun dia orang kaya. Tapi dia nggak flexing kaya kamu. Jangan heran kalau ternyata sepatu Nila jauh lebih mahal dari punyamu!" ucap Dita ke Della dengan berani.


Della langsung terdiam tidak bisa bicara.


Nila pun maju, hendak mengklarifikasi. Sayangnya tiba- tiba ada suara deheman pria datang.


"Ada apa ini? Kok menuhin pintu masuk?" tanya seseorang ternyata mau lewat.


Semua pun menoleh dan seketika itu wajah Nila berbinar. Karena sekarang semua tahu Nila itu istri Rendi, teman- teman Nila pun menyingkir dan memberi jalan hingga Nila dan Rendi bisa saling tatap tanpa hambatan.


"Lhoh kok pada diam?" tanya Rendi dengan tatapan dalam dan tajam melirik ke istrinya, lalu menatap mahasiswanya yang mulutnya langsung tercekat.


"Ehm..." Dita yang gatal ingin melihat suami istri ini mengakui hubunganya langsung berdehem. "Sepatu Nila meleleh Pak. Nggak tahu ada air keras yang terbang ke sini. Nila juga dikatain katanya sepatu mahalnya hasil jadi sugar Baby!" celetuk Dita mengadu.


"Aih?" decak Nila langsung mencebik menggigit bibirnya, kenapa Dita pake acara mengadu.


Spontan Rendi langsung mengernyit maju dan merebut memeriksa sepatu Nila. Lalu menatap mahasiswanya yang berdiri mematung. Lalu menatap istrinya.


Nila langsung menunduk pucat, itu kan sepatu sasrahan dari Rendi.

__ADS_1


__ADS_2