
“Hoooh…,” Nila langsung menghela nafasnya dan tersenyum kecil lalu menoleh ke arah Rendi. “Astaghfirullohal’adziim…,” lirih Nila langsung mengalihkan pandanganya lagi.
“Ehm…,” Rendi yang selama ini berjalan dan melangkah di atas harga diri, setelah merendahkan diri meminta dan malah mendapatkan jawaban singkat namun syarat arti penolakan langsung gelagapan dan mengeratkan rahangnya.
Namun hal itu menjadi cambukan, baginya semakin tidak terima, jika semua tak seperti maunya.
“Kenapa istighfar?” tanya Rendi singkat tidak terima.
“Kenapa memangnya? Istighfar baik kan? Bukankah setiap saat kita memang sebaiknya selalu beristighfar dan memohon ampunan pada Alloh?” jawab Nila lembut dan ngeles.
“Ehm…,” dehem Rendi semakin tersinggung, jawaban Nila memang tidak salah, tapi dari mimic wajah Nila, Rendi bisa membaca istighfar Nila membawa banyak penjelasan, yang Rendi ingin dengar penjabaran dari Nila.
“Ya kamu benar, tapi saat ini bukankah aku sedang bertanya padamu? Bukankah sebaiknya kamu menjawab pertanyaanku? Apa pertanyaanku salah sampai kamu harus beristighfar?” jawab Rendi.
“Apa ada aturan kewajiban, Nila menjawab Pertanyaan Pak Rendi? Bukankah bersedia menjawab atau tidak itu hak saya?” jawab Nila semakin ngeles.
“Gleg!” emosi Rendi semakin terpancing, semua debaran jantung yang sedari tadi meningkat, bak remaja yang menyatakan cinta takut ditolak tapi berharap diterima, kini berubah menjadi gelora yang menggebu, Rendi semakin dibuat gatal malah diajak berdebat.
Rendi terpancing. Kenapa gadis pendiam yang Rendi kira lemah dan akan mengejar cintanya, sekarang begitu menyebalkan, mungkin bisa Rendi klasifikasikan, gadis nakal versi lembut.
Rendi pun hanya bisa merem mas tanganya sendiri dan gemas, kenapa Nila pandai sekali membuatnya emosi dan mati kutu.
“Oke, memang hak kamu, mau jawab atau tidak, aku salah. Tapi aku serius!” jawab Rendi, “Pertanyaanku jelas kan? Kamu tahu kan maksudku?” tanya Rendi malah terbawa emosi dan sedikit meninggi.
Nila pun menundukan kepalanya, dan mengangguk- angguk semakin tersenyum, Rendi semakin terhina dibuatnya.
Sepersekian detik, Nila pun mengangkat wajahnya dan menatap Rendi.
“Sebelum saya menjawab, sebaiknya bapak pikirkan lagi, pertanyaan Pak Rendi yang diajukan ke saya? Ada salah kata atau tidak? Pantas atau tidak bapak melontarkan perkataan itu pada saya! Lalu menurut Bapak, saya harus jawab apa?” jawab Nila.
“Aku sudah sangat jelas kan? Apa yang salah Nila? Ya jawablah pertanyaanku. Aku ingin kita rujuk. Kamu tahu kan seberapa besar dosa dan kejelekan perceraian itu? Dan..,” Ucap Rendi menggebu akan tetapi terpotong Nila.
“Tunggu, Pak!” potong Nila, Rendi pun menghentikan ucapanya.
“Maaf memotong. Jangan dulu bahas tentang dosa bercerai Pak. Pak Rendi tadi bilang, rujuk? Iya kah?”
“Ya… ayo kita rujuk dan kembali menjadi suami istri. Aku akan belajar menjadi suami yang baik untukmu!” jawab Rendi.
__ADS_1
Nila pun semakin melebarkan senyum mendengarnya.
“Saya tidak salah kan mendengarnya? Pak. Setahu saya. Kata rujuk, bukankah itu berarti, kembalinya suatu hubungan yang sudah pecah, tapi memangnya itu berlaku untuk kita? Memang kita pernah punya hubungan apa Pak? Bukankah bapak tidak pernah menganggap apa yang terjadi di antara kita itu ada? Memang Bapak merasa kita mempunyai hubungan? Hubungan yang seperti apa? Bahkan Bapak tidak pernaah menyapaku kan?” jawab Nila panjang dan kali ini sangat lancer dengan penuh penekanan, bahkan kedua bola matanya membulat sempurna tanpa ragu menatap Rendi. Nila sengaja menyindir Rendi.
Rendi langsung gelagapan, dan semakin tertekan dibuatnyaa.
Nila kembali tersenyum melihat Rendi. “Maaf Pak, saran saya, Alangkah lebih baiknya, sebelum kita menyampaikan sesuatu, dipikirkan dulu. Menurut saya, sebelum membicarakan dosa dan kejelekan bercerai, lebih mengerikan seseorang yang mempermainkan arti pernikahan. Pernikahan itu janji yang suci! Itu sebuah jalan ibadah, bukan untuk dipermainkan. Bukankah menjadi dosa besar saat kita membuat ibadah kita seperti lelucon dan bercandaan?” tanya Nila semakin menyudutkan Rendi lagi.
“Aku minta maaf!” jawab Rendi cepat.
“Minta maaf?” jawab Nila malah kembali bertanya.
“Kenapa kamu selalu mengulang pertanyaan setiap apa yang aku katakan?” jawab Rendi jengkel karena Nila selalu lebih pandai membuatnya tersudut.
“Pak Rendi minta maaf atas apa?”
“Maaf, karena aku menyakitimu, maaf karena aku salah memaknai pernikahan kita dan maaf karena aku tidak menjadi suami yang baik selama ini!” jawab Rendi benar- benar sudah menanggalkan semua gengsinya.
“Terima kasih kalau Bapak menyadari itu, Saya maafkan, tapi saya nggak sakit hati kok Pak. Minta maaflah pada Alloh, karena Bapak sendiri yang mengingkari ikrar bapak yang membawa syahadat saat itu!” jawab Nila lagi.
Rendi mengangguk menunduk. “Iya… itulah sebabnya, aku ingin kamu memaafkanku, dan ayo kita perbaiki semuanya lagi!” jawab Rendi lagi.
“Kalau begitu, ayo kita mulai dari awal, kembalilah menjadi istriku, dan kita bisa bawa pernikahan kita lebih legal. Pulanglah ke rumahku!”
“Maaf Pak. Sekali lagi saya bilang, sebelum bapak mengutarakan sesuatu, tolong dipikir dulu Pak? Bapak nggak malu? Ingat ya Pak? Gelas yang sudah pecah, sebagus apapun lemnya tidak akan bisa menjadi seperti semula, nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan bisa menjadi nasi lagi!” jawab Nila panjang, kali ini Nila juga menjawab membawa emosi dan ingin Rendi merasakan sakit.
Nila sengaja banyak berkata, meluapkan semua sakitnya. Menunjukan siapa dirinya, Nila juga menyindir Rendi agar Rendi sadar kesalahanya.
“Tapi meski tidak bisa seperti sedia kala, bukan berarti, pecahan gelas dan bubur nasi tidak bisa digunakan kan? Justru sebaliknya. Aku tidak ingin gelas itu kembali seperti asalnya, atau bubur itu menjadi nasi kembali. Aku ingin menyusun gelas pecah itu menjadi rangkaian, mozaik indah berkilau bak permata, dengan harga yang lebih mahal. Bubur itu juga bisa kita beri gula agar lebih banyak membawa rasa tanpa harus dikembalikan menjadi nasi!” jawab Rendi.
“Itu artinya tidak ada jalan untuk kembali! Pak” jawab Nila langsung mengambil kesimpulan tegas.
“Tapi kita bisa melanjutkan perjalanan tanpa harus berganti, dan membuang apa yang sudah ada kan?” tanya Rendi lagi mendesak.
“Maaf, Pak. Saya nggak ngerti maksud, Bapak! Ijinkan saya pulang, permisi!” jawab Nila sudah terdesak, Nila tidak mulai oleng berhadapan dengan Rendi dan ingin segera pergi.
Akan tetapi Rendi tidak terima, jika apa yang menjadi tujuan dan permasalahanya ngambang. Rendi langsung mencekal tangan Nila agar jangan pergi.
__ADS_1
“Tidak bisakah kamu menjawab pertanyaanku dengan lugas? Kenapa berbelit- belit! Aku rasa kamu sekarang sudah cukup dewasa, bahkan kamu begitu pandai berkata- kata. Kamu tahu maksudku, jawab pertanyaanku dengan jelas!”
“Lalu apa bapak kira saya akan menjadi bocah yang akan mengikutu seperti yang bapak inginkan? Terserah saya dong mau jawab apa? Permisi!” jawab Nila semakin sengaja mempermainkan Rendi dan menghempaskan tangan Rendi keras.
Nila pun berjalan cepat setengah berlari.
“Aih…,” keluh Rendi sangat kesal.
“Dia menolakku? Atau mengujiku?” gumam Rendi kesal. “Kenapa dia jadi sangat belagu sih?” gumam Rendi frustasi sendiri dan mengacak- acak rambutnya.
Fatma dan suaminya yang menjadi pemantau dari jauh setelah melihat Rendi sendiri, mendekat.
“Bang..,” panggil Fatma pelan.
Rendi yang frustasi langsung menoleh lemas dan malu. Fatma dan suaminya mengambil kesimpulan dengan melihat Nila pergi, kalau Nila menolak Rendi
“Abang nggak kejar Nila?” tanya Fatma lirih.
“Aku sudah menahanya dua kali untuk tetap tinggal, tapi dia tetap pergi!” jawab Rendi lesu menatap keluar tanpa menoleh ke adiknya dan adik iparnya yang tampak mesra.
Fatma pun mengangguk.
“Maafin, Fatma ya Bang!” ucap Fatma lagi.
Rendi yang tadinya membuang pandangan langsung menoleh ke Fatma. “Untuk apa kamu minta maaf?”
“Maafin Fatma nggak bisa bantu, Bang Rendi. Fatma cuma bisa bantu, Bang Rendi temukan Nila aja. Fatma harus balik ke Bambu Teduh. Kata orang, kan Alloh tidak akan menyegerakan sesuatu kecuali itu baik untuk Bang Rendi. Mungkin Nila memang bukan terbaik buat Abang. Tapi Bang Rendi jangan terpuruh. Tetap semangat hidup yang bener ya Bang. Fatma selalu doa kok untuk kebahagian Bang Rendi..” ucap Fatma pelan, berusaha menghibur kakaknya yang menurutnya sedang patah.
Fatma dan keluarganya kan sangat khawatir Rendi membujang terus.
“Apaan sih kamu lebai banget! Kedepan kita akan sering bertemu kok!” jawab Rendi enteng.
“Heeh…,” Fatma yang tadinya menegang bahkan bicara pelan dibuat terperanjak dengan jawab Rendi.
“Udah katanya kalian mau pulang? Mau bawa oleh- oleh apa? Yuk siap- siap!” jawab Rendi tersenyum mencairkan suasana.
Fatma semakin bingung dengan perubahan Rendi.
__ADS_1
“Bang Rendi masih belum menyerah sama Nila?”