
“Sit..!! Ngelunjak ya mereka! Awas aja!” gumam seorang di dalam mobil di dekat Rendi dan Nila parkir. Orang itu melihat Nila keluar dari mobil Rendi lalu berjalan mendekat dan memeluk Rendi dari belakang dengan sangat leluasa.
Suasana parkiran tempat Rendi parkir memang lengang, hanya sedikit mobil yang berderet, masih banyak tempat sisa, tapi siapa sangka, satu mobil di sebelah Rendi parkir orangnya masih di dalam dan melihat kemesraan yang Nila lakukan itu.
Tidak peduli dilihat orang atau tidak, tentu saja, didekap Nila dengan begitu erat, walau Nila yang kecil dan mungil terlihat kepayahan memeluk Rendi yang tinggi besar, Rendi menyukainya.
Rendi pun tersenyum, diam sejenak. Rendi diam karena menunggu apa yang hendak Nila katakana. Sayangnya yang Rendi tunggu tak kunjung terdengar, yang ada malah terdengar isakan.
“Haish…,” desis Rendi lirih tau kalau bayi besarnya nangis. Rendi pun sepertinya harus menghentikan aksi diamnya.
“Pagi… Prof mau kemana…,” celetuk Rendi pura- pura menyapa professor di kampusnya, padahal tidak ada.
“Gleg!” tentu saja Nila langsung mengurai pelukanya.
“Hehe..,” Rendi langsung terkekeh menoleh.
”Mana profesornya?” tanya Nila dengan lugunya sembari menyeka air matanya. Suasana masih seperti sebelumnya, sepi hanya ada mobil yang berjajar.
Rendi langsung peka, menangkap tangan Nila lalu tanganya yang bergerak menyeka air mata di pipi Nila.
“Mas bohongin Nila? Nggak ada orang? Mas nyapa siapa?” tanya Nila mengkerucutkan mulutnya kesal. Tapi Rendi tidak peduli, malah terkekeh.
“Mau pesta kenapa nangis terus, hhh?” tanya Rendi sekarang lembut lagi. “Matanya bengkak banget lagi!” ucap Rendi dengan tanpa salahnya pura- pura tidak tahu kalau Nila menangis karenanya.
“Ih..,” tentu saja Nila kesal lalu menabok Rendi. Rendi tambah terkekeh, lalu meraih tangan Nila.
“Kok malah mukul?” tanya Rendi.
Nila masih diam cemberut, sedang dheg- dhegan malah diledek.
“Kessel!”
“Lhah kesel gimana? Kenapa nggak peluk lagi? Kenapa tiba- tiba nangis?” tanya Rendi masih ngeledek.
“Nggak!” jawab Nila yang tadinya mau minta maaf tulus jadi gengsi mau minta maaf. Yang ada malah jengkel, semua mood haru dan nasehat Ummi lenyap, jengkel sangat ke Rendi. Nila pun berniat mengacuhkan Rendi berjalan ke depan, tentu saja, Rendi langsung menangkap tangan Nila agar tinggal.
“Mas minta maaf!” ucap Rendi malah jadinya Rendi yang minta maaf duluan.
“Huh?” pekik Nila malah termangu.
“Mas minta maaf!” ucap Rendi lagi, menatap Nila dalam dan serius.
Tendtu saja, dada Nila mengembang, saat menatapnya serius begitu, Rendi sangat tampan, sikap Rendi yang meminta maaf duluan juga membuat Nila tambah meleleh, dadanya jadi bergetar, dan sendi- sendi nya terasa lemas berganti hawa panas menyelimutinya.
“Kok diam? Maafin nggak?” gurau Rendi lagi.
“Mas nggak marah sama Nila?” tanya Nila akhirnya buka suara.
“Dikit..,” jawab Rendi.
“Jadi bener Mas diam itu marah sama Nila?”
“Nggak juga,”
__ADS_1
“Tadi katanya marah?”
“Kan dikit,”
“Tuh kan marah!”
“Enggak, nggak marah?”
“Gimana sih? Katanya marah dikit? Sekarang bilang nggak marah, tapi diamin Nila!” protes Nila dengan wajah imutnya.
Rendi melihatnya jadi gemas sendiri dan malah kembali terkekeh lalu menyedekapkan tangan sembari memandangi Nila yang sedang cemberut tidak jelas.
“Malah ketawa?” omel Nila lagi.
“Lah emang salah ya, kalau diam? Emang kalau diam itu artinya marah? Terus nggak boleh kalau mas diam?” jawab Rendi.
“Ya nggak!” jawab Nila cepat.
“Kenapa?”
“Nyesek tahu! Didiemin!” jawab Nila lagi spontan sekarang tidka gengsi lagi mengakui, tidak seperti sebelumnya yang mereka saling diam walau saling tatap.
“Oh gitu? Yang sebelumnya diamin Mas siapa emang?” ledek Rendi lagi.
“Iih, bete! Taulah” keluh Nila lagi kesal kalau disudutkan.
“Iyaya sebentar!” ucap Rendi menahan. Karena Nila pergi hanya untuk mengancam, tentu saja ditahan senang. “Dasar anak kecil,” cibir Rendi lirih.
“Mas bilang apa?” tanya Nila.
“Ya!”
“Jadi kamu nangis karena didiemin Mas?” tanya Nila
Nila mengangguk.
“Mas marah, bukan ke kamu, tapi ke diri Mas sendiri!” ucap Rendi.
“Kok gitu?”
“Mas tahu, seharusnya mas nggak boleh egois, melakukan hubungan in tim, tidak boleh hanya satu pihak, Namanya pemer kosa an, harus ada kerelaan kedua belah pihak. Harusnya Mas mengerti kamu, tapi gimana lagi, mas nggak bisa ngerem, kalau deket kamu, makanya Mas keluar dan diemin kamu. Mas marah sama diri mas sendiri!” ucap Rendi menjelaskan.
Nila mengangangguk, menggigit bibir bawahnya senang. Ternyata, suaminya baik sangat, Nila jadi merasa bersalah.
“Nila juga minta maaf ya Mas, seharusnya sebagai istri, Nila memahami keinginan suami. Seharusnya Nila bisa menunaikan kewajiban Nila dan memberi hak Mas, tapi.. tapi Nila ingin kita sama- sama melakukannya dengan hati yang lapang, dengan rileks nyaman dan…,” ucap Nila ragu, rasanya malu sekali membahas merencanakan kikuk kikuk.
“Mas ngerti, tunggu ya!” potong Rendi cepat.
Nila pun mengangguk tersenyum tersipu, benar- benar malu dan geli membayangkan peristiwa itu.
Rendi juga membalas senyum tapi senyumnya penuh arti.
“Jangan nangis lagi ya!”
__ADS_1
“Iyah. Jangan diamin Nila lagi, Jangan galak- galak sama Nila!” tutur Nila lirih.
“Enggak!” jawab Rendi.
“Janji?” jawab Nila selayaknya terhadap temanya menunjukan kelingkingnya meminta Rendi berjanji.
Sayangnya tangan Nila diacuhkan Rendi.
“Sifat Mas emang galak dan suka diem, mas nggak mau janji!” jawab Rendi.
“Ish!” desis Nila manyun kesal sekali diacuhkan.
“Udah ayok masuk kelas. Selesai kelas ikut Mas!” ucap Rendi.
“Siap, Pak Dosen!” jawab Nila.
“Pakai kacamatanya yang benar, biar nggak nular beleknya!” ledek Rendi lagi.
“Ish.. Nila nggak belekan ya!”
“Tapi matamu bengkak, pasti tahunya kamu belekan!” jawab Rendi lagi.
“Yey…”
“Udah. Suruh pj ambil lcd, mas sampai sana udah siap ya!” tutur Rendi lagi.
“Ya!” jawab Nila.
Rendi pun berjalan mendahului Nila.
“Mas tunggu!” panggil Nila menghentikan Rendi.
“Ya!”
“Tentang besok pagi, baiknya kita undang dan umumkan ke teman- teman kelas nggak?” tanya Nila.
Rendi diam sejenak mendengar pertanyaan Nila. Lalu mengusap tengkuknya. Konsep yang kemarin diskusikan Bersama Baba, hanya pencatatan sipil, di rumah pengajian dan foto Bersama, undangan tidak boleh lebih dari 50 orang. Padahal keluarga Rendi, santri dan keluarga Baba sudah banyak.
“Pernikahan itu wajibnya kan memang diumumkan, cepat atau lambat teman- temanmu akan tahu, tapi masalah undangan tanya saja sama Baba. Masih ada tempat nggak? Nyaman nggak kamu? Resepsi kita kan masih nanti!” ucap Rendi memberi tahu.
Nila hanya memajukan bibirnya diam ikut berfikir.
“Emang siapa yang mau kamu undang?” tanya Rendi.
“Nila pikirin dulu deh, kayaknya mereka akan syok juga kalau tahu tiba- tiba. Biar Nila sampaikan baik- baik dulu!” jawab Nila.
Rendi pun mengangguk, lalu pamit ke kantor dulu sebentar. Rendi juga perlu absen.
Nila jadi semangat lagi. Bahkan masalahnya tentang Farel dan Rumah sakit jiwa tersisihkan terganti oleh rasa senang. Sekarang Nila hanya perlu menyusun kata, menyampaikan ke Dita juga yang lain, kalau dirinya dan Pak Rendi itu suami istri.
****
“Ish… menjemukan, sumpah mereka menjijikan!” umpat seorang perempuan sejak tadi rupanya menahan diri untuk tidak keluar dari mobil dan malah memperhatikan dua orang bermanja.
__ADS_1
“Lihat saja bocah bi nal. Aku akan buat kamu menangis!”