
Walau min beberapa jam hendak mempunyai hajat penting dalam hidup, kuliah dan kewajiban adalah hal yang utama. Meski menahan sakit di lengan akibat imunisasi **, Nila masuk ke kelas dan memulai kuliah dosen lain selain Rendi.
Pikiran tentang Hanan memang sedikit mengusiknya, namun tak ingin menjadi hambatan untuknya melanjutkan harinya. Nila pun menghadirkan pikiranya untuk menyimak kuliah.
Celine dan teman- temanya, hari ini tampak serius mengikuti kuliah, dan Dita tetap tidak berangkat hingga Nila menjadi sendiri tanpa teman diskusi. Setelah beberapa waktu berlalu, kuliah selesai.
“Brug..,” saat Nila berjalan melewati pintu kaki Nila tersandung sehingga terjatuh.
“Ups sory…,” ucap seorang teman Nila dengan santainya.
“Hufth…,” Nila yang terjatuh menghela nafas menahan sakit dan berusaha bangun, mulutnya masih terkunci dengan tatapan memicing ke teman yang berdiri di hadapanya.
“Kok liatin? Mau kubantu?” tawar Celine lagi mengulurkan tangan.
Nila tidak menjawab, berdiri tanpa bantuan, menepis tawaran Celine yang Nila tahu itu palsu. Setelah menghela nafas, dengan berani Nila menatap Celine berhadapan.
“Mau kamu apa sih, Cel?” tanya Nila berani.
Bukanya menjawab Celine malah mengernyit dengan menggerakan bibirnya mencebik.
“Maksudku? Ya nggak ada maksud? Maaf kalau karena aku, kamu jatuh!” jawab Celine santai.
Nila pun hanya menelan ludahnya, entahlah kenapa Celin yang begitu cantik ini menyebalkan.
“Oke baiklah. Ohya. Aku mau undang kamu!” ucap Nila spontan, mantap undang Celine, ingin hentikan Celine agar tak mengejeknya lagi perempuan tidak benar.
Sayangnya, Celine tampak seperti tak menanggapi, malah balik tanya Nila.
“Eh. Entar dulu. Gimana alamat yang kemarin aku kasih? Udah ketemu?” tanya Celine tidak menanggapi Undangan Nila.
“Gleg..,” Nila menelan ludahnya lagi, tersentak jadi ingat lagi tentang Rumah sakit jiwa. apa maksud Celine bahas Rumah Sakit Jiwa.
“Satu lagi, dua orang di kelas kita nggak ada, kemana? Ini kampus punya siapa sih?” lanjut Celine lagi.
Tentu saja Nila langsung mengernyit.
“Maksud kamu apa Cel? Kenapa kamu kasih aku alamat rumah sakit Jiwa. Siapa yang di sana? Dita dan Farel tidak ada itu tidak ada hubunganya denganku. Kenapa kamu selalu menyudutkanku?” tanya Nila ke Celine memendam kesal. Nila tidak pernah lakukan apapun, kenapa Celine terus memburunya.
“Apapun kebahagiaan yang kamu dapat, gue cuma berharap, jibab yang kamu pake bukan Cuma buat aksesori, tapi dipakai yang bener. Jadi cerminnan kamu punya hati!” ucap Celine malah mengatai Nila. Nila semakin mengernyit dan geram ke Celine. Kenapa Celine terus menuduh hal buruk ke Nila.
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Nila.
Sayangnya, Celine tetap tidak menjawab. Dan Celin malah berlalu dengan ujung bahunya sedikit menyenggol bahu Nila juga.
__ADS_1
Nila jadi tambah kesal dan cemas.
“Tunggu, maksud kamu apa?” tanya Nila berani meraih tangan Celin dan bertanya lebih keras.
“Ih..,” sayangnya Celine menghempas tangan Nila kasar dan Celine tetap berlalu.
“Hoooh…,” Nila pun hanya bisa termangu membiarkan Celine pergi tanpa jadi mengundang teman sekelasnya itu.
Nila kemudian mengedarkan pandangan ke semua teman- temanya. Sayangnya teman- teman Celine juga sudah berjalan dengan cepat.
“Perlu nggak sih aku undang mereka?” gumamnya dalam hati, Nila kemudian menunduk berfikir.
Selama ini di kelas mereka semua professional, berteman dan belajar bersama tanpa tanya, atau peduli dan melibatkan pribadi dan keluarga mereka.
Nila dan Rendi juga professional bekerja layaknya dosen dan mahasiswa, kecuali Celine dan teman- temanya, tak ada yang peduli terhadap Nila dan Rendi. Sebenarnya diumumkan atau tidak, tidak masalah.
“Tapi pernikahan kan harus diumumkan, Jika aku Bersama Mas Rendi Bersama suatu saat nanti, agar tidak terjadi salah paham. Tapi bagaimana aku mengundangnya? Masa lewat grup wa?” Nila jadi berfikir ingin menyebar undangan elektronik, tapi kalau pun begitu kan acara di rumah tamunya dibatasi.
Nila pun meraih ponselnya, dan tepat saat Nila mengambil ponselnya, ponsel Nila berdering, ternyata Baba sudah ada di parkiran kampus.
Nila pun mengurungkan mengetik undangan, tanpa berpamitan pada Rendi yang sedang menunaikan tugasnya karena esok hari dia akan ijin, jadwal dia padatkan hari ini.
Nila pun menghampiri Babanya. Baba juga menyambut Nila hangat dan dengan cepat melajukan mobilnya pulang tanpa tanya dimana Rendi.
“Ba… undanganya masih ada berapa kursi? Nila boleh undang teman- teman Nila datang kan Ba?” tanya Nila di sela- sela perjalanan.
“Temanmu undang di acara resepsi aja, ini kan Cuma pencatatan sipil, khusus untuk keluarga dan orang- orang Gunawijaya saja. Nanti teman- temanmu kasih seragam sekalian biar keren kaya yang lain- lain gitu” jawab Baba cepat malah menawarkan lebih.
“Tapi, Ba. Teman- teman Nila pernah ada yang liat, Nila dan Mas Rendi, Ba. Mereka jadi suudzon sama Nila! Di kampus belum ada yang tahu tentang ini!” jawab Nila akhirnya mengadu pada Baba.
“Gitu aja bingung. Tinggal kasih tahu mereka, kalian sudah menikah, siapa yang berani ngata- ngatain anak Baba. Sini berurusan sama Baba. Anak Baba nggak boleh lembek!” jawab Baba lagi.
Nila menunduk mendengarkan ajaran Babanya, memang benar sih apa yang Baba bilang. Nila saja yang selama ini terlalu diam pada Celine, tapi masalahnya saat ini, Celine tidak mengungkit tentang Rendi lagi, teman- teman Celine juga hanya membicarakan Nila di belakang. Nila jadi canggung kalau tiba- tiba mengumumkan pernikahanya padahal resepsinya belum ditentukan.
“Kok diam? Memang siapa yang mengataimu?!” sambung Baba lagi.
“Kemarin Nila mau jawab, Nila takut dikatain karena Cuma nikah siri, Ba. Jadi Nila diam,”
“Ya udah besok kasih tahu, kasih hampers sekalian!” jawab Baba mantap.
Nila pun tersenyum mengangguk.
“Iya Ba!” jawab Nila.
__ADS_1
Baba pun tersenyum mengusap kepala putrinya. Tidak lama mereka sampai di runah besar Baba. Dan seketika itu, senyum Nila merekah, di halaman Baba yang luas terparkir beberapa mobil yang Nila hafal itu bukan mobil Babanya, melainkan saudara- saudaranya, juga ada mobil besar yang rupanya dari sebuah WO.
Walau hanya di rumah, Buna tetap menyewa WO terbaik yang pernah Buna kenal, tentunya juga beberapa anak panti. Halaman rumah Baba pun di sulap menjadi tempat resepsi yang indah dan sacral dengan tema outdoor. Tidak terlalu ramai, tapi tetap cantik elegan bahkan mewah, walau belum selesai namun dari property yang diturunkan sudah tertebak lampu- lampunya indah.
“Diptaaa…,” teriak Nila girang, ponakan gemoynya tampak duduk di stroller Bersama maidnya sedang disuapi makan.
Nila pun tak sabar ingin segera mendekat dan menoel pipinya.
“Cuci tangan dulu!” teriak suara keras kakaknya menyambar dari arah dalam membawa sebotol minum air putih.
Nila langsung mencebik, kakaknya sungguh galak. Padahal Dipta yang pintar langsung menoleh Nila dan menggerakan kakinya acak, tanda menyambut Nila. “Iya!” jawab Nila cepat.
Baba sang Opa juga langsung menyapa, tapi Baba juga takut pada ibunya Dipta dicomeli, jadi Baba langsung pergi, karena di dalam juga ternyata kedatangan mertua dan menantunya, Bang Adip dan Dokter Nando.
Nila patuh pada Kakaknya, masuk ke rumah menaruh tasnya, menyapa keluarganya juga mencuci tangan dan kakinya.
Setelah bersih- bersih, Nila tidak sabar bersua dengan Dipta, mengesampingkan semua yang terjadi di kampus. Dipta keponakanya yang gemoy membuatnya lupa terhadap semua gundah dan masalahnya. Ya, sekarang adalah waktu mahalnya, saat keluarga berkumpul, Nila tidak mau merusaknya, Nila harus Bahagia menghabiskan waktu berharganya ini.
Di siang itu, sembari melihat pihak WO mendekor halaman rumah Baba juga menyiapkan acara pengajian sore ini. Nila, Jingga, Buna, Bunga, Dokter Mira dan Oma berkumpul diringii celotehan Uung, Dipta dan Iya Iyu.
“Jadi semalam Nila tidur di rumah, Rendi?” tanya dokter Mira nyeletuk.
Dengan malu- malu Nila pun mengangguk.
“Iya, Budhe!” jawab Nila.
“Budhe Cuma mau ingetin, hamil usia di bawah 20 tahun itu resiko tinggi ya, harus dipersiapkan!” celetuk Dokter Mira.
“Ehm…,” Buna langsung berdehem, merasa tidak nyaman, tersindir sebagai ibu yang berpendidikan membiarkan anaknya menikah usia muda.
“Insya Alloh, Nila tahu Budhe,” jawab Nila tanggap.
"Nila kan sebentar lagi ulang tahun ke dua puluh kan?" sahut Buna menegaskan kalau dia juga memikirkan kesehatan dan kematangan Nila.
“Emang boleh ya sekarang, cuti hamil buat mahasiswa kedokteran?” celetuk Jingga jadi bahas hamil.
“Lah kan orang Calon Rektornya suami Nila, bisa diurus kan?” sambung Dokter Mira lagi.
“Nggak ada hamil- hamil, sampai Nila lulus!” sahut Baba tegas tiba- tiba nimbrung ke Ibu- ibu dan semua pun menoleh dan meneganga.
Wajah Baba tampak serius tidak sedang bercanda.
Nila langsung menelan ludahnya menunduk.
__ADS_1
"Duh. Bahaya ini kalau nanti ada perdebatan!"