
Beruntungnya, waktu Ashar yang Nila temui. Jadi bacaan alfatihah dan surah pendeknya dibaca siri. Nila masih bisa menjaga kekhusukan dengan fokus pada bacaan sholatnya sendiri.
Tidak bisa dibayangkan jika saat itu, yang Nila temui waktu Maghrib, Isya atau subuh. Setiap lafaz yang diucapkan, suara yang tadinya Nila kagumi berbalik menjadi suara yang membuatnya jemu.
Setelah tahu ternyata muadzin dan imam sore itu sama, dan dia adalah Rendi, Nila buru- buru pergi.
Bahkan Nila berdoa sendiri secara singkat, tidak jadi lama- lama, tidak mengaminkan doa Rendi, seperti ada rasa enggan.
Nila tidak ingin berpapasan atau bertemu dengan Rendi di lingkungan masjid. Bahkan Nila mau kalau bisa Rendi jangan sampai tahu dia jadi makmumnya.
Mendahului jamaah lain juga tak memperdulikan Hanan, Nila cepat- cepat kembali ke halaman kampus dekat parkiran menunggu Pak Iman.
Nila melangkah dengan cepat dengan deguban jantung yang meningkat, tak ada yang mengejarnya, tapi dheg- dheganya melebihi dikejar harimau. Pokoknya Nila tidak ingin berinteraksi dengan Rendi di luar kelas sebatas dosen dan mahasiswa.
"Hh... Pak Iman mana sih?" gumam Nila gelisah ingin cepat pergi.
Sebenarnya Nila baru saja keluar, belum ada 5 menit, tapi bagi Nila itu sangat lama. Entah tidak bisa Nila jabarkan, Nila takut sekali Rendi memergokinya duduk sendirian menanti Pak Iman, lalu mendekatinya dan kembali seperti saat di warung bakso. Hati Nila penuh dengan rasa yang tak bisa diterka. Ada jemu, ada malas, ada marah tapi juga harap- harap penasaran.
Karena tidak sabar Nila sampai menelpon Pak Iman, padahal seharusnya Nila tahu Pak Iman sedang mengemudi dan sebelumnya Nila selalu sabar.
Telepon Nila pun tak diangkat
"Astaghfirullah, Pak Iman....cepat diangkat. Bapak sampai mana?" gumam Nila panik, celingukan ke belakang, pikiranya takut tiba- tiba Rendi nongol di belakangnya.
Padahal di belakang Nila tak ada siapapun, bahkan Rendi saat ini masih duduk tenang berdoa di masjid. Tapi kejadian Rendi tiba- tiba nongol membuat Nila paranoid. Entahlah hati Nila hanya tidak siap jika dia harus berhadapan dengan Rendi setelah pertemuan di warung bakso kemarin dan pagi tadi.
"Thiin... thiin...," bunyi klakson kembali mengagetkan Nila.
Nila yang sedang menahan debaran jantung yang gugup karena diimami Rendi jadi kaget dan menoleh.
"Ish... pria angkuh itu lagi," gumam Nila tambah kesal.
Farel yang lewat dan kembali membunyikan klakson sesukanya
"Cewek nggak jelas!" cibir Farel sembari menarik gas melewati Nila.
"Ish dia itu kenapa sih? Jangan- jangan dia orang dengan gangguan jiwa. Kasian, perasaan setiap ketemu, dia selalu jadi biang kerok?" gumam Nila hanya membatin membiarkan Farel lewat.
Nila pun mengelus dadanya agar bersabar. "Sabar Nila sabar. Istighfar, astaghfirulloh...," gumam Nila menghandle emosinya sendiri.
Tidak lama Pak Iman datang. Dengan cepat Nila langsung naik. Dan Pak Iman juga langsung melaju.
"Pak Iman kok lama?" tanya Nila dengan spontan mengungkapkan kepanikanya, dan ini pertama kali Nila comel, tidak biasanya mengkritik Pak Iman.
Pak Iman yang selama ini selalu diperlakukan baik oleh Nila pun jadi gelagapan
"Iyakah Non?"
__ADS_1
"Iya!" jawab mukanya masih tegang. Pak Iman tambah rasa bersalah.
"Tapi saya tidak jadi antar istri saya lho Non. Sungguh! Begitu Non telpon, istri saya suruh saya kesini dan dia pesan taksi sendiri. Jalan yang Pak Iman lewati juga nggak macet. Maaf ya Non. Pak Iman sudah berusaha!" jawab Pak Iman jadi baper takut Nila marah.
"Gleg!" mendengar jawaban Pak Iman, Nila pun tersadar, berbalik Nila yang merasa bersalah. Kan Nila yang hari ini gugup. Ternyata Pak Iman sudah mengabaikan istrinya yang sakit dan mendahulukan Nila.
"Ehm...," dehem Nila mengambil jeda mengatur emosinya sendiri.
"Tolong maafkan, saya Non..Non Nila nunggu dari kapan? Maaf banget ya Non. Pak Iman liat di jam, rasanya Bapak sampai lebih cepat? Pokoknya Non telpon Bapak langsung ke sini?" tanya Pak Iman lagi jadi benar- benar jadi overthingking.
Nila juga ikut melirik jam, jarak Pak Iman balas dan sekarang memang lebih cepat dari seharusnya..Nila pun jadi semakin tertampar. Nila jadi menyeringai merutuki dirinnya sendiri.
"Non...," panggil Pak Iman lagi.. "Maafkan saya!"
"He... iya Pak. Nila yang minta maaf Pak," ucap Nila pelan merasa malu.
"Kok?" tanya Pak Iman jadi bingung.
Nila pun menunduk mengakui kesalahanya.
"Maaf ya Pak? Pak Iman nggak salah? Nila lagi gugup pengen segera pulang," jawab Nila kembali ke setelan anak awalnya menjadi bos baik dan lembut.
Pak Iman pun tersenyum lega.
"He...wajar Non. Hari pertama kuliah pasti menegangkan ya Non. Sabar ya Non!" ucap Iman
"Iya Pak...makasih. Jadi bapak tidak jadi antar ibu?" tanya Nila lagi jadi sungkan.
Nila pun hanya mengangguk.
"Maafkan saya ya Pak. Saya capek banget ingin cepat pulang. Ada banyak yang harus disiapkan juga," jawab Nila lagi menyembunyikan kesalahanya.
"Iya Non. Kalau gitu besok Pak Iman akan datang sebelum jam pulang Non. Kabari aja ya Non!"
"Iya Pak?"
"Ya sudah atuh, istirahat Non!"
"Ya Pak!" jawab Nila singkat. Nila benar- benar malu. Dia pun menyandarkan badanya ke jok mobil yang empuk. Tatapanya ke arah jalan dimana kendaraaan lain lalu lalang. Hingga jiwa dan kesadaran Nila kembali masuk ke angan yang tak jelas.
"Kenapa aku jadi labil begini sih? Astaghfirulloh? Apa ini karena dia? Tidak- tidak. Ini salah!"
"Kata Kak Jingga, dia hanya ngajar di kelas akhir. Please ya Alloh. Semoga tidak ada sks yang diajar dia di kelasku?" batin Nila berbeda doa dengan teman- teman yang lain.
Nila memejamkan matanya merasakan getaran hatinya yang tak sesuai inginya.
"Aku pernah mencintainya dengan begitu hebat, Ya Alloh. Bahkan aku memberi cinta kepada makhluk dengan tahta tertinggiku. Aku pernah melambungkan harapanku begitu besar padanya. Menganggap dia menjadi tangga surga dengan gelar suami, menjadi harapan tempatku mengabdi,"
__ADS_1
"Aku terima semua perlakuanya yang abai dengan terus berbaik sangka, bahwa dia menghormati menghargai proses pendidikanku. Namun, Engkau patahkan semua baik sangkaku dalam sekejap, hanya dengan satu ucapanya yang begitu memalukan. Lalu kenapa Yang Engkau tampakan sekarang kebaikanya?" gumam Nila berfikir sendiri.
"Bantu aku permudah melupakanya jika memang dia bukan untukku?"
"Apa aku salah ambil jurusan? Tapi bukankah setiap langkah dan keputusan semua atas kehendakMu? Kalau memang kedokteran bukan jalanku, seharusnya aku tidak lolos kan?"
"Astaghfirulloh... astaghfirulloh...," Nila terus menenangkan hatinya.
"Tidak...tidak, ini pasti ujian. Baba saja percaya dan menjodohkan Kak Jingga dan aku karena memang mengira dia yang terbaik kan? Tapi kenyataanya dia tak sebaik yang kita pikir. Aku tidak boleh goyah lagi, lupakan dia! Walau dia baik, bukan berarti aku harus terus mengingatnya. Huuft bisa bisa!" gumam Nila menarik kesimpulan sendiri.
Nila pun memejamkan matanya dan tertidur seperti kebiasaan Buna.
*****
Berbeda dengan Nila yang ingin cepat pulang. Rendi yang sudah ditinggal mudik oleh Fatma dan suaminya, jika pulang ke rumah dia akan kesepian. Rendi pun memilih berlama- lama diam di masjid yang dingin dan menenangkan itu.
Rendi sudah mundur dari mimbar imam, dia mengambil shaf di pojokan. Semua perkataan Abi Yusuf, Ummi dan Fatma seperti terus berputar mengejarnya dan menghakiminya.
"Astaghfirullahal'adzim astaghfirullahal'adziim wa atubu ilaiih...," ucap Rendi dengan lirih.
Tak banyak berbeda dengan Nila, sebab guru mereka sama. Abi dan Umi tak bosan mengingatkan. Saat hatimu resah, saat engkau tergelincir dalam masalah dan dosa, berlari mendekat ke TuhanMu. Beristighfar dan memuji Alloh. Alloh akan seribu langkah mendekap kita dengan penuh ampunan.
"Ya Alloh ya ghafur... ampuni aku. Benar kata Fatma. Aku sudah tua!" lirih Rendi dari hat, yang paling dalam.
"Segala kemudahan terhadap perkara dunia, engkau limpahkan padaku. Tapi kenapa perkara jodoh Engkau ombang ambingkan perasaanku?"
"Ampunilah aku atas semua kesalahan dan kesombonganku. Ampunilah aku yang tidak tahu malu ini.
Aku percaya sepenuhnya, Engkau Maha Pengampun, aku percaya AmpunanMu luas tak terhingga. Engkau juga Ar Rahman, Tuhan yang penuh kasih sayang, Aku memohon belas kasih dan ampunanMu..., tunjukan jalan yang terbaik agar aku bisa perbaiki semuanya, teguhkan hatiku pada siapa aku akhiri lajangku? Kali ini, aku sungguh ingin menikah ya Alloh.
Rasaku yang dulu begitu jijik pada gadis kecil itu kenapa engkau balikkan dengan rasa yang begitu hebat. Apakah ini napp suku? Atau hukuman karena kufurku atas nikmatMu? Laku aku harus bagaimana? Jangan sesatkan hatiku yang kesekian kalinya. Aku malu..." lirih Rendi dengan penuh khusyuk merasa ruang dunianya kini hanya ada dia berhadapan dengan Tuhanya. Sampai Rendi meneteskan air matanya.
Tidak ada manusia yang dengar apa doa Rendi. Tidak ada yang tahu di balik wajahnya yang tenang tengah memendam penyesalan yang dalam.
Dari penglihatan manusia, yang tertangkap Rendi tampak begitu khusyuk berdoa. Hingga mahasiswi baru teman- teman Nila yang menyusul akhiran pun melihatnya.
"Eh itu kan Pak Rendi? Yang tadi itu kan?" ucap Teman Celine di depan pintu masuk.masjid.
Tidak semua dari mahasiswa ke masjid untuk beribadah, beberapa memilih ke kamar mandi untuk berdandan karena kamar mandinya lebih bersih, juga untuk mendinginkan badan di tempat yang lega.
Celine dan teman- temanya pun menoleh mempeehatikan.
"Iya?"
"Kita akan diajar dia nggak sih?" jawab yang lain masih saling tanya tak berbeda dengan teman Nila.
"Pembagian dosen Pembimbing Akademik selesai ospek?"
__ADS_1
"Hh... oke kita liat nanti. Tapi aku penasaran dengan dosen itu? Sepertinya dia masih muda!" celetuk Celine dengan senyum liciknya.
"Wooaah?" teman- teman Celine kemudian saling terbengong mendengar celetukan Celine.