Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Cantik Sekali


__ADS_3

“Ups!” pekik Jingga mendadak menghentikan langkah dan langsung berbalik menutup mulut mendekati Bunga dan yang lain.


“Hooh. Itu beneran Pak Rendi?” gumam Jingga dalam hati.


Rasanya aneh sekali melihat Pak Rendi, orang yang notabenya dosen dia, yang baginya lebih tua, kaku dan dia saja illfeel, hari ini terllihat begitu cute, seperti orang lain lebih parahnya terhadap adiknya sendiri.


Jingga menelan ludahnya geli sendiri.


Sementara di kamar yang biasanya dijadikan sebagai kamar tamu, sepasang sejoli itu sedang berduaan. MUA yang tadinya sudah mulai merias sudah tahap membersihkan sampai memberikan pelembab memilih beralasan ke kamar mandi. MUA tidak kuat merasa jadi penganggu untuk Nila dan Rendi. Rendi ada Rendi di samping Nila memegang piring tiap kali MUA ambil barang di sela itu Rendi suapi sambil saling bercanda dan mesra lagi.


“Udah Maaas…,” ucap Nila sembari memanyunkan bibirnya manja.


“Sekali lagi! Nanti kamu nggak sempat makan lho!” ucap Rendi menyodorkan satu sendok nasi beserta lauk.


“Nila udah kenyang, udah sana keluar aja!” rengek Nila lagi persis seperti balita yang mogok makan.


“Tinggal hap juga!” ucap Rendi memaksa memasukan satu suapan lagi.


"Mmmm...," terpaksa Nila mengunyah walau dengan mata gerung.


"Gitu dong. Makan yang kenyang jangan sampai pingsan!" tutur Rendi cerewet.

__ADS_1


“Udah beneran Mas. Nila udah kenyang. Nila malu, sana jangan di sini terus nanti nggak selesai- selesai riasnya!” tutur Nila mengusir Rendi untuk kesekian kalinya.


“Ya, ini Mas pergi. Beneran udah kenyang ya!”


“Iya… udah!”


“Oke!” jawab Rendi akhirnya ngalah pergi dan membiarkan Nila dirias.


Rendi pun keluar kamar dan memberitahu MUAnya.


Saat Rendi keluar Jingga pun tak berani berkutik bahkan mau menyapa rasanya malu, Rendi juga masih canggung ke Jingga, terhadap kerabat yang lain pun Rendi tampak kaku, tidak ramah sama sekali.


Tidak lama Si kembar Amer dan Ikun datang. Walau sebenarnya mereka ada di pihak Nila tapi untuk keperluan foto dan formalitas acara, mereka dikomando jadi pengiring Rendi.


Para laki- laki jadi ikut berganti pakaian seragam sesuai komando dari tim MUA, di kamar yang berbeda. Tidak lama disusul keluarga Rendi.


Walau kaku dan rasanya malas, karena tukang foto sudah dibayar dan sudh datang, Rendi pun patuh- patuh saja diminta berpose. Karena Rendi kaku, proses foto jadi berjalan lama ditake berulang- ulang. Fotografer kan tengsin juga kalau hasilnya jelek padahal sudah mematok harga mahal, meski ada sedikit emosi dan ketegangan karena Rendi hampir pundung akhirnya dapat juga hasil yang pas.


Hingga sekitar pukul 08.00 suara music mulai terdengar, sepertinya tamu juga mulai berdatangan.


__ADS_1


Setelah selesai sesi foto- foto Rendi pun keluar, benar saja di luar sudah ramai akan tamu. Bahkan teman sesama dosen Rendi juga datang, seperti Prof Hendra juga dokter Santi bahkan rektor Rendi.


"Ganteng banget sih. Penganten!" puji Dokter Santi


Rendi hanya sedikit menyunggingkan senyum lalu menyapa senior dan atasanya.


"Selamatnya. Bertahun- tahun menanti ternyata jodohnya nunggu mahasiswa baru angkatan ini?" tanya Pak Rektor membercandai Rendi.


Rendi hanya senyum tersipu.


Tepat di saat itu para pegawai Baba mengkode kalau petugas KUA datang. Baba dan Abah pun berdiri menyambut.



MC pun mulai bekerja membuka acara meminta tamu yang sedari tadi masih ngobrol acak untuk duduk di bangku yang tersedia agar acara hikmat, juga meminta Rendi bersiap lalu menghubungi pengiring Nila untuk membawa Nila keluar.


Sepersekian detik acara siap dimulai didampingi Bunga dan Jingga, Nila keluar dari rumah menuju tempat acara yang ada di halaman. Dan saat Nila berjalan mendekat Rendi yang tadinya duduk di meja akad, spontan berdiri terpaku dan menelan ludahnya.



"Masya Alloh, cantik sekali pengantinku!" Dan tanpa Rendi sadari air matanya menetes menunggu Nila mendekat untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2