
"Bi..... gimana sih? Ini udah malam? Rendi hmmmm 55Zberangkat jam berapa dari sana? Kok belum sampe?" ta samanya Vallen emosi.
Bu Siti pun gelagapan saat Vallen mulai emosi. Meski sebenarnya tanpa sepenglihatan Valen, Bu Siti mencibir. Sebenarnya tugas Bu Siti, asal rumah Rendi sudah bersih lampu dinyalakan lalu dimatikan dan sebaliknya, dia bebas pergi. Bahkan mereka mempunyai pekerjaan sampingan juga mengurus anak- anaknya. Tapi gegara ada Vallen mau tidak mau Bu Siti, stay di rumah Rendi hari itu.
"Telpon dan whastap saya belum dibalas Non. Kan katan Non. Non teman dekatnya Pak Rendi. Ya udah Non aja yang tanya dan telepon dia!" ucap Bu Siti cerdas.
"Gleg!" dari situ, Vallen langsung diam.
Vallen memang menyimpan nomer Rendi yang diberi oleh Axel. Tapi saat ini nomernya tidak aktif. Vallen sendiri curiga, kenapa Bibi Siti bisa berkomunikasi, sepertinya Rendi punya dua nomer. Tapi Vallen gengsi mau minta.
"Kan aku udah bilang aku mau kasih kejutan. Gimana sih?" jawab Vallen sekarang suaranya merendah.
Bu Siti diam walau hatinya ngebatin.
"Bibi nggak kasih tahu kan aku datang kesini?" tanya Vallen lagi mode galak.
"Tidak Non!" jawab Bu Siti cepat.
"Awas aja kalau bilang!" acam Vallen.
Bu Siti tentu saja patuh. "Iya nggak Non. Nggak!"
"Aku mau surpriseku istimewa. Jangan kasih tahu dia aku datang! Kalau sampai dia tahu. Bibi siap- siap aja tahu siapa aku!" ancam Vallen lagi.
"Ya Non tenang aman. Ya sudah Non. Ditunggu aja. Barangkali di jalan. Atau mending didoain biar selamet sampai sini. Mungkin di kampungnya Den Rendi nggak ada signal!" jawab Bu Siti tidak mau bikin masalah dengan Vallen.
"Hhh...," Vallen pun hanya menghela nafasnya kesal.
"Maaf Non. Tapi itu makananya gimana Non? Mau diangeti atau gimana?" tanya Bu Siti memberanikan diri.
Hari ini, Vallen sudah memasak banyak. Ada salad sayur, ada beberapa gorengan dari olahan ayam yang dilembutkan juga la ada tumisan daging sapi. Saat di Amerika, Rendi memang sering memakan itu bersama teman- temanya.
Vallen menghela nafasnya cemberut. Dia kesal usahanya masak sejak pagi sia- sia. Padahal untuk masak itu, dia juga ikut cooking class. Vallen ingin menunjukan dia itu istri yang baik, kaya dan matang.
"Ya udah minta tolong bagiin ke anak jalanan aja. Diangetin malah rusak nggak enak juga udah. Nanti Rendi nggak suka lagi!" jawab Vallen akhirnya.
Akhirnya Bu Siti mengangguk. Lalu mengambil kertas minyak di gudang dapur dan membungkus semua makanan itu. Sementara Vallen terduduk lesu.
Sekarang sudah malam, dirinya tidak membawa pakaian ganti. Vallen memilih pulang.
Sepanjang pulang Vallen dirundung kesedihan dan tanpa daya. Tapi Vallen masih tetap percaya diri dan esok hendak mencoba lagi.
"Data orang- orangku tidak pernah salah. KTP Rendi tidak pernah terdata menikahi perempuan dimanapun. Di rumah ini juga tidak ada foto pernikahan. Aku percaya Axel. Dia masih mencintaiku. Dia milikku," gumam Vallen bertekad.
*****
Di bambu Teduh
Sejak, mengatakan “Iya” pada Abah Yusuf, tidak mengenal kata nanti dulu, Rendi yang biasa menghukum atau memberi tugas mahasiswa, berganti, menjadi anak yang patuh.
Rendi balik kanan ke kamarnya, menanggalkan kemejanya yang rapih dan wangi, berganti kaos lonnggar dan celana pendek.
“Tidak ada Santri yang boleh membantu, Gus Akbar! Kalau ada yang membantu, harus bersihkan kamar mandi pondok Putra!” tutur Abah ke santri- santri yang piket di rumahnya.
“Ck” Rendi pun hanya berdecak, mendengar peringatan Abinya dari kejauhan. “Aih… Abah kenapa sih?” batin Rendi kesal ke Abahnya.
Padahal baru saja dalam hati berniat mau minta dicangkulkan.
Akhirnya, hari itu, Rendi pun mengasah otot tanganya, mencangkul dua lubang tanah lumayan dalam, untuk di beri pupuk dan air sebelum dapat bibit mangganya.
Dan benar- benar serius di luar dugaan Rendi, Abah sendiri menemani Rendi, pergi ke kampung seberang yang lumayan jauh, mengendarai sepeda motor, mengunjungi petani penjual bibit buah, mencari beberapa bibit buah manga.
Entahlah, Rendi hanya ikut saja yang penting Abahnya itu bahagia. Sebelumnya, Rendi kira ada kiasan tersendiri, tapi sepertinya Abah sungguhan ingin berkebun dan membuat taman di belakang rumah.
Semua kesibukan Rendi itulah yang membuat Rendi mengabaikan ponselnya dan tidak membaca pesan Bu Siti.
Sebagai orang kota yang biasa berkutat dengan buku dan laptop, olah raga pun gym di ruang ber AC, begitu bergelut dengan tanah dan matahari langsung kelelahan.
Walau tak ada jatah ngajar lagi, Rendi tetap diajak Abah ke masjid pondok. Alhasil begitu sampai rumah, lalu menyentuh bantal yang pernah dia bagi dengan Nila, Rendi langsung terbang ke dunia mimpi.
****
Di Ibukota.
Saat berkumpul dengan Baba dan Buna, Nila pun menceritakan apa yang dia temui bersama Pak Iman.
“Dia anaknya Agung Laksana?” tanya Baba menyimak cerita Farel dari Nila.
“Iya, Ba.. Ayah Farel terpandang kan? Setahu Nila punya pabrik tambang kan Ba? Ko bisa gitu ya Ba?” tanya Nila.
“Hmmm…. Dia korban broken home! Ayahnya punya istri 3!” jawab Baba.
“3, Ba?” tanya Nila kemudian.
“Iya…tapi punya anaknya cuma dari istri pertama. Pabriknya hampir gulung tikar, ayahnya ketipu istri mudanya. Ibu temanmu diusir dan nggak tahu sekarang dimana. Baba dengar Anaknya yang pertama yang ambil alih dan bertahan sendiri. Tadinya Baba juga ditawari untuk invest di perusahaanya buat nolong biar mereka nggak kolaps, tapi Baba baca surat- suratnya ruwet, nggak jelas, Baba milih mundur!” tutur Baba bercerita.
“Oh gitu? Jadi keluarga Farel sekarang miskin? Apa karena itu dia salah bergaul?” tanya Nila lagi.
“Ya kalau orangtuanya nggak bangkrut, masa iya dia daftar beasiswa?” ujar Baba.
“Ba… kita juga nggak bangkrut, tapi Baba biarin Nila daftar juga?” sahut Buna tidak terima kadar miskin orang dilihat dari sekolahnya.
__ADS_1
“Ya… maksudnya, Buun, Baba kenal Agung, kakaknya temen Nila aja kuliahnya di Australia kok! Kalau anak kita kan emang Nila yang nggak mau!” jawab Baba beladiri.
"Ya siapa tahu mereka juga begitu? Kedokteran juga mahal, Ba!"
"Tapi kan mahal yang jalur sumbangan?" beladiri Baba lagi.
“Udah- udah, Buna sama Baba malah berdebat… Udah nggak usah bahas kuliah!” sahut Nila menengahi Baba dan Bunanya. "Sekarang Nila tahu kenapa Farel begitu?"
“Ya udah, yang penting kamu jauhi anak seperti itu, pokoknya pulang atau pergi- pergi harus ada temen. Udah nggak usah digubris dan ditolong lagi, ngeri Buna dengernya!” tutur Buna menasehati Nila.
“Ya Bun!” jawab Nila patuh.
“Ya udah, Baba berangkat ya!” pamit Baba kemudian.
“Kemana Ba?” tanya Nila.
“Ke panti. Mau ada Kajian!” jawab Buna.
“Waah. Alhamdulillah Baba rajin kajian Bun?"
"Iya. Ingat umur!"
"Heheh. Siip…Ba. Jangan lembur cari uang terus ya Ba,” jawab Nila tersenyum dan memberikan jempol.
Buna pun tersenyum, sementara Baba tersipu dipuji, Nila. Baba mengelus dan mencium kening Vio yang tampak sedang menyusu Buna, lalu berganti mencium kening Buna. Setelah itu pergi bersama supirnya.
Ya, urusan perusahaan Baba hampir 60 persen sekarang dipegang Amer. Baba hanya tinggal menyelesaikan sisanya dan beberapa waktu mengontrol.
Baba bersama Buna, lebih banyak aktif di panti Gunawijaya, juga kegiatan social lain, dan tentu saja lebih banyak meluangkan waktu bersama putra putri mereka yang masih kecil. Itu sebabnya sekarang Baba mulai longgar dan percaya pada Nila.
Ikun sendiri memilih merintis dan membangun usahanya di bidang IT. Bang Adip Jingga juga berkarir dan membangun usahanya sendiri. Bahkan dengar- dengar di minggu- minggu terakhir ini, Bang Adip didekati pejabat dan hendak dipinang menjadi wakil menteri di bidang ketahanan Pangan.
Prestasi Bang Adip yang berhasil menggerekan sektor peternakan dan perikanan di Pulau P, juga perusahaaannya yang berkembang pesat di dunia makanan didengar Pemerintah dan menyita perhatian.
Dan meski saudara- saudaranya sebegitu hebat, Nila tetap memilih, menikmati hidupnya dalam kesederhanaan, melepas semua title itu, karena bagi Nila, itu bukan milik Nila. Nila ingin seperti Ikun, mengukir jalanya sendiri.
Setelah Baba pergi, dan Buna juga sibuk bersama anak- anaknya, Nila pun masuk ke kamarnya, menyiapkan bekal kuliah besok, membaca kembali bahan presentasinya. Sayangnya saat, Nila grup kelas semua ramai membicarakan Dokter Santi.
“Dokter Santi mau resign, besok kuliahnya sementara diganti Prof, Julian,”
“Lhah kok bisa?”
“Dokter Santi katanya pindah domisili ikut suaminya ke Singapore!”
“Lah gitu? Enakan dokter Santi. Prof Jul bikin ngantuk,”
"Sementara doang kok. Katanya ada pengganti lain?"
Walau Nila tak berkomentar dan hanya menyimak, degub jantung Nila pun berdetak kencang.
“Sebenarnya dia dokter spesialis apa sih? Dia ngajar apa sih? Kata Kak Jingga kan dia ngajar di semester akhir,” gumam Nila jadi tidak bisa tidur.
Bahkan Nila baru sadar, dia tidak pernah tahu gelar mantan suaminya itu sebenarnya apa?
Pipi Nila mendadak panas membayangkan jika obrolan temanya benar. Bagaimana jika Rendi benar menjadi dosenya.
“Jadi dia tidak keluar? Tapi kenapa hampir satu bulan ini aku tidak melihatnya? Ahh kenapa aku jadi dheg- dhegan gini sih? Aish…ck,” gumam Nila jadi gelisah sendiri.
Nila pun hanya memeluk guling, miring ke kanan dan ke kiri, tidak jelas, padahal tidak tahu siapa yang akan menggantikan dokter Santi.
****
Saat membuka, pesan Bu Siti, Rendi hanya membalas, pulangnya diundur. Tapi tidak membahas kapanya.
Bu Siti dan suaminya pun hanya menjawab iya, walau hatinya sudah sangat ingin cerita kedatangan Vallen, dia tetap tutup mulut.
Rendi juga sudah membaca tentang dokter Santi, bahkan lebih tahu sebelumnya. Tapi Rendi tidak mau memikirkan, sebab memikirkan pekerjaanya membuat dia tambah pusing.
Rendi focus pada tugas dari Abah, hingga hari berikutnya Rendi sibuk memandangi tanamanya, sampai seperti orang gila, jumlah daunya aja dia hitung dan ditungguin, bahkan Rendi juga searching pupuk yang bikin tanaman cepat tumbuh. Sebab Abah belum ijinkan Rendi kembali sebelum tanamanya tumbuh.
Rendi bahkan rela datang ke pasar mendapatkan pupuk itu, lalu menyiram dan memberikan pupuk itu banyak- banyak.
Dan 3 hari sudah berlalu, sayangnya bukanya tambah subur, pohon anggur yang kemarin daunya sudah menampakan kesegaran, dan menandakan akarnya mulai adaptasi kini malah satu dari tiga pohonya ada 2 yang busuk bagian pangkal pohonya.
Pagi itupun Rendi sangat frustasi, bahkan Rendi tidak ikut dzuha bersama di pondok, Rendi hanya jongkok memegangi kepalanya dan merenungi kenapa batang anggurnya busuk. Padahal bibit itu dia dapat dari orang tua santri yang rumahnya jauh.
“Haish… Celaka. Ck. Ini konyol, masa aku harus ninggalin pekerjaanku hanya demi tanaman begini? Dokter Santi udah berangkat lagi, aih? Abah tolong mengertilah. Aku harus gimana?” gumam Rendi kesal.
Abah sebenarnya dari kemarin juga memperhatikan Rendi. Tapi Abah hanya ketawa melihatnya.
Dan Hari ini pun sepulang dari pondok, Abah tidak ketinggalan mendapati Rendi yang masih terbengong duduk frustasi di belakang rumahnya itu.
Abah kemudian datang menghampiri Putranya itu.
“Kamu lagi liatin apa Bar?” tanya Abah mengagetkan Rendi.
Rendi yang sedang kesal pun menoleh ke Abahnya malas, di dadanya serasa ada bom yang siap meledak. Tapi Rendi segan ke ayahnya, Rendi sering berontak dan marah dulu, pasti ketemu sial.
“Bah,… kalau Akbar mau resign dari kampus, Akbar harus bayar ganti rugi kontraak dengan kampus 1 Milyar Bah! Abah nggak bisa halangi Akbar berangkat,” jawab Rendi malah bahas kontrak kerjanya, sebagai dosen yang dulu kuliah spesialis dibiayai kampus.
Rendi sengaja menunjukan protesnya, Abahnya konyol, menahan Rendi tetap tinggal, tidak boleh kerja hanya demi pohon anggur dan mangga yang harganya sangat murah.
__ADS_1
Abah tidak menghiraukan perkataan Rendi, beliau malah berjalan memeriksa tanaman Rendi di belakang rumah yang sudah disusunkan pagar. Bahkan pohon anggur yang meraambat itu sudah dibuatkan baja yang membentuk atap.
Abah kemudian tersenyum melihat batang pohon Rendi busuk di akarnya. Bukanya menjawab, Abah memanggil santrinya.
“Zaak…,”
“Nggeh, Yai…,” jawab salah satu santri Abah yang sedang menyapu, langsung melempar sapu mendekat dan menundukan kepalanya.
“Buatkan kopi untukku dan Gus Akbar!” tutur Abah.
Rendi pun mengernyit bingung. Abah tidak berkomentar malah minta dibuatkan kopi, lebih bingung lagi, Abah mendekat ke pohon anggur dan mencabut pohon anggurnya yang busuk itu.
Rendi sangat jengkel dan jengah, rasanya ingin marah dan meninggalkan Ayahnya itu sendirian, tapi saat hendak berbalik, santri yang bernama Zaki sudah kembali membawakan dua cangkir kopi hitam.
Abah kemudian mengajak Rendi duduk.
Rendi masih bingung, tapi tidak bisa melampiaskan marahnya dan ikut duduk bersama Abah.
“Minumlah!” tutur Abah mempersilahkan Rendi minum juga, dirinya juga mengambil kopinya.
“Abah, jangan banyak minum kopi,” tegur Rendi sebab dongkol dan kesal.
Bukanya mendengar Putranya yang sudah mengenyam pendidikan tinggi di dunia kesehatan, Abah malah menyeruput nikmat kopinya, sangat tenang.
Rendi masih tetap dingin dan dongkol.
“Anak- anak kelak akan suka bermain di bawah pohon, biasanya ibu hamil juga suka mangga,” ucap Abah tiba- tiba.
Sontak Redi langsung menoleh. Tapi Abah malah melihat ke depan tak menggubris Rendi, dan Abah seperti masih ingin menyampaikan sesuatu.
“Kamu tahu kenapa anggurmu busuk dan mati?” tanya Abah akhirnya menoleh ke Rendi dan menatapnya serius.
Rendi langsung gelagapan.
Abah pun tersenyum lagi.
“Kenapa orang yang di hatinya ada kesombongan, surga dan bumi enggan menerimanya? Ya ini? Bahkan ketika kamu merasa dirimu hebat, pengalamanmu banyak, gelarmu banyak dan hafalanmu banyak, kamu tetap tidak berdaya, kamu tetap bodoh. Tidak pantas manusia itu sombong." tutur Abah panjang.
Rendi pun tersentak. "Iya Bah!" jawab Rendi lirih.
"Sadar kan? Hanya merawat satu pohon ini saja kamu tidak bisa, akuilah kita lemah dan kita bodoh!” tutur Baba lagi.
Amarah Rendi pun langsung runtuh, Rendi menunduk diam tidak bisa berkata- kata.
"Iya Bah!"
“Cinta itu hidup, anggaplah seperti pohon ini. Memang, semua kehidupan atas kehendak dan kuasanya Alloh, tapi untuk tumbuh, dia butuh dirawat, dia butuh disiram, dipupuk, dia butuh makan, tapi dengan kadar dan porsi yang tepat. Tidak instan dan tidak dipaksakan!” tutur Abah lagi menasehati
Rendi diam dan sekarang mulai mengerti, perintah Abah, pasti ada maksudnya.
“Ambisimu, amarahmu yang terlalu memaksa memberi pupuk terlalu banyak itu bukan solusi, yang memberi hidup itu Alloh, tugasmu hanya merawat dengan sabar, butuh waktu hingga kelak kamu akan memanen apa yang kamu kerjakan!” ucap Abah mulai serius.
Rendi pun semakin menunduk malu, sudah suudzon dan kesal Abahnya.
Dan Abah kali ini menatap Rendi tajam.
“Nila itu perempuan, dia mempunyai hati yang lebih lembut dari batang pohon anggur ini, jangan terlalu dipaksa. Kamu sekarang mengerti bagaimana perasaan Nila? Kamu hanya Abah minta menunggu beberapa hari saja sudah kelabakan, apa kamu pernah membayangkan bagaimana perasaan Nila yang selalu menunggumu pulang untuk sekdar menyapanya?”
“Gleg!” Rendi pun semakin gelagapan.
“Kamu sudah menyakitinya, jangan dipaksa, sembuhkan lukanya dulu!” tutur Abah lagi.
“Iya Bah!” jawab Rendi akhirnya.
"Kelak, kamu juga harus merawat cintanya dengan baik. Cinta yang baik adalah cinta yang mengantarkanmu dalam ketaatan. Tidak mudah. Tapi kamu harus bisa menjaganya! Perlakukan dia dengan baik! Kamu harus memegang janjimu!" tutur Abah lagi.
"Iya Bah!"
Baba tidak menoleh ke Rendi lagi, dia mengambil cangkir kopinya lagi, lalu meneguknya cepat dan menghabiskanya.
“Habiskan kopinya, ikut mujahadah siang ini! Kamu boleh berangkat sore ini!” ucap Abah lagi.
Mendengar itu, Rendi langsung sumringah lagi.
"Abah ijinkan Akbar pergi?" tanya Rendi memastikan.
Abah tidak menjawab hanya bangun dan bergegas pergi.
Rendi pun patuh menghabiskan kopinya lalu mengikuti mau Abi. Membersihkan diri, mengganti pakaianya dengan bersih dan berangkat ke Pondok.
"Gus Akbar!" panggil sekelompok santri Putri.
Rendi berhenti dan menoleh, ada 3 santri Putri yang wajahnya terlihat sudah senior.
"Ya!" jawab Rendi
Santri itu terlihat malu- malu dan ragu.
"Ada apa?" tanya Rendi.
Santri itu tampak membawa sesuatu.
__ADS_1
"Gus Akbar, boleh saya titip sesuatu untuk Ning Nila?" tanya santri itu ragu