Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Wa nan sama siapa?


__ADS_3

Begitu Buna pergi. Nila senyum- senyum sendiri. Apa ini artinya Baba mengijinkan Nila kembali dan melanjutkan pernikahan?


"Baba bolehin aku bareng Mas Rendi?" gumam Nila masih tidak percaya.


"Ya Alloh. Astaghfirulloh. Alhamdulillah? Apa ini artinya benar- benar aku akan menikah ke KUA seperti rencana Abah dan Baba dulu?" gumam Nila lagi masih seperti mimpi.


"Aku harus bahagia atau takut?"


Nila menepuk nepuk pipinya. "Ah, ck!" tapi seketika itu Nila manyun dan berdecak, ingat Rendi yang ngeselin. Kalau beneran menikah KUA dan tinggal di rumah Rendi nanti bagaimana. Hanya membayangkan saja, jantung Nila berdebar kencang. Badan Nila sekarang panas dingin


Lalu bagaimana nanti memberitahu teman- temanya. Bahkan di otak Nila jadi datang bayangan resepsi, mau seperti apa? Undang siapa aja?


"Tak...tak!" Nila memukul sendiri kepalanya. Tidak tahu kan Baba mau bilang apa?


Nila tidak mau terlena. Ingat janjinya. Nila harus buktikan kalau Nila buat Buna dan Baba, bangga. Apalagi ini Baba dan Buna sudah kembali baik, tidak marah lagi. Nila harus lebih membahagiakan Baba dan Buna.


Nila mengerjapkan matanya, mengambil ponselnya sebentar. Kemudian dia lempar lagi. Nila tetap tidak membalas pesan Rendi. Nanti malah kebablasan chattingan.


Nila ingat tidak boleh terjebak, menikah bukan membuatnya mundur dari kualitasnya, tapi tujuan menikah, membuatnya menjaga pandangan, menjadi rumah tempatnya berpulang dan jalan ibadah terpanjang.


"Fokus! Nila! Kerjakan tugas, belajar dan tidur,!" batin Nila bertekad.


****


Sementara Buna, sesampainya di kamar, beritahu Baba. Kalau Nila sedang belajar, kasian kalau diganggu. Buna meminta besok saja ngobrolnya.


Awalnya Baba kesal lagi. Baba kan mau kasih pesan banyak ke Nila. Juga memantapkan apa benar, Nila siap menikah resmi dengan segala resikonya. Baba harus memberi gambaran menikah itu tidak mudah.


Baba ingin beritahu Nila seberapa penting seorang perempuan mempunyai bekal pendidikan entah bekerja atau tidak nantinya. Baba ingin membuat kesepakatan sebagai ayah, kalau Nila harus buktikan, menikah jangan membuat jalan hidupnya mundur dan menghancurkan hidupnya tapi maju. Harus lulus kuliahnya.


"Maas...," panggil Buna lembut. Di saat suaminya ngomel kalau besok terburu- buru dan tidak ingin menunda bertemu Nila. Baba sampai bangun dan hendak ke kamar Nila.


Mendengar suara Buna yang berbeda Bab berhenti dan menoleh..


Rupanya Buna menggoda Baba, membuka pakaianya di depan Baba.


"Gleg!" tentu saja Baba langsung diam dan menelan ludahnya menutup pintunya lagi.


Walau sudah puluhan tahun bersama dan Baba hafal setiap inci tubuh Buna. Karena di luar aktifitas ibadah di atas kasur itu, Buna selalu menutup auratnya, jadi saat dibuka selalu istimewa membuat Baba bahagia.


Baba langsung bungkam dan mengerlingkan matanya. Buna pun menyemprotkan minyak wangi dan mendekat ke Baba. Baba pun menyambutnya dengan semangat. Semua pikiran tentang Nila lenyap.


Malam ini setelah seharian mereka bertengkar. Baba dan Buna mengakhiri perdebatanya dengan pergulatan panas. Walau sudah tua tak mengurangi kehebatan dan kemesraan mereka.


****


Nila bangun pagi- pagi dengan penuh ceria. Nila langsung sholat mandi dan berdandan dan turun ke bawah semangat.


Bahkan jantungnya berdegub kencang. Nila bersiap bertemu Baba. Entah apa yang akan Baba sampaikan setelah hari kemari penuh drama dan airmata. Nila harap akan diberi berita bahagia.


Sembari menunggu Baba keluar kamar, agar tidak terlalu tegang Nila bermain bersama Uung Iya dan Iyu. Iya dan Iyu kan juga rajin mandi pagi untuk kesekolah.


Mereka sekarang bertambah pintar. Kalau udah sama Iya dan Iyu semua hal kan terlupakan berganti pusing jawab pertanyaanya yang ceriwis.


Sesekali Nila melirik ke lift atau tangga rumah. Baba dan Buna masih belum terlihat padahal sudah siang dan sudah waktunya berangkat kuliah. Yang ada malah susternya Oma.


"Sarapan yuk!" ajak Oma.


"Baba sama Buna belum turun Oma!" jawab Nila.


Di keluarga Baba. Walau makan siang atau makan malam sering tidak lengkap, pagi juga tidak selalu tepat tapi diusahakan ada moment makan bersama. Nila pun berniat menunggu Baba dan Buna.


Mendengar kata Nila Oma tersenyum


"Bunamu pamit sama Oma. Baba dan Buna subuh- subuh ke Panti. Ada masalah yang harus diselesaikan!" jawab Oma.


"Oh.. ada masalah apa Oma?" tanya Nila penasaran.


"Oma juga tidak tahu. Buna sama Baba sampai harus ke sana pagi- pagi berarti kan masalah serius!" jawab Oma


Oma memang tidak diberitahu. Buna hanya meyakinkan semua akan baik- baik saja.


Jika urusan kantor, toko dan berbagai bisnis Baba bisa delegasikan ke Amer dan Ikun. Tapi untuk panti asuhan. Buna anggap anak- anak panti anak- anak Buna juga. Jadi kali ini, Baba dan Buna tidak repotkan Jingga, Amer atau pun Ikun. Apalagi Amee Ikun sedang keluar kota dan Jingga punya Baby. Baba Buna pergi sendiri.


"Oh ya sudah. Ayo sarapan!" ajak Nila mengerti dan ajak adik- adik.


Uung yang biasanya nempel di Buna sekarang berganti dengan Nila. Iya dan Iyu sudah besar jadi mereka mandiri.


Karena Buna dan Baba pergi. Selesai sarapan Nila langsung berangkat kuliah.

__ADS_1


****


Sesampainya di kampus. Dita yang sekarang mendadak sangat rajin dan selalu Bangun pagi demi tidak terkena macet dan tertinggal bus karena aturan Rendi, begitu lihat Nila langsung menodong pertanyaan.


Dita duduk di depan kelas di bawah pohon menyaksikan lalu lalang teman- temanya. Nila langsung di hadang Dita dan menyeret agar duduk di situ dulu sebelum masuk kelas.


"Eh gimana kemarin? Kamu diapain sama Pak Rendi?" tanya Dita antusias.


"Gleg" Nila langsung menelan ludahnya. Tidak mungkin kan dia cerita Rendi nyariin karena kangen dan itu semua karena Nila blokir nomernya. Terlebih cerita ngegodain Nila, malu tingkat dewa nanti.


"Nggak diapa- apain!" jawab Nila singkat.


"Kamu ke kampus? Surat Kak Livi udah dibalikin belum?" tanya Dita lagi.


"Nggak. Ngapain ke kampus!" jawab Nila jadi bete lagi bahas Livi lagi.


Di saat itu. Celine lewat dengan santainya dan mengibaskan rambut. Celine juga duduk di kursi dekat mereka duduk, tapi tidak ikut gabung. Celine terlihat asik dengan ponselnya.


Melihat Celine Nila jadi ingat lagi. Celine ini misterius. Celine diam seolah tidak tahu apa- apa. Padahal Celine tahu semuanya. Nila kan jadi tidak enak, Dita tanya- tanya Rendi dan Nila selalu bohong.


"Ya kan di grup Pak Rendi bilang, gitu. Kirain kamu ke kampus beneran!" jawab Dita lagi


"Enggaklah. Dia cuma tanya data kok. Udah sih nggak usah bahas Pak Rendi!" jawab Nila terpaksa bohong lagi. Padahal tidak ada pembahasan data sama sekali. Nila pun melirik Celine, jadi tidak nyaman.


"Hh Aku penasaran tahu. Oh ya. Aku udah tahu yang namanya Livi itu yang mana?" celetuk Dita lagi.


"Heh?" pekik Nila kaget.


Dita semangat sekali bahas Livi. Nila sungguh tidak menyangka sempat- sempatnya Dita cari tahu tentang Livi.


Ya. Dita kan tingkat belajar dan ingin tahunya tinggi. Karena Dita makan ayamnya, juga sesama yang terkesan dengan Rendi walau kesini- kesini lebih ke jengkel karena Rendi suka memberi tugas yang menyusahkan. Dita kagum ke Livi yang berani menyatakan cinta.


"Nih, fotonya!" ucap Dita menunjukan foto Livi.


Nila menelan ludahnya. Tadinya Nila malas lihat. Tapi karena Dita semangat, Nila jadi melirik.


"Bodynya aduhai banget ya? Biasa aja sih wajahnya. Tapi bagus banget badanya. Aku aja yang cewek suka apalagi Pak Rendi ya? Sayang banget suratnya malah kebawa kita? Sampiin sana!" celetuk Dita masih dengan lugunya


Nila melirik ke Celine dan tertangkap di netra Nila kalau Celine menyunggingkan bibir kiri atasnya, tersenyum masam melirik ke Dita. Ya. Kesanya Dita dibodohi Nila. Nila jadi semakin merasa bersalah.


"Ya nanti!"


"Menurut kamu. Gimana respon Pak Rendi? Hihi diterima nggak ya?" ucap Dita lagi masih dengan ekspresi jujurnya.


"Udah nggak usah bahas urusan orang lain. Diterima tau nggak nggak ada untung buat kamu?"


"Adalah. Kan kalau diterima Pak Rendi nggak jomblo lagi!" Jawab Dita.


"Ish. Jomblo atau nggak. Kamu juga nggak akan sama dia kan? Udah selesai belum tugas kamu?" jawab Nila sembari kesal dan mengalihkan pembicaraan.


"Hmmm...," Dita yang semangat menggosip langsung manyun.


"Udah tapi nggak tahu bener apa salah. Coba lihat punyamu?" ucap Dita.


Nila dan Dita pun mengambil laptopnya. Tepat di saat itu. Teman kelas mereka datang menghampiri.


"Eh iya aku belum ngerjain. Boleh ikut liat nggak?" sapa Irfan dengar dan liat Nila Dita sedang membahas tugas.


"Tuh punya Nila!" jawab Dita.


"Bentar ya!" jawab Nila.


Nila pun menyalakan laptopnya.


Sementara Irfan tanpa rasa takut karena niatnya hanya tanya tugas duduk di samping Nila.


Nila pun kasih liat pekerjaanya ke Irfan.


Seperti sebuah grafik dan alur bagan. Sehingga harus dijelaskan oleh Nila. Walau mencontek. Jadi Irfan nanti tidak bingung saat ditanya.


Nila pun menjelaskan, Irfan dan Dita menyimak. Di saat yang sama, Rendi tiba.


Arah dari parkiran Rendi ke kantor kan melewati depan kelas Nila.


Tentu saja Rendi langsung melotot dan mengepalkan tangan melihat Nila dekat- dekat cowok. Apalagi tertangkap di mata Rendi, diam- diam Irfan sembari curi- curi pandang ke Nila. Walau tidak bermake up, bibir Nila yang tipis mungil menuruni Buna sangat manis.


"Sshh.. ck. kurang ajar. Hanan dijauhkan ganti siapa lagi sih itu?" gumam Rendi sembari berjalan dadanya bergemuruh lihat Nila duduk dekat dengan pria lain.


Sayangnya pagi itu bukan jam ngajarnya Rendi. Sehingga Rendi tidak ada alasan menghampiri Nila. Karena salah fokus ke Nila. Rendi sampai menabrak orang dan itu kebetulan Livi.

__ADS_1


"Brug"


"Pak Rendi?" pekik Livi.


Walau agak jauh. Tetap saja Nila dan Dita lihat.


"Itu yang namanya Livi? Waah?" dengan polosnya Dita langsung bergumam dan antusias melihat.


Nila dan Irfan ikut melihat. Irfan yang tidak tahu apa- apa hanya melihat sekilas dan tidak tertarik.


Sementara Nila langsung terhenti. Matanya gerung dan dadanya jadi sesak. Bahkan Rendi sempat menoleh ke Nila dan Nila juga sedang menatapnya sehingga mereka saling pandang sepersekian detik.


Tapi tidak ada yang ngeh karena Livi tampak langsung mengalihkan fokus Rendi dan Nila juga langsung kembali menatap laptop..Meski begitu Celine pandai membaca suasana dan hanya tersenyum.


"Apaan sih Dit? Livi siapa?" tanya Irfan.


"Itu, Nila kemarin sama Pak Rendi dikasih ayam. Ayam itu ternyata dari si Livi itu ada surat cintanya!" ucap Dita dengan embernya.


"Oh.. ada ya yang suka sama Pak Rendi? Itu paling jatuh disengaja tuh!" jawab Irfan berteman dengan Dita jadi ikut bergosip.


"Ya kan Pak Rendi ganteng dan mapan!" jawab Dita.


"Jangan- jangan kamu suka juga?"


"Sekedar kagum. Nggak suka. Galak gitu!" jawab Dita.


"Iya sih? Tertekan nggak tuh nanti yang jadi istrinya?"


"Ehm...," Nila yang ada di tengah Irfan dan Dita langsung berdehem. Rasanya benar- benar menjengkelkan. Kenapa sih Dita harus hobby bahas Rendi. Dan kenapa ada Livi.


"Lanjut nggak nih ngejelasinya? Masuk kelas aja yuk!" ajak Nila menyudahi obrolan tentang Rendi.


Irfan bertnya sekali lagi dan Nila menjelaskan.


"Oh yaya. Oke aku mudeng!" jawab Irfan


"Sama. Punyaku juga udah sama kan kaya punyamu!" jawab Dita.


"Ya udah yuk ke kelas!" ajak Nila.


Mereka pun beranjak ke kelas. Begitu sampai di tempat duduk. Nila mengambil ponselnya yang ternyata bergetar terus.


"Ish..ngapain sih di kampus telpon- telpon!" desis Nila gelagapan segera menyembunyikan dan memencet tombol mati. takut Dita lihat.


Tidak terima dirijek. Rendi langsung kirim pesan.


"Sejak kapan centil- centil duduk di deket cowok?"


Nila mengernyit membacanya.


"Ish apaan sih? Centil gimana? Mas sendiri ngapain nabrak- nabrak Livi. Mentang- mentang gemoy! Curi- curi kesempatan. Dasar!" balas Nila kesal.


"Dia yang nabrak, bukan Mas. Temuin Mas sekarang!"


"Ngapain?"


"Ke kamar mandi bawah tangga! Cepetan!"


"Nggak mau. Prof Hendra bentar lagi masuk!" jawab Nila mengetik cepat sembari mulutnya komat kamit kesal.


"Sama suami nggak boleh durhaka, cepetan keluar!" ancam Rendi langsung membalas.


"Ck." Nila langsung berdecak lagi. "Apaan sih? Nila mau kuliah!" jawab Nila.


"Prof Hendra belum datang. Dia masih 20 menitan masuk kelas. Cepet Mas tunggu!" ketik Rendi lagi.


Nila pun berniat mengetik dan alasan takut ketemu di tempat umum. Tapi belum selesai Nila mengetik Rendi sudah kirim lagi.


"Kalau nggak kesini mas yang kesitu!"


"Ish...," desis Nila bingung.


Dita yang dicuekin dan lihat Nila asik dengan ponsel pun peka.


"Wanan sama siapa sih?" tanya Dita dengan polosnya melihat layar ponsel Nila


"Haps!" Nila langsung gelagapan dan menarik ponselnya seperti kegep mencuri.


Dita jadi tambah curiga.

__ADS_1


"Kamu punya pacar ya?" celetuk Dita.


"Gleg!" spontan Nila langsung membekap mulut Dita.


__ADS_2