Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Hujan.


__ADS_3

"Pegang tangan Mas!"


"Huh?" pekik Nila kaget menoleh dan mendapati tangan Rendi di depanya.


Saat sudah sampai di depan rumah Babanya, Nila malah tegang, hatinya berdebar kencang dan langkahnya ragu.


Rendi bisa melihat itu, Rendi pun tersenyum mengulurkan tanganya sebelum menjauh dari mobilnya yang dia parkirkan di halaman rumah Baba


"Ingat tadi pesan Oma. Mas Tahu. Amer, Ikun dan Baba itu sayang banget ke kamu. Mereka sangat sensitif terhadap apa yang terjadi denganmu. Dia jadi sangat marah ke Mas. Mas akan buktikan. Mas akan tebus salah Mas. Mas akan bahagiain kamu. Mas akan mencintai kamu apa adanya. Mas nggak malu lagi. Bahkan Sengeyel apapun kamu. Mas percaya kamu takut sama Alloh kamu akan jadi istri yang baik untuk Mas. Dan yakin Mereka akan kembali dukung dan sayang ke kita seperti sebelumnya? Nggak usah tegang. Kamu percaya kan sama Mas?" tanya Rendi meyakinkan.


Bukanya menjawab, Nila malah menunduk dan berfikir.


Ya. Tadi saat di rumah Oma, Oma 100 persen dukung Rendi dan Nila karena memang menurut Oma mereka masih suami istri. Apalagi jika Nila memang masih suka. Kalaupun Nila mau menolak itu sejak awal 3 tahun lalu, bukan sekarang. Jadi tidak menyakiti siapapun, juga tidak harus ada kata perceraian.


Setelah Oma setuju mereka santai bersama. Lalu Nila bercengkerama sebentar dengan Bunga, berbagi cerita di kamar karena Bunga sekarang punya pacar.


Bunga kira Nila sudah melakukan banyak hal layaknya orang pacaran atau menikah, Bunga bertanya banyak. Tapi mendengar cerita Nila. Kalau Nila baru sekali ciuman bibir, itu juga Nila dipaksa dan Nila kaget.


Bunga takjub dan mengatakan ke Nila kalau Rendi termasuk orang yang sabar, apalagi mampu menjaga Nila selama 3 tahun tanpa menyentuh padahal mereka suami istri. Bahkan Bunga sendiri cerita hubunganya dengan pacarnya lebih dekat, Bunga sih tetap menjaga diri tapi mereka sering makan bareng, belajar bareng juga pernah ciuman.


Bunga memang belum istiqomah memakai hijabnya. Dokter Rendi dan Dokter Mira juga memberikan hak pada Bunga untuk menentukan sendiri apa yang menurutnya benar karena Bunga sudah dewasa sekarang pun sudah masuk semester 7.


Bunga juga beritahu Nila, dunia jaman sekarang, bahkan Bunga banyak menemui temannya ada juga orang lain di luar sana, usia Bunga atau Nila jadi sugar Baby meski mereka masih kuliah. Baik dari kalangan atas atau bawah.


Nila mendengarnya pun hanya mengangguk walau agar ngeri. Sebenarnya tanpa Bunga beritahu Nila juga tahu apa dan bagaimana peran istri seharusnya.


Sementara Rendi lanjut bercerita dengan Oma. Saat Oma menyinggung dan cerita banyak tentang Baba, Rendi menyampaikan kalau Baba ingin bertemu malam ini. Saat itu juga Oma meminta Rendi dan Nila cepat pulang jangan sampai telat atau membuat Baba menunggu dan marah lagi.


Rendi pun memanggil Nila di kamar Bunga, meminta Nila cepat pulang. Nila patuh dan pamit pulang.


Sayangnya sepanjang jalan Nila diam memikirkan nasihat Bunga.


"Kalau memang apa yang Pak Rendi katakan benar? Dan kamu mencintai suamimu. Kamu nggak boleh jual mahal apalagi takut, katanya kan dosa kalau istri tidak kasih hak suami, kamu pasti udah tahu kan? Pak Rendi itu mapan. Dia ganteng dia banyak yang suka, kamu harus kasih yang terbaik untuk dia. Apalagi kalian masih halal!


Ingan pelakor jaman sekarang itu berwujud peri, jadi kamu juga harus bisa jadi malaikat! Jangan sampai kamu menyesal, jarang ketemu laki- laki sesabar dia. Apalagi Ipar dan mertua yang baik, itu 1000:1!"


Nila jadi kepikiran macam- macam. Apalagi saat ditanya Oma tadi, begitu restu Baba terkantongi, menikah resmi ataupun siri seperti sekarang, Rendi ingin Nila pulang ke rumahnya seperti rencana sebelumnya.


Nila sekarang malah takut membayangkan semua peran yang akan dia jalankan. Bagaimana kalau Nila tidur sekamar, lalu Nila merinding sendiri, ingat benda keras punya Rendi yang dia lihat tadi di kamar mandi? Bagaimana jika benar benda itu sungguh mengoyak miliknya? Bagaimana sakitnya bagaimana rasanya.


Nila malah jadi ingin menunda meminta ijin Baba agar dia bisa mengulur waktu pulang ke rumah Rendi. Lebih dari itu Nila takut respon Oma. Oma sangat sensitif sekarang berbeda dengan Oma Mirna. Di kepala Nila dipenuhi pikiran buruk.


"Ayok!" ajak Rendi tidak sabar menunggu Nila yang diam. Karena Nila tidak segera meraih tangan Rendi untuk dia jadikan pegangan, maka Rendi sendiri yang meraih tangan Nila dan menggenggamnya masuk menemui Buna dan Baba.


"Nila takut, Mas!" ucap Nila spontan.


"Apa yang kamu takutkan? Takut berlebihan, apalagi suudzon terhadap ketentuan Alloh itu dosa!" ucap Rendi meyakinkan Nila dan menggandengnya maju berjalan ke arah bel pintu rumah Baba.


"Nila, Rendi!"


"Gleg!"


Sayangnya, belum jadi Rendi memencet bel, Buna malah membuka pintu rumah duluan, dan mendapati tangan Rendi menggenggamnya.


Nila menelan ludahnya tersentak dan menarik tanganya cepat. Nila takut sekali ingat bagaimana Baba marah sebelumnya. Nila malu ke gep Buna sudah semakin dekat dengan Rendi.


Tapi di luar dugaan Nila. Buna malah tersenyum menyambut mereka.


"Alhamdulillah kalian sudah sampai. Ayo masuk!" ajak Buna ramah.


Tentu saja Rendi sangat senang, mengangguk dan mencium tangan Buna.


"Buna lihat langit gelap. Petir juga terdengar beberapa kali. Buna khawatir, sampai Buna telepon Oma!" tutur Buna sembari berjalan masuk.


"Alhamdulillah. Kita kan pakai mobil Buna. Hujanpun tak masalah!" jawab Rendi sopan.


"Iya sih!" jawab Buna.


"Buna telepon Oma?" tanya Nila.


"Ya. Oma sudah cerita semuanya!" jawab Buna berhenti jalan dan menatap mereka berdua


Rendi dan Nila ikut terdiam.


"Buna setuju dengan Oma. Buna yakin keputusan Oma terbaik! Buna dukung kalian!" tutur Buna tersenyum melihat keduanya.


"Terima kasih, Bun!" jawab Rendi sopan dan singkat dengan wajah berbinar penuh semangat.


"Yah!" jawab Buna lalu melanjutkan jalanya.


Nila pun berjalan mengekori Rendi dan Bunanya.


"Oh ya? Kalian baru pulang yah? Kalian sudah mandi belum?" tanya Buna di luar dugaan Nila untuk apa tanya mandi.


"Ha!" pekik Nila.


"Belum!" sementara Rendi langsung menjawab cepat.


"Ya sudah. Nila siapkan baju suamimu. Dulu kayaknya pernah kan ninggalin baju di kamarmu? Kalian istirahat dan mandilah dulu! Nanti kita ngobrol sama Baba!" ucap Buna.


"Ya Buna!" jawab Rendi cepat.

__ADS_1


Sementara Nila langsung menelan ludahnya gelagapan. Rendi kan tadi sudah mandi, dia juga lupa kalau di kamar Nila pernah ada baju Rendi. Kenapa juga Nila harus siapkan. Kenapa Buna cepat sekali beri restu.


"Baba dimana Buna?" tanya Nila cepat.


Tujuan Nila kan menemui Baba dulu kenapa Buna meminta Nila dan Rendi mandi segala ada acara Nila yang siapkan lagi, apa ini artinya Baba sudah jelas kasih restu.


"Baba ditelpon orang kantor, katanya ada kerjaan yang butuh Baba. Amer kan belum pulang. Kalian istirahat dulu. Baba pulang masih entar malam. Adik- adik dan Oma Rita di panti, Buna juga mau nyusul!" jawab Buna.


Nila melirik Rendi tambah gelagapan. Sementara Rendi tersenyum senang.


"Iya Bun. Rendi boleh istirahat di kamar kan?" tanya Rendi tanpa menyiakan kesempatan.


Nila tambah mendelik kesal ke Rendi, kenapa malah tambah ngelunjak mau istirahat di kamar. Sementara Buna malah mengernyit tersenyum malu sendiri.


"Ya. Dari dulu boleh kan? Kamar Nila juga kamarmu kan? Sok silahkan. Buna ke panti dulu ya!" jawab Buna malah pamit pergi.


"Ya Buna!" jawab Rendi lagi.


"Buna mau apa ke panti?" tanya Nila menjeda, masih tidak ingin ditinggal Bunanya. Rasanya aneh Rendi di rumahnya malah mau ditinggal lagi.


Buna menghela nafas sejenak. Salah satu anak panti kan ada yang meninggal. Oma Rita yang dengar langsung minta adakan pengajian di panti, juga memberikan dorongan yang lain agar lebih baik jadi siswa dan jaga pergaulan. Pendiri panti Gunawijaya kan Oma Rita. Tentu saja Oma Rita sangat peduli apapun yang berkaitan dengan Panti.


"Anak Panti ada yang meninggal? Buna dan Oma mau kirim doa," jawab Buna memberitahu.


"Meninggal?" pekik Nila.


"Besok Buna cerita. Sudah layani suamimu dengan baik. Buna pergi dulu!" ucap Buna singkat sembari menepuk lengan Nila lembut dan pamit..


Buna tampak berjalan ke dapur entah biacara apa ke ART. Lalu Buna memanggil supir dan pergi.


Nila dan Rendi mematung bertatapan. Di rumah selain ART hanya ada mereka berdua sekarang. Rendi tersenyum menang sementara Nila menelan ludahnya.


"Jangan suudzon sama Alloh makanya.Lihat kan? Alloh permudah jalan kita. Ingat kata Buna. Mas suami kamu, siapkan pakaian Mas!" ucap Rendi.


Nila tidak bisa menjawab, mau melarang, Nila ingat pesan Bunga.


"Memang ada baju Mas di kamarku?" tanya Nila lirih mencari alasan.


"Kamu lupa? Sebelum kamu berangkat ke pondok, kan Mas juga udah pernah masuk ke kamarmu dan bawa koper. Di taruh di lemari dekat rak sepatumu!" jawab Rendi memberitahu masih ingat dimana dia menaruh pakaian di kamar Nila.


"Hh...," Nila hanya menghela nafasnya.


Iya, Nila sekarang ingat. Tapi pintu itu memang hampir tidak pernah Nila buka.


Rendi menyunggingkan senyum melihat ekspresi Nila. Tanpa ijin Nila Rendi berlenggang duluan menuju kamar Nila. Apalagi tidak ada Baba, Ikun dan Amer, tentu saja Rendi lebih leluasa.


Nila melihatnya tidak tinggal diam dan langsung mengejarnya.


"Mau ke kamar kita?"


"Kita? Pede banget?"


"Kata Buna gitu?"


"Emang bisa masuk tanpa aku? Semangat banget?" sindir Nila.


"Kata Buna itu kamarku juga! Semangatlah." jawab Rendi percaya diri tetap berjalan masuk.


"Ish...," desis Nila, "Sok aja? kuncinya kan di aku," gumam Nila berhenti jalan membiarkan Rendi jalan sendiri dan menunggu Rendi balik.


Kalau Rendi balik Nila tidak akan biarkan masuk dan biar saja mandi di kamar tamu. Rumah Baba kan besar masih banyak kamar kosong.


Tapi sayangnya waktu yang Nila perkirakan Rendi balik lewat. Rendi tidak kembali. Nila jadi penasaran mengecek. Begitu sampai di depan kamar Nila membelalakan matanya. "Astaghfirulloh, aku lupa buka kunci? Haish" gumam Nila tadi pagi kan buru- buru.


Sekarang Rendi dengan percaya diri sudah di dalam kamar Nila. Sangat sengaja incar kamar, mengambil kesempatan ingin berdua. Nila pun menyusul dengan menekuk wajahnya.


"Mau kamu duluan? Atau Mas dulu?" tanya Rendi tiba- tiba. Rendi tidak peduli Nila cemberut atau apapun. Pokoknya itu kamarnya.


"Huh?" pekik Nila tidak mengerti.


"Apa mau bareng?" tambah Rendi sekarang sambil mengerlingkan matanya.


Nila mengernyit.


"Bareng apanya?" tanya Nila.


"Haish." desis Rendi.


"Jangan aneh- aneh ya Mas!" jawab Nila.


"Kan kata Buna sebelum ketemu Baba kita mandi dulu? Bareng aja yuk!" jawab Rendi mengajak dan mengerlingkan matanya lagi


"Gleg!" Nila langsung melotot dan mendesis sambil menggelengkan kepalanya merinding.


"Nggak. Silahkan. Mas duluan. Nila mau ke bawah dulu!" jawab Nila cepat.


"Ngapain ke bawah? Ingat kata Buna. Aku suamimu? Penuhi dulu kebutuhan Mas!" jawab Rendi.


Nila pun gelagapan tidak menampik kata Rendi. Rendi sekarang punya senjata, "kata Buna"


"Nila bikin minum buat Mas!" jawab Nila beralasan.

__ADS_1


"Oh...," jawab Rendi mengangguk. Itu kan juga salah satu memenuhi kebutuhan Rendi.


"Kunci lemarinya masih menempel. Dikasih parfum kok. Insya Alloh masih layak pakai. Mas milih sendiri aja ya. Nila ke bawah!" jawab Nila cepat.


"Jangan lama- lama. Kita asharan bareng!" jawab Rendi


"Ya!" Nila mengangguk.


Dengan cepat Nila turun meninggalkan Rendi di kamarnya. Sebenarnya, tadi Nila bukan mau buatkan minum. Tapi Nila menghindari Rendi. Nila juga tidak ingin mandi ditungguin Rendi.


Tapi karena sudah terlanjur bilang, mau buat minum Nila pun membuat minum cepat. Lalu kembali. Dan sesampainya di kamar, Rendi belum selesai. Nila jadi berfikir buruk lagi. Sedang apa di dalam.


"Mas...!" panggil Nila ragu.


"Ya!" jawab Rendi menyahut.


"Ehm...," dehem Nila bingung bagaimana tanyanya. Di depan kamar mandi Nila meremas tanganya berbalik dan menggigit bibirnya sendiri kebingungan. Mau tanya malu, enggak, dia dosa nggak? Dia illfeel juga kalau prasangkanya benar.


"Apa, Sayang?"


"Gleg!"


Ternyata tanpa Nila tanya Rendi sedang apa? Rendi peka. Saat Nila berbalik dan berfikir, Rendi sudah membuka pintu dan berdirii di belakangnya. Nila yang negatif thingking jadi gelagapan lagi.


"Ehm...," dehem Nila menundukan kepalanya jadi merinding melihat Rendi.


Rendi hanya melilitkan handuk menutup tubuh bagian bawah, itu saja hanya sampai lutut. Selain itu tertangkap semua di netra Nila, mendadak Nila jadi panas dingin, apalagi masih ada sisa air menetes dari rambut Rendi, aroma sabun Nila juga masih tercium.


"Mas wudzu. Minggir!" ucap Rendi datar, meminta Nila menjauh, karena Nila malah membeku menahan degub jantungnya.


Nila jadi salah tingkah dan serba bleng mau apa ada Rendi di kamarnya.


Mendengar kata Rendi, Nila kembali dibuat malu. Kenaapa Nila selalu ke gep salah tingkah dan salah mengira. Padahal Rendi tak seburuk yang dia kira. Nila pun minggir.


"Cepat mandi. Kita jamaah ashar waktunya pendek lho!" ucap Rendi lagi membuat Nila tersentak malu lagi.


"Ya!" jawab Nila cepat.


Karena ada Rendi, Nila mengambil pakaian lengkap dan membawanya ke kamar mandi agar berganti di dalam. Begitu keluar Nila sudah memakai pakaian lengkap.


Nila kaget, Ternyata Rendi sudah menggelar sajadah dan memakai koko sarung lengkap berpeci. Rendi sudah menunggu Nila untuk sholat jamaah. Bahkan mukenah Nila dia yang siapkan.


Nila pun bergegas merapat. Sungguh Nila malu karena hatinya terus didatangi prasangka buruk. Padahal Rendi ternyata sangat baik.


Mereka pun melakukan ibadah Ashar. Selesai sholat dan doa rupanya di luar turun hujan.


"Minum dulu Mas! Sepertinya udah anget tehnya!" ucap Nila memberitahu menunjuk minuman yang sudah Nila buat di atas meja.


Rendi mengangguk lalu duduk meminumnya.


Nila masih kikuk dan bingung sendiri. Berdua di kamar apalagi, mau ikut duduk, rasanya malu, aneh. Nila berfikir ingin turun bercengkerama dengan Mbak Ida dan yang lain saja.


"Duduklah!" ucap Rendi lagi selalu seperti tahu isi hati Nila.


Nila menelan ludahnya lagi selalu ke gep. Padahal Nila mau kabur.


"Mas istirahatlah. Nila turun dulu ya!" ucap Nila.


"Udah ada minum. Mau apalagi emang?" tanya Rendi


Nila memilin jarinya hendak mencari alasan. Tapi belum Nila menjawab Rendi sudah langsung bicara lagi.


"Temani Mas di sini. Mas ngantuk banget. Boleh ya Mas rebahan bentar!" ucap Rendi.


"Tapi ini udah sore? Nggak baik tiduran! Turun aja, Yuk!" jawab Nila.


"Justru karena udah sore. Temani mas biar nggak ketiduran. Beneran Mas capek banget. Pijit kaki Mas boleh kan?" ucap Rendi lagi meminta.


"Pijit?" pekik Nila menatap Rendi menggigit bibirnya ragu mau pijit Rendi.


"Pijit suami itu pahala!" sambung Rendi dengan cepat tidak mau mendengar alasan Nila.


"Ehm..." Nila hanya berdehem dan mendengus.


"Cepat. Bentar doang!" ucap Rendi.


Akhirnya Rendi naik di atas kasur rebahan tengkurap dan menyodorkan telapak kakinya minta dipijat


Nila mencebik, dengan langkah perlahan dan ragu, tangannya mulai memijat. Karena Nila kikuk sendiri, Nila tidak ajak Rendi ngobrol. Rendi juga diam merebahkan badanya tenang.


Nila fokus memijat telapak kaki Rendi. Saat kecil dia juga suka bermanja memijat Baba. Hingga tanpa terasa, Nila keluar keringatnya dan terdengar dengkuran halus Rendi.


"Ish, dia tidur?" desis Nila mengelap keringatnya dan memeriksa Rendi.


"Mas!" panggil Nila. Tapi Rendi tidak menggubris.


Nila melirik jam sekitar jam 5an. Maghrib masih lama.


"Hhh....," Nila menghela nafasnya ternyata hanya memijit kaki suami itu melelahkan. "Ck!" decak Nila hanya bisa menatap suaminya yang kembali terkapar dan mendengkur. "Mau maghrib malah tidur!" cibir Nila.


Karena lelah dan hujan di luar deras, Nila berniat merebahkan tubuhnya sesaat. Karena Nila juga lelah dan hujan niatnya hanya rebahan sebentar. Tapi Nila ikut terlelap.

__ADS_1


__ADS_2