Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Siapa sih?


__ADS_3

“Thok… thook…, Maas,” terdengar suara pintu kamar diketuk lembut dari luar.


“Yaaa…,”


“Boleh adhek masuk?” tanya perempuan kecil yang suaranya terdengat sangat mesra.


“Boleh, Sayang,”


“Kreek…,” dengan pelan pintu itu terbuka, wajah manis dengan senyum yang penuh aura ketenangan dan kelembutan itu pun nampak jelas, sangat menyenangkan untuk dilihat, hangat.


“Sudah malam, ayo Mas bangun, udahin mandinya. Ini adhek bawain pakaian, segera ganti. Kita jamaah ya!” ucap perempuan ayu dan lembut itu, di lengan tanganya menggantung seperangkat pakaian ganti.


“Sebentar Sayang… Mas belum selesai,”


“Hmmm… udah lama lho! Nggak baik berendam terlalu lama,” jawab perempuan cantik itu lagi memberi peringatan dengan mesra.


“Ya udah biar cepet bantuin Mas yaa…”


“Bantu apa?”


“Mas susah buat gosok bagian belakang ini…, sini… bantu Mas!"


Perempuan itu pun tersenyum mengangguk, lalu meletakan pakaian bersih yang dia bawa di gantungan pakaian. Setelah itu menggulung pakaian lenganya, bersiap membantu, si pria yang tengah berendam di balik busa wangi yang banyak di bath rub itu, tentu saja sangat senang

__ADS_1


Sebenarnya permintaan tolong itu hanya modus, dia pun benar- benar puas dengan deguban jantung yang keras dan tiap degubnya melahirkan bunga- bunga indah. Bahkan dia tidak sabar, merasakan sentuhan itu. Lebih dari itu otak si pria sudah melayang bercabang banyak ingin mengerjai perempuan itu. Menarik tanganya dan mengajaknua berendam. Bahkan lebih dari itu.


“Krriiiiing….,” tiba- tiba suara dering telpon terdengar begitu nyaring, sehingga membuat pria itu kaget dan tanpa sengaja, kepalanya yang tertunduk hampir melorot menyentuh dan tenggelam ke air.


“Astgahfirulloh…,” gumam Rendi kaget lalu membetulkan tubuhnya dan terbangun dari mimpi indahnya.


“Kriiiing…,” dering telpon berbunyi lagi dengan sangat keras.


“Haisshh…,” desis Rendi kesal "Ck!". Mimpinya benar- benar terasa nyata. Nila datang di hadapanya sebagai seorang istri yang siapa melayaninya. Nila yang dulu terlihat begitu ingusan sekarang benar- benar cantik bak kuncup bunga mulai mekar. Sayang semua bayangan indah itu harus berakhir


“Siapa sih telpon jam segini? Ganggu aja!” gumam Rendi langsung bangun menyalakan shower untuk membilas busa dan bersuci dengan air mengalir, setelah itu dia pun menyambar handuknya kimononya dan berjalan keluar mencari sumber bunyi yang menyebalkan itu.


****


Di tempat lain.


“Gleg!” sesaat Nila langsung gelagapan.


Kesan hari pertama yang membekas di ingatan Nila dia diimami mantan suaminya yang belum genaap satu minggu kata Baba diputuskan berpisah.


Akan tetapi akal Nila segera bekerjaa, di hadapan Baba haram hukumnya membahas Rendi. Nila pun tersenyum.


“Alhamdulillah menyenangkan Ba… Nila dapat teman baru!” jawab Nila.

__ADS_1


“Oh ya? Cowok atau cewek?” tanya Baba langsung keluar posesifnya.


“Baba…,” jawab Nila cemberut, “Ya ceweklah Ba… namanya Dita!” jawab Nila.


Baba pun mengangguk senang. Setelah tua dan pekerjaan banyak dilimpahkan ke Amer dan Ikun, Baba memang ingin banyak lebih dekaat dengan putri- putrinya, sehingga kini dia lebih peduli dan ingin banyak ngobrol ke Nila, berbeda seperti saat ke Jingga dulu. Baba masih menghandle semuanya.


“Orang mana dia? Baik nggak?” tanya Baba.


“Baik banget Ba… dia dari daerah, kalau nggak salah dari Maluku, Ba. Dia dapaat beasiswa!” jawab Nila lagi semangat bercerita.


Baba pun mengangguk, “Siswa dari daerah biasanya mempunyai semangat belajar yang tinggi. Jadilah teman baik untuknya ya!” tutur Baba dengan penuh kasih sayang.


Nila pun mengangguk.


“Tidak ada yang mengganggu Putri Baba kaan?” tanya Baba keluar sifat posesifnya lagi.


Nila pun hanya tersenyum lagi. Mungkin kalau yang ditanya Jingga, Jingga akkan protes dan kesal, pertanyaan Baba selalu sama.


“Alhamdulillah nggak Ba… semua baik ke Nila!” jawab Nila lagi menenangkan Babanya.


“Pria pecundang itu tidak menemui dan mengganggumu kan?” tanya Baba to the point.


“Gleg!” Nila pun langsung tersendat.

__ADS_1


Sedari tadi, di balik manja dan senyum cerianya Nila ke Baba dan Buna, dalam diam dan kesendirianya, di otak dan hati Nila selalu terbayang bagaimana Rendi dengan cool dan tampan menangani Farel, juga bagaiamna pendapat Dita dan juga suara Rendi melafalkan syahadat saat adzan masih terngiang, kenapa Baba malah tanya.


“Eng…gak Ba!” jawab Nila


__ADS_2