
“Ngapain sih emangnya? Nggak ngapa- ngapain?” jawab Rendi tanpa rasa bersalah.
Masih dengan muka bantal dan mata gerung karena kesal, Nila mengalihkan mukanya dari Rendi, mengacuhkan Rendi yang mendadak jadi pria menyebalkan untuk Nila, wibawa Rendi hilang seketika saat sudah di kamar begini.
Nila pun berusaha membetulkan pengait pakaian pembungkus asetnya yang baru mekar. Juga mengancingkan pakaian tidurnya lagi agar tertutup, rasanya malu sekali dibuka- buka tanpa sepengetahuanya.
“Kenapa ditutup?” tanya Rendi lagi.
“Maas, melakukan sesuatu yang intim tanpa persetujuan itu bisa termasuk, pemer kosa an lho!” ucap Nila mencebik.
Tentu saja Rendi mendengarnya langsung tertawa.
“Ish malah ketawa?” desis Nila.
“Lah gimana ceritanya begitu? Kamu istriku, ini di kamarku, di rumahku, emang Mas ngapain?” jawab Rendi membela diri.
“Mana buktinya aku istri Mas? Mas juga bisa aku laporkan penculikan kalau Nila mau!” jawab Nila lagi mengancam. Rendi tambah terhenyak.
“Astaghfirulloh…., beneran Mas mau dilaporin? Katanya cinta? Hei... Kita udah menikah!” ucap Rendi terkekeh membercandai Nila, tau Nila hanya mengancam tidak mungkin melakukan itu.
“Ya tapi kalau di mata hukum nggak ada buktinya, sabar dulu, sampai Mas itu punya bukti kalau Nila itu istri Mas!” jawab Nila cerdas.
“Hhh…,” Rendi langsung menghela nafasnya kemudian duduk bersedekap bersandar di bahu Kasur. “Insya Alloh lusa kita punya! Lusa!” jawab Rendi meyakinkan Nila.
“Ya udah, makanya Mas, tinggal lusa kan? Sabaar,” jawab Nila meminta.
“Hh… mas kurang sabar apalagi? Mas 3 tahun lho jauhin kamu sampai dikira Mas mainin kamu!” jawab Rendii beralasan dan membela diri lagi.
Mendengar itu, Nila langsung terdiam dan menundukan kepalanya bingung, iya juga seharusnya Nila juga melihat dari sisi itu. Tapi dari situlah Nila tidak mau menggugurkan predikat terpuji atas kesabaran Rendi yang hanya di ujung waktu.
“Mas mau tanya sekarang!” ucap Rendi mode serius tidak memberi kesempatan Nila bicara.
“Ehm… ya,” jawab Nila.
“Secara agama, kita udah halal, tidak ada alasan lagi juga untuk menunda."
"Kata siapa?" potong Nila.
Tapi Rendi langsung menggerakan tanganya meminta Nila diam.
"Jangan dipotong. Nih ya? Bukankah kita hanya boleh takut sama Alloh, kenapa kamu masih menahan? Apa yang kamu takutkan? Aku suamimu, dosa lho kamu nolak Mas. Mas 3 tahun menjauh bukan berarti mas nggak ingin dan nggak berusaha menahan, tapi Mas menghormati hukum, menghormati Babamu, dan orangtua Mas. Mas berhak atas kamu!” tutur Rendi Panjang.
“Mas Nila bukan takut, tapi belum siap!” jawab Nila membela diri.
“Hei… bukan hal baik memang. Tapi beberapa penelitian dan pemeriksaan menunjukan sebagian anak SMA dan mahasiswi mereka sudah melakukan ini, bahkan di luar nikah. Bukan membenarkan kenyataan ini atau menyamakan kamu dengannya, tapi dari sini kan bisa ditarik kesimpulan, usiamu bukan anak- anak lagi! Kamu juga pasti sudah pubertas, dan organ tubuhmu sudah terbentuk sempurna! Apanya yang belum siap?” ucap Rendi lalu menelan ludahnya karena dalam hati Rendi berkata bukan hanya sempurna, tapi sangat memukau.
Nila masih diam terpojok.
“Kamu takut hamil? Takut kuliahmu terganggu? Kalau memang kamu belum siap menjadi ibu, mas nggak akan nuntut dan maksa, mas akan hargai itu, kalau perlu mas ber Kb mau alami atau yang lain, mas ikut!” sambung Rendi masih terus menuntut haknya.
"Bukan itu Mas?"
"Apalagi? Kamu hanya perlu mengubah kemauanmu. Jangan- jangan justru kamu yang nggak ngakuin Mas sebagai suami? Iya maaf, gaji Mas memang tak sebanyak penghasilan Babamu!" tutur Rendj lagi malah tersinggung.
"Bukan! Bukan begitu!" jawab Nila memelas pusing sendiri. Kenapa Rendi terus mendesaknya.
"Terus apa?"
“Nila belum imuniasi Tetanus Toksoid Mas!” sahut Nila cepat, beralasan sedapetnya. Ya itu keluar di otak Nila untuk beralasan dan mengulur waktu.
Mendengar jawaban Nila, gentian Rendi yang mengernyit tertohok. “Imunisasi?” tanya Rendi spechless.
“Ya… mas tahu dong, sebagai perempuan aku berhak mendapatkan hakku dan perlindungan atasku. Pasangan calon pengantin yang lain kan sebelum nikah, dan melakukan hubungan itu, kita cek kesehatan dan imunisasi dulu Mas! Mas pasti paham kan?” jawab Nila lagi beralasan.
Rendi jadi tersinggung.
__ADS_1
“Kamu takut Mas penyakitan?” tanya Rendi
“Bukan. Tapi imunisasi buat aku, mas tahu kan nggak usah dijelasin? Saat terjadi coitus, kan ada perlukaan di organ Nila. Resiko Nila infeksi sakit, makanya kan perempuan sebelum nikah imunisasi dulu, nah itu maksud Nila. Besok siang Insya Alloh. Nila akan datang ke Puskesmas atau ke tempat Opa!” jawab Nila lagi terus beralasan.
“Kan sejak balita dan sekolah dasar kamu udah dapat imunisasi?”
“Tapi pasangan Capeng dapat lagi Mas. Yang di lengan sini? Mas ingin Nila sehat kan? Beneran tadi juga, sakit mas, mas kan yang ngrobek, aku yang rasain sakitnya, kalau aku ISK gimana?” jawab Nila lagi meyakinkan.
Rendi yang memang bukan perempuan, juga tadi melihat sendiri ada sedikit darah dan belum pernah melakukan hal itu terdiam. Ya, Rendi tahu melakukan hubungan dewasa memang akan mencederai pihak perempuan, dan Rendi menghargai itu, Rendi juga tahu tentang program pemerintah yang mengupayakan kesehatan terbaik untuk perempuan itu.
“Ya, okelah, mas minta maaf? Jadi kamu tadi dorong mas karena sakit? Tapi kamu terlihat baik- baik saja? Sakit beneran nggak? Padahal kan belum lho? Kok orang lain bisa, nggak sakit kayaknya?” gumam Rendi lagi masih curiga ke Nila menolaknya.
Nila langsung manyun lagi.
“Beneran sakit Mas. Kita kan nggak tahu orang lain. Nila ya Nila, orang ya orang? Mas tahu darimana mereka nggak sakit? Emang mereka yang mas maksud siapa? Mas pernah nglakuin sama yang lain?” jawab Nila lagi terus membela diri dan menyerang Rendi lagi.
Rendi pun melotot kenapa malah jatuhnya dituduh.
“Enak aja, ya nggak lah! Meskipun mas udah kepala 3. Mas juga ingin masuk ke 7 golongan muslim yang Alloh janjikan masuk surga. Mas juga jaga farji Mas! Harusnya kamu sebagai istri mengerti Mas,” jawab Rendi tersinggung.
“Nah terus, kenapa bisa bilang mereka nggak sakit? Kan yang rasain Nila bukan mereka!” jawab Nila lagi. Pokoknya ucapan Baba, jangan jadi perempuan murahan terus melekat di otak Nila, dan Nila melawan semua gejolak hatinya dengan memutar otak mencari pembenaran.
Tapi Rendi masih menatap Nila curiga.
“Lokalisasi dimana- mana, terekspos dengan terbuka dan jelas di media sosial. Kayaknya mereka nggak ada yang imunisasi deh. Itu berarti kan mereka nggak sakit, nyatanya mereka sehat dan malah jadi pekerjaan. Kayaknya hanya kamu saja yang kurang penerimaan! Alasan terus!” jawab Rendi pelan merayu Nila bermaksud memberitahu Nila agar mau mencoba.
Sebenarnya, Nila juga tahu betul, semua itu adalah naluri manusia yang bereproduksi, bahkan Nila juga merasa dia sudah butuh pemenuhan biologis itu, akan tetapi Nila hanya ingin mengulur agar seperti yang Baba katakan. Nila sangat takut akan ancaman Baba jadi kenyataan.
“Mas sayang nggak sih sama Nila? Atau jangan- jangan hanya napsu saja? Nila mau mas, Nila hanya butuh waktu, sebentar lagi, Nila akan siap! Kenapa Mas malah nyamain Nila dengan perempuan lain?” jawab Nila sedikit meninggi kesal ke Rendi.
Nila tidak tahu perjuangan laki- laki seumuran Rendi seberapa berat menahan dorongan pemenuhan kebutuhan itu.
Rendi pun kembali salah lagi. Hingga Rendi yang pusing, terpaksa mengalah lagi.
“Ya..ya. Oke mas salah. Oke Mas sabar!” jawab Rendi.
Nila melirik jam sudah jam 2 malam.
“Besok Nila kuliah, ada banyak agenda juga. Nila juga ingin sampaikan banyak hal. Tali sekarang ngantuk banget. Tidur ya Mas!” tutur Nila lembut pamit tidur, lalu berbaring menarik selimutnya miring.
Rendi masih diam melirik Nila dengan tatapan masih kesal.
Nila pun peka.
“Mas nggak tidur? Ayo tidur. Besok banyak lho yang harus dikerjakan!” tutur Nila memberitahu lagi dengan lembut.
“Boleh tidur di sini? Nanti mas dilaporin lagi!” sindir Rendi karena masih kesal ke Nila.
“Ya boleh, kan ini kamar Mas! Kan Nila bilangnya kalau Mas melakukan hal yang nyakitin tanpa persetujuan,” jawab Nila.
“Boleh peluk kamu berarti?” tanya Rendi menyindir lagi karena masih ngambek.
“Dari kemarin juga nggak pernah ijin, tumben ijin!” jawab Nila lagi sama- sama menyindir dan masih tidak ingin mengalah.
“Jadi boleh nggak?” tanya Rendi lagi.
Nila tidak menjawab hanya menempatkan diri dengan posisi miring membelakangi Rendi yang artinya, Nila mau dipeluk dari belakang.
Rendi pun paham, lalu menurunkan kepalanya lalu memeluk Nila dari belakang, benar saja, Nila tidak melawan dan justru memegang tangan Rendi. Rendi pun tersenyum menikmati hangat memeluk istrinya. “Dasar jaim," batin Rendi.
Sejenak mereka menikmati kehangatan itu, hangat yang membawa mereka ke satu ruang yang tidak bisa mereka jabarkan sebelumnya, begitu menenangkan, terutama untuk Nila. Sampai Rendi merasakan tubuh Nila melembut dan nafasnya lebih longgar, ya Nila mulai tertidur dalam dekapan Rendi.
Sayangnya berbeda dengan Nila yang mulai terlelap, Rendi yang tadinya batang zakarnya melemah karena berdebat kini bangun lagi.
Tangan Rendi pun tergerak kembali bergerilya bermain pada benda- benda yang memikat hatinya.
__ADS_1
“Mas. Plak!” Nila yang belum terlelap sempurna kembali tersadar, sarafnya sangat sensitif mengenali Gerakan benda asing.
“Kenapa lagi? Kok tangan Mas dipukul?” jawab Rendi.
“Diam! Tidur!” omel Nila mencengkeram tangan Rendi agar di perut saja.
“Katanya meluk boleh, kan Cuma meluk!” protes Rendi.
“Kalau meluk, tanganya di sini, nggak usah kemana- mana!” jawab Nila memegangi tangan Rendi. Nila kesal ingin tidur sudah nyaman dipeluk tapi diganggu.
“Yayaya,” jawab Rendi mengalah.
Mereka berdua pun memejamkan matanya lagi, Nila kembali nyaman dipeluk Rendi. Sayangnya setelah Nila diam, walau tanganya diam, Rendi kembali bergerak, tapi gantian tubuhya, terutama yang bagian bawah, merapatkan ke tubuh Nila, terkesan mendesak dan mendorong. Nila yang hampir terlelap kembali terjaga.
“Mas!” pekik Nila akhirnya membuka mata lagi.
“Apalagi?”
“Jangan kenceng- kenceng juga meluknya! Sesak! Biasa aja, jangan didorong juga, nanti Nila jatuh!” omel Nila lagi.
“Ya udah sini ke tengah jangan di pinggir!” jawab Rendi.
“Enggak, Nila tahu, bukan masalah di tengahnya!” jawab Nila cemberut repot sekali ternyata tidur bersama suami.
“Istighfar Mas. Mas bisa kan tunggu 30 tahun, masa tunggu 2 hari aja nggak bisa?” omel Nila tahu kalau Rendi masih on malah tambah keras.
Rendi yang pusing tapi malah dimarahi Nila balas cemberut dan ngambek lagi.
“Kamu yang istighfar, nolak ajakan suami itu dosa!” jawab Rendi ketus.
"Kok gitu?" lirih Nila takut karena Rendi benar- benar murung.
Bahkan bukanya menjawab, Rendi langsung membuka selimutnya dan bangun dari tempat tidurnya.
“Mas mau kemana?” tanya Nila sekarang jadi pucat merasa bersalah.
“Ke laut!” jawab Rendi ngambek tidak mau melihat Nila dan sungguh keluar kamar, bahkan menutup pintunya sedikit keraas sampai membuat hati Nila bergetar takut.
“Hiks!” satu tetes air mata Nila pun jatuh.
Nila tidak menyangka dibentak suaminya sesakit ini rasanya. Tapi Nila bingung, harus bagaimana, mental Nila benar- benar belum siap.
Nila benar- benar terngiang terus ucapan Baba. Bahkan semua doktrin Baba seperti terpatri di dadanya, melawan egonya sendiri. “Jangan murahan, jangan mau sebelum kamu sah, bayangkan kalau terjadi apa- apa sebelum kamu sah,” itu terus yang mengusik Nila.
Nila pun terbangun dari berbaringnya lalu duduk memeluk lututnya. “Apa dia marah? Aku harus gimana?”
“Kenapa menikah seribet ini sih?" gumam Nila.
Nila sebenarnya sudah menerima Rendi juga menyukai setiap sentuhanya, Nila ingin bermaanja, dipeluk hangat lalu mengobrol dan bercerita tentang semua kegundahanya, tapi bukan berhubungan badan dulu. Bayangan Nila mempunyai pasangan, Nila akan mendapatkan perhatian, perlindungan, juga kasih sayang tanpa menuntut. Tapi rupanya membangun hubungan juga tidak seindah itu.
“Aku kan belum jadi cerita tentaang rumah sakit jiwa? Aku pengin dianter dia? Kenapa dia malah marah, hanya karena ini? Aku harus gimana? Aku harus meminta maaf?" gumam Nila berpikir menyusul Rendi keluar.
Tapi Nila terhenti.
"Di luar banyak orang, malu sekali kalau ketahuan kita bertengkar?" bantinya mengurungkan. Nila pun kembali berbaring menarik selimutnya.
"Astaghfirullah... Maaf ya Alloh. Aku bukan mau durhaka. Aku takut,"
*****
Sementara Rendi langsung turun membawa rasa yang sangat tidak nyaman, gondok pusing, gemetaran. Nila tidak tahu sesulit apa dan sesakit apa untuk seorang laki- laki dewasa menahan semua itu.
Rendi memilih turun dan menuju ke ruang dapur mengambil minum. Di ruang bawah gelap dan terdengar beberaapa dengkuran tamunya.
“Ck..hhh...” keluh Rendi menghembuskan nafas, mengeluarkan kekesalanya. “Dosa apa aku? Kenapa gini banget nasibku?” batinnya menyabarkan hatinya.
__ADS_1
"Astaghfirullah....," batin Rendi mengusap mulanya lalu menghabiskan air putih yang tersisa di gelasnya.
Tidak mau tersiksa dan berujung bertengkar. Akhirnya Rendi ikut bergabung, di ruang tengah, iparnya lebih memilih tidur di karpet, sofa besarnya malah kosong. Rendi pun memilih tidur di situ.