Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Kita Harus Bicara


__ADS_3

”O_om jalannya yang bener, jangan ngelantur! Nanti nabrak lho!” tegur Nila ke Iya dan Iyu yang jalan sembari berisik dan menghalangi orang lain, dengan suara lembutnya dan memberi panggilan Om kecil untuk Baby Aksara.


“Iya kakak,” jawab Iya, diingatkan Nila. Iya dan Iyu berjalan sembari membercandai keponakanya.


“Kakak… udah ya, aku capek, jalanya sampai di sini aja main,” ucap Iyu protes menunjuk sebuah bangku di bawah pohon di pinggiran taman kota.


“Hmmm… katanya mau olahraga? Tadi siapa yang ngrengek mau ikut?” jawab Nila ngeles membercandai adik- adiknya.


“Kan udah Kakak… nih, Iyu udah keringetan!” jawab Iyu protes sembari menunjukan keringat di dahinya.


Jalan keluar dari pagar rumah Baba saja sudah cukup jauh untuk anak kecil sampai di taman memang membuat Iya dan Iyu keringetan, tapi mereka semangat karena banyak jajanan.


Nila hanya mencebik gemas melihat adik- adiknya, Nila kemudian melihat sekitar.


Keponakan tampan mereka masih bayi dan tidak baik berada di keramaian, mereka hanya butuh terkena sinar matahari, menghirup udara bebas dan memberi ruang bagi ibunya.


Nila dan adik- adik sendiri me time bersama ponakan, berjalan dari depan rumah sampai taman itu sudah cukup bagi mereka. Nila pun setuju berhenti di situ.


“Oke… kita pulang! Putar balik!” jawab Nila akhirnya.


“Jangan pulang juga, Kakak!” jawab Iyu langsung berkacang pinggang dan cemberut.


“Terus? Mau kamu apa?” tanya Nila mengernyit.


“Kita main aja di sini tapi jangan jalan, beli jajan ya Kaak!” jawab Iya nyeletuk mengungkapkan modusnya cengengesan dan melirik ke arah jajanan.


"Hmmm...," dehem Nila paham maksud adik- adiknya.


Nila melirik ke satu maid yang menemaninya, maid pun mengedarkan pandangan, Bang Adip yang sebelumnya tampak masih lari pagi. Sepertinya mereka memang harus istirahat dulu.


“Ya udah Non, kita di sini dulu!” jawab Maid setuju.


“Tuuh kan? Mbak juga setuju kan. Kita jajan ya Kak!” seru Iya senang Maid mereka setuju.


Nila pun hanya mengangguk, dan berkata iya.


“Jajaan ya Kaaak!” rengek Iyu menambahkan memegangi ujung kaos Nila, Nila melihat sekeliling memang banyak jajanan tradisional, juga makanan kesukaannya selama di pondok.


Jika bukan hari libur, baik Nila dan adik- adiknya tidak terbiasa jajan di luar. Sekali- kali bolehlah membeli dagangan pedagang kecil. Nila pun membolehkan adiknya, jajan kue serabi, juga beberapa gorengan dan minuman.


"Oke...sama Mbak yaa... kakak tunggu di sini. Jadi anak baik!" tutur Nila.


"Siap Kak!" jawab Iya Iyu senang.


Nila pun memberi uang ke maid dan mereka langsung berjalan ke gerombolan orang berdagang.


Sementara Nila menunggu keponakanya menepi di pinggiran taman, duduk dan menikmati pemandangan pagi warga perkotaan yang sedang membakar kalori di akhir pekan.


Sesaat kemudian keponakanya menangis, Nila pun dengan sigap menengok dengan tangan lembutnya, menimang dan menenangkanya.


Tentu saja Farel yang hanya melihat dari kejauhan, prasangka terhadap Nila semaakin bulat kalau mengira, bayi Jingga adalah bayi Nila melihat Nila begitu luwes menenangkan dan menimang. Farel berfikir Jingga baru lahiran jadi belum waktunya jalan- jalan. Farel pun memutuskan pergi dengan perasaan kecewanya.


*****


“Nilaa…,” panggil seseorang tiba- tiba menghampiri Nila saat Nila memberikan susu perah ke keponakanya.


“Eh Bang Hanan!” pekik Nila menoleh.


Berbeda dengan Farel yang balik arah, Hanan yang rumahnya tidak jauh dari taman kota dan rutin olahraga, begitu melihat Nila, langsung menghampiri Nila.


“Bayi siapa?” Tanya Hanan lembut.


Hanan ikut kaget melihat Nila bersama bayi, bedanya, Hanan tidak mau hanya berprasngka dan menebak, Hanan datang langsung dan mengkonfirmasi.


“Anaknya Kak Jingga!” jawab Nila menjawab.


“Haii ganteng, assalamu’alaikum… lucu banget ciih, kamu? Tapi kok kaya masih bayi banget? Berapa hari?” sapa Hanan menyapa dan mengomentari Baby Aksara setelah memperhatikan dari dekat.


“Iya emang baru berapa hari, Bang!” jawab Nila memberi tahu.


“Lhoh kok udah dibawa keluar ke tempat umum begini?” jawab Hanan lagi.


“Emang kenapa Bang?” Tanya Nila dengan polosnya, Nila belum tahu pasti bagaimana mengasuh bayi.


l


“Ya nggak apa- apa. Cuma biasanya kan nunggu satu bulan, Nila! Kasian di luar banyak orang dan kendaraan kan?” jawab Hanan lagi memberi tahu.


Nila pun mengangguk dan berfikir. Nila pikir kan pakai stroller dan hanya sebentar.


Saat Nila berfikir, tiba- tiba ponselnya berbunyi.


Jingga tampak menelpon, Nila pun dengan sigap menjawab, dan benar kata Hanan. Oma Nurma dan Opa Nando datang, saat tahu, Aksara dibawa keluar Oma langsung marahin Buna dan juga Jingga yang baru keluar kamar.


“Iya Kak, iya,… ini pulang!” jawab Nila dibalik telpon.


Hanan yang tanpa sengaja mendengar percakapan Nila hanya menghela nafas dan tersenyum.


"Maaf siapa?" tanya Hanan.


"He...bener kata Bang Hanan, aku segera pulang Bang! Nenekku marah," jawab Nila.


"Bener kan?" jawab Hanan merasa benar.


"Iyah!" Nila pun hanya bisa mengulum lidahnya menyeringai, lalu bola matanya yang celingukan melihat mencari adik- adiknya.


“Kamu cari siapa?” Tanya Hanan.


“Adik- adikku lagi beli jajan!” jawab Nila.


“Mana adik- adikmu?” Tanya Hanan.


“Itu di sana!” jawab Nila menunjuk tempat Maid dan sikembar beli surabi.

__ADS_1


“Kayaknya mereka antri deh. Ya udah kamu pulang aja, biar aku kasih tahu keluargamu!"


"Lhoh kok gitu? Jadi ngerepotin Bang Hanan!"


"Nggak apa- apa. mereka si kembar kan?"


"Iyah!"


"Ya udah! Aku ke mereka ya, berani kan pulang sendiri?” jawab Hanan membantu.


“Berani Kak! Beneran Bang Hanan mau kasih tau mereka?” jawab Nila memastikan


"Iya. Udah sana pulang!" jawab Hanan baik. " Kaasian ponakanmu nanti kena kuman lagi!” tegur Hanan.


Nila pun mengangguk dengan senyum lembutnya. “Makasih ya Bang!”


“Ya!” jawab Hanan.


Hanan kemudian dengan ramah mendekati Iya Iyu, memperkenalkan diri dan menyapanya. Karena Hanan mengaku teman Nila dan ramah, bahkan tahu nama Iya dan Iyu, maid Iya dan Iyuu langsung menyambut hangat Hanan.


Sementara Nila langsung mendorong stroller Aksara cepat- cepat pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Jingga yang sudah dibabat habis dimarahi Oma Nurma langsung pasang muka cemberut ke Nila dan mengambil Aksara.


“Bapaknya mana?” Tanya Jingga setengah berbisik.


“Masih olahraga Kak, Nila duduk di pojokan kok, Aksara nggak ketemu banyak orang!” jawab Nila berbisik membela diri sambil melirik Oma.


Tapi Oma Nurma masih tetap menyalahkan Buna dan Jingga yang membiarkan Aksara dibawa keluar. Buna hanya diam karena malas harus berdebat dengan Oma Nurma. Jingga hanya mencibir mendengarkan, Jingga kan tidak tahu apa- apa.


“Halaman rumah kita kan juga luas, nggak usah berjemur sampai ke taman kota!” tutur Oma masih belum puas menasehati.


“Iya Nek! Jingga kan udah minta maaf, udah ya, Jingga susuin Akasara dulu!” jawab Jingga langsung membawa Aksara masuk untuk disusui dan kabur dari Oma.


“Maaf, Nek! Nila nggak tahu, dan Nila pikir cuma sebentar!” imbuh Nila mengakui kesalahanya.


"Hmmmm...,"


Entahlah karena Nila begitu lembut dan Jingga bawel, meski yang salah Nila dan Adip, Oma Nurma ngompreng dan marahnya ke Jingga.


Saat Nila dating dan Nila meminta maaf, intonasi suara Oma Nurma merendah dan berbeda.


“Jangan diulangi lagi, ya Nila. Ponakanmu masih kecil, bawa keluar ke area pagar aja. Dia hanya keliatan gembul karena beratnya gede, tapi umurnya masih bayi, mengerti!” tutur Oma Nurma ke Nila berbeda intonasi dengan saat marah ke Jingga.


“Iya Nek!” jawab Nila.


“Ya sudah sana mandi!” jawab Oma Nurma lagi.


"Iya Nek!"


Nila pun bernafas lega, Oma yang kata Jingga murka besar hanya sedikit menegurnya. Nila pun cepat- cepat masuk ke kamarnya.


Selang beberapa waktu Nila masuk, dari luar terdengar suara berisik Iya dan Iyu.


Akan tetapi Oma dan Buna tercekat sesaat. Seulas senyum sopan pun terpancar dari seorang pemuda asing bagi Oma membawa sekresek jajanan.


Pemuda itu juga membungkukan badan mengucapkan salam. Dia tampak langsung akrab dengan Iya dan Iyu.


“Assalamu’alaikum, Tante, Oma?” sapa Hanan ramah.


“Waalaikum salam,” Oma Nurma dan Buna menjawab salamnya lirih dengan raut kebingungan dan menoleh ke maid mereka yang mengekor di belakang, memperbesar bola matanya sebagai isyarat tanya siapa pemuda tampan yang tiba- tiba akrab dengan Iya dan Iyu.


“Ayo Kak masuk!” celetuk Iya dan Iyu memecah kecanggungan.


“Iya dan Iyu punya teman baru? Kenalin ke Buna dong!” Tanya Buna mengkode.


“Oh Buna belum kenal? Kakak ini tahu Buna lho katanya. Dia temanya Kak Nila, kenal Baba juga katanya!” jawab Iya dengan polosnya.


Buna kembali mengernyit dan menatap Hanan lagi. Hanan pun tersenyum sopan lalu memperkenalkan diri dengan menangkupkan tanganya.


“Tante, saya Hanan! Teman SMP Nila, saya anaknya Pak Fahri!” jawab Hanan.


“Mas Fahri?” gumam Buna mencoba mengingat. “Oh iya, astaghfirulloh, Hanan, yang dulu suka minta dibuatin telur ceplok kalau main ke panti?” Tanya Buna girang langsung ingat. Ya orang tua Hanan teman Buna dan Baba.


Hanan pun mengangguk dan langsung bersalaman dengan Buna sebagai tanda hormat, sementara Oma tampak mengangguk dan tersenyum masam.


“Pangling Tante, kamu sekarang gede banget, ganteng juga. Lama nggak main ke sini? Kapan pulang? Bapak ibu sehat? Amer sama Ikun ada tuh!” jawab Buna langsung ramah dan memberondong Hanan banyak pertanyaan.


"Sehat Tante. Alhamdulillah," Hanan yang memang kenal dengan Amer dan Ikun mengangguk, mereka kemudian mengobrol kecil.


Pagi itu pun Hanan bermain dengan Iya dan Iyu, Ikun yang diberitahu Buna ada tamu juga ikut turun dan mengobrol dengan Hanan, sampai Hanan menghabiskan banyak waktu di rumah Baba.


*****


Nila yang menjaga batasan dengan laki- laki, walau Hanan temanya, tidak peduli dan tidak mengobrol.


Nila lebih memilih di kamar membaca buku untuk beberapa saat dan kemudian memeriksa ponselnya.


Fatma ternyata sudah memberinya pesan banyak. Nila pun menepati janji mantan adik ipar rasa sahabatnya itu.


Nila segera bersiap dan ijin ke orang tuanya. Buna pun mengijinkan Nila keluar.


Selayaknya gadis belia menyambut sahabat lamanya yang sedang berkunjung ke kota lahirnya, Nila berjalan hati yang riang. Dalam benaknya ada banyak tema cerita yang ingin dia bagi seperti hari- hari sebelumnya, tentang persiapan kuliahnya, buku kesukaanya juga hobby mereka yang hampir sama.


Dan sesuai mau Fatma mereka pun menuju ke warung viral yang kemarin di janjikan Fatma.


“Laki- laki yang bersama Ikun siapa Nila? Saudara?" tanya Fatma merasa penasaran ada orang lain di keluarga Nila.


"Dia Bang Hanan. Anak teman Baba!" jawab Nila.


"Oh. Teman Bang Ikun juga?"


"Iyah! Kenapa Kak?"

__ADS_1


"Nggak apa- apa! Oh iya. Kamu nggak dimarahin, Babamu kan?” Tanya Fatma kemudian.


“Nila udah ijin kok Kak! Tapi sebelum dzuhur, Nila harus sudahh balik yah!” jawab Nila memberi tahu.


“Syukurlah, tapi kok Cuma sampai dzuhur sih? Nggak bisa diperpanjang?” jawab Fatma mengiba ingin waktu lebih lama bersama Nila.


Nila pun tersenyum lembut menyayangkan.


“Emang, Kak Fatma, balik ke Bambu Teduh kapan?” Tanya Nila kemudian.


“Katanya sih hari ini, Abang selesai, kalau nggak nanti sore besok pagi!” jawab Fatma memberi tahu dengan wajah sedihnya.


“Hmmm… cepet banget ya, kenapa nggak besok aja. Main lagi ke rumah Kak!” jawab Nila kemudian.


"Pengenya...tapi Kakak ikut suami aja!" jawab Fatma berbosa basi. Karena Fatma pun sebenarnya yang mengatur kapan mereka harus kembali.


"Iya sih!" jawab Fatma.


Tidak lama pesanan makanan mereka datang. Mereka berdua kemudian segera menyantap makananya.


Saat Nila sibuk, Fatma pun segera mengambil ponselnya dan menjalankan semua rencananya, menghubungi suaminya untuk pura- pura datang dadakan.


“Nila baru tahu lho di deket rumah ada jajanan sesedap ini, seger Kak!” ucap Nila setelah menyeruput kuah di depanya.


“Iyah! Aku liat di youtube, makanya ajak kamu!” jawab Fatma tersenyum.


Nila membalasnya dengan senyum, Nila senang, bagi dia yang jarang ke luar mendapat kesempatan makan di tempat rame dan terkenal. Mereka kemudian menikmati hidanganya.


Tidak lama, ponsel Fatma berbunyi.


“Ada telpon diangkat, Kak?” tutur Nila mengingatkan.


“Bentar ya!” jawab Fatma.


Fatma pun pura- pura mengangkat telepon dari suaminya, padahal Fatma yang menyuruh suaminua telpon dan pura- pura mencarinya. Fatma pun bercakap- cakap seakan- akan suaminya mencarinya dan Fatma memberitahu dimana dan sedang apa mereka. Setelah itu Fatma mematikan teleponya.


“Nila…,”


“Ya. Gimana Kak?” Tanya Nila.


“Maaf ya. Abang udah selesai nih, dia malah mau kesini, ikut gabung, boleh kan?” Tanya Fatma.


Nila pun langsung mengangguk.


“Ya boleh Kak! Kan dia suami kakak,” jawab Nila lembut.


“Maaf ya, tapi nggak apa- apa kan? Kita jadi nggak berdua?”


“Ih Kak, Fatma, ya nggak apa! Lagian kan Nila udah makan kaan? Santai aja!” jawab Nila lembut.


“Ya udah, abang aku suruh ke sini ya! Bener nggak apa- apa ya” jawab Fatma lagi.


Nila pun mengiyakan, dan Fatma tampak mengirim pesan ke suaminya untuk segera datang.


Fatma dan Nila kemudian melanjutkan makannya sembari menunggu suami Fatma, mereka bercerita, hingga beberapa menit, ponsel Fatma berbunyi lagi. Fatma pun kembali mengangkat teleponya.


“Udah sampai? Dimana?” Tanya Fatma bercakap dengan suaminya di telepon seakan- akan kaget suaminya sudah di depan warung viral itu.


Nila yang menyimak hanya diam dan melonggarkan duduknya. Nila berfikir jika suami Fatma dating sebaiknya dia pulang saja. Toh mereka sudah me time makan bersama.


“Di pojokan Bang! Meja no 10.” ucap Fatma mengakhiri telepon lalu menatap Nila tersenyum.


Sementara Nila segera mengelap mulutnya dan bersiap pulang.


“Cepet banget udah sampai Kak?” Tanya Nila spontan merasa aneh suami Fatma datang selang beberapa menit, padahal kan jalanan macet.


“Iyah, ternyata di dekat sini udah, nggak apa- apa ya!” jawab Fatma lagi berusaha bersandiwara dengan apik kalau suaminya datang spontan.


“Nggak apa- apa, kan Kak Fatma juga butuh waktu berdua. Nila pulang aja ya!” ucap Nila hendak pamit merasa tidak nyaman jika bertiga.


“Lah kok gitu? Jangan! Kan kangenya belum sembuh!" ucap Fatma panik mencegah Nila pulang.


“Lah masa, Nila jadi obat nyamuk, Kak! Nila pulang aja ya” jawab Nila dengan lugunya meminta ijin pulang.


“Ehm…,” Akan tetapi sejurus kemudian, terdengar lelaki berdehem.


Nila dan Fatma pun langsung menoleh. Dua laki- laki berkemeja rapi tampak berdiri di samping meja mereka, dengan dua raut yang berbeda.


Jika suami, Fatma tampak tersenyum tenang menyapa, sementara laki- laki yang satunya tampak gelisah dengan mulut terkatup dan matanya menatap ke bawah dengan jakun yang naik turun.


Fatma pun menelan ludahnya dengan ekspresi yang mendadak ragu juga panik, menunggu respon Nila.


Sementara Nila yang kager tersentak reflek membuang mukanya dari menatap Rendi.


“Maaf, ternyata Bang Rendi ikut!” ucap Fatma pelan berusaha menangkan Nila, takut Nila marah.


"Kak Fatma sengaja?” tanya Nila lirih, Nila jadi mengerti kata, Babanya. Nila pun bangun dengan perasaan kecewanya. "Nila kecewa!"


“Nila tunggu, kakak minta maaf!” ucap Fatma langsung mencegah Nila bangun dan memintanya duduk lagi.


Sementara Nila yang kecewa tidak mau menoleh ke Rendi atau pun Fatma dan ingin segera pergi.


“Dhek Nila! Tunggu dulu duduk dulu!” ucap suami Fatma ikut menenangkan.


“Benar kata Baba, harusnya Nila percaya Baba. Nila percaya ke Kak Fatma, kenapa Kak Fatma begini?" ucap Nila lagi.


Nila yang kecewa segera beranjak, Fatma dan suaminya pun tak dapat mencegahnya lagi.


Akan tetapi saat Nila bangun dan berjalan, secepat kilat Rendi yang tampak dingin langsung mencekal lengan Nila.


“Kenapa menghindar? Aku ingin bicara” tanya Rendi dengan suara lirihnya.


"Maaf Pak. Tolong lepas tangan saya. Saya harus pulang!" jawab Nila berusaha melepas cengkeraman Rendi.

__ADS_1


"Kita harus bicara!" ucap Rendi lagi.


__ADS_2