Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Fokus....


__ADS_3

“Huuuft… astaghfirulloh… astaghfirullohal’adziim…,” lirih Nila pelan.


Begitu naik ke mobil, Nila langsung memejamkan matanya, mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Nila meletakan telapak tanganya dan menepuk pelan ke hijab penutup dadanya, menahan deguban jantung yang terus meninggi agar mereda dan tenang kembali.


“Kenapa aku begitu terbawa emosi dan terpancing meluapkan amarah begini sih? Astaghfirulloh, untuk apa juga aku menanggapinya seperti ini? Aku bisa kan lebih sabar dan tenang?” gumam Nila berbicara sendiri.


Sesaat Nila tersadar, kini wajahnya memanas, dan dadanya begitu bergemuruh, padahal Nila tahu seharusnya Nila tidak seperti itu, dan Nila hampir tidak pernah seperti itu.


“Langsung pulang atau mau mampir ke suatu tempat, Non?” tanya supir mengagetkan Nila.


“Ha… iya Pak? Apa Pak?” jawab Nila sopan.


“Non Nila baik- baik saja?” tanya Supir Nila.


“Baik, Pak, baik, Alhamdulillah, gimana Pak? Pak Iman tadi tanya apa? Maaf, aku tadi nggak fokus,” jawab Nila lagi.


“Non Nila mau langsung pulang atau mau mampir ke suatu tempat?” tanya Pak Iman mengulangi.


“Mmmm….,” Nila bergumam sedikit sembari berpikir, Pak Iman pun menunggu dengan tenang, karena kebetulan mereka sedang menunggu lampu apil menyala hijau.


“Tamu Bang Ikun udah pulang belum, Pak?” jawab Nila menanyakan Hanan.


“Yang Mas- mas tampan, Non?” jawab supir.


“Iya. Pria Yang tadi pagi datang, yang pakai skechers hijau, pakai kaos item itu lho, Pak?” jawab Nila ingat sepatu Hanan.


Saat berhadapan dengan Hanan, Nila kan banyak menunduk dan menatap ke arah lain jadi yang dia ingat malah sepatu Hanan.


“Iya yang Mas- mas olahraga yang antar Tuan Muda Iya dan Iyu kan?”


“Iya….,”


“Kalau suaranya sih udah nggak ada, sepertinya udah pulang,” jawab Pak Iman.


“Kok sepertinya sih Pak? Udah pulang belum?” tanya Nila memastikan.


“Ya Maaf Non, rumah Tuan Ardi kan besar sekali Non, kalau di ruang tengah tadi pagi tempat mereka ngumpul sih tadi udah sepi, tapi mana tahu kalau sama Den Ikun diajak ke belakang, main catur?” jawab Pak Supir jujur.


“Oh gitu?” jawab Nila lirih wajahnya masih tak terterka.


“Kenapa sih, Non? Bukanya itu teman Non Nila?”


“Iya sih. Nggak apa- apa Pak?” jawab Nila.


“Terus jadinya belok pulang atau mau pergi kemana nih? Lampu udah mau hijau Non!” jawab Pak Supir lagi.


“Pulang aja Pak!” jawab Nila.


“Ya Non!” jawab Pak Iman.


Mobil mereka pun melesat pulang ke rumah Baba.


Sesampainya di rumah. Suasana ruang tamu dan taman depan memang sepi. Nila pun berfikir Hanan sudah pulang, Nila melenggang masuk dengann cepat, tidak sabar menemui Vio dan Juga Baby Pradipta.


“Assalamu’alaikum…,” ucap Nila dengan riang ke ruang playground Baby Vio yang berada di ruang tengah dengan taman dalam.


“Wa’alaikum salam,” jawab beberapa orang serentak menjawab, dari arah gazebo dekat kolam.


"Gleg!"


Akan tetapi Nila langsung terdiam menelan ludahnya mendengar dan melihat yang menjawab salam.


Hanan belum pulang, padahal kan Hanan masih memakai pakaian olahraga sejak pagi lagi. Senyum riang Nila pun hilang, Hanan masih tampak asik bermain catur dengan Baba dan Ikun.


“Hai Nil?” sapa Hanan.


“Udah pulang Nak? Enak baksonya?” tanya Baba.

__ADS_1


“Ehm… udah Ba, Alhamdulillah enak,” jawab Nila lirih dan menarik diri hendak masuk lagi.


“Mau kemana?” tanya Baba.


“Mau masuk Ba… mau cari Vio sama Baby Pradipta!” jawab Nila.


“Dipta sama orang tuanya hari ini pulang ke rumahnya! Vio baru aja tidur siang bareng Iya Iyu!” jawab Baba memberitahu.


Mendengar jawaban Baba Nila langsung bengong.


“Baby Dipta pulang? Pulang kemana?"


"Ke rumah Bang Adiplah!" jawab Ikun.


"Katanya mereka mau di sini paling nggak satu bulan Ba?” tanya Nila sedih, kalau Baby Dipta dan Kak Jingga pulang ke rumah Bang Adip.


“Bang Adip katanya ada kerjaan di pabriknya, jadi harus stand bye di sana. Terus, gegara tadi pagi juga Nenekmu marah, jadi Jingga dan Adip putusin buat tinggal di rumahnya,” jawab Baba lagi menjelaakan.


“Hmmm…,” jawab Nila mengangguk manyun padahal Nila pergi hanya sebentar, sampai tidak tahu Kakak dan ponakanya pamitan.


“Katanya Hanan mau tanya sesuatu ke kamu, kamu kok lama sih, main nggak pulang- pulang! Udah mau balik si Fatma?” ucap Baba lagi.


Mendengar kata Baba, Nila terhenyak dan menoleh ke Hanan sebentar sembari menjawab.


"He...maaf Ba. Tadi keasikan ngobrol!" jawab Nila.


Akan tetapi Hanan tampak fokus. "Bang Hanan mau tanya apa?" tanya Nila lirih.


Hanan belum menjawab.


“Skak.. Om Ardi kalah!” ucap Hanan tiba- tiba dengan spontan setelah menggeser kuda- kuda caturnya.


Saat berbicara dengan Nila, Baba tidak focus melangkah, dan oleh Hanan langsung diskak matt.


“Aih… kamu. Kalah nih Om?” jawab Baba mengaduh heboh.


“Akhirnya, ada yang kalahin Baba! Yes, Bab kalah. Jempol buat kamu Nan!" ucap Ikun spontan dan senang.


“Ijin bicara sama Nila ya Om!” celetuk Hanan tiba- tiba.


“He…,” Nila yang sedang melangkah pun tercengang menoleh.


“Silahkan, di sini saja!” jawab Baba membolehkan tapi meminta mereka bicara di bangku dekat mereka karena hanya ada pembatas dinding kaca. Hanan tentu saja sangat senang. “Makasih Om,” jawab Hanan langsung berdiri mengejar Nila.


“Nila…,” panggil Hanan mengejar Nila yang masih terlihat.


“Ada apa, Bang?” jawab Nila.


“Em… kamu udah dapat jadwal agenda kuliah belum? Pinjam dong!” ucap Hanan memulai.


“Udah. Kan dikirim via email Bang! Bang Hanan emang belum?” jawab Nila sedikit menyeringai.


“Kehapus.”


“Oh..,” jawab Nila mengangguk lirih, merasa aneh, masa hal sepenting itu kehapus.


“Minta ya!” ucap Hanan cepat.


“Ya… sebentar, Nila ambilkan!”


“Kirimi via wa ja ya… kamu udah punya nomerku belum? Nih catat nomerku!” jawab Hanan lagi dengan cepat merogoh sakunya hendak mengambil ponsel.


“He…” Nila langsung menyeringai mendengar permintaan Hanan. “Nila ngeprint kok Bang. Aku ambilin hasil print_a aja, bentar ya!” jawab Nila cepat masih enggan memberikan kontak whatsapnya.


“Ehm…,” Hanan langsung kelimpungan malu, dia kan mau modus, jadwalnya udah punya. . “Kirim via whastap aja? Pake kertas takut robek! Ngrepotin kamu malah,” jawab Hanan beralasan.


“Udah ada kok, kan Bang Hanan, bisa foto sendiri kalau takut robek, sebentar ya!” jawab Nila tetap kekeh tidak mau memberikan nomernya.

__ADS_1


“Hmm... iya iya. Baiklah.. aku tunggu,” jawab Hanan pasrah tidak ada ide lagi, jika Hanan ngotot dia akan terkesan memaksa, takut Nila illfeel, toh mereka masih akan bersama bertahun- tahun di kelas yang sama.


Nila pun tersenyum dan mengambil kertas tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Ini Bang…,” ucap Nila setelah mengambil, segera kembali.


“Makasih yaa… oh ya. Udah ada pandangan belum? Nanti buat beli buku- bukunya dimana? Boleh ikut beli?” tanya Hanan lagi sembari garuk- garuk pelipis yang tidak gatal.


Nila pun tersenyum mendengarnya.


“Bang Hanan semangat sekali sepertinya, ingin segera masuk kuliah!” jawab Nila.


“Ya semangat dong, emang kamu enggak?” jawab Hanan.


“Ya semangat, tapi kan, ketemu dosen aja kita belum Bang? Orientasi kampus dan mahasiswa baru juga belum kan? Kita nggak tahu apa aja yang akan kita pelajari di semester awal, Nila belum kepikiran masalah buku!” jawab Nila rasional lagi.


Hanan pun plintat plintut mengusap tengkuknya.


“Iya sih. Cuma, kamu kan hebat banget, nilai seleksi masuknya sampai bener semua. Aku pengen tahu aja, kamu belajar dari mana? Biar ketularan!” jawab Hanan alasan.


Nila hanya kembali menunduk menyunggingkan senyum.


“Bang Haanan juga nilainya tidak jauh berbeda dengan Nila, jangan berlebihan lah, lagian kan sekarang banyak bimbel online, kebetulan aja, modul yang Nila temui polanya hampir mirip dengan soal kemarin!” jawab Nila merendah.


“Iya tapi tetep aja kan? Kamu sempurna aku nggak!”


“Kebetulan aja, Bang. Sebenarnya lebih pandai Banh Hanan dan mahasiswa lain. Oh ya masih ada lagi yang mau ditanyakan?” jawab Nila secara lugas ingin mengakhiri obrolan dengan Hanan.


Hanan mengusap tengkuknya, sekarang sudah pukul 1 siang lebih, padahal Hanan di rumah itu sudah cukup lama bahkan sudah makan dua kali.


“Ini aja dulu sih, aku udah lama banget di sini, kayaknya aku harus pulang!"


"Baiklah!"


"Makasih ya!" ucap Hanan mengangkat kertas jadwalnya.


"Sama-sama!" Nila mengangguk. Hanan pun menyeringai, Nila kemudian pamit, “Maaf, Nila baru pulang belum sholat dzuhur, Nila masuk dulu, ya !” pamit Nila.


"Ya silahkan, sampai ketemu di kampus ya!" ucap Hanan.


Nila tidak menjawab hanya melebarkan sudut bibirnya sedikit, lalu segera berbalik.


Hanan juga mempersilahkan Nila berlalu sampai menghilang di lift rumah besar Baba itu. Setelah Nila menghilang dari tatapan Hanan, Hanan pun pamit ke Baba dan Ikun.


****


“Kenapa Baba selalu sok akrab dengan semua orang sih?” gumam Nila sembari masuk ke kamar.


“Hhhh…,” Nila menghela nafasnya ingat Rendi lagi.


Dulu, Baba juga terlihat sangat akrab dengan Rendi saat Rendi hendak melamar Jingga. Jadi, saat teman Nila atau orang yang Nila kenal akrab dengan Baba. Nila tidak suka seperti trauma.


Bahkan Rendi kerap ke rumah meski Jingga tidak ada. Dari situ Nila sering melihat Rendi dari kaca, melihat keakraban Rendi dan Baba, kesantunyanya juga sayang ke Iya Iyu membuatnya jatuh hati. Namun nyatanya menyaikiti.


“Semoga Baba tidak mengulang kesalahan yang sama. Apa juga maksud Pak Rendi mengajakku kembali apa ini? Kenapa rasanya seperti ini?” gumam Nila terus berbicara dalam hati, sembari melepas hijabnya dan kemudian Nila masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudzu.


“Astaghfirullohal’adziim, jangan terbawa emosi Nila.. Fokus.. focus. Ayo berfikir dengan jernih.” gumam Nila kemudian membasuk mukanya dengan air..


****


Di perempatan jalan besar di Ibukota yang padat akan kendaraan berbagai macam, Rendi terhenti, terpaksa harus menunggu antrian. Kali ini dia lebih tenang dan tidak terburu emosi karena adik dan adik iparnya sudah pamit pulang.


Tatapan Rendi kosong ke langit yang tampak luas membentang dari kaca mobil. Satu tanganya stand bye di setir mobil menunggu kendaraan di depanua mulai berjalan, satu tanganya tanpa sadar dia gigit, isi otaknya masih terngiang akan ucapan Fatma


"Sholat Bang mohon petunjuk... banyakin istighfar. Bang Rendi udah tua, jangan tunda- tunda nikah lagi, pumpung Abi masih hidup.


Tentang Nila. Kita udah berusaha. Ini semua memang salah Bang Rendi. Kalau emang Nila belum bisa memaafkan, dan memilih untuk tetap mundur, jangan dipaksa, ya! Mungkin memang jalan terbaik dia melanjutkan hidupnya. Dia kan masih muda.

__ADS_1


Tapi...


Kalau Bang Rendi memang yakin ingin mengejarnya, baik- baik Bang... coba deh, Bang Rendi koreksi, salah Bang Rendi dimana?"


__ADS_2