Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Bubar


__ADS_3

Sekalinya berani memegang ponsel suami, Nila tak menyiakan kesempatan. Bukan karena Nila menaruh curiga, tapi ini pertama kalianya sebagai istri, dari dia, dosen yang sebelumnya dia kagumi, yang dia ada jarak, kini terasa menjadi miliknya bahkan hal yang kata orang merupakan privasi dan menyimpan banyak rahasia, olehnya dia diijinkan menguasainya sesuka hati.


Dengan hati yang riang, merasa tersanjung dan disayangi, sembari tersenyum senang Nila berselancar sesuka hati dengan ponsel suaminya.


Bahkan Nila jadi buka chat antar sesama dosen, komite, petinggi kampus, dimana ada beberapa percakapan rahasia yang bahkan dosen tidak tahu semuanya apalagi mahasiswa. Tapi Nila jadi punya akses ke sana.


Nila antusias bertanya dan merasa istimewa, Rendi pun menjawab beberapa yang Nila tanyakan, tapi sering juga hanya tersenyum dan justru memperingatkan Nila agar tidak kepo, itu bukan urusan dia, itu urusan orang tua.


Nila hanya terkekeh saat dimarahi tapi tetap saja hampir semua nama yang chat Rendi, Nila tanyakan itu siapa. Nila sangat ceriwis.


Hingga tanpa terasa mereka sampai di rumah. Karena di jalan ceriwis, menayakan banyak hal tentang isi chat Rendi, Nila tidak tidur dan semangat.


“Udah, puas? Udah lega, mainan ponselnya?” tanya Rendi dengan penuh sayang menatap Nila yang kini duduk di sampingnya.


Mereka kini istirahat di sofa.


Ditanya begitu,Nila tersenyum menyeringai dan menyerahkan ponsel Rendi. “Udah!”


Rendi menerima dan mengernyit melihat istrinya tersenyum sangat imut sembari menundukan muka, seperti habis melakukan sesuatu.


“Diapain ponselnya Mas?” tanya Rendi lagi.


“He…,” Nila nyengir lagi. “Liat foto profilnya, bagus nggak?” tanya Nila menatap Rendi dengan harap- harap cemas.


Rendi mencebik lalu melihat profilnya, Rendi hanya memanyunkan bibirnya lalu menatap Nila dengan tatapan hangat.


Nila pun menggigit bibirnya ragu. “He… bagus kan? Suka kan?” tanya Nila lagi.


“Kenapa diganti?” tanya Rendi datar. Sebelumnya kan hanya foto avatar seorang ksatria.


Ditanya Rendi, Nila mengkerucutkan bibirnya. “Nggak suka yah?” tanya Nila kecewa.


“Mmm… suka,” jawab Rendi


“Beneran?" tanya Nila memastikan.


“Suka, mas suka, Dhek. Tapi jawab dulu, kenapa diganti?” tanya Rendi ternyata hanya ngetes.


“He.. biar semua orang tahu, kalau Mas itu udah punya pasangan, udah ada aku dan mas punya aku. Gitu kan mas kasih gelang ini?” tanya Nila dengan wajah manjanya.


Rendi terus menatap istrinya yang kecil dan manis ini, sembari mengangguk dan tersenyum senang.


Dalam hati Rendi sebenarnya mengatai diri sendiri, menurut Rendi dulu bahkan saat usianya muda dan teman sebayanya melalukan hal- hal seperti ini, adalah konyol tidak penting dan bodoh. Gelang couple, dibuat foto, baginya alay dan tidak penting, tapi nyatanya sekarang dia melakukanya, bahkan di usia dimana teman- temanya sudah sibuk memikirkan anak. Ternyata melihat istrinya tersenyum senang itu lebih melegakan dibanding apapun.


“Oh ya?” tanya Rendi


“Huum." jawab Nila.


"Beneran kamu punya Mas? Tapi kan dari 3 tahun lalu kamu juga udah istrinya Mas, bahkan kemarin beberapa bulan belakangan juga iya, pas kamu udah kuliah, cuek banget sama Mas! Galak lagi!” jawab Rendi meledek Nila dan menyindir.


“Iih…,” Nila langsung mencubit Rendi gemas, dan Rendi menghindar spontan.


“Ya kan kemarin sama sekarang beda. Mas udah, kita kan udah itu?” jawab Nila malu- malu. Maksud Nila, sekarang mereka sudah melakukan penyatuan, Nila sudah merelakan semuanya untuk Rendi.


“Itu apa?” tanya Rendi meledek.


“Pokoknya Mas nggak boleh deket- deket sama cewe lain, orang harus tahu Mas punya Nila, ya punya Alloh juga sih, tapi kalau manusia Cuma Nila! Cuma Nila titik.” jawab Nila lagi menggebu tidak malu.


Dijawab begitu oleh Nila, Rendi tidak menjawab, tapi langsung meraih kepala Nila mendekatkan dengan wajahnya dan mencium kening Nila, lalu membawa Nila dalam dekapanya.


Walau Rendi tak menjawab iya, atas permintaanya, tapi dengan dia dipeluk dan dicium, Nila senang. Nila pun menyambut pelukan Rendi dan balas memeluk, menyandarkan kepalanya di dada Rendi dengan nyaman.


Mereka berpelukan hangat, tanpa kata, Rendi hanya diam tidak menjawab apapun. Hanya otak dan hatinya yang terkoneksi. “Istriku, sepertinya sangat pencemburu, aku tidak boleh menemui Vallen lagi, tapi aku harus cerita atau tidak? Aku tidak mau membuatnya berhenti tersenyum,”


“Mas laper, makan Yuk!” celetuk Rendi kemudian.


Nila pun segera melepas pelukanya.


“Ayuk, Nila juga lapar, bentar ya. Tunggu Nila siapin!” jawab Nila bersemangat lalu bangun dari duduknya, meski begitu, Rendi langsung meraih tangan Nila dan menahanya, Nila pun menoleh.


“Kenapa, Mas?”


“Kamu ganti baju aja. Mas yang siapain!” ucap Rendi.


“Hoh?” pekik Nila kaget. “Mas nyiapin makan?”


“Huum?” jawab Rendi mengangguk. “Istri Mas kan pulang kuliah, pasti capek, mas yang seharian tiduran terus, gantian yah!” ucap Rendi dewasa dan penuh sayang.


“Emang bisa?” jawab Nila. Sebenarnya Nila cukup terharu dengan sikap Rendi, tapi Nila agak ragu.


“Hemm…,” Rendi mencebik. “Kamu lupa, suamimu ini membujang 30 tahun, bikin makanan sendiri itu hal biasa!” jawab Rendi.


“He…,” jawab Nila nyengir. Ya, Rendi kan hidup sendiri sudah lama. “Oke, tunggu, Nila ganti ya. Nanti Nila bantuin!” jawab Nila.


“Ganti baju yang cantik!” jawab Rendi mengerlingkan matanya, Nila pun tersipu dan segera berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaianya. Sementara Rendi menuju ke dapur.


Hati Rendi terus dikejar agar membuat Nila Bahagia. Entahlah, mungkin sebagai pengganti atas bersalahnya, atau ujud syukur mempunyai istri secantik, sepolos dan selugu Nila. Apalagi Nila sudah membuat Rendi merasakan surganya dunia. Rendi juga tidak ingin Nila bernasib seperti Vallen.


Yang ada di otaknya sekarang, hanya ingin terus melihat Nila tersenyum.


Karena Rendi memang hanya memakai kaos hitam, dengan lues, Rendi langsung mengambil pisau dan bergelut dengan semua alat perang didapur. Entah sajian apa yang hendak dia hidangkan untuk istrinya.


Hati Nila jua terus berbunga, dimuliakan, dan dimanjakan suaminya membuatnya berseri- seri, semua hal terasa menyenangkan.


Dengan semangat 45 Nila berganti baju, karena berdua dengan suaminya, Nila pun mengenakan dress cantik tanpa lengan, kado dari kakaknya, simple tapi dengan model kancing dari atas sampai bawah di depan, mungkin kakaknya sengaja memilihkan pakaian yang mudah dibuka.



Nila tidak sabar ingin melihat suaminya masak, tidak mau lama- lama, Nila langsung berlenggang ceria turun ke dapur menghampiri suaminya. Rendi pun tampak sedang mengiris beberapa bumbu. Nila segera mendekat, berniat membantu.


Sayangnya saat Nila membantu, Rendi tidak suka, Rendi justru spontan mengangkat Nila yang kecil dan didudukan di atas papan marmer kitchen setnya.


“Ma.as..,” pekik Nila kaget, Rendi suka sekali tiba- tiba menggendonynya mentang- mentang dia kecil.


“Udah duduk manis di sini. Tungguin bentar lagi matang!” jawab Rendi.


Nila pun hanya mencebik manja, lalu duduk manis di atas melihat suaminya memasak.


Ya, ternyata masakan Rendi memang lain. Nila saja tidak tahu Rendi masak apa, seperti kebab tapi bukan kebab, martabak pun bentuknya beda, lebih mirip lumpia, tapi isianya sayuran, bumbu telur dan daging, ada nasinya juga.


Dalam waktu singkat Rendi berhasil memasaknya. Dia potong- potong seperti susu.


“Ak, Cobain!” ucap Rendi memberikan suapanya, bukan dengan sendok seperti saat membantu Elen, tapi dengan tanganya.

__ADS_1


“Nila makan sendiri, Mas!” jawab Nila.


“Nggak! Pokoknya cicip dulu!” ucap Rendi memaksa.


Sayangnya potongan yang Rendi pegang terlalu besar, Nila pun mengunyah sambil manyun karena kesal karena mulutnya kepenuhan, padahal sebenarnya makanan Rendi enak.


Bukan hanya itu, bahkan Nila belum menelan Rendi sudah mengambilkan makanan lagi untuk Nila.


"Entar dulu Mas. Nila telan dulu!" jawab Nila manyun. Heran sendiri kenapa hari ini suaminya sangat manis.


Rendi hanya terkekeh.


Nila sampai menolak suapan Rendi yang kesekian karena kenyang, tapi Rendi memaksa dihabiskan.


Bak anak kecil yang bermain, Nila pun cerdik, meraih tangan Rendi lalu menggigit kecil makanan ditangan Rendi. Rendi tidak mau kalah melepas makanannya sehingga makakan nyantol sebagian meski Nila tak menelannya penuh.


Dari situ Rendi pun iseng, menyambar makanan di depan mulut Nila agar tak jatuh. Tidak peduli jorok atau menjijikan, bagi mereka yang tengah meneguk manisnya pernikahan, semua menjadi indah dan menyenangkan.


Hingga makan sore mereka berakhir dengan peraduan panas di dapur. Walau tidak melakukan penyatuan, naman cukup membuat Nila terbang melayang.


Bukan hanya makan makanan yang Rendi masak, namun Rendi melahap habis minuman steril dan buah segar nan manis. Cukup mengenyangkan walau hanya dalam ilusinya.


“Di kamar aja ya!” bisik Rendi dengan suara seraknya saat mereka sama- sama menginginkan lebih.


Nila duduk lemas bersandar, kancing baju depanya sudah terbuka semua dan tubuhnya tergetar melayang. Dia hanya mengangguk pasrah.


Rendi pun segera membopong Nia ke kamar.


Sayangnya sampai kamar, setelah Rendi membaringkan Nila, Rendi tidak langsung mengkekskusinya.


Padahal Nila tahu betul, baik dirinya dan Rendi sudah sama- sama berada di Tengah letupan birahi.


Nila pun mencebik kesal.


Tidak lama Rendi Kembali mendekat, ternyata Rendi pun Bersiap melanjutkan perjalananya, meski begitu, ternyata Rendi terjadi terjeda tadi mengambil barang Amanah Baba, dan di depan Nila dia pun memakainya.


“Kenapa pakai itu?” tanya Nila jadi moodnya berkurang.


Rendi tidak menjawab tapi di depan Nila dia memasangkan sendiri benda pemberian Baba.


"Setidaknya, kita berusaha!" jawab Rendi.


"Mas nggak mau punya anak dari aku?" jawab Nila tambah buruk moodnya.


"Bukan begitu, Dhek. Mas nggak mau merenggut kebahagian kamu. Kamu masih kuliah. Mas ingin kamu menikmati masa mudamu. Lihatlah Aisyah. Jadi ibu itu tidak mudah!" jawab Rendi dewasa.


"Lihat juga Fatma. Anak itu anugerah. Kak Fatma tidak berKB, kalau Alloh memang belum beri ya nggak akan ada anak, bahkan mereka berusaha kesana kemari. Mas kok malah menghindari?" jawab Nila di luar dugaan Rendi.


"Ya Mas juga ingin punya anak. Tapi Mas nggak mau Baba kecewa ke kita! Mas janji ke Baba untuk mendampingi dan mengantarkanmu sesuai cita- citamu," jawab Rendi lagi.


Nila mencebik lagi.


"Tapi Mas juga jangan buat Nila jadi egois Mas!" jawab Nila lagi.


Rendi tambah mengernyit.


"Egois?"


"Kenapa Mas dan semua orang hanya memikirkan kebahagiaan Nila. Kesannya hanya Nila yang ingin bahagia tanpa memikirkan orang lain. Nila tahu teman sebaya Mas, bahkan Bang Adip yang lebih muda dari Mas udah punya Baby kan? Nila juga nggak mau, anak Nila punya ayah yang sudah tua nanti. Baba pasti akan sayang kok kalau kita punya anak! Abah dan Ummi juga ingin nimang cucu dari Mas. Abah udah tua, Mas," jawab Nila semakin membuat Rendi tertegun. Hati Nila ternyata begitu baik.


Rendi mengangguk.


"Lagian kemarin- kemarin kan udah masuk. Kita nggak tahu juga kan udah jadi apa belum? Memang Mas dan Baba tahu apa cita- cita Nila?" tanya Nila lagi.


"Apa memang?" tanya Rendi.


"Dari awal jadi dokter bukan cita- cita Nila kok!" jawab Nila.


"What?" pekik Rendi kaget.


"Kata Buna, yang terpenting sebagai perempuan kita harus punya value. Nila memilih dokter, karena saat itu Nila pikir pernikahan kita berakhir. Melihat perjuangan Kak Jingga lahirin Baby Dipta, Nila memutuskan ambil kedokteran. Tapi sebenarnya Nila ingin jadi ahli gizi.


Dan pada prinsipnya, bidang ilmu apapun, its ok. Nila hanya ingin seperti Ummi dan Buna. Kalaupun bekerja tanpa terikat waktu. Kemuliaan perempuan berada di titik ketaatanya kan?


Nila ingin seperti Buna yang merawat Oma Rita, Dokter Mira yang merawat Nenek Nurma, Nila juga ingin buat Ummi bahagia punya menantu seperti Nila, juga menjadi madrasah untuk anak- anak hebatnya," jawab Nila panjang di luar dugaan Rendi.


Rendi tertegun, bahkan adik kecilnya mengendur.


"Maksud kamu? Kamu ingin kita pulang ke Bambu Teduh? Bukanya kata orang tinggal bersama mertua itu di neraka?" tanya Rendi.


"Neraka bagi yang tidak mampu kan? Tapi Alloh janjikan pahala dan kemuliaan saat kita bisa berbakti kan? Nila kasian ke Ummi dan Abah, Mas. Kak Aisyah dan Fatma kan ikut suami mereka. Baba dan Buna di sini punya Kak Amer, Kak Ikun, Iya Iyu dan juga Vio. Tapi Abah dan Ummi sendirian. Mereka udah tua, lho!" jawab Nila lagi.


Rendi menelan ludahnya, matanya nanar saking terharunya mendengar jawaban Nila.


Walau sudah sama- sama tak memakai baju. Karena terjeda mereka sama- sama hilang mood. Hawa panas membara berganti getaran hati yang buat suasana haru.


Rendi benar- benar tidak menyangka di balin wajah manis Nila tersimpan banyak pemikiran yang bahkan tidak pernah dia pikirkan.


"Mas Rendi nggak pingin pulang ke Bambu Teduh ya?" tanya Nila lagi.


"Mas nyaman hidup di sini. Mas pikir kamu senang hidup di sini, kan dekat Baba dan Bunamu! Di Ibukota semua mudah didapat," jawab Rendi.


"Kalau bicara nyaman sih nyaman Mas. Tapi apa Mas nggak pernah kebayang Abah dan Ummi saat tua nanti?" tanya Nila lagi.


"Abah punya banyak santri yang setia. Ada Fahri dan Syamsul juga. Mas ngerasa nggak pantas di sana!" jawab Rendi lagi.


"Kok gitu?" tanya Nila.


Akhirnya Rendi cerita akan isi hatinya. Sebagai anak Abah yang setiap hari mendengar orang mengaji, entah kenapa di usia remajanya Rendi justru jenuh terus berada di lingkungan santri dengan segala aturanya.


Rendi tertantang, ingin keluar dan melihat dunia luar. Bahkan ingin bergaul dengan yang tak seiman denganya. Rendi ingin melihat sisi luar dunia yang penuh keteraturan dan ketaatan.


"Abah saat itu gimana?" tanya Nila tidak menyangka.


"Marahlah! Ya gimana lagi. Hati Mas terus berontak. Mas nggak pantes di sana Dhek. Fahri atau Syamsul lebih berhak dan pantas. Mereka santri, mereka juga kuliah di Yaman." jawab Rendi.


"Tapi, kan, anak laki- laki Abah tetaplah Mas. Ummi dan Abah yang udah lahirin dan besari. Mas? Ummi dan Abah sering ceritain Mas lho," jawab Nila meyakinkan suaminya.


"Mas sampai di posisi sekarang Mas kerja keras, dan nggak mudah!" jawab Rendi lagi.


Nila hanya menghela nafasnya mendengar itu, lalu menatap suaminya.


"Mas sungguh lebih nyaman dengan kehidupan di luar pesantren?"

__ADS_1


"Ya." jawab Rendi tegas.


Nila mencebik sedikit kecewa.


"Mas dapat kehidupan seperti apa saat Mas bergaul dengan teman- teman Mas? Mas kecewa sama agama Mas? Apa Mas juga ikut seperti mereka?" tanya Nila lagi.


Rendi langsung tersenyum mengusap kepalanya


"Ya nggaklah. Mas juga nyatanya tetap nikahin kamu." jawab Rendi.


"Mas minum khamr?" tanya Nila lagi.


"Nggak!"


"Mas berzi na?" tanya Nila lagi.


"Apalagi itu?" jawab Rendi lagi. "Ya kan kamu liat sendiri kemarin kita sama- sama canggung kan? Mas pergi dari Pesantren bukan meninggalkan keyakinan Mas, Dhek. Ya Mas tetap jalani hidup dengan keyakinan Mas. Tapi, hidup sebagai anak Abah di kampung, semua hal yang Mas lalukan dituntut jadi sorotan dan acuan. Salah sedikit saja nama Abah pasti dibawa. Semua harus sempurna dijadikan contoh banyak orang. Mas harus ini harus itu, Mas bosan. Mas manusia biasa. Mas ingin ini ingin itu.


Mas di sini, tanpa ada yang kenal, berbuat sesuka hati Mas, bergaul dengan siapapun, itu menyenangkan. Mas juga banyak mendapatkan pelajaran!" jawab Rendi panjang.


Nila mengangguk mengerti.


"Oh syukurlah! Ya udah, terserah baiknya Mas gimana?" jawab Nila lirih.


Mau seperti apapun, kan memang hak Rendi menentukan karir dan jalan hidupnya.


"Mas janji kalau libur, pulang ke Ummi!" jawab Rendi.


"Jangan berjanji. Kalau nggak bisa penuhi, Mas dosa lho!"


"Ya, mas usahain. Mulai sekarang mas akan sering pulang ke Abah!" ucap Rendi lagi.


"Hemmm apa kemarin itu teman- teman yang Mas ceritain?" tanya Nila ingat tamu Rendi kemarin


Rendi mengangguk.


"Nila kok nggak suka ya Mas sama mereka!" tutur Nila jujur.


Rendi pun menjelaskan siapa Axel dan Firman.


"Hmm... Oh ya. Gimana teman Mas? Sakit apa? Udah sembuh?" tanya Nila lagi ingat saat Rendi pamit.


"Gleg!" Rendi langsung gelagapan, menundukan wajahnya. Kepala Rendi mendadak pusing.


Mendengar semua penuturan Nila, hati Rendi tergetar, kekagumanya pada gadis kecil yang mempunyai pikiran ajaib tak seperti usianya bertambah berkali kali lipat.


Rendi sangat bersyukur dan ingin terus bahagiakan Nila. Nila si pencemburu pasti sedih dengar kalau Rendi jenguk Vallen. Tapi kalau tidak cerita Rendi merasa bersalah juga.


"Mas!" panggil Nila lagi.


Rendi pun menyahut panggilanya dan menatap Nila.


"Jangan marah ya!" ucap Rendi akhirnya.


"Kok marah?"


"Mas jenguk, Vallen!" jawab Rendi.


Seketika itu, Nila yang moodnya berkurang tambah mengernyit dan moodnya bukan hanya berkurang tapi bubar.


"Vallen? Yang ketemu Mas di kafe? Yang kasih minum ke Mas? Yang mantanya Mas?" jawab Nila langsung cemberut.


Rendi menunduk dan mendekat maju ke Nila.


Nila langsung menangkupkan pakaianya yang terbuka agar tertutup lagi dan bersedekap cemberut membuang muka.


"Maaf, Sayang!"


"Nila sampai begadang lho Mas, nungguin Mas. Kenapa harus jenguk malam- malam. Kenapa Nila nggak diajak? Dua kali lagi jenguknya!" protes Nila ngomel persis seperti dugaan Rendi.


Rendi langsung mendekat dan meraih kedua bahu Nila, agar Nila menatapnya. Tapi tetap saja Nila mengibaskan tangan Rendi dan membuang muka.


"Dia depresi, dia mau bunuh diri! Orang tuanya mas kenal, minta tolong ke Mas buat bujuk dia mau makan!" jawab Rendi akhirnya cerita.


Mendengar itu Nila langsung membulatkan matanya.


"Wooh. Iya kah?"


Rendi mengangguk.


"Makanya, kamu yang punya iman ya!" ucap Rendi.


"Konyol sekali. Mas ngapain disana?" tanya Nila lagi.


Mau tidak mau Rendi pun cerita apa adanya.


"Oh jadi Mas masakin Nila, suap- suapin Nila karena abis sama Mbak Vallen? Woek woek... Nila nggak suka!" ucap Nila marah- marah lagi.


"Haish ya nggak gitu. Mas suapinya pakai sendok Dhek. Cuma bentar juga!" rayu Rendi menjelaskan.


"Terus nanti kalau dia telpon minta ditungguin lagi. Mas datang lagi gitu?" omel Nila


"Ya, nggak. Kan dia udah sadar. Mas janji nggak jengukin lagi! Mas nggak temuin dia lagi!"


"Bener!" ucap Rendi janji


Nila menelan ludahnya berfikir.


Rendi langsung mengerlingkan matanya.


"Yuk lanjut, yuk!" ajak Rendi menuntaskan hajatnya yang tertunda.


Nila diam, tapi tangannya yang mendekap tubuhnya melemah sehingga Rendi berhasil membukanya lagi. Adik kecilnya pun bangun lagi.


Rendi pun tersenyum senang saat dua makanan kesukaanya kini kembali tersaji untuknya. Tidak mau menunggu, Rendi menundukan wajahnya hendak melahap choco chip lezat itu. Tapi tiba- tiba ponselnya berdering.


Mood Nila rusak lagi, dijauhkanya muka Rendi dari dadanya, dan tangan Nila langsung menyambar. Seketika itu Nila kembali cemberut.


"Nih. Vallen lagi nih!" ucap Nila cemberut dan menutup pakaianya lagi. Nila melempar ponselnya dan beringsut turun.


"Haish... Dhek. Mau kemana?"


"Laut!" jawab Nila ketus dan berjalan menghentakan kakinya masuk ke kamar mandi

__ADS_1


"Dhek!" panggil Rendi mengejar.


"Brak...." Sayangnya Nila berjalan cepat dan langsung membanting pintu kamar mandi.


__ADS_2