Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Aku keluarganya


__ADS_3

“Duh…ck… gimana ini?” gerutu Nila di depan beskam anak BEM, Nila memilin jarinya khawatir.


Berbaring lesehan di lantai, Dita masih memejamkan matanya dibantu senior Nila.


Ya, Dita, syok saking kagetnya, saat Nila menunjukan foto dirinya, di peluk dari belakang, tanpa hijab dan backgroundnya kamar, oleh wajah yang jelas itu adalah dosenya.


Foto itu diambil hari kemarin, setelah semua tamu pergi, sebelum mandi ju nub, Rendi ternyata minta nambah, berawal dari saling cerita tamu- tamu mereka, lalu Rendi banyak meyakinkan Nila untuk percaya diri menjadi istrinya, lalu mereka berfoto mesra. Kata Rendi, wajah mereka serasi dan tidak terlihat umurnya. Itu sebabnya Nila mau foto selfie mesra untuk pertama kalinya.


Awalnya Dita tidak percaya, saat Nila hanya menjawab suaminya itu, Pak, Rendi, tapi saat Nila menunjukan fotonya, Dita mendadak sesak nafas dan ambruk. Untung ada yang lewat dan segera menolong Dita.


“Dhek. Temanmu udah baikan, belum sarapan apa gimana sih? Sampai gitu?” tanya Luna kakak kelas Nila keluar memberitahu Nila.


“Nggak tahu, Kak. Aku baru kali ini liat dia begitu, kayak ashma malah kukira,” jawab Nila.


“Tapi udah membaik kok. Sok kalau mau masuk ajak makan ya. Udah kita kasih teh hangat sih, dia!” tutur Luna.


Nila pun mengangguk tersenyum, “Makasih ya Kak!” jawab Nila.


Nila pun segera masuk, di dalam Dita sudah tampak duduk bersandar dan masih memakai oksigen portable.


Nila pun berjalan menunduk mendekat, tidak berbeda dengan Nila, Dita juga jadi sangat aneh, menunduk juga dan mereka jadi canggung.


“Alhamdulillah kamu baikan Dit. Kamu baik- baik saja kan?” tanya Nila.


“Ehm…,” Dita malah berdehem menegakan duduknya bersandar pada tembok sangat canggung ke Nila.


"Masih pusing ya? Apa sesak apa gimana? Kamu sakit apa?" tanya Nila lagi.


Dita terlihat sudah tidak sesak dan sudah sadar, tapi Dita menunduk tidak menjawab.


“Hei… kamu udah sadar kan? Jawab aku!” tanya Nila lagi rasanya aneh sekali melihat Dita mendadak diam, apalagi dalam keadaan sakit. Nila pun manyun dan menggoyangkan lengan Dita.


“Maaf!” ucap Dita lirih.


“Kok minta maaf, kamu salah apa? Aku yang minta maaf!” jawab Nila lagi.


Bukanya menjawab, Dita malah menutup mukanya dengan kedua tanganya, padahal Dita masih memakai selang oksigen.


“Huhuhu…,” terdengar Dita terisak.


“Ihh.. kamu kenapa?” tanya Nila meraih tangan Dita dan memintanya membuka tanganya agar Nila bisa melihat wajah Dita. Sesaat tangan Dita menahan, rasanya sangat malu dan tidak tahan bertatapan dengan Nila. Tapi Nila juga tidak menyerah, hingga tangan Dita berhasil dia turunkan dan mereka berhadapan.


"Kamu kenapa? Jangan bikin aku panik! Kamu udah sehat kan?".


“Aku minta maaf, please, jangan bilang apapun ke Pak Rendi, aku tiap hari mengumpatnya dan membicarakanya! Aku pasti dihukum dan ditanda merah ya?” racau Dita dengan polosnya.


“Ish…,” Nila pun spontan mendesis lalu mencebik manyun. Ya, Nila mengerti, hampir setiap perkuliahan Rendi atau setelah Rendi ngajar atau melihat Rendi, Dita hobby sekali menggibahi Rendi.


“Please maafin aku, ya, Nila… abis kamu nggak bilang dari awal sih? Maafin aku udah jelek- jelekin Pak Rendi, maafin juga aku kadang muji- muji dia, di depan kamu, ammm… pokoknya aku minta maaf!” ucap Dita lagi, ternyata selain syok, Dita juga takut dihukum, merasa lancang dan jadi malu dengan Nila.


Nila kemudian tersenyum.

__ADS_1


“Nggak usah minta maaf lah. Aku juga setuju dengan yang kamu bilang!” jawab Nila kemudian.


Dita yang malu dan syok langsung terhenyak.


“What…?” pekik Dita menoleh dan menelan ludahnya menatap Nila.


Pipi Nila tampak memerah karenaa tersipu, Nila kemudian tersenyum.


“Dia memang menyebalkan, apalagi saat sifat sok galak dan perfeksionisnya muncul, aku pengen cekik lehernya. Suka semena- mena kan dia, tidak tahu apa dia, betapa susahnya dapat angkot dan bangun pagi. Tidak ada tolelir telat, kaya dia sempurna dan nggak pernah telat aja. Coba aja mobilnya mogok dan telat, pengen bikin dia malu dan telan ludahnya senrdiri. Sok pintar kasih ujian suka- suka, rasanya, pengen kurobek saja itu soalnya. Ujian nggak penting. Iya kan? Sama aku juga sepertimu merasa begitu!” tutur Nila lancar dan faseh, menirukan setiap ocehan Dita.


Ya. Kala itu demi ikut kuliah Rendi, takut telat dan dihukum, Dita tidak mandi. Dita menceritakan ke Nila betapa dia berjuang lari- larian tidak sarapan di jalan bertengkat sama preman demi bisa datang tidak telat.


Dita langsung menunduk menggigit bibirnya ingin ketawa, sumpah Dita sangat malu dan merasa dibodohi Nila, ternyata Dita menggunjing suami teman di depannya langsung.


“Aku beneran Dita. Dan asal kamu tahu, aku bukan hanya ingin mencekiknya. Aku sempat ingin bunuh dia!” sambung Nila mencoba membuat Dita terhibur sekaligus Nila ingin menceritakan keadaanya.


Dita kemudian mengernyit menatap Nila. “Benarkah?”


“Iya!” jawab Nila mantap.


“Kenapa? Dia kan suamimu!”


Nila pun lanjut bercerita.


“Asal kamu tahu. Aku pernah, bahkan belum lama. Aku sangat ingin musnahkan dia dari muka bumi. Dia itu pria sombong yang pernah aku temui di dunia ini. Dia pria jahat. Dia pria yang membuatku tersiksa, membuatku setiap hari merasa sesak, kadang membuatku merasa ada, tapi memperlakukan aku tidak ada. Kamu tahu, aku itu istri titipan, Dita.” Tutur Nila lagi.


"Titipan?" tanya Dita.


Dita yang tadinya sesak nafas dan pusing jadi terlihat lebih tenang.


"Sebucin itu ya kamu?" celetuk Dita mengambil kesimpulan sejak awal kan yang cinta duluan Nila dan Nila juga yang mengorbankan masa mudanya bersedia berbaikan bahkan kini sah jadi istrinya.


“Aku akan kasih tahu semua teman kok, tapi nanti pas resepsi. Kemarin, Aku juga mempertimbangkan suasana kelas dan perkuliahan jadi nggak professional kalau udah pada tahu duluan” sambung Nila.


“Ya. Aku ngerti sekarang!"


"Maaf ya?" tutur Nila lagi.


"Jahat ya Della, ngatain kamu. Mikki sebenarnya juga sempat wa aku, katanya kamu gini- gini., tapi aku nggak percaya!” imbuh Dita jadi cerita.


“Oh ya?” tanya Nila baru tahu kalau di belakang dia teman- temanya menjadikan dia bahan gunjingan.


“Kapan resepsinya?” tanya Dita.


“Aku ikut, Babaku dan Abah kami sih.” Jawab Nila.


“Hmm… kamu kok diam aja sih dikata- katain teman- temanmu? Kan kamu bisa langsung jawab dengan percaya diri. Kenapa? Kita udah menikah, aku istrinya itu? Kan mereka jadi takut! Dan nggak semena- mena!” tanya Dita memperagakan sikap beraninya menghadapi temanya yang rese. Sepertinya Dita sudah kembali ke setelan awal.


Nila kemudian tersenyum.


“Untuk apa Dita? Aku nggak ada urusan sama mereka, tidak ada kepentingan dan pengaruh jug untuk hidupku, biarin aja!” jawab Nila dengan santainya.

__ADS_1


Dita pun tersenyum, sekarang Dita tahu semuanya dan sudah mengerti keadaan Nila.


Setelah cerita, ternyata Dita memang punya sakit asthma ditambah panik attack, didukung Dita juga baru jetlag balik dari kampung halaman.


Setelah dirasa membaik, mereka pun menyempatkan ke kantin. Sampai kelas ternyata mereka sudah terlambat. Akhirnya mereka terpaksa ikut kuliah di kelas lain demi tidak ketinggalan materi dari dosen yang sama, sayangnya kelas lain hari besok.


Karena Dita sakit, Dita ijin pulang lebih dulu dari Nila. Sementara Nila jadi tidak ada pekerjaan. Nila wa Rendi saja belum dibaca, sepertinya Rendi sedang sibuk isi materi. Baba pun sedang bekerja, hendak menelpon Pak Rahmat, tapi Nila kasian.


“RSJ Nusa indah, aku harus kesana!” gumam Nila masih ingat tanda tanya isyarat dari Celine.


Nila pun mendatangi RSJ tempo hari lagi. Kali ini Nila lebih tenang dan Nila bertanya pada perawat data pasien yang ada di kamar yang ditunjukan oleh Celine.


Awalnya Nila sempat kesulitan karena, data pasien itu rahasia. Padahal Nila sudah berbohong menjadi keluarga yang mencari saudara.


Hanya saja, saat Nila hendak pergi ternyata ada salah satu perawat yang menyampaikan, ada satu pasienya, sudah pindah ke ruang perawat dengan penurunan klasifikasi ruangan, butuh keluarganya tapi nomer yang ada di data juga keluarganya tak ada yang respon..


“Tunggu,” panggil perawat saat Nila menyerah pergi.


“Ya!” jawab Nila.


“Apa ini keluargamu?” tanya perawat.


“Boleh tunjukan orangnya juga alamatnya?” tanya Nila.


Perawat kemudian mengambilkan papan nama pasien juga alamatnya bahkan Nila diajak masuk. Sebenarnya Nila juga seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun.


“Gleg!” Akan tetapi saat Nile melihat pasien yang dibawa perawat, Nila menelan ludahnya kaget.


“Mirip banget sama Farel?” gumam Nila saat bertatapan pada seorang perempuan seumuran Bunanya, dia tampak anggun dan kalem.


“Ibunya Farel?” tanya Nila spontan.


Awalnya perempuan itu mengernyit dan bingung, tapi begitu Nila menyebut nama Farel, perempuan itu langsung membelalakan matanya.


“Kamu? Kamu siapa, Nak?” tanya perempuan itu ternyata Sudah bisa berkomunikasi dengan baik.


Nila menelan ludahnya sepertinya ini yang ditunjukan Celine, tapi untuk apa dan kenapa?


Nila kemudian tersenyumm, dan menjulurkan tanganya.


“Saya Nila, Bu, teman Farel!”


Ibu itu agak ragu, tapi karena Nila berhijab dan ramah Ibu itu menyambut Nila baik. Nila kemudian menoleh ke perawat dan mengatakan dia keluarganya.


Karena Nila menjawab itu, Nila diberi waktu berbicara, bahkan setelahnya Nila diminta untuk datang ke ruang dokter.


****


Mau tanya masih mau baca nggak sih? Kalau masih koment. Kalau enggak ya nggak apa- apa, kusingkat tamat cepet.


Pathokanku dr koment yaaa.

__ADS_1


__ADS_2