
Rendi yang hatinya memang dingin hanya stay calm bertanya sendiri dalam hati siapa yang mencarinya. Dia tidak lagi bertanya siapa dan bagaimana ciri- ciri orang yang mencarinya.
Rendi hanya berfikir, kalau orang yang mencarinya memerlukan dirinya pasti akan mencarinya lagi. Rendi merasa tidak berkepentingan.
"Oke makasih ya!" jawab Rendi dingin lalu pergi.
"Ya.. Dok!" jawab rekan Rendi hanya mengangguk. Ya semua orang di kampus, baik sesama dosen atau mahasiswa memang sudah tahu, Rendi pendiam dan dingin. Heranya banyak yang suka Rendi.
Rendi pun melakukan pekerjaanya. Menyediakan waktunya menerima mahasiswa semester akhir yang hendak melakukan bimbingan skripsi.
Benar saja, belum Rendi sampai di ruangaynya di kursi tunggu depan kantor. Dua mahasiswi cantik dengan rambut digerai sudah menunggu sengan setumpuk kertas di dekapnya.
Rendi berjalan tegap dengan muka coolnya. Sementara mereka berdua matanya langsung berbinar. Walau Rendi galak, Rendi tetap dinantikan.
"Siang... Dokter Rendi?" sapa mahasiswi itu yang bernama Felli dan Sania.
"Siang!" jawab Rendi tanpa menoleh ke mahasiswinya. Dia malah melihat jam tanganya.
"Jam 14.30 masih kurang 10 menit lagi. Kenapa kalian sudah di sini?" jawab Rendi malah memarahi mahasiswinya.
Tentu saja Felli dan Sania langsung menelan ludahnya, dalam hati geregetan. "Untung ganteng... kalau nggak gue toyor!" batin Felli.
"Maaf. Pak. Saya takut terlambat jadi saya ke sini lebih. awal!" jawab Felli.
"Ganggu aja!" jawab Rendi ketus.
"Ehm...," Felli dan Sasa langsung berdehem kesal. Padahal kalau telat 2 menit saja juga akan ditolak Rendi.
"Maafkan kami Pak. Kalau mengganggu. Kami bersedia menunggu kok. Kami sudah bawa semua revisian yang bapak inginkan!" jawab Sasa.
Rendi tidak menjawab dan berjalan maju meninggalkan mereka lalu menutup pintu ruanganya.
Sasa dan Felli pun saling pandang, menelan ludaunya dan menghela nafas pelan.
"Yang penting nggak diusir dan disuruh konsul besok!" ucap Sasa lemas.
"Hssssh... dasar Dosen gila, nyebelin. Belum dapat karma sih ya? Gimana rasanya mengemis kesempatan dan janjian waktu. Harus banget ya tepat. Kenapa harus marah. Pantes nggak nikah- nikah!" gerutu Felli ke Caca sembari meremaas tanganya kesal.
"Brak!" seketika itu pintu ruangan Rendi dibuka. Ternyata Rendi tadi berhenti dibalik pintu dan mendengar cibiran Feli dan Sasa.
"Gleg!" Felli dan Sasa langsung terdiam
__ADS_1
Rendi langsung menatap Felli dan Sasa tajam.
Mereka berdua langsung gelagapan menunduk.
Rendi jadi sensitif jika ada yang menyinggungnya tentang pernikahan.
"Masuk!" ucap Rendi dingin.
"I-iya Pak!" jawab Felli dan Sasa gugup. Mereka kemudian kompak melangkahkan kaki.
"Kamu dulu!" ucap Rendi menunjuk Sasa.
Sasa melirik ke Felli.
"Saya kasih waktu, 5 detik. Kalau nggak konsul minggu depan!" ucap Rendi.
"Ya Pak!" jawab Sasa cepat. Sasa kan ingin lulus cepat dia nggak mau waktu konsulnya terhambat
Rendi tetap tidak berekspresi dan masuk. Rendi pun mempersilahkan mahasiswinya duduk. Sasa menunjukan semua tugasnya dan Rendi membacanya sekilas.
Sebenarnya untuk Materi Sasa juga sudah mengirim soft file dan Rendi sudah membacanya. Sasa hanya tinggal melalukan revisi.
"Oke.. Sip!" ucap Rendi tiba- tiba meletakan pekerjaan Sasa ke meja.
Tentu saja Sasa langsung tersentak kaget dan matanya reflek melotot
"S sip Pak?" tanya Sasa tergagap.
"Lanjutkan buat simpulanya!" ucap Rendi cepat.
Sasa langsung tersenyum girang.
"Beneran Pak? Data saya sudah acc?" tanya Sasa lagi.
"Apa kamu masih mau mengataiku belum menikah karena Karma? Hah!" tanya Rendi malah membahas yang lain.
"Gleg," Sasa langsung menggigit bibir bawahnya. Ternayta Rendi mendengar Felli mencibirnya. Tapi kan yang mencibir bukan Sasa.
Sasa ngebleng dan bingung mau jawab apa. Tapi ini oertama kalinya Rendi baik. Ternyata dia baik karena dikatain. Entahlah Sasa tidak bisa nebak kenapa Rendi jadi baik. Otak Sasa jadi Travelling dan nebak- nebak sendiri.
"Maaf Pak. Saya tidak mengatakan apa- apa!" jawab Sasa membela diri dan ingin segera keluar.
__ADS_1
"Ehm...," Rendi langsung berdehem paham dari gestur mahasiswinta. Rendi sendiri sedikit malu menyadari dia hampir saja memperlihatkan kegalauanya. Tengsin kalau sampai ada yang tahu.
"Segera kerjakan dan minggu depan. Kirim email saja!" ucap Rendi.
"Ya. Pak!" jawab Sasa.
"Suruh temanmu masuk!" ucap Rendi.
Sasa pun keluar dan Felli masuk. Berbeda dengan Sasa. Rendi banyak mengkoreksi data Felli. Padahal data penelitian Felli sudah sinkron. Rendi justru mempermasalahkan penulisan sepele dan sinkron.
"Nggak usah sok ngatain orang. Nulis aja nggak bener!" ucap Rendi memarahi Felli.
"Ya Pak! Maaf!" jawab Felli hanya duduk menunduk tegang.
Rendi pun melempar setumpuk kertas skripsi Felli yang sudah dia corat coret.
"Ketik ulang yang rapi. Minggu deoan konsul lagi!" ucap Rendi membentak.
"Ya.. Pak!" jawab Felli lalu menarik bendelan kertasnya dan segera undur diri.
Kini Rendi sendirian di meja kerjanya. Dia pun langsung merebahkan kepalanya ke bangku kerjanya. Lalu memijat kepalanya.
Sepanjang jalan menuju ke kampus Rendi galau. Apakah dia memperjuangkan Nila atau melepasnya. Seharusnya dia senang, tapi hatinya sesak dan ada yang berbisik memintanya mengejar maaf Nila dan memperbaikinya.
Apalagi setelah tahu. Banyak mimpi Nila yang ingin digapai bersamanya. Rendi juga merasa sangat bersalah mencoreng nama Abinya. Perceraian di mata keluarga mereka dianggap sesuatu yang memalukan.
"Apa aku tidak pantas dimaafkan?" gumam Rendi.
Di otaknya kembali berputar. Mahasiswinya, teman- temanya kan sangat comel dan mengatainya. Terhadap mahasiswinya Rendi kebal menahan diri. Tapi terhadap teman- temanya Rendi malu. Dan agaimana tanggapan orang kalau semua orang tahu dia beristrikan anak kecil.
"Kenapa tidak ada yang mengerti aku?" gumam Rendi.
Saat Rendi memijat kepalanya. Ponselnya berdering.
Rupanya ada teman Rendi yang mengajaknya me time di sebuah kafe.
"Bisa kan?" tanya Teman Rendi yang bernama Tyo.
"Oke!" jawab Rendi menyetujui.
Rendi kan memang butuh teman ngobrol yang berpihak padanya.
__ADS_1